
"Uhuk... uhuk.... Apa serangan tadi mempan?" Ucap Zen sambil menutup matanya karena debu yang beterbangan setelah ledakan itu terjadi.
"Sialan, kau bocah Brengsekk! Berani-beraninya menyerangku disaat aku menyerangmu!" teriak Monster itu.
"Cih, rupanya itu tidak mempan dengannya sama sekali. Bahkan tubuhnya masih utuh, akan ku serang sekali lagi!"
"Water element, forming a water ball. Drown the one in front of me now! (Elemen air, membentuk bola air. tenggelamkan yang ada dihadapanku sekarang!)
Kemudian Monster itu tenggelam didalam bola air miliknya.
"Untuk apa kau menenggelamkan aku bocah! Apa kau bodoh, aku ini adalah monster tanaman. Jadi mana mungkin aku akan mati jika tenggelam, bhahaha.... kau malah membuatku menjadi segar bugar!" Ucap Monster itu didalam bola air.
"Itu masih permulaan monster jelek! Sekarang terima ini!!"
"Lightning element, Lightning Dragon! Attack the monster now!" (Elemen petir, Naga petir! Serang Monster itu sekarang)
Blaaar!!
Akhh, sialan kau bocah!! Jadi karena itu kau membuatku tenggelam, kau ingin memberikan efek listrik yang semakin kuat saat terkana air. Setengah manaku habis terbuang karena ku pakai untuk memulihkan keadaanku. Lihat bocah, aku masih baik-baik saja. Bhahaha begitu saja seranganmu hah!"
"Akar duri menjalar, ikat bocah sialan itu!" Ucap Monster itu.
Zen pun terikat akar berduri itu.
"Akhh, rasanya sakit sekali. Dasar sialan kau monster jelek!" Teriak Zen.
"Hahaha... akan kuserap sekarang manamu bocah!" Ucap Monster.
"Nggak akan pernah kau bisa menyerap manaku! Monster jelek!!" Teriak Zen.
"Aku sudah mengikatmu begitu, tapi kau masih saja menyebalkan. Karena tubuhmu sudah bersentuhan dengan akar milikku, sekarang aku sudah bisa menyerap manamu itu." Ucap Monster itu dengan tersenyum ke arah Zen.
"Ku mohon, aku bisa membuat kedua tanganku bersentuhan. Ku mohon...." Gumam Zen yang sedang berusaha untuk membuat kedua tangannya bersentuhan.
"Berhasil!" Ucap Zen.
"Apanya yang berhasil bocah?" Tanya Monster itu.
Kemudian setelah tangannya bersentuhan, dia bertepuk tangan.
Prok, prok!
"Apa yang sedang kau lakukan bocah? Bertepuk tangan... sungguh, kau adalah musuh yang paling bodoh dibandingkan yang lainnya." Ucap Monster setelah melihat Zen bertepuk tangan.
Srett, trakk!
"Akhh, sialan kau bocah! Bagaimana kau bisa memotong akar-akar milikku? Eh, dari mana datangnya pedang itu?" Tanya Monster itu.
"Dari mana pun ini datangnya, itu bukan urusanmu!" Sahut Zen.
Kemudian Zen berlari dan memenggal setengah tubuh monster itu yang terbuat dari akar-akar. Tapi sayangnya itu tidak ada gunanya sama sekali, tubuhnya yang penggal kembali utuh seperti semula.
"Hahaha... kau tidak akan pernah mengalahkanku bocah, aku punya cadangan mana yang bisa ku serap terus-menerus. Sepertinya kau mulai kelelahan setelah ku serap mana milikmu tadi." Ucap Monster itu.
"Pantas saja, aku merasa banyak kekurangan mana! Ternyata kau sudah menyerapnya, dasar brengsekk, akan ku cincang kau monster jelek!!!" Teriak Zen dengan berlari ke arah Monster itu.
Trakk!
"Rasanya benar-benar menyakitkan bocah! Kenapa kau masih belum menyerah juga, hah? Sudah ku bilang bukan, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Para manusia yang selalu berkelompok yang sering ditugaskan menyelesaikan Dangeon ini pun semuanya tewas. Setiap sebulan, manusia pasti ada yang masuk ke tempat ini dengan berkelompok." Ucap Monster itu setelah ditebas oleh Zen.
"Apa maksudmu Dangeon ini sudah ada yang pernah menanganinya? Jika ini sudah ada yang menanganinya sebelumnya, harusnya portal Dangeon ini berwarna merah! Apa kau membuat ilusi portal supaya seperti sebelum ada yang menanganinya?" Sahut Zen.
Di tempat para senior dan teman-temannya, kabut semakin tebal. Hal itu membuat mereka tidak bisa melihat, meskipun mereka mendengar suara ledakan yang dibuat oleh Zen, mereka tidak bisa ke arah suara ledakan itu karena pandangan mereka yang kabur.
Di akademi tempat Direktur Arthur....
"Kenapa anda memanggil kami Direktur?" Tanya para ketua Tim senior.
"Aku tidak menyangka ini terjadi lagi, tahun lalu dan tahun sebelumnya... kita sudah kehilangan beberapa tim hanya untuk menangani Dangeon yang sama. Dangeon itu bisa merubah warna portalnya menjadi seperti sebelum ada yang memasukinya."
"Dan setelah gagal ditangani, portal itu menghilang dan kembali lagi setahun kemudian. Tempatnya selalu berubah, jadi misi kalian adalah menangani Dangeon itu. Pergi sekarang juga, Tim tiga dan tim satu junior dalam bahaya! Aku tidak ingin kehilangan murid lagi hanya karena Dangeon itu!!" Ucap Direktur Arthur.
"Baik, kami akan berangkat secepatnya Direktur Art!" Sahut mereka.
Kembali ketempat Zen....
"Jadi apa yang akan kau lakukan padaku, bocah brengsek?" Ucap Monster.
"Tuan, dengarkan baik-baik perkataan saya! Jika anda menyerangnya seperti sebelumnya, itu tidak akan berguna. Anda harus mencari tempat dia menyembunyikan senior anda, karena monster itu akan terus menyerap mana dari senior anda."
"Dan itu akan membuatnya tidak bisa dikalahkan sama sekali, gunakan penglihatan mata anda dengan baik. Dan cari tempat dia menyembunyikan senior anda." Ucap kalung Demoid.
"Terimakasih informasinya Demoid, itu sangat membantuku." Sahut Zen.
"Sekarang aku harus mencari dimana dia menyembunyikan senior itu... ketemu! Dia menyembunyikannya ditempat itu, aku harus berlari secepat kilat. Gumam Zen.
"Kecepatan kilat!"
Whusss....
"Kemana bocah itu berlari secepat itu? Oh, jadi dia sudah menemukan tempatku menyembunyikan teman besarnya rupanya. Tapi tidak semudah itu bocah sialan!" Teriak Monster itu. Setelah itu dia menyerang Zen dengan akar-akar miliknya.
Braaakkkk!
"Akhh, tubuhku sakit sekali setelah terhempas karena serangan akar brengsek miliknya itu." Ucap Zen setelah terbentur ke dinding di Dangeon itu.
"Bhahaha... kau pikir kau bisa mengalahkanku bocah! Tidak semudah itu, kau hanya sendirian. Sedangkan mereka yang tiada saja selalu menyerangnya berkelompok. Ckckck... apa kau menyerah sekarang bocah?" Ucap Monster itu.
"Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah menyerah menyerangmu, Monster jelek!!!" Teriak Zen, setelah itu dia berlari lebih cepat dari sebelumnya.
"Pergi kemana lagi kau bocah!" Ucap Monster itu.
Srett!
"Akhh, sialan! Kau potong lagi akar-akar indah milikku! Dasar bocah baj**g*n! Kau kemana kan cadangan mana milikku hah!!" Teriak monster.
"Aku sudah menyelematkan senior, sekarang aku harus membuat dinding pelindung berlian agar Monster itu tidak bisa mengikatnya lagi...." Gumam Zen, kemudian dia melapalkan mantra....
"Diamond strength, forming a protective wall!" (Kekuatan berlian, membentuk dinding pelindung!)
"Sekarang aku akan menyerangnya sekuat tenaga!" Ucap Zen.
"Coba lihat bocah, apa yang ada digenggaman tanganku ini?" Ucap Monster itu.
"Hilda! Bagaimana kau bisa menemukannya? Aku sudah menempatkannya di tempat yang tidak akan kau ketahui!" Teriak Zen setelah melihat Hilda ada didalam genggaman tangan Monster itu.
"Dangeon ini adalah tempatku, jadi aku pasti tahu dimana kau menyembunyikannya. Mana gadis ini masih banyak karena belum ku serap, hahaha... akan kuserap semua mana milik gadis ini dan aku akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya." Sahut Monster itu.
"Brengsek! Lepaskan dia sekarang!!" Teriak Zen.
^^^Bersambung....^^^