
"Akh, kepalaku rasanya pu.... Dimana... aku? Dan kenapa kalian berdua ada disini, tunggu kakek juga ada disini! Memangnya apa yang telah terjadi?" Tanya Zen kepada Putri Irene dan Pangeran Incelote juga tuan agung setelah dia bangun dari pingsannya.
"Kau pingsan semalam setelah terlalu banyak menggunakan kekuatan Diamond dan kekuatan lainnya. Dan asal kau tahu saja, kau sangat ceroboh! Kau meninggalkan jejak kekuatan Diamond ditempat reruntuhan kediaman viscount Silvester, bukannya aku pernah bilang padamu! Jangan pernah meninggalkan jejak." Sahut tuan agung dengan wajah kesal.
"Tapi kau sudah menghilangkan jejaknya kan?" Tanya Zen dengan ekspresi menjengkelkan.
Duaak!
"Ah, kepalaku masih pusing, kenapa malah kau pukul?" Ucap Zen sambil mengusap kepalanya.
"Aku hanya ingin memukul kepalamu saja hari ini." Sahut tuan agung dengan tersenyum kearah Zen.
"Senyumannya itu sangat menjengkelkan." Gumam Zen.
"Apa kepalamu sudah tidak sakit lagi, Zen. Maaf aku membuatmu jadi terluka seperti ini." Ucap Putri Irene dengan menatap wajah Zen.
"Pusingnya sudah hilang kok, jadi kau tidak perlu khawatir." Sahut Zen dengan tersenyum dan melipat kedua tangannya dibelakang kepalanya.
"Tunggu, bukannya tanganku terkena racun dan tidak bisa digerakkan?" Ucapnya lagi dengan wajah yang kebingungan.
"Racunnya sudah dikeluarkan dari tanganmu dan dokter juga sudah mengobatinya. Tapi anehnya, kakiku masih belum sembuh total seperti tanganmu dan aku harus menggunakan tongkat ini untuk jalan." Jawab Pangeran Incelote.
" ah, iya juga ya. Ngomong-ngomong kek, aku ingin bertanya padamu. Kenapa jaketku bisa membesar seperti semula, dan kalau kulihat-lihat jaketku yang kalian gantung disitu juga sudah bersih. Apa kalian yang menyuruh pelayan untuk mencucinya" Tanya Zen kepada mereka bertiga.
"Aku menaburkan sedikit sihir, jadi jaketmu itu bisa membesar dan mengecil sesuai tubuhmu. Dan jaketmu juga bisa menghilangkan noda apapun dalam waktu lima menit, karena jaketmu itu bukan jaket biasa. Apa kau tau, jaketmu itu terbuat dari ulat sutra paling langka di dunia ini, dan resletingnya juga terbuat dari emas murni." Jawab tuan agung.
"Apa! Jadi jaket ini kalau dijual pasti sangat mahal, dan kau membelikannya untukku." Ucap Zen dengan melongo mendengar kata-kata tuan agung itu.
"Wah, pantas saja jaketmu itu sangat lembut waktu kupegang. Ternyata terbuat dari ulat sutra paling langka di dunia dan desainnya juga sangat keren." Kata Pangeran Incelote dengan tatapan iri pada Zen karena dia tak memilikinya.
"Dimana kau membeli baju... ah, maksudku jaket ini tuan agung?" Tanya Pangeran Incelote.
"Jaket ini tidak ada yang jual, temanku yang membuatkan untuk Zen." Jawab tuan agung.
"Tunggu kau punya teman!" Ucap Zen karena terkejut.
"Memangnya kau pikir aku tak memiliki teman apa? Asal kau tahu saja, temanku itu ada banyak hanya saja mereka selalu sibuk jadi aku jarang bertemu dengan mereka." Sahut tuan agung.
"Oh iya, tentang Viscount Silvester. Apa kau tau alasannya menculikmu Rin? Dia pasti mengatakan hal itu saat melihatmu sudah ada digenggamannya." Tanya Zen kepada Putri Irene.
"Dia bilang alasan dia menculikku itu karena kesal setelah diperlakukan kasar oleh Incelote waktu dia bertanya anak siapa yang ada dipuncak-puncaknya waktu itu." Jawab Putri Irene.
"Jadi alasannya hanya karena kesal diperlakukan kasar oleh Incelote, benar-benar orang gila. Masa hanya karena kesal diperlakukan kasar oleh Incelote waktu itu membuatnya berkhianat terhadap kekaisaran yang kekuatan militernya jauh lebih kuat berkali-kali lipat darinya. Benar-benar nekat sekali. Ucap Zen dengan ekspresi datar setelah mengetahui alasannya.
"Kata-katamu itu benar sekali Yui." Sahut Pangeran Incelote.
Knock, knock....
"Apa kalian sudah berbincang-bincangnya? Karena jika sudah, ayo sarapan pagi sekarang karena kalian akan pergi ke akademi bukan. Dan Yui, apa kau juga ikut makan dengan kami." Ucap yang mulia Ratu setelah membuka pintu kamar ruangan itu.
"Ah, tapi Zen harus pulang ke penginapan yang disediakan akademinya sekarang." Sahut tuan agung.
"Aku minta izin padamu ya tuan agung, biarkan kami makan bersama-sama pagi ini." Ucap yang mulia Ratu dengan wajah memohon belas kasih.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu untuk sementara." Sahut tuan agung, lalu dia menjentikkan jarinya dan menghilang.
Kemudian mereka berempat pun pergi keruang makan istana, dan sesampainya di sana....
"Kami sudah menyediakan kursi anak kecil berumur tiga tahun untukmu, karena kami ingin melihatmu menjadi anak kecil lagi. Kami mohon...." Ucap satu keluarga itu pada Zen.
"Kalian mau aku jadi anak berumur tiga tahun?" Tanya Zen dengan tanpa ekspresi.
"Ya, dengan rambut putih dan bola mata biru." Sahut mereka.
"Tapi jika sampai terlihat para pelayan bagaimana?" Tanya Zen lagi.
"Kami sudah memerintahkan mereka semua untuk tidak masuk setelah menyiapkan makanan ini semua, dan jika mereka melanggar... akan kami penggal kepala mereka!" Jawab mereka dengan serempak.
Mendengar ucapan mereka, Zen hanya bisa menghela nafas dan mewujudkan keinginan mereka. Setelah mereka selesai sarapan pagi, tuan agung langsung muncul tepat dibelakang Zen.
"Ini sudah waktunya aku mengembalikannya ke akademi, dan aku ingin mengucapkan terimakasih banyak atas apa yang kalian lakukan pada Zen selama ini." Ucap tuan agung dengan menepuk bahu Zen kecil.
"Kalau egitu, semuga kita beljumpa lagi emunya. (Kalau begitu, semoga kita berjumpa lagi semuanya.)" Ucap Zen dengan melambaikan tangan.
Mendengar kata-kata yang dikatakannya masih kurang jelas, Zen berkata dalam hati, "Padahal waktu dulu saat aku berumur tiga tahun sudah berbicara jelas dan bukannya belepotan sepeti tadi, benar-benar memalukan."
"Sampai bertemu lain kali juga Yui!" Sahut mereka semua dengan membalas lambaian tangan Zen Abul tersenyum kearah Zen karena terpana melihat keimutannya.
Setelah itu, tuan agung langsung menteleportasikan Zen ketempat penginapannya di akademi.
"Kita sudah sampai, meskipun telat. Kau harus tetap pergi ke kelasmu." Ucap tuan agung kepada Zen setelah sampai.
"Tapi aku tidak tau aku ada dikelas mana, karena waktu itu masih belum pembagian lokal kelas." Sahut Zen.
"Kau ada di lokal kelas satu ganjil junior, kalau si Kaito dia ada dikelas satu genap junior karena dia ada di tim genap." Ucap tuan agung dengan mengusap kepalanya Zen.
"Akademi ini sangat besar, yang aku tahu cuman ruangan Direktur Arthur saja. Jadi... teleportasikan aku ke depan lokal kelasku, hanya aku saja tanpa bersama kakek." Jawab Zen.
"Ya sudah kalau begitu." Sahut tuan agung dengan menjentikkan jarinya.
Dan Zen pun langsung ada didepan kelasnya, setelah itu Zen pun masuk ke kelasnya....
"Hei, coba liat semuanya. Siapa yang masuk ke kelas kita ini?" Ucap salah seorang murid laki-laki.
"Aku tidak percaya alasan dia bisa mengalahkan Pangeran Kaito karena Artefak sihir yang digunakannya." Ucapnya lagi.
"Apa maksudmu, artefak? Aku tidak menggunakan artefak sihir apapun untuk mengalahkan Pangeran Kaito!" Bantah Zen.
"Berani-beraninya kau membantah kata-kataku! Kau pikir siapa dirimu itu hah... Kalian para rakyat jelata harus tunduk pada kami, dan patuh pada kami. Coba kau lihat, para rakyat jelata yang ada dikelas ini semuanya tunduk padaku. Karena aku adalah seorang Pangeran!" Ucapnya dengan menghempaskan kedua tangannya ke meja.
"Tunduk dan patuh padamu? Jangan harap! Lagi pula, kau hanya pangeran dari kerajaan kecil yang setiap harinya berkicau dengan mulut busukmu itu." Balas Zen dengan menarik kerah bajunya murid itu.
"Brengsek, berani-beraninya kau menarik kerah baju seorang Pangeran! Asal kau tahu baj***an, Aku adalah Pangeran Jack Snyder yang akan menjadi pewaris kerajaan milik ayahku. Jika sampai aku tahu kau adalah rakyatku, aku akan menghukum gantungmu!" Ucapnya dengan tubuh terangkat karena Zen.
"Bla, bla, bla... apa sekarang kau sudah puas berkicau? Kalau sudah biarkan aku membuatmu tak bisa berbicara untuk selamanya!" Sahut Zen.
"Hentikan sekarang juga! Sebentar lagi wali kelas kita akan sampai kesini, dan kau Yerui! Baru pertama kali masuk ke kelas, sudah membuat keributan seperti ini." Teriak seorang murid laki-laki yang ternyata adalah ketua kelas.
"Kenapa aku harus mematuhi kata-katamu? Memangnya kau itu siapa?" Tanya Zen dengan tatapan menyeramkan kearah ketua kelas.
"Baru saja masuk ke kelas setelah bolos sekolah selam tiga belas hari, sudah membuat keributan." Gumam Hilda.
"Karena aku adalah ketua kelas ini, dan kau pasti tidak tau siapa namaku karena saat pengenalan murid kau tidak hadir waktu itu. Jadi akan ku perkenalkan diriku sekarang padamu! Namaku adalah Nikel Arteta dari keluarga Duke Arteta." Ucapnya pada Zen.
"Jadi kau adalah ketua kelas ya? Baiklah kalau begitu, aku akan berhenti sekarang juga." Sahut Zen dengan melepaskan tangannya yang mengangkat Jack di kerah bajunya.
Brakk!
"Ah, Sialan kau baji***an brengsek!" Teriak Jack sambil mengusap pantatnya.
"Tempat dudukmu ada dibelakang sana dipaling ujung itu." Sahut Nikel dengan menunjuk arah tempat duduk Zen.
"Bhahaha, tempat dudukmu ada dibarisan paling belakang. Itulah adalah akibat bolos sekolah hampir dua minggu sih." Ucap Jack dengan tertawa terbahak-bahak.
"Memangnya kenapa kalau aku duduk dipaling ujung dan berada dibarisan belakang? Tempatku lebih enak dibanding tempatmu yang ada didepan, karena aku bisa tidur dijam pelajaran nanti, heh." Sahut Zen dengan tersenyum setelah dia duduk ditempatnya.
"Apa kau bilang hah!" Teriak Jack.
"Bisa berhenti tidak, aku sudah muak mendengar kalian bertengkar dari tadi." Ucap Nikel yang muak mendengar mereka berdua berjalan bertengkar.
"Aku akan berhenti kalau, Yerui mengakui bahwa dia tidak memiliki kekuatan dan hanya mengandalkan sebuah artefak sihir. Jika kau mau menjualnya padaku, akan kubeli seharga sebuah paviliun." Ucap Jack kepada Zen.
"Sudah ku bilang berapa kali, bodoh! Aku tidak memakai artefak apapun, karena itu adalah kekuatanku sendiri." Bantah Zen lagi.
"Bisa berhenti bertengkar tidak! Kalian seperti anak kecil yang berebut permen saja!" Teriak Hilda.
Setelah Hilda berteriak, mereka pun berhenti bertengkar dan kemudian datanglah wali kelas mereka....
"Selamat pagi semuanya.... Wah akhirnya Yerui sudah masuk ya, kalau Yerui sudah masuk sekolah lagi kata Direktur Arthur... tolong suruh dia pergi ke ruanganku sekarang katanya. Jadi kau pergi saja keruangannya dulu, jika sudah selesai... kau bisa meminjam catatan murid lainnya agar bisa memahami apa yang akan ku bahas dipertemuan selanjutnya." Ucap wali kelasnya dengan tersenyum ke arah Zen.
"Kenapa cara bicaranya seperti wanita? Padahal diakan laki-laki, dia membuatku merinding saja." gumam Zen. Kemudian dia pergi keluar dan berjalan ke arah ruangan Direktur Arthur.
Sesampainya di sana....
Knock, knock....
"Apa aku boleh masuk Direktur Art?" Tanya Zen setelah mengetuk pintu.
"Iya, kau boleh masuk." Jawab Direktur Arthur.
"Ada urusan apa kau memanggilku? Jika hanya memarahi karena bolos akibat menerima misi darimu, aku akan keluar sekarang!" Tanya Zen.
"Apa kau sudah mendengar rumor tentang mu yang menggunakan Artefak sihir hari ini?" Tanya balik Direktur Arthur.
"Ya, aku sudah mendengarnya. Memangnya kau tahu siapa yang telah menyebarkan berita bohong itu?" Sahut Zen.
"Aku tahu siapa orang yang menyebarkan rumor itu, tapi aku tidak bisa menceritakannya disini. Ayo ikuti aku keruangan bawah tanah rahasiaku dibawah sini" Ucap Direktur Arthur.
"Tidak ku sangka, kau punya ruangan rahasia dibawah tanah yang berada dibawah ruangan kerjamu." Ucap Zen sambil mengikuti Direktur Arthur menuruni tangga bawah tanah yang tersembunyi dibawah mejanya selama ini.
Sesampainya dibawah....
"Kita sudah sampai, jadi katakan padaku sekarang juga! Siapa yang telah menyebarkan rumor itu, karena aku sudah tidak sabar untuk mencincang lidahnya itu!" Ucap Zen.
"Kau ingin mencincang lidahnya?" Tanya Direktur Arthur sambil menelan air liurnya karena takut.
"Kenapa wajahmu pucat seperti itu? Apa jangan-jangan kau yang telah menyebarkan berita bohong itu? Kenapa kau hanya diam saja, Direktur Art. Jika kau tidak menjawab, akan ku bunuh kau disini." Tanya Zen dengan tersenyum lebar seperti psikopat.
"A-aku punya alasan kenapa aku menyebarkan berita bohong itu, jadi dengarkan penjelasanku dulu oke." Jawab Direktur Arthur.
"Baiklah, tapi jika alasan yang kau buat itu hanya ingin membuatku dibenci semuanya, akan kuhabisi kau sekarang juga." Sahut Zen.
"Aku tahu siapa kau sebenarnya Yui! Setelah mendengar kalau kau bisa membangkitkan naga petir dan juga membuat alat pengukur kekuatan yang terbuat dari berlian itu eror, hal itu langsung mengingatkanku pada kata-kata ayahku waktu itu."
"Dia bilang padaku, Jika kau melihat seseorang menggunakan kekuatan petir dan dia bisa membangkitkan naga petir juga membuat eror alat pengukur kekuatan. Itu berarti dia adalah keturunan Kaisar Note yang telah kucari-cari selama ini."
"Asal kau tahu Arthur, ayahmu ini bukan hanya seorang bangsawan yang hebat dalam berdagang saja. Ayahmu ini adalah kesatria Kaisar Diamond dan juga tangan kirinya sebelum Kekaisaran itu hancur. Aku tidak pernah menceritakan ini pada kakak-kakakmu karena mereka tidak punya jiwa sepertiku, mereka hanya peduli tentang uang dan kekayaan saja."
"Tapi kau tidak, kau berbeda dari mereka semua. Meskipun kau adalah anak paling muda diantara mereka, kau tidak pernah suka dimanja dengan harta. Kau lebih suka kalau mendapatkan ilmu tentang menjadi seorang pejuang, jadi aku hanya memberi tahu rahasia ini padamu seorang saja. Semua orang didunia ini mengira kalau keturunan Kaisar Diamond sudah tidak ada lagi, tapi mereka salah."
"Sebenarnya Kaisar Note sudah memiliki istri dan anak di suatu perdesaan, meskipun dia tidak pernah mengatakan hal ini pada ayah. Karena ayah diperintahkan oleh tuan agung untuk membuntuti Kaisar Note satu kali waktu itu, saat hari libur kerjanya. Dan setelah ayah mengikutinya yang pergi kesebuah perdesaan, akhirnya ayah tahu kalau Kaisar Note memiliki seorang istri dan anak disana.
"Dan ayah pun langsung melaporkan hal itu kepada tuan agung, lalu tuan agung meminta ayah berjanji untuk melindungi keturunan Kaisar Note. Dan ayah pun berjanji saat itu, tapi sayang... setelah Kaisar Note tiada, istri dan anaknya yang tinggal disana sudah pindah ke suara tempat. Dan pada akhirnya, ayah tidak bisa melindungi anaknya seperti janji ayah pada tuan agung."
"Jadi, jika kau menemukan seseorang yang bisa membangkitkan naga petir dan membuat alat pengukur kekuatan yang terbuat dari berlian itu rusak. Itu berarti dia adalah keturunan Kaisar Diamond, karena alat pengukur kekuatan itu adalah buatan dari Kaisar Diamond terdahulu sebelum Kaisar Note. Pada saat Kaisar Diamond yang menciptakan alat pengukur itu mencoba mengukur kekuatanya, alat itu langsung eror, padahal saat alat itu digunakan oleh orang lain tidak eror seperti itu.
"Dan bukan hanya Kaisar Diamond terdahulu saja yang membuat alat pengukur kekuatan itu eror, anak-anaknya juga membuat alat itu eror. Bahkan pada saat Kaisar Note mengukur kekuatannya waktu itu juga eror, setelah Kaisar Diamond mengukur kekuatanya, alat itu langsung menunjukkan angka nol yang artinya sebenarnya adalah tak terhingga."
"Dan setelah itu, alat itu tidak bisa digunakan lagi karena rusak akibat mengukur kekuatan Kaisar Diamond. Dan tentang membangkitkan naga petir, itu hanya bisa dilakukan oleh Kaisar Lord dan keturunannya. Karena meskipun banyak orang yang memiliki kekuatan elemen petir, tidak ada diantara mereka yang bisa membangkitkan kekuatan naga petir itu kecuali Kaisar Lord dan keturunannya."
"Tapi karena itu sudah berabad-abad lamanya, hampir tidak ada orang yang tahu tentang hal itu. Yang tahu hanya keturunan Kaisar Lord, karena mereka harus menguasai kekuatan itu sebelum diangkat sebagai Kaisar. Tapi mereka tidak pernah menunjukkan naga petir itu kepada rakyatnya karena dilarang oleh tuan agung. Bahkan mereka juga tidak boleh menunjukkan kekuatan petir itu sama sekali kepada musuh atau siapapun. Dan mereka pun menuruti perintah tuan agung meskipun tidak tahu alasannya."
"Lalu pada saat dia menceritakan hal itu, aku bertanya pada ayahku saat itu... aku berkata padanya, apa ayah tahu apa alasan tuan agung melarang mereka menunjukkan kekuatan petir itu? Dan lalu dia menjawab, aku tidak tahu alasannya. Memangnya aku siapa? Seorang Kaisar saja tidak tahu alasannya, apalagi aku yang hanya kesatria ini."
"Jadi... setelah aku tahu kau adalah keturunan Kaisar Diamond, aku akan menjadi pelindungmu. Karena aku ingin membayar kesalahan ayahku yang tidak bisa melindungi salah satu orang tuamu yang keturunan Kaisar Diamond."
"Jadi... alasanku membuat rumor itu demi melindungimu dari kekaisaran yang sekarang, karena penasehat kekaisaran yang sekarang ini tahu banyak tentang kekaisaran Diamond. Dia tahu kalau keturunan Kaisar Diamond pada saat mengukur kekuatan nya, maka alat itu akan eror." Ucap Direktur Arthur dengan menekuk lututnya dan menundukkan kepalanya dihadapan Zen.
"Jadi begitu rupanya.... Tapi asal kau tahu, tidak semudah itu aku bisa mempercayaimu. Karena aku sudah pernah di khianati oleh orang terdekatku, jadi sangat sulit untuk mempercayaimu sekarang ini." Ucap Zen dengan bersiap-siap untuk mengeksekusinya ditempat itu.
"Kumohon... percayalah padaku, jika kau masih tidak percaya terhadapku. Tusuklah diriku dengan duri kecil berlian, karena jika aku memberontak padamu... kau bisa membunuhku dengan duri kecil yang bisa membesar sesuai keinginanmu itu." Sahut Direktur Arthur.
"Padahal kau adalah seorang Direktur Akademi paling dihormati di benua ini, dan kau juga terkenal kuat. Jadi kenapa kau mau tunduk begitu saja terhadap bocah tengil sepertiku yang bahkan masih pemula ini?" Tanya Zen karena dia penasaran.
"Karena meskipun kau adalah seorang pemula, kau memiliki kekuatan yang mengerikan. Apa kau sudah paham kenapa aku tidak ingin macam-macam denganmu? Jika kau paham, lebih baik langsung tancapkan duri itu sekarang juga." Jawab Direktur Arthur.
"Baiklah, kau yang memaksa tentang hal ini. Jadi jangan salahkan aku nanti." Ucap Zen.
Setelah itu dia langsung menancapkan duri kecil yang terbuat dari berlian itu ke tubuhnya Direktur Arthur dan duri itu kemudian masuk ke dalam pundak tubuhnya.
"Jika kau berusaha mengeluarkan duri itu dari tubuhmu, Direktur Art. Aku tidak akan segan-segan memenggal kepalamu." Ucap Zen lagi untuk memperingatkannya.
"Karena aku sudah menjadi bawahanmu sekarang, aku akan melindungimu dan berjanji tak akan pernah mengkhianati mu. Tapi aku ada satu permintaan padamu, bergabunglah dengan anggota Gekenkai untuk melindungi orang-orang. Kau bisa mengasah kemampuan menggunakan kekuatan diamond, tapi resikonya memang besar jika mereka melihat kekuatanmu. Kau hanya perlu menggunakan kekuatan diamondmu saja saat menjalankan misi bersama anggota yang lain." Sahut Direktur Arthur.
"Bagaimana aku bisa menggunakan kekuatan diamond milikku jika aku harus menyembunyikannya?" Tanya Zen
"Kau hanya perlu menggunakan jurus seperti ini, kau cukup menancapkan duri kecil yang terbuat dari berlian ditubuh musuh dan dia akan mati jika kau membuat duri itu membesar didalam tubuhnya. Setelah dia mati, kau harus menghilangkan jejak kekuatanmu itu agar tidak ketahuan. Jika kau hanya misi solo, kau bisa menggunakannya sesuka hati. Bagaimana? Apa kau tertarik?" Tanya Direktur Arthur.
"Baiklah, aku setuju." Sahut Zen.
Mendengar Zen setuju dengan tawarannya, Direktur Arthur langsung pergi mengambil jubah hitam dan topeng anggota Gekenkai. Dia kemudian memberikannya pada Zen.
"Jubah hitam ini adalah seragam anggota Gekenkai, dan topeng ini juga. Mereka akan melepaskan penutup kepala dijubah ini untuk memperlihatkan belakang kepala mereka saat perkenalan kepada murid diakademi ini karena anggota Gekenkai adalah murid-murid di akademi ini. Tapi, topengmu ini spesial dibandingkan yang lain karena jika mengaktifkan mata Diamondmu, dia akan membuat tipuan seakan-akan bola matamu itu tetap sama seperti sebelumnya. Hebat sekali bukan?" Ucap Direktur Arthur setelah memberikan jubah dan topeng itu pada Zen.
"Yah, lumayan juga. Tapi bagaimana aku bisa membawanya pulang ke penginapan?" Tanya Zen.
"Pertanyaan yang bagus... jubah dan topeng ini setelah dipakai olehmu, akan menghilang sendiri saat kau tidak membutuhkannya. Dan disaat kau membutuhkannya lagi, jubah dan topengmu akan muncul lagi. Jadi pakai saja sekarang." Ucap Direktur Arthur.
Setelah itu, Zen pun memakai topeng dan jubah anggota Gekenkai. Kemudian jubahnya langsung menghilang bersama topeng yang dipakainya karena dia tidak membutuhkannya. Dan mereka pun keluar dari ruangan bawah tanah iyu
"Kembalilah ke kelas sekarang juga, Yui." Ucap Direktur Arthur.
"Ya, aku memang akan pergi. Terimakasih banyak atas perlindungan yang kau lakukan untukku Direktur Arthur." Sahut Zen sambil berjalan keluar ruangan.
Dan petualangan seorang warior junior yang dianggap payah dan hanya beban dikelasnya akibat dia selalu menghilang saat dibutuhkan karena dia berubah menjadi anggota Gekenkai dan menyelesaikan misinya sendirian karena musuhnya melampaui batas teman-temannya akan dimulai....
^^^Bersambung....^^^