ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 30 { Perkenalan Zen dengan Putri Irene Evelina William Frencesco }



"Kau bilang siapa namaku?" Ucap Zen kepada Putri itu.


"Iya, siapa namamu?" Sahut tuan Putri.


"Hei, tuan Putri! Kenapa anda ingin tau nama orang gila itu! Dia itu tidak waras, dan dia juga jelek. Lebih baik anda berbicara dengan Pangeran Kaito." Teriak temannya Kaito.


"Apa? Orang di depan ku ini tidak waras? Kalian semua lah yang tidak waras! Gara-gara kalian, aku hampir saja kena reruntuhan itu. Dan bukannya membantuku, kalian semua malah lari menyelamatkan diri sendiri termasuk Pangeran Kaito. Meskipun dia jelek atau apapun, aku tidak peduli. Karena dialah, aku baik-baik saja. Kau tidak usah mendengarkan kata-kata mereka, mereka semua hanya iri denganmu. Jadi katakan saja, siapa namamu." Sahut Putri Irene.


Setelah mendengar kata-kata dari Putri Irene, Zen berkata didalam hati....


"Apa kata-kata itu berasal dari mulutnya? Tidak ada orang yang mempedulikan diriku, karena aku aneh. Tapi... apakah dia mengatakan itu hanya untuk membalas budi? Haah... aku baru ingat! Kakek tua itu, dia mendaftarkan diriku ini dengan nama apa? Bagaimana dia tidak mengatakannya padaku? Jika sampai berbeda dari yang ku ucapkan tadi, aku pasti akan dibilang penipu." Ucapnya didalam hati.


Ditempat kekaisaran Diamond....


"Hei, tuan agung! Kenapa anda tidak mengatakan apapun tentang nama samaran untuk Zen? Ucap Perdana menteri Lucky yang sedang mengawasi Zen melalui lingkaran sihir.


"Nama samarannya sama kok, dengan yang dikatakannya saat itu." Sahut tuan agung.


"Bagaimana anda bisa tahu, bukannya itu berasal dari pikiran Ze.... Ah, aku baru ingat! Anda bisa melihat masa depan, pantas saja namanya bisa sama dengan yang dibuat Zen asal-asalan." Ucap Perdana menteri Lucky.


"Kau tau Lucky, aku bosan mendengarmu berbicara formal. Jadi bicara non formal saja." Sahut tuan agung.


"Memangnya tidak apa kalau saya berbicara formal dengan anda seperti waktu itu, bukannya anda bilang akan memanggil orang itu untuk menyeret saya ke neraka! Padahal saya ini juga bagian dari kalian, tapi kenapa anda memperlakukan saya seperti babu?" Ucap Perdana menteri Lucky.


"Siapa bilang kau itu bagian dari kami, jika memang benar kau adalah bagian dari kami. Sudah pasti kau diberikan tugas, tapi kau tidak pernah mendapatkan tugaskan.... Dan lagi, kau harusnya berterima kasih padaku atas semua yang telah kulakukan padamu. Jadi bicara non formal saja, jika sekali lagi kau bicara formal! Aku akan meminta orang itu menyeretmu ke dalam api neraka. Kau mengerti kan!" Ucap tuan agung kepada Lucky.


"Iya, aku mengerti." Sahut Perdana menteri Lucky dengan ekspresi kesal.


Dalam hatinya berkata, " Dasar kakek tua sialan! Dia pikir aku juga mau berbicara formal terus, dia sendiri yang bilang waktu itu. Dasar kakek pikun!"


"Yah, karena Zen kebingungan disana... aku akan berkomunikasi dengan kalung Demoid." Ucap tuan agung.


"Hei Demoid! apa kau bisa mendengarku?" Ucapnya dengan berteriak.


"Memangnya berkomunikasi dengannya tidak bisa bicara melalui pikiran saja apa? Telingaku sakit mendengarmu berteriak." Ucap Perdana menteri Lucky.


"Bisa sih, tapi aku malas." Sahut tuan agung.


Dalam hatinya dia berkata lagi, "Dasar kakek tua sialan!"


Kemudian tidak lama setelah dia berteriak... kalung Demoid menjawab....


"Ya, saya mendengar anda tuan. Ada keperluan apa anda memangil saya?" Ucap kalung Demoid. Tapi hanya tuan agung yang bisa mendengarnya.


"Katakan pada Zen, nama samaran yang dia buat itu sama seperti nama yang aku daftarkan ke akademi itu! Dan katakan lewat pikiran saja, karena ada banyak orang disana." Sahut tuan agung.


"Baik, tuan. Saya akan menyampaikan informasi ini kepada Zen melalui pikirannya." Ucap kalung Demoid.


"Nah, sudah selesaikan Lucky?" Ucap tuan agung dengan tersenyum.


"Iya, semuanya selalu beres, kalau kau yang melakukannya." Sahut Perdana menteri Lucky.


Di tempatnya Zen....


Kalung Demoid berkomunikasi lewat pikirannya Zen....


"Tuan muda Zen, ini Demoid yang berbicara melalui pikiran anda. Jika anda ingin berbicara dengan saya, bicara melalui pikiran saja. Karena disini banyak orang." Ucap kalung Demoid.


"Ada urasan apa kau berkomunikasi lewat pikiranku?" Tanya Zen.


"Ada pesan dari tuan agung! Dia bilang, anda tidak perlu khawatir dengan nama samaran anda. Karena nama samaran anda itu sama dengan nama yang didaftarkan oleh tuan agung." Sahut kalung Demoid.


"Haah... syukurlah kalau begitu." Ucap. Zen.


"Namaku adalah "Yerui" Tuan Putri." Ucap Zen kepada Putri Irene.


"Jadi namamu Yerui, kalau namaku adalah Irene Evelina William Frencesco. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Irene, dan apa aku boleh memanggilmu dengen sebutan Yui?" Tanya Putri Irene.


"Ya, kamu bisa memanggilku dengan sebutan Yui." Sahut Zen.


"Irene Evelina! ayo kita pergi menemui Direktur Arthur sekarang untuk mempermasalahkan kejadian ini." Ucap Incelote dengan menggenggam tangannya.


"Ya, sudah kalau begitu. Dah dulu ya Yui." Ucapnya dengan tersenyum ke arah Zen sambil melambaikan tangannya.


Setelah melihat Putri Irene tersenyum, dia kemudian teringat dengan ibunya. Karena rambut dan bola mata Putri itu sama persis dengan ibunya.


"Rambut dan bola matanya itu membuatnya mirip dengan ibuku...." gumamnya.


Kemudian ada dua murid laki-laki yang menghampirinya dan berkata....


"Hei, kau anak yang akan melawan Kaito itu kan? Perkenalkan namaku adalah Lucas dan kalau orang yang disampingku ini namanya adalah Diego. Kami berdua ingin menjadi temanmu setelah mendengar kau berteriak menantang Kaito tadi, karena kami benci denganya. Ya kan Diego?" Ucap salah satu murid yang menghampirinya tadi.


"Ya, yang dikatakan Lucas itu benar semua. Kami berdua ingin menjadi temanmu, apa kau mau?" Sahut Diego.


"Kalian serius ingin berteman denganku?" Tanya Zen.


"Iya kami serius!" Sahut Lucas.


"Ya sudah kalau begitu, mulai sekarang kita bertiga adalah teman." Ucap Zen.


Dalam hatinya Zen berkata, "tidak ku sangka, mereka berdua adalah Lucas dan Diego. Mereka berdua masih sama seperti dulu, selalu menempel pada satu sama lain."


"Yerui! Apa murid itu masih ada disini?" Ucap pelayan Direktur Arthur.


"Ya, aku ada didepan mu. Memangnya ada apa kau memanggilku?" Sahut Zen.


"Eh, jadi kau ada didepan ku rupanya. Ya sudah kalau begitu, ikuti aku ketempat tuan Arthur sekarang. Karena beliau ingin bertemu dengan anda." Ucap pelayan tadi.


"Oke, aku akan mengikutimu. Jadi ayo pergi sekarang! Dah, dulu kalian berdua." Ucap Zen dengan melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.


"Dah, juga Yui. sampai bertemu nanti...." Sahut mereka berdua.


Sesampainya Zen diruangan Direktur Arthur....


"Silahkan masuk, beliau sudah menunggu anda." Ucap pelayan tadi dengan membukakan pintu.


"Terima kasih banyak, kau tidak perlu melakukan itu." Sahut Zen yang kemudian masuk ke ruangan itu....


"Nah, itu dia penyelamatku hari ini. Aku sangat berterima kasih banyak padanya, namanya adalah Yerui katanya." Ucap Putri Irene dengan menunjuk ke arah Zen.


"Kalian berdua pergi ke sini rupanya. Ngomong-ngomong, kenapa anda memanggilku Direktur Art?" Tanya Zen kepada Direktur Arthur yang sedang duduk di bangku kerjanya.


^^^Bersambung....^^^