ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 39 { Pembagian Tim }



"Hei Pangeran Incelote! Kita sudah sampai didepan gerbang istana, dan ayahmu juga sudah menunggumu di kereta kuda tersebut. Kau bisa jalan sendiri kan?" Ucap Zen dengan memalingkan wajahnya ke arah Pangeran Incelote.


"Ah, ya sudah, aku sudah bisa jalan, mungkin...." Sahut Pangeran Incelote.


Kemudian Zen menurunkan Pangeran Incelote dari pundaknya, setelah itu dia berkata....


"Dah, Pangeran Incelote, dah Putri Irene. Dah juga Kaisar Learn, aku pergi dulu." Ucapnya dengan melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah mereka.


"Tunggu dulu Yui!" Teriak Putri Irene.


"Ayah, apa kami boleh mengantarkan Yui ke akademi. Ku mohon, karena mungkin kami akan jarang bertemu." Ucap Putri Irene yang memohon kepada ayahnya yang berada dalam kereta kuda.


"Ya, tapi jangan lama. Dan kau Incelote, kau harus menjaga adikmu!" Sahut Kaisar Learn.


"Iya, ayah." Ucap Pangeran Incelote dengan menundukkan kepalanya.


Setelah itu, Putri Irene langsung mengejar Zen yang sudah berjalan lebih dulu dari mereka. Saat dia berlari mengejar Zen, dia berkata....


"Yui, tunggu kami." Ucapnya sambil berlari.


Sesampainya di akademi....


"Hei, Yui." Ucap Putri Irene.


"Ya, apa ada yang ingin kau bicarakan dengan ku sebelum aku masuk ke akademi ini, Putri Irene?" Tanya Zen.


"Bisa tidak, kau memanggilku Rin saja seperti waktu itu. Saat kau memanggilku sebagai Putri, rasanya seakan-akan kau adalah bawahan ku. Kita kan teman?" Sahut Putri Irene.


Lalu murid laki-laki yang berada disekitar mereka pada berbisik, kebanyakan mereka berkata....


"Enak sekali ya, punya wajah tampan seperti dia! Meskipun dia hanya rakyat jelata, dia tetap bisa berada disamping seorang Putri." Ucap seorang murid.


"Iya, kudengar dia bukanlah keturunan Kaisar Learn kok, hanya rambut dan bola matanya yang mirip." Ucap murid lainnya.


"Lihat dia, padahal kastanya sangat rendah dari kita. Tapi dia bahkan bisa berbicara dengan seorang Putri, dia kan hanya rakyat jelata! Memangnya pantas apa, dekat-dekat dengan seorang Putri?" Ucap murid laki-laki lainnya.


"Kenapa semua orang terus mengatakan beda kasta? Bahkan tatapan mereka pada Yui, itu sangat buruk. Kenapa Yui hanya diam saja? Andai mereka tau siapa Yui sebenarnya... mereka pasti akan berlutut dihadapannya." Gumam Pangeran Incelote.


"Baiklah, aku akan memanggilmu Rin mulai hari ini." Ucap Zen kepada Putri Irene.


Kemudian Zen berbisik kepada Pangeran Incelote,


"Hei, Pangeran Incelote. Lebih baik kau bawa pergi adikmu dari sini, sebelum dia mendengar perkataan murid-murid yang menghinaku tadi." Bisiknya.


"Apa kau tidak apa-apa dihina begini? Kau yang dulunya sudah terbiasa dipuji, disanjung dan dihormati, dikatai begini. Aku yang melihat saja langsung kesal dan ingin menampar mulut mereka itu, apa lagi kau yang mereka hina!" Sahut Pangeran Incelote dengan berbisik.


"Ya, aku memang sangat marah. Tapi aku harus sabar, aku takut kalau semua yang dikatakan seseorang dikepalaku waktu itu menjadi kenyataan. Jika aku terus membenci mereka dan berada dalam kegelapan, aku tidak akan bisa mengendalikan diriku lagi."


"Dan aku akan menjadi seorang pembunuh yang membunuh semua orang di dunia ini seperti dimimpi itu. Karena itulah aku mulai belajar bersabar dan memaafkan kata-kata mereka."


"Suatu hari nanti, aku akan membuat pandangan kejam mereka berubah padaku dengan menjadi seorang Ranker yang menyelamatkan dunia ini dari kekacauan dan aku akan menghentikan peperangan yang terus terjadi di dunia ini karena berebut kekuasaan karena aku ingin dunia ini damai!" Ucap Zen dengan semangat walaupun berbisik.


"Aku sangat kagum dengan kata-katamu itu, Yui." Ucap Pangeran Incelote.


"Sejak kapan Yui berkata-kata? Apa kalian dari tadi berbisik agar tidak kedengaran oleh ku!" Ucap Putri Irene kepada mereka berdua.


"Haha, kita pulang saja Rin. Mungkin ayah sudah menunggu kita terlalu laama." Sahut Pangeran Incelote.


"Dah, juga kalian berdua." Sahut Zen dengan membalas lambaian tangan Putri Irene.


Setelah itu... Zen masuk ke akademi, sambil bergumam....


"Tatapan mereka sangat mengerikan, jauh lebih mengerikan dari tatapan tajam Paman Hans. apakah aku bisa bertahan hidup dengan pandangan buruk dari semua orang, mereka hanya menganggap ku sebagai sampah di dunia ini. Tapi aku harus berusaha! Ya, Zen, kau harus berusaha sekuat sekuat mungkin!" Gumamnya.


"Hei Yui! ayo kesini sekarang." Teriak Lucas yang berada di kerumunan para murid baru.


Kemudian Zen pun menghampirinya dan bertanya....


"Kenapa ada banyak murid disini? Dan dimana Diego?" Tanyanya.


"Diego sedang ada di toilet, dan orang-orang termasuk aku sedang menunggu pengumuman pembagian tim. Ku harap kau dan aku juga Diego, kita akan se tim. nantinya." Sahut Lucas.


"Ku harap juga begitu, tapi... bukannya dua hari lagi, memangnya semua murid sudah duel?" Tanya Zen lagi.


"Ah, iya. Semua murid sudah duel hari ini, dan Pangeran Kaito juga sudah siuman dari koma. Dia ada disini sekarang." Ucap Lucas.


"Jadi dia sudah bangun." Sahut Zen dengan celingak-celinguk melihat ke sana-sini mencari Pangeran Kaito.


"Kepada seluruh murid! diharapkan dengarkan pengumuman kami!" Ucap Ketua Dewan siswa.


"Setiap tim berjumlah lima orang dalam timnya, dan diantara lima orang itu akan dipilih satu orang sebagai ketua nantinya." Ucap Wakil ketua Dewan siswa.


"Tim pertama adalah... Putri Hilda, Mianelly, Lucas, Diego dan Yerui! Tim kedua adalah... Pangeran Kaito, Luis, Sai, Laila, dan Jeanny. Tim tiga... Kirio, Sezui, Dante, Savir, dan Selena. Tim empat... Teo, Hanjie, Nel, Ariel, dan Fanny. Tim Lima... Danzo, Ericsson, James, Hanabi, dan Ruby. Tim enam sampai seterusnya lihat di kertas ini, karena tenggorokan ku sudah kering." Ucap Ketua Dewan siswa.


"Dengar Ketua Dewan siswa, kenapa Hilda ada di tim rakyat jelata itu! Dia kan seorang Putri, harusnya dia berada di tim dua. Aku seorang Pangeran dan dia seorang Putri, cocokkan teman-teman?" Ucap Pangeran Incelote.


"Meskipun anda adalah seorang Pangeran, anda tetap tidak bisa merubah hal ini. Karena hal ini sudah kami perhitungkan setelah melihat kalian bertarung. Yerui adalah Ranker pengguna elemen dan Diego adalah Ranker pelindung atau Tanker."


"Sedangkan Lucas dia adalah seorang Wizard atau penyihir. Penyihir bisa menyerang juga mengobati yang terluka dalam misi nantinya. Mianelly adalah seorang Arcer yang bisa mengalirkan kekuatan ke anak panahnya, dan yang terakhir adalah Hilda. Hilda memiliki kekuatan angin, dia bisa terbang dan mengawasi dari atas, dan dia juga pengguna Relik pedang kelas S dan Relik sepatu yang hanya ada satu dunia ini. Relik itu bisa berlari dengan cepat.


Tim mereka sudah lengkap, begitu juga dengan kalian semua."


"Kami membuat Tim kalian tidak sembarangan, karena kami berharap tim-tim yang kami buat akan menjadi tim yang kuat yang bisa melindungi benua ini dari para musuh diluar sana. Apa anda paham Pangeran Kaito?" Ucap Ketua Dewan siswa kepada Kaito.


Mendengar kata-kata itu, Kaito langsung malu dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Haha... lucu sekali, sepertinya dia pergi karena malu." Ucap Lucas kepada Zen dan juga Diego.


"Hei, Yerui. Perkenalkan namaku adalah Mianelly, mohon kerjasamanya, ya." Ucap seorang murid perempuan yang berambut merah sambil tersenyum ke arah Zen.


Zen hanya terdiam dan berkata dalam hati....


"Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menerima pertemanan dari murid ini? Sejak para murid perempuan menghinaku waktu itu, jangankan tersenyum pada mereka, menatap wajah mereka saja aku benci."


"Kejadian itu telah membuat ku trauma, karena mereka tidak habis-habisnya menghinaku. Aku tidak pernah dihina waktu dulu, dan aku hanya dipuji-puji. Karena aku tidak biasa hidup dikucilkan dan dihina seperti ini, hal ini membuatku makin benci akan takdir hidupku dan orang-orang disini.


"Padahal kata suara dalam diriku waktu itu, aku tidak boleh terus membenci seseorang atau takdir hidupku yang menyedihkan begini. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Gara-gara murid perempuan yang menghinaku waktu itu, dimataku sekarang semua perempuan menjadi buruk. Bahkan Hilda yang teman masa kecilku juga menghinaku, karena hal itu juga, aku jadi benci pada semua perempuan termasuk Putri Irene yang selalu baik padaku."


^^^Bersambung....^^^