
"Senang berkenalan denganmu, dan mohon kerjasamanya juga." Ucap Zen dengan menjabat tangan murid perempuan tadi sambil tersenyum.
Dalam hati Murid perempuan itu....
"Ah, gila! Jadi begini rasanya berpegangan tangan dengan orang yang disukai!"
Lalu setelah itu... datanglah Hilda menghampiri mereka berempat,
"Mohon kerjasamanya kedepan, dan kau Yerui!" Ucap Hilda dengan menatap tajam ke arah Zen.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Zen pada Hilda.
"Jangan pernah mendekati ku, meskipun kita ini se tim. Aku benci dengan laki-laki murahan sepertimu!" Sahut Hilda.
"Hei, Hilda! Yui itu bukanlah laki-laki murahan! Hanya karena dia berjabat tangan dan tersenyum kepada seorang wanita, kau menganggapnya laki-laki murahan! Kemana Hilda yang dulu ku kenal?" Ucap Lucas yang marah melihat Hilda menghina Zen sebagai laki-laki murahan.
"Berhenti Lucas, yang dikatakannya Hilda memang benar. Aku memang laki-laki murahan, tapi... aku bukanlah pria yang suka mempermainkan wanita. Aku hanya menganggap dia sebagai teman! Andai dia tidak ada di tim ku... sudah pasti aku tidak akan pernah berjabat tangan dan berteman dengannya."
"Dan aku juga tidak tertarik dengan mu, sejak awal! Kenapa kau terus mengatakan aku ingin mendekati mu? Memangnya kau siapa? Malaikat cantik yang turun dari langit hah! Gara-gara kau, aku jadi semakin benci dengan para wanita!" Sahut Zen dengan membalas tatapan tajam Hilda. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu.
"Yui, kau mau kemana? Yui! Ah, sialan. Ini semua gara-gara kau Hilda! Kenapa kau sangat kepedean kalau Yui akan mendekatimu, memangnya kau itu siapa?"
"Ayo Diego, lebih baik kita pergi dari sini. Andai saja anggota tim-nya bisa berubah... memang benar yang dikatakan Kaito, Hilda dan Kaito sangat cocok. Sama-sama memiliki sifat brengsek!" Ucap Lucas. Kemudian Lucas pergi dari tempat itu bersama dengan Diego.
"Hei teman-teman tunggu aku! Kita kan anggota tim." Ucap Mianelly yang berlari mengejar mereka berdua.
"Cih, kau pikir aku tertipu Yerui. Kata-kata tadi itu hanyalah jebakan, agar aku percaya padamu dan mulai menjalin pertemanan. Setelah itu, kau pasti akan mendekatiku sedikit demi sedikit sampai membuatku jatuh cinta. Sebelum itu terjadi, aku harus menjaga jarak denganmu." Gumam Hilda.
Diluar akademi....
"Yui! Kau mau kemana? Harinya sudah hampir gelap, ayo ikut bersama kami bertiga ke rumah yang sudah disediakan untuk tim kita! Disana fasilitasnya sudah lengkap, kita tidak perlu tidur di lapangan lagi." Teriak Lucas setelah menemukan Zen.
"Iya, ayo ikut kami Yui!" Sahut Diego dan Mianelly.
Mendengar teriakan mereka, Zen kemudian memalingkan wajahnya,
"Terimakasih atas tawarannya, tapi aku ingin tidur di luar kali ini. Aku tidak ingin membuat Hilda tidak enak nantinya saat aku berada serumah dengannya." Ucap Zen dengan tersenyum.
"Kenapa kau memikirkan perempuan menyebalkan itu! Jangan hiraukan dia, dan jika Direktur Arthur mengetahui kalau tidur diluar, dia pasti akan menghukummu!" Ucap Lucas.
"Kalian tidak usah khawatir, cuman malam ini saja kok." Sahut Zen dengan tersenyum.
Kemudian dia pergi meninggalkan mereka dan pergi ke dalam hutan. Karena sudah malam hari... dia pun tidur diatas pohon.
Pagi harinya....
"Hoamm... apa didalam hutan ini ada sungai ya? Masa aku pergi ke akademi tidak mandi! Memalukan sekali, lebih baik sekarang aku turun dari pohon ini dulu, baru mencari sungai atau danau di dalam hutan ini. Semoga saja ada...." Ucapnya yang baru bangun dari tidur.
Setelah itu dia langsung melepaskan pakaiannya dan berendam di danau itu. Sambil merasakan nikmatnya berendam di danau itu, dia berkata....
"Danau ini mengingatkanku pada hadiah ulang tahunku waktu itu, dan kejadian memalukan saat aku terjebak di danau karena aku tidak menghiraukan peringatan ibuku. Rasanya benar-benar indah waktu itu, sekarang aku hanya bisa mengingat wajah mereka berdua yang sedikit demi sedikit menghilang dari ingatanku."
Setelah mengatakan itu dia kemudian keluar dari air danau itu dan memakai pakaiannya kembali. Dia pun berlari ke arah akademi sesudah memakai pakaiannya.
Sesampainya di akademi....
"Untung kau tepat waktu Yui, apa tidurmu nyenyak malam tadi?" Ucap Lucas setelah melihat Zen menghampirinya.
"Tidurku nyenyak sekali, tadi malam. Kalau kalian sendiri?" Tanya Zen pada Lucas, Diego dan Mianelly.
"Tidur kami nyenyak kok, ngomong-ngomong... apa kamu sudah makan Yui?" Ucap Mianelly.
"Haha, belum sih. Tapi aku tidak lapar kok. Kenapa cuman ada kalian bertiga disini? Dimana Hilda! Bukannya Direktur Arthur menyuruh kita se-tim berkumpul di lapangan ini untuk membagikan "Earpiace" yang gunanya untuk berkomunikasi ke rekan satu tim untuk meminta bantuan saat diri kita dalam bahaya. Dan kalau ketua tim, benda itu juga digunakannya untuk berkomunikasi dengan Direktur." Ucap Zen.
Tiba-tiba, muncul seseorang dibelakang mereka dan dia juga berkata....
"Maaf aku terlambat... wah, wah, tidak ku sangka... ternyata kau datang tepat waktu ya laki-laki hidung belang! Ucap Hilda.
"Hei, jaga omongan mu Hilda!" Teriak Lucas.
"Tenang Lucas, biarkan dia berkata apapun tentang diriku. Aku yakin nantinya, sifat buruknya padaku akan berubah seiring waktu. Bukan hanya itu, aku akan membuat seluruh orang di benua ini menghargai ku, dan berhenti menganggapku seorang rakyat jelata yang tidak berguna seperti sampah! Dan ku dengar dari kebanyakan murid, kalau kau itu menyukai Zen, jika itu benar... Zen pasti juga akan berpikiran sama sepertiku. Dia pasti akan membencimu setelah melihat sifatmu seperti ini. Jika kau tidak merubah sifatmu, suatu hari nanti kau pasti akan menyesal." Ucap Zen.
"Apa maksudmu menyesal?" Tanya Hilda.
"Kata Lucas, dulu sifatmu tidak seperti ini. Setelah Zen tiada, sifatmu sangat berubah. Kalau Zen masih hidup dan dia berada disampingmu selama ini tanpa kau ketahui, setelah dia melihat sifatmu seperti ini dia pasti akan membencimu. Ku mohon... kembalilah seperti sifatmu yang dulu sebelum kau menyesal." Sahut Zen.
"Zen sudah tiada! Tidak mungkin dia ada disini, itu sangat mustahil! Kau pikir aku akan merubah sifatku padamu karena mendengar ceramah darimu! Itu tidak akan pernah terjadi." Teriak Hilda.
"Halo semua, aku adalah senior kalian. Direktur Arthur memintaku memberikan Earpiace ini kepada kalian, silahkan dipasang ditelinga kalian. Ngomong-ngomong... siapa ketua dari tim kalian?" Ucap seorang senior yang tiba-tiba muncul dan membuat adu mulut Zen dan juga Hilda terhenti.
"Yui adalah ketua dari tim kami!" Ucap Lucas, Diego dan Mianelly secara bersamaan.
"Maksud kalian murid bermasalah seperti dia jadi ketua, dia hanya rakyat jelata. Dia mungkin tidak tau aturan-aturan karena pendidikan yang kurang. Tapi ya sudahlah, terserah kalian. Ini Earpiace khusus untuk ketua tim dan ini untuk anggota tim biasa." Ucap senior tadi dengan memandang hina Zen.
Lalu mereka mangambil Earpiace yang ada ditangan senior tadi dan memasangnya ditelinga mereka masing-masing.
"Karena kau adalah ketua dari tim mu, bocah! Besok kau harus datang pagi untuk mengetahui misi kalian yang pertama. Semua ketua tim wajib datang untuk mengetahui misi yang diberikan pada timnya. Sekarang kau mengertikan!" Ucap senior itu lagi dengan menatap Zen seperti sampah.
"Iya aku mengerti." Sahut Zen dengan mengepal tangannya karena melihat tatapan yang menghinanya dari senior itu.
^^^Bersambung....^^^