
"Guru! Apa yang harus kami lakukan? Jika dibiarkan saja, anak itu bisa mati terbakar api itu." Ucap seorang Ranker senior.
"Tunggu dulu, kalian jangan masuk ke area. Ada sesuatu yang aneh, anak itu sama sekali tidak menghindar. Kita lihat dulu...." Sahut guru itu.
Di tempat kekaisaran Diamond....
"Bantai dia! Bantai dia Zen! Jika kau tidak membalasnya dan tidak menyiksa keturunan iblis itu, maka aku yang akan menyiksamu nantinya!!" Ucap tuan agung yang sedang menonton pertarungan itu.
"Tidak kusangka, sifatmu sangat berubah dari yang dulu tuan agung. Mungkin karena terlalu lama berada di dunia manusia, sifatmu hampir menyerupai kami." Sahut Lucky.
"Itu bukan karena sifat ku berubah, tapi aku sangat membenci keturunan iblis itu. Andai tugasku adalah membantai keturunan iblis itu, sudah pasti aku akan menghabisi mereka semua sekarang. Jadi... jika Zen hanya diam saja, tanpa melawan! Aku akan menyiksanya nanti!" Ucap tuan agung dengan kesabaran yang hampir pada batasnya.
"Iya, juga sih. Kalau dia hanya diam saja itu sangat tidak menarik! Oke, aku juga akan menyiksanya nanti, jika dia tidak melakukan apapun!" Sahut Lucky.
kembali ke tempat pertarungan....
Saat bola api itu hampir mengenainya, Zen langsung melapalkan mantra....
"The power of the water element, forming a water wall shield!" (kekuatan elemen air, membentuk perisai dinding air!)
Dan bola-bola api itu langsung menghilang saat mengenai dinding air milik Zen.
"Apa! Bagaimana itu mungkin? Aku belum pernah melihat elemen air." Ucap Ranker senior tadi.
"Sudah kubilang bukan, ada sesuatu dari anak itu. Duelnya semakin menarik sekarang." Sahut guru tadi.
Semua murid yang menonton pertarungan itu, semuanya terkejut dengan kekuatan yang dimiliki oleh Zen.
Dan setelah membuat perisai air itu, Zen melapalkan mantra lagi....
"The power of the water element, forming a water tsunami! Lunge that guy now!" (kekuatan elemen air, membentuk tsunami air! Terjang orang itu sekarang!)
"Apa-apaan itu? Kenapa air itu membentuk sesuatu yang mengerikan? Dan ini tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi... bagaimana bocah bodoh itu memiliki kekuatan air yang tidak pernah ada di dunia ini? Ini tidak, eh... sejak kapan air itu sudah ada didepan ku? Sialan blup... blup... a-aku tenggelam blup... blup... Sialan!!" Ucapnya yang tenggelam di terjang tsunami milik Zen tadi.
"Pangeran Kaito! Kau harus bisa bertahan, dan serang orang itu balik!" Teriak para murid perempuan.
Mendengar teriakan itu, amarah Zen langsung meledak dan membuat segel di jaket yang dia pakai itu rusak. Entah dari mana datangnya angin yang sangat kencang menghembus dirinya sampai membuat topi di jaketnya itu terbuka. setelah itu, Demoid langsung mengaktifkan kekuatannya untuk merubah fisik Zen menjadi lebih mirip ke ibunya.
"Hei lihat! Kenapa angin mengelilingi murid bodoh itu?" Ucap salah seorang murid.
"Iya, aku juga melihatnya. Dan apa kalian juga melihat topi yang dia pakai itu terbuka, tapi aku tidak bisa melihat wajah jeleknya itu karena tertutup angin yang kencang mengelilingnya itu." Sahut murid lainnya.
Kemudian setelah itu Zen terbang ke atas menggunakan angin yang mengelilinginya tadi, dan dia juga memegang relik pedang tadi, sambil berkata....
"Akan ku buat kau koma selama-lamanya! Kaito brengsek!!" Ucap Zen yang kemudian melapalkan mantra lagi....
"Power of the lightning element, flow this sword with the power of lightning!" (kekuatan elemen petir, aliri pedang ini dengan kekuatan petir!)
Saat air tsunami itu tenang, Kaito langsung muncul dipermukaan air itu....
"Pwuah... haah... haah.... Akhirnya aku bisa bernafas. Haah... sialan! Masa aku harus berenang di air ini! Eh, kenapa dia ada di atas sana? Dan pedang yang digenggaman nya itu dari tadi mengeluarkan petir terus menerus, jika sampai pedang itu di lemparkannya ke air ini... tamat sudah riwayatku. Aku harus menyerangnya!" Ucap Kaito yang kemudian melapalkan mantra....
"Dragon fire power, super big fire ball shot!" (kekuatan api naga, tembakan bola api super besar!)
Kemudian bola itu menghampiri Zen, tapi bola api itu langsung ditangkisnya menggunakan pedang ditangannya tadi ke luar area pertarungan itu. Setelah itu dia langsung melemparkan pedangnya yang dialiri kekuatan petir itu ke kolam air yang menggenang di area pertarungan.
"Sial! Bola api tadi malah ditangkisnya. Dan sialnya lagi, pedang itu dilemparkannya ke sini." Ucap Kaito.
Setelah pedang itu mengenai genangan air itu....
"Keaakkkh!!! Saakittt seekaaliii!!! Akkkh!" Teriaknya Kaito saat tersengat listrik di pedang itu.
"Guru! Anak itu sangat berbahaya! Bisa-bisa Pangeran Kaito tiada nantinya." Ucap Ranker senior tadi.
"Kalian berlima! Cepat hentikan pertarungan itu sekarang! Anak itu sangat berbahaya!" Sahut guru tadi dengan memerintahkan mereka berlima untuk menghentikan pertarungan itu.
"Dimengerti guru!" Ucap mereka berlima yang kemudian pergi ke area itu.
"Dan sekarang.... Ini akan menjadi penutup acara ini!" Ucap Zen yang masih melayang di udara.
Setelah itu dia melapalkan mantra lagi....
Semua orang yang berada di tempat itu langsung terkejut saat melihat naga petir yang sangat besar di atas mereka.
"Gila! kekuatan orang bodoh itu sangat mengerikan. Tunggu... jika benda itu menyerang ke bawah, itu juga akan mengenai kita. Cepat lari sekarang!" Ucap salah satu murid yang sedang menonton pertarungan itu.
Semua murid pun langsung mondar-mandir ingin melarikan diri. Salah satu diantara lima murid senior tadi langsung menggunakan kekuatannya agar bisa mendekati Zen yang terbang.
"Wind element, fly me up there!" (elemen angin, terbangkan aku ke atas sana!)
Setelah dia terbang ke atas dan berada dekat dengan Zen....
"Yerui! Ku mohon hentikan sekarang juga! Jika kau melepaskan naga itu ke bawah, itu akan membuat area pertarungan ini hancur lebur. Dan bukan hanya itu, semua orang yang ada disini juga akan ikut tiada. Hanya karena kau marah dengan seseorang, kau membuat yang lain juga tewas. Jadi ku mohon hentikan!" Ucap Ranker senior tadi.
"Haah... apa yang sudah kulakukan?" Sahut Zen yang tersadar. Kemudian dia langsung mengucapkan....
"Disappeared!" (menghilang!)
Setelah naga petir itu menghilang, dia pun turun dari atas.
"Aku hanya bisa menghilangkan benda tadi, kalau air yang menggenang ini tidak bisa." Ucap Zen kepada Ranker senior tadi.
"Yah, tak apa.... Kalian berempat! Cari Pangeran Kaito di air itu sekarang." Sahut Ranker senior tadi.
"Dimengerti ketua!" Ucap keempat orang itu.
"Oh, iya Yerui. Topi yang kau pakai terlepas dan wajah yang ingin kau tutupi ketahuan." Ucap Ranker senior tadi.
"Tunggu... apa yang kau bilang tadi? Topi itu terlepas?" Sahut Zen dengan meraba-raba kepalanya.
Dalam hati dia berkata....
"Sialan! Segel itu rusak karena aku mengamuk, rambut dan wajahku terlihat sekarang. Paman brengsek itu pasti akan membunuhku jika dia tahu kalau aku masih hidup!" Gumamnya dalam hati.
"Tenang saja tuan, Saya sudah mengaktifkan penyamaran anda. Sekarang bola mata anda dan rambut anda sudah berubah menjadi mirip ibu anda!" Ucap Demoid yang berkomunikasi lewat pikiran Zen.
"Kau serius?" Sahut Zen.
"Iya tuan." Ucap Kalung Demoid.
"Syukurlah...." Sahut Zen.
Kemudian Ranker senior tadi berkata pada Zen....
"Coba lihat kebelakang mu Yerui. Dua temanmu sedang menghampirimu, dan murid-murid lainnya juga menuju kearah mu." Ucap Ranker senior tadi.
Setelah itu, Zen kemudian menoleh kebelakang dan dua temannya tadi langsung memeluk dirinya sambil berkata....
"Syukurlah kau baik-baik saja Yui. Kami sangat khawatir padamu, benarkan Diego?" Ucap Lucas.
"Iya, kami berdua sangat menghawatirkan dirimu." Sahut Diego.
"Terimakasih karena telah menghawatirkanku, aku baik-baik saja." Ucap Zen sambil tersenyum kepada mereka berdua.
"Wah, Yui. Jadi ini yang kau sembunyikan rupanya!" Ucap Lucas pada Zen.
"Apa maksudmu?" Tanya Zen.
"Wajahmu benar-benar tampan, meskipun dirimu mirip dengan keturunan Kaisar ENGLANE FREZEA INCESIA. Tapi kau lebih tampan empat kali lipat dari Pangeran Incelote." Sahut Lucas.
"Yang dikatakan Lucas itu memang benar." Ucap Diego kepada Zen.
Dan semua murid yang ingin menghampiri Zen untuk melihat wajah jeleknya itu terdiam dan para murid perempuan berkata....
"Di-dia benar-benar tampan. Jadi karena itu... dia menutup wajahnya, a-aku harus minta maaf padanya atas semua yang kukatakan padanya selama ini." Ucap beberapa murid perempuan yang kemudian menghampirinya dan berkata....
"Yerui! Kami mohon maafkan atas penghinaan yang kami lakukan terhadapmu, kami mohon...." Ucap mereka kepada Zen.
^^^Bersambung....^^^