ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 57 { Pertunjukan yang menguras tenaga }



Saat Zen masih beberapa langkah keluar dari ruangan, Direktur Arthur kemudian menghentikannya.


"Yui, tunggu sebentar. Aku lupa memberi tehumu tentang hal yang harus kau lakukan setelah menerima tawaranku tadi." Ucapnya.


"Tentang hal apa?" Sahut Zen dengan menoleh kebelakang.


"Pada saat pulang dari akademi nanti, kau harus pergi ke atas gedung paling tinggi di akademi ini dengan memakai jubah dan topengmu karena aku akan memperkenalkan mu kepada sebelas anggota Gekenkai dan seluruh murid akademi disini nantinya." Ucap Direktur Arthur.


"Bukannya kau bilang saat perkenalan kepada seluruh murid akademi, aku harus membuka tudung dijubah itu. Dan jika mereka melihat rambutku, mereka pasti akan tahu siapa aku sebenarnya. Jadi buat apa aku memakai jubah dan topeng itu jika identitasku tetap diketahui." Sahut Zen dengan tatapan serius.


"Kau kan bisa merubah warna rambut dan bola matamumu menjadi berbeda untuk menyamar." Ucap Direktur Arthur yang tak habis pikir.


"Ah, begitu ya. Tidak ada yang ingin kau katakan padaku lagi kan? Jika tidak ada, aku akan pergi ke kelasku." Tanya Zen.


"Tidak ada lagi, kau bisa pergi sekarang." Jawab Direktur Arthur.


Mendengar kata-kata itu Zen pun kemudian pergi ke kelasnya, dan sesampainya di sana....


"Tidak kusangka, kalau aku duduk disamping ketua kelas seperti ini." Ucap Zen setelah duduk di bangkunya.


"Yah, mau bagaimana lagi... bersebelahan dengan anak bermasalah sepertimu hanya akan merepotkanku nantinya." Sahut Nikel dengan wajah datar.


"Aku tidak akan merepotkanmu, lihat saja nanti kedepannya. Oh, iya. Murid laki-laki dan perempuan yang ada sebelahku ini sepertinya kembar ya? Dan juga gemmu... akh, kenapa kau menginjak kakiku?" Tanya Zen sambil menahan rasa sakit kakinya setelah diinjak oleh Nikel.


"Kenapa aku menginjak kakimu karena aku tidak ingin kau membuat keributan dengan sikembar itu, mereka berdua adalah teman masa kecilku karena ayahku bekerja sama di bidang perdagangan dengan ayah mereka."


"Setiap kali ada yang menghina mereka dengan sebutan gendut, mereka akan langsung dipukuli sampai babak belur karena mereka berdua memiliki kekuatan gravitasi yang sudah turun-temurun dari keluarga ayahnya."


"Hanya dengan mengumpulkan molekul-molekul kecil kekuatan gravitasi ke tangannya, dia bisa membuat musuhnya terbang jauh keatas hanya dengan sekali pukulan. Jadi kuharap jangan berurusan dengan mereka berdua, karena itu sangatlah merepotkan." Bisik Nikel kepada Zen supaya tidak terdengar dua orang temannya itu.


"Benarkah? Aku tidak percaya dengan kata-katamu itu, aku akan memastikannya langsung." Ucap Zen.


"Kau gila apa? Sudah kubilang jangan berurusan dengan sikembar itu!" Bisik Nikel lagi.


Tapi Zen tidak menghiraukan peringatan darinya dan tetap memastikannya.


"Hei, teman. Siapa namamu? Dan apa boleh aku meminta sedikit makanan ringan keripik kentang yang kau makan itu? Sepertinya rasanya enak." Tanya Zen kepada murid laki-laki itu.


"Kau bertanya namaku ya? Namaku Emanuelson Janson dan kalau kembaranku yang duduk di sebelahku inu bernama Cloe Janson. Dan kau bilang ingin mencicipi kentang ini kan? Ambil saja ini, aku masih punya banyak didalam tas." Sahutnya dengan memberikan makanan ringannya kepada Zen.


"Ah, sialan kau Yui! Bisa-bisanya kau menipuku." Bisik Nikel dengan ekspresi kesal.


"Aku kan hanya bilang memastikan, dan aku tidak menyangka kalau dia akan memberikan makanan ringannya padaku. Dan dari tadi, mereka tidak henti-hentinya makan makanan ringan Pantas saja badannya gemmuk. Dan jadi inilah alasan mereka membawa tas ke akademi, padahal kan tidak ada seseorang pun yang membawa tas. Dan ngomong-ngomong? Ini kan masih jam pelajaran, bagaimana bisa wali kelas tidak melihat mereka berdua makan." Sahut Zen dengan berbisik kepada Nikel sambil memakan keripik kentang yang diberikan Emanuelson.


"Mereka tidak terlihat sedang makan karena mereka makan dengan menundukkan kepalanya agar tidak terlihat wali kelas kita, dan tetapi tidak untuk mu Yui bodoh! Kau malah terang-terangan makan keripik dihadapan semua orang." Ucap Nikel.


"Dasar murid menyebalkan! Berani-beraninya kau makan keripik disaat aku menerangkan, keluar sekarang juga!" Teriak wali kelasnya dengan melemparkan buku yang dilemparkan kearah Zen.


Dan dengan cepat Zen langsung menangkap buku yang terbang kearahnya itu sambil berkata....


"Buku itu jabatan ilmu loh, guru. Dengan melemparkan buku ini kearah ku, sama saja kau melempar ilmu. Dan kau harusnya tidak melempar buku ini kearah ku untuk menyuruh ku keluar, karena aku tetap akan keluar kok." Ucap Zen dengan berjalan ke depan dan mengembalikan buku itu ke wali kelasnya. Setelah itu dia pun keluar kelas dengan memakan cemilan yang diberikan Emanuelson agar dia tidak bosan menunggu sampai pembelajaran dikelas itu selesai.


Teman-teman se-timnya pun langsung menemuinya setelah pembelajaran berakhir.


"Hei, Yui. Apa kau mendengar pengumuman dari Ketua Dewan siswa tadi? Mereka bilang akan ada acara pengenalan anggota Gekenkai yang baru! Dan acara itu akan sebentar lagi dimulai, jadi apa kau mau menunggu acara itu didepan gedung tertinggi di akademi ini bersama kami?" Tanya Lucas dengan bersemangat.


"Kalian tahu, aku malas melihat acaranya. Meskipun bersama kalian bertiga... aku hanya ingin tidur setelah pulang dari akademi ini." Sahut Zen dengan ekspresi malas.


"Ah, ya sudah kalau begitu. Tapi ada hal yang ingin kami sampaikan padamu Yui! Seluruh murid dikelas kita akan mendapatkan misi dari Direktur Arthur, dan dari satu misi akan ada dua tim yang akan menyelesaikannya. Karena misinya cukup sulit kata guru." Ucap Mia.


"Jika seperti itu, kita akan bekerjasama dengan tim siapa?" Tanya Zen.


"Kita akan bergabung dengan tim tiga belas, anggota-anggota di tim itu adalah... Nikel, Haikou, Terissa, Emanuelson dan kembarannya Cloe." Sahut Diego.


"Oh, jadi begitu ya. Terimakasih atas informasinya, aku pulang dulu ya!" Ucap Zen dengan melambaikan tangannya dan kemudian berjalan kearah pintu keluar dari gedung akademi.


"Tunggu sebentar Yui brengsek! Aku akan memberikanmu Dua buah paviliun berserta para pelayan untuk artefak sihir yang kau miliki itu." Ucap Jack dengan tiba-tiba muncul didepan Zen untuk menghentikan langkah kaki Zen.


"Aku tidak mau! Aku tidak perlu uang atau paviliun darimu, karena aku tidak merasa kekurangan sesuatu sama sekali. Dan ada satu hal yang harus kau ketahui, setelah aku menggunakan kekuatan dari artefak itu... aku langsung terkena efek buruknya setelah menggunakannya sehingga aku harus mengurangi pemakaian dua kekuatan yang dihasilkan oleh artefak itu agar aku tetap hidup. Dan artefak itu sekarang sudah menyatu dengan tubuhku, jadi aku tidak bisa memberikannya padamu." Sahut Zen dengan mendorongnya kesamping untuk tidak menghambat jalannya lagi.


Setelah itu... Zen pun pergi menjauh dari mereka semua dan lalu berlari menaiki gedung akademi tertinggi dengan memakai jubah dan topengnya. Sesampainya dia diatas....


"Halo anggota Gekenkai baru! Aku adalah ketua dari organisasi rahasia yang dinamakan Gekenkai. Nama sandi ku adalah Kon! Dan aku juga akan menyebutkan nama-nama sandi mereka sambil menunjuk orang dari pemilik nama sandi itu, Jadi dengarkan baik-baik. Dia bernama, Letto, dan disebelahnya bernama Henji, Ben, Jessie, Lio, Rain, Josua, Tessa, Vio, dan yang terakhir adalah Bill." Ucap ketua Gekenkai sambil menunjuk orang-orang dari pemilik nama sandi tersebut.


"Kata Direktur Arthur, nama sandi mu adalah Teo! Dan... ambilah jam tangan ini dan pakailah, karena benda ini adalah artefak sihir yang diisi benda-benda tajam seperti belati sebanyak seribu buah, bom asap, pedang, dan berbagai macam benda lainnya. Jam ini juga bisa mengirim pesan meminta bantuan kepada jam tangan kami."


"Jika kau ingin melihat isi benda-benda didalam jam tangan ini, sebut saja nama sandimu didekat jam tangan itu. Lalu dia akan memunculkan layar biru seperti ini didepanmu, jika ada benda yang ingin kau gunakan... tinggal klik saja benda itu dilayar itu. Apa kau mengerti?" Tanya Kon pada Zen.


"Iya, aku mengerti." Sahut Zen.


"Baguslah kalau begitu, mari kita mulai pertunjukannya. Siapa diantara kalian yang akan jadi korban yang akan diselamatkan oleh Teo nantinya?" Tanya Kon pada anggota Gekenkai lainnya.


"Aku saja!" Sahut Jessie dengan mengangkat tangannya.


"Oke sudah ditetapkan kau lah yang akan menjadi korban yang akan terjatuh dari gedung ini, dan kami bersepuluh akan menyerang kalian dibawah. Jadi persiapkan dirimu Teo!" Ucap Kon, dan kemudian mereka pun meloncat kebawah dengan pendaratan yang sempurna.


Seluruh murid yang di akademi, semuanya berkumpul dan melihat pertunjukan itu lima meter jauhnya dari para Gekenkai yang ada dibawah.


"Oke Teo, apa kau sudah siap? Jika kau sudah siap, aku akan menjatuhkan diriku secara natural seperti korban yang terjatuh dari gedung biasanya. Dan kau juga secara bersamaan harus menyerang mereka saat menyelamatkanku." Ucap Jessie pada Zen.


Dalam hatinya Zen berkata, "Jika aku turun ke bawah itu akan membuat tudung dijubah ini akan terbuka, jadi aku harus merubah fisikku sekarang. Demoid! Rubah rambutku menjadi putih perak dan bola mata berwarna hijau, karena jika aku kembali ke fisik awalku. Meskipun aku sudah dinyatakan tiada, tapi masih ada orang yang bisa mengenaliku nantinya."


"Baik, tuan. Perubahan dimulai!" Sahut Demoid melalui pikiran Zen.


"Aku sudah siap, jadi mari kita mulai!" Sahut Zen dengan siaga.


Mendengar Zen sudah siap, Jessie kemudian menjatuhkan dirinya dari gedung itu. Kemudian Zen langsung melompat dari gedung untuk menyelematkan Jessie. Dengan cepat, dia bisa menangkap Jessie dengan mudah.


"Bagus sekali Teo, sekarang kau harus menghalangi serangan mereka yang ingin melukai kita berdua." Ucap Jessie saat melayang di udara bersama Zen.


Mendengar kata-kata Jessie, dia langsung mengaktifkan mata Diamondnya untuk melihat dengan jelas apa yang akan dilakukan anggota Gekenkai lainnya.


"Sekarang! serang dia!" Ucap Kon kepada yang lainnya.


Kemudian mereka pun langsung membentuk formasi untuk menyerang Zen. Dan setelah itu ada satu orang yang tiba-tiba berada diatas Zen, dia kemudian mengangkat kakinya untuk bersiap menendang kepalanya Zen. Pada saat kakinya hampir mengenai kepalanya Zen, hanya dalam hitungan detik, Zen bisa menangkap kakinya Josua dengan tangan kanannya. Karena tangan kirinya digunakannya untuk menggendong Jessie yang terjatuh. Setelah menangkap kakinya, Zen langsung menariknya dan menghempaskannya ke bawah dengan kuat.


"Benar-benar mengerikan! Hanya dengan satu tangan, dia bisa menarik dan menghempaskannya ketanah. Dan tanah disekitar orang yang dihempaskannya ketanah itu retak dan menjadi kawah, pasti tulang-tulangnya pada remuk semua." Gumam para murid yang sedang menonton pertarungan itu.


"Dia bisa menangkis tendangan dari Josua, lumayan juga. Sekarang giliran kita! Lemparkan belati kalian sebanyak mungkin kearahnya sebelum dia menyerang kita!" Ucap Kon kepada anggota Gekenkai lainnya.


"Wah, gila! Mereka melempari belati sebanyak mungkin kearah orang itu." Ucap para murid perempuan.


"Sekarang bagaimana Teo? Belati-belati itu akan menghampiri kita berdua." Tanya Jessie dengan menatap wajah Zen.


"Kau tenang saja." Sahut Zen.


Dalam pikirannya berkata, " Aktifkan pelindung tembus pandang sekarang!"


Dengan pelindung tembus pandangnya belati-belati itu kemudian tertahan dan tidak melukai mereka sedikit pun.


"Sekarang aku harus menyerang mereka karena pelindung tembus pandang ini hanya bisa kugunakan satu kali dalam sehari, tapi pertama-tama... aku harus membuat pijakan untuk mendarat. Aku hanya perlu memakai Kekuatan Es milikku, karena selain ayahku dibenua ini."


"Masih ada yang memiliki kekuatan ini disini meskipun sudah jarang karena mereka tidak pernah memperlihatkan diri mereka lagi untuk kehidupan yang lebih baik dan damai. Karena orang-orang yang memiliki kekuatan es akan dibunuh, karena jika mereka sudah cukup lihai menggunakan kekuatannya. Mereka akan sengat kuat dan cukup sulit untuk dikalahkan." Gumam Zen lalu dia kemudian mengeluarkan kekuatan es di telapak tangan kanannya untuk membuat sebuah pijakan pendaratannya.


"O-orang itu mengeluarkan es ditelapak tangannya, dia memiliki kekuatan yang sama seperti Zen. Dan bola matanya juga berwarna hijau seperti Zen, Siapa dia sebenarnya...." Gumam Hilda sambil melongo melihat Zen. Karena dimatanya dan dimata orang lain, bola mata Zen tetap akan berwarna hijau meskipun dia mengaktifkan mata Diamondnya.


"Kau berhasil mendarat dengan baik Teo." Ucap Jessie dengan menepuk bahu Zen setelah diturunkan.


"Sekarang aku harus membuat mereka tidak bisa menyerangku lagi...." Gumam Zen, setelah itu dia menghentakkan kakinya dan seketika saja tanah yang diinjaknya itu langsung membeku dan juga memerangkap semua anggota Gekenkai lainnya selain mereka berdua. Dan mereka sama sekali tidak bisa bergerak karena disekitar tubuhnya dikelilingi duri-duri es yang tajam.


"Kami sudah kalah Teo, jadi bisakah kau hilangkan benda tajam ini." Ucap Kon dengan kondisi tidak bisa bergerak.


"Baiklah." Sahut Zen, setelah itu dia menjentikkan jarinya dan semua es yang ada ditempat itu kemudian menghilang.


"Wah, hebat! Dia bahkan bisa menghilangkannya." Ucap kebanyakan murid yang menonton pertarungan itu.


"Sekarang buka tudung jubahmu,Teo dan perkenalkan dirimu." Ucap Kon setelah berada didekat Zen.


Dan kemudian Zen pun membuka tudung jubahnya dan memperkenalkan diri....


"Halo semua, aku adalah anggota baru Gekenkai. Nama ku adalah Teo." Ucap Zen dengan menundukkan kepalanya untuk memperlihatkan belakang kepalanya.


"Rambutnya yang berwarna putih dan bola mata berwarna hijau itu indah sekali." Gumam para murid perempuan.


"Kupikir, tadinya dia Zen. Karena sama-sama punya kekuatan es dan bola mata berwarna hijau." Ucap Hilda dengan raut wajah sedih.


"Kau tahu Hilda, sudah kubilang... lupakan orang yang sudah tiada itu. Karena gara-gara terus memikirkannya, sifatmu yang periang dulu kini sudah menghilang dan kau hanya selalu diam dan bersikap dingin." Ucap Lucas.


"Aku tidak perlu mendengar saran bodoh darimu itu!" Sahut Hilda dengan raut wajah yang masam. Kemudian dia pergi menjauh dari Lucas.


"Hei, Hilda. Kau marah ya? Aku kan hanya mengatakan yang benar. Hei, kau dengar tidak? Huh... orang itu benar-benar berhati dingin, masa aku memberikan saran untuk hidup bahagia dibilang saran yang bodoh." Ucap Lucas setelah Hilda menjauhinya.


Setengah jam kemudian....


"Hei Yui, kami pulang." Ucap Lucas setelah membuka pintu.


"Kenapa kalian pulangnya tidak bareng sama Hilda? Dimana dia?" Tanya Zen sambil makan kue.


"Menyingkir dari jalan! Aku mau ke kamarku." Ucap Hilda dengan menabrak Lucas dan kemudian pergi ke kamarnya.


"Ah, rupanya dia bertengkar denganmu ya, Lucas?" Ucap Zen sambil mengunyah kue yang dimakannya itu.


"Sudahlah, lupakan tentang hal yang barusan kau lihat Yui. Kalau boleh tau, kue apa yang kau makan itu?" Tanya Lucas dengan menunjuk kue yang dimakan Zen itu.


"Oh, kue ini... namanya kue Mochi, aku tadi membelinya saat pergi mencari warung untuk makan karena di pendingin makanan penginapan ini tidak ada makanan sedikit pun. Lalu setelah makan di warung sampai kenyang, aku pun memutuskan kembali ke penginapan, dan pada saat perjalanan pulang, aku melihat kue ini didalam toko kue."


"Jadi aku mampir lalu mencobanya satu, dan akhirnya aku ketagihan dan membeli semua kue Mochi yang ada di toko kue itu. Jika kalian mau, masih ada banyak kok didalam pendingin makanan." Jawab Zen.


"Terimakasih banyak karena kau membelikan kue itu Yui, karena dengan kue itu kami tidak perlu repot-repot membeli makanan untuk persediaan saat makan malam nanti dan esok pagi." Sahut Mia sambil tersenyum.


"Kalian serius hanya makan kue itu saja saat sarapan sebelum pergi menyelesaikan misi nanti?" Tanya Zen yang keheranan.


"Ah, iya juga ya. Besok kita akan pergi menyelesaikan misi, kalau begitu... ayo pergi ke pasar untuk mencari bahan-bahan untuk dimasak besok, Mia." Ucap Diego.


"Baiklah, Diego. Ayo pergi." Sahut Mia.


Mereka pun kemudian pergi ke pasar bersama, dan sedangkan Zen....


"Aku akan tidur siang sampai besok pagi untuk mempersiapkan diri, karena aku lelah. Jadi kalian tidak usah membangunkan aku saat kalian makan malam nanti, mengerti." Ucap Zen sambil menguap dan kemudian pergi ke kamarnya lalu tidur.


Mendengar kata-kata Zen, Lucas langsung kesal dan menggerutu, "apa dia bilang? Lelah! Yang benar saja... padahal dia tidak melakukan apapun, bahkan dia pulang lebih awal dibanding aku dan yang lain."


^^^Bersambung....^^^