ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 15 { Pendingin ruangan tanpa memerlukan kristal mana}



Dua tahun kemudian....


Zen telah berumur lima tahun dan dia juga telah lulus sekolah setahun yang lalu. Dan selama dua tahun itu dia terus berlatih menggunakan kekuatannya bersama ayahnya.


Di ulang tahunnya yang ke empat, dia mendapatkan hadiah berupa lapangan sepak bola yang luas lengkap dengan peralatannya. Dan di ulang tahunnya yang ke lima dia mendapatkan hadiah berupa pedang kayu. Meskipun pedangnya terbuat dari kayu, harga pedang itu lebih mahal dari paviliun, karena pedang kayu itu terbuat dari kayu yang sangat langka. Dan bukan hanya itu, dia juga mendapatkan hadiah dua belas kesatria yang berasal dari kesatria musim dingin.


"Zen, hari ini sangat panas. Jadi bisakah kau menurunkan hujan salju, ku mohon." Ucap Hilda yang sudah berumur lima tahun.


"Iya, Pangeran Zen. ku mohon, turunkan hujan salju, benarkan Diego kau juga kepanasankan." Ucap temannya yang bernama Lucas.


"Benar Pangeran Zen, kami bertiga kepanasan dan saya lihat anda juga sepertinya kepanasan." Sahut Diego


Usia mereka bertiga berumur lima tahun dan Zen juga berumur lima tahun. Jadi mereka berempat seumuran. Yang paling tua diantara mereka adalah Diego, yang kedua Lucas, yang ketiga Zen, dan yang keempat adalah Hilda.


"Haah... memangnya kalian pikir aku ini pendingin ruangan apa?" Sahut Zen.


"Hehehe, kau tau Pangeran Zen. Saat mengaktifkan mesin AC untuk mendinginkan dan memanaskan ruangankan membutuhkan kristal mana, harga kristal mana itu sangat mahal jadi ayahku jarang menggunakan. Tapi, kalau kau Pangeran Zen. Kau tidak memerlukan kristal mana, kau hanya mengeluarkan kekuatanmu itu." Ucap Lucas.


"Kau benar Lucas," Sahut Diego.


"Dari tadi, kau hanya iya melulu Diego." Ucap Hilda yang muak mendengar kata-kata dari Diego.


"Tapi, yang diucapkan oleh Lucas itu memang benar. Jadi aku iyakan saja, memangnya kenapa?" Sahut Diego.


"Memangnya kenapa kau bilang!" Ucap Hilda.


"Hei kalian berdua, jangan bertengkar. Aku akan melakukannya oke." Ucap Zen untuk menghentikan pertengkaran mereka berdua.


"Baiklah, mulai sekarang juga Zen. Aku tidak sabar menelan salju yang akan turun." Ucap Lucas.


"Iya," sahut Zen yang kemudian mengucapkan, " winter snow, come down right now."


"Wahh, akhirnya saljunya turun. Keren!" Ucap Lucas yang kegirangan melihat salju turun bahkan dia sampai memakan salju itu.


"Hei, Lucas. Kau itu bodoh ya, jika kau memakan salju itu nantinya kau akan sakit perut." Ucap Hilda yang memperingatkan Lucas.


"Aku tak peduli!, bwee" Sahut Lucas yang sambil meledek Hida dengan menjulurkan lidahnya.


"Bocah menyebalkan! Aku akan memukul kepalamu itu sampai kau pingsan." Ucap Hilda yang jengkel dan ingin mengejar Lucas untuk memukul kepalanya tapi dihentikan oleh Zen.


"Kau tau Hilda, lebih baik biarkan saja dia. Karena hanya akan sia-sia saja." Sahut Zen.


"Huh, baiklah. Kali ini kau selamat Lucas bodoh! Lain kali, aku tidak Kan menahannya lagi." Ucap Hilda.


Kemudian mereka berempat berbaring di atas rerumputan yang hijau sambil merasakan sensasi hujan salju yang turun di musim panas.


"Wah, rasanya nikmat sekali. Setelah ini kita main apa lagi?" Ucap Lucas pada mereka bertiga.


"Main petak umpet, aku ingin sekali main petak umpet." Sahut Hilda.


"Lebih baik main kejar-kejaran saja. Karena kalau Zen jaga saat main petak umpet dia selalu menemukan kita semua, tapi saat dia yang bersembunyi tidak ada satupun dari kita yang bisa menemukannya." Ucap Diego.


"Yah, yang kau katakan itu benar Diego. Satu-satunya permainan yang adil saat kita bermain dengan Zen hanya permainan kejar-kejaran. Bagaimana Zen, Hilda apa kalian mau bermain kejar-kejaran?" Tanya Lucas pada Zen dan Hilda.


"Kalau Zen ikut, aku juga ikut. Jadi Zen kau ikut atau tidak?" Tanya Hilda pada Zen.


"Huhh, baiklah. Aku akan ikut." Sahut Zen.


Setelah itu mereka langsung berdiri dari rerumputan hijau itu dan lalu mereka pun main kejar-kejaran sampai sore hari.


"Hilda, pekerjaan ayah sudah selesai dan ini sudah sore hari. Ayo pulang sekarang." Ucap Raja brengsek.


"Diego Simeone, Sudah dulu bermainnya." Ucap viscount Michael Simeone.


"Lucas Reggae!, pulang sekarang juga! Jika kau tidak mau pulang, aku akan membuang semua mainan kesayanganmu itu!" Ucap marquis Lerwen Reggae.


"Baiklah ayah," ucap mereka bertiga secara bersamaan.


"Dah dulu Zen." ucap Diego.


"Dah Zen." Ucap Lucas yang sedang melambaikan tangan ke arah Zen.


"Dah Zen, nanti kita main lagi ya." Ucap Hilda pada Zen dengan wajah tersenyum dan juga melambaikan tangannya ke arah Zen.


"Dah juga Diego, Lucas, dan Hilda. Kita main lagi ya, nanti." Sahut Zen dengan membalas lambaian tangan ke arah mereka bertiga.


Mereka bertiga pun pergi bersama-sama menemui ayahnya masing-masing.


Saat di perjalanan menuju ayahnya masing-masing, mereka kemudian mengobrol tentang masalah ulang tahun Zen yang ke enam.


"Emm, entahlah. Aku masih belum tau apa yang akan kuberikan, memangnya kau sendiri sudah mempersiapkan hadiah untuk Zen?" Sahut Hilda.


"Ya, iyalah. Aku sudah mempersiapkan hadiahnya. Kalau kau Diego, apakah kau juga sudah mempersiapkan hadiahnya?" Ucap Lucas yang sedang bertanya pada Diego.


"Ya, aku juga sudah mempersiapkan hadiahnya kok." Sahut Diego.


"Bhahaha, cuman kau yang belum mempersiapkan hadiahnya. Bukannya kau bilang kau menyukai Zen, masa kau tidak mempersiapkan hadiah untuknya." Ucap Lucas yang sedang mengejek Hilda.


"Diam kau Lucas bodoh!" Sahut Hilda yang jengkel pada Lucas.


"Hei, tenang, tenang. Jika kau pemarah seperti ini, Zen tidak akan pernah menyukaimu karena sifat pemarah mu ini. Dan sewaktu-waktu kau pasti akan menyesal dan berharap bisa mengulangi kehidupanmu lagi agar bisa memperbaiki nasibmu di masa depan." Ucap Lucas.


Setelah mendengar kata-kata dari Lucas, Hilda langsung mengejarnya.


"Sini kau Lucas jelek! Aku akan memukul kepalamu sekarang." Ucap Hilda yang sedang mengejar Lucas.


"Bwe, nggak kena. Dah, Hilda. Ayo ayah kita pulang." Ucap Lucas pada ayahnya.


"Dah juga Hilda." Ucap Diego.


"Dah kalian berdua. Semoga nanti kalian tidak ada saat aku bersama Zen." Sahut Hilda dengan wajah jengkel.


Setelah itu mereka pun pulang ke kediaman mereka masing-masing.


"Pangeran Zen, ayo kita masuk kedalam istana." Ucap kepala pelayan Sidrick.


"Ah, iya." Sahut Zen yang kebingungan setelah melihat sikap ketiga temannya tadi saat sedang menuju ayah mereka.


Saat diperjalanan menuju ke dalam istana dia sengaja ditabrak oleh pamannya.


Bruk, "ah, kepalaku." Ucap Zen sambil mengusap kepalanya. Kemudian dia melihat ke arah depan dan dia terkejut karena orang yang dia tabrak adalah pamannya.


"Eh, paman Hans. Maafkan aku, aku tidak sengaja menabrak paman." Ucapnya yang meminta maaf kepada pamannya.


Dengan tatapan yang tak acuh, pamannya berkata, "tidak apa Pangeran. Saya tau anda tidak sengaja melakukan itu."


"Serius!, paman tidak apa-apa." Sahutnya.


"Ya, saya tidak apa-apa kok Pangeran Zen. Oh iya, sebentar lagi ulang tahun anda yang ke enam ya, Pangeran Zen." Ucap pamannya.


"Ah, iya. Ulang tahun ku memang sebentar lagi. Ngomong-ngomong bagaimana kabar kak Kaito?" Tanya Zen.


Umur anak Duke Hans Calisto lebih tua satu tahun dari Zen dan dia adalah anak laki-laki.


"Ah, Kaito. Dia baik-baik saja. Anda tau Pangeran Zen, ulang tahun yang ke enam ini saya akan memberikan hadiah kejutan untuk anda dan hadiah itu akan selalu anda ingat sampai anda menghembuskan nafas terakhir." Sahut pamannya.


"Benarkah, aku tidak sabar menantikannya. Dah, paman Hans. Kepala pelayan Sidrick sudah menungguku dari tadi." Ucap Zen sambil melambaikan tangan ke arah pamannya itu dan kemudian dia pergi masuk ke istana bersama kepala pelayan Sidrick.


Dalam hati Duke Hans Calisto, "Cih, kau tidak sabar ya rupanya. Aku juga tidak sabar menunggu hari itu tiba! Tunggu saja Zen, kau pasti akan terkejut." Lalu kemudian dia pergi kembali ke kediamannya.


Sesampainya Zen di ruang tamu istana, dia melihat ayahnya duduk di sofa dengan kaki diatas meja.


"Hah, kau itu ya, ayah. Sifatmu itu tidak pernah berubah dari dulu." Ucap Zen.


"Memangnya kenapa, terserah ku mau apa, aku adalah pemilik tempat ini jadi wajar kalau aku mau melakukan apapun." Sahut ayahnya.


"Hah... terserah ayah." Ucapnya, dan kemudian dia duduk disofa yang berhadapan dengan ayahnya itu.


"Oh, iya Zen. Sebentar lagi ulang tahun ke enam mu akan tiba. Apa hadiah yang kau inginkan? Apa sebuah kastil pribadi atau seribu pasukan prajurit yang hebat atau...." Tanya ayahnya.


"Yang aku inginkan adalah perayaannya berjalan lancar." Sahut Zen.


Setelah Zen mengucapkan itu, datanglah kepala pelayan Sidrick. Dia datang menyampaikan bahwa waktunya makan malam.


"Yang mulia Kaisar Zeiland dan juga Pangeran Zen, sekarang sudah waktunya makan malam dan Ratu Fiona juga sudah ada di ruang makan." Ucap kepala pelayan itu dengan kepala menunduk.


"Ah, iya. Katakan pada Fiona kami akan segera ke sana." Sahut kaisar Zeiland.


"Baik yang mulia." Ucapnya dengan tunduk, kemudian dia pergi ke ruang makan.


"Ayo Zen, kita pergi sekarang." Ucap ayahnya yang baru saja beridri dari tempat duduk.


"Baik ayah." Sahutnya.


Kemudian mereka pergi ke ruang makan....


^^^Bersambung....^^^