ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 55 { Kehancuran keluarga viscount}



"Tumben kali ini tidak ada suara yang meneriakiku seperti waktu itu, padahal aku sudah membunuh empat orang penjahat... kalau ku pikir lagi, mungkin karena orang yang ingin ku bunuh waktu itu bukanlah seorang penjahat. Jadi jika aku mempunyai hasrat membunuh pada orang yang tidak tepat, suara itu akan meneriaki diriku lagi." Ucap Zen yang kemudian menghela nafas.


"Jika itu benar, aku tidak bisa bersikap bengis seenakku... sialan!" Ucap Zen lagi dengan menendang mayat penjahat itu.


"Dan sekarang, aku harus menghilangkan berlian yang ada ditubuh mayat ini. Benar-benar merepotkan! Disappeared!" Ucapnya lagi untuk menghilangkan jejak.


Setelah itu dia pun keluar dari hutan itu, dan pada saat itu hari masih siang. Karena penduduk di desa itu cukup banyak, Zen merubah fisiknya menjadi lebih mirip ibunya.


"Oke saatnya beraksi menjadi Pangeran Incelote!" Gumam Zen sambil memasuki perdesaan itu.


Kemudian ada seseorang gadis remaja yang menghampirinya dan bertanya, "Apakah anda ini adalah Pangeran Incelote dari kekaisaran?"


"Ah, Iya. Aku adalah Pangeran Incelote, ngomong-ngomong... apa kau tau jalan menuju kediaman viscount Silvester?" Tanya Zen dengan tersenyum kearahnya.


"Ah, i-iya... saya tau arah jalannya. Anda hanya perlu jalan lurus ke arah sana Pangeran." Sahutnya dengan menundukkan kepala dan wajah yang memerah setelah melihat Zen tersenyum padanya.


"Ya sudah kalau begitu, terimakasih banyak atas bantuannya ya." Ucap Zen dengan melambaikan tangannya kepada gadis itu dan dia pun langsung pergi setelah itu.


Setengah jam kemudian....


"Sialan! Kupikir tempat kediamannya tidak terlalu jauh, tapi ternyata ini sangat jauh." Gerutunya sambil terus berlari.


"Ah, itu dia kediamannya orang sialan itu!" Ucap Zen dengan tersenyum.


Kemudian dia memantau dari puncak pohon untuk melihat ada berapa banyak penjaga yang menjaga gerbang belakang kediaman viscount itu.


"Satu, dua, tiga, empat, ... seratus lima puluh! Yang benar saja, masa prajurit yang berjaga dibelakang saja sudah sebanyak itu? Kalau begitu, dia sudah mempersiapkannya dengan matang. Karena musuhnya adalah kekaisaran, dia sangat siaga sekali. Tapi tidak masalah, sebanyak apapun prajuritmu... akan ku basmi seperti membasmi serangga dan setelah itu baru kau!" Ucapnya dengan meloncat dari pohon dan kemudian berlari dan meledakkan gerbang belakang kediaman viscount.


"Ada musuh yang masuk kedalam kediaman! Eh tunggu hanya satu orang saja?" Ucap salah satu prajurit yang kaget melihat Zen yang hanya seorang diri menghancurkan gerbang belakang kediaman viscount.


"Entah satu orang atau ribuan, dia tetaplah ancaman! Jadi serang dia sekarang dengan pedang kalian!" Sahut komandan pasukan prajurit itu. Dan seratus lima puluh orang prajurit itu pun berlari ke arah Zen untuk menyerangnya.


"Tidak ku sangka, mereka hanyalah prajurit yang tidak memiliki kekuatan. Yah, meskipun begitu... pedang yang ditangan mereka itu adalah sebuah Relik jadi aku tidak boleh meremehkan mereka." Gumam Zen sebelum orang-orang itu menyerangnya.


Sesampainya mereka didekat Zen, kemudian Zen menjentikkan jarinya dan tiba-tiba saja semua orang yang ingin menyerangnya itu terbakar hidup-hidup.


"Sekarang penutup acaranya! Rasakan ini sekarang!!!" Teriaknya dari atas setelah melompat sangat tinggi keatas, dan dikedua tangannya terdapat bola api besar. Setelah itu dia langsung melemparkannya kearah para prajurit. Pada saat bola itu mengenai mereka, Zen kemudian menjentikkan jarinya lagi dan terjadilah ledakan besar yang membuat lubang kawah besar.


"Sekarang prajurit yang dibelakang sudah ku bereskan, dan prajurit yang berjaga didepan pun langsung berlarian ke arahku. Benar-benar seperti gerombolan manusia yang banyak, kalau kuhitung jumla mereka semua mungkin jumlahnya ribuan. Tapi ini akan lebih menyenangkan lagi." Ucap Zen dengan tersenyum seperti orang gila.


Tanpa mengucapkan mantra sama sekali, muncullah sebuah bola air raksasa diatas kepalanya. Lalu dia meloncat keatas dan menendang bola air yang lebih besar dari pada bola api itu kearah ribuan prajurit yang ingin menyerangnya dan setelah itu mereka semua pun tenggelam karena air mbah itu.


"Dan sekarang! *Li**ghtning* element, lightning dragon!" Ucap Zen dengan berdiri diatas atap kediaman viscount Silvester. Lalu naga petir itu pun langsung menuju ke arah para prajurit dan membuat mereka semua tersetrum sampai mati.


"Oke, para prajuritnya telah mati dan setelah ini giliran majikannya! Apa ku hancurkan saja atapnya ini untuk mengejutkannya? Baiklah, sudah kupikirkan! Akan kuhancurkan atapnya sekarang juga!" Ucapnya dengan meledakkan atap kediaman viscount.


"A-ayah! Pasukan dari istana kekaisaran sudah mengalahkan para prajurit Dan bukan hanya itu saja, mereka bahkan meledakkanatap rumah kita." Kata anak-anaknya viscount Silvester dengan ketakutan.


"Berisik! Para penyihir dan para Ranker! Siapkan diri kalian, dan lindungi tuan kalian ini!" Teriak viscount Silvester. Dan sepuluh penyihir hebat dan lima Ranker tingkat tinggi bersiap siaga menghadang Zen.


"Woah.... ternyata masih ada lagi rupanya, sepuluh penyihir dan lima Ranker." Ucap Zen dari atas atap.


Kemudian dia pun turun ke bawah dan memperlihatkan wujudnya seperti Kaisar-kaisar Diamond. Seketika saja para penyihir langsung ketakutan karena mereka tau kalau yang memiliki rambut putih dan mata biru berlian itu adalah keturunan Kaisar Lord.


"Apa yang barusan kulihat! Ini pasti mimpi, rambut putih dan bola mata biru bersinar seperti berlian... Di-dia yang menyerang ribuan prajurit itu ternyata keturunan Kaisar Lord. Aku rasa peperangan satu lawan lima belas orang ini tetap akan membuatku kehilangan nyawa!" Ucap salah seorang penyihir.


Dan tiba-tiba saja, "kau benar penyihir sialan, kalian semua akan tiada hari ini!" bisik Zen tepat ditelinga penyihir tadi.


"Ba-bagaimana kau bisa ada didekat... keukkhhh!" Ucap penyihir itu, yang bicaranya terhenti karena kepalanya langsung terpisah dari tubuhnya setelah ditebas oleh Zen.


"Pedang yang ada ditangannya itu bukannya tadi itu tidak ada?"Tanya salah seorang Ranker kepada para penyihir.


"Dimengerti!" Sahut mereka dengan serempak.


Dan kemudian mereka bersama-sama mengucapkan mantra, "Lingkaran sihir ajaib, buat sebuah keajaiban! lepaskan segel terlarang dan segel orang itu!"


"Kalian ingin menyegel ku? Jangan harap! Pelindung berlian, aktifkan!" Ucap Zen.


"Sialan, penyegelannya tidak berhasil gara-gara pelindungnya itu!" Gumam ketua penyihir.


"Segitu saja kah serangan kalian?" Tanya Zen.


"Brengsek! serang dia dengan ledakan sihir dengan seluruh mana kalian sekarang juga!" Ucap ketua mereka.


"Baik!" Sahut mereka.


Kemudian mereka bersama-sama menyerang Zen dengan mantra, "Lingkaran sihir ajaib, ledakan kematian!"


Karena pelindung Zen masih aktif, dia tidak terluka sama sekali. Dan setelah melihat Zen masih baik-baik saja, Viscount Silvester langsung ketakutan dan seluruh tubuhnya langsung gemetaran.


"Jadi serangan kalian sudah berakhir, ckckck... mengecewakan! Walaupun mantra kalian yang ucapkan tadi itu adalah mantra tingkat sulit, tapi itu masih kurang. Sekarang saatnya aku yang menyerang kalian!" Ucap Zen dengan mengepal kedua tangannya dan memandang mereka semua dengan tatapan tajam juga mengerikan.


"Sebelum kau menyerang kami, kami lah yang akan menyerangmu!" Teriak para Ranker dengan berlari ke arah Zen, pada saat mereka mengucapkan mantra untuk mengeluarkan kekuatan mereka. Hanya dengan menghentakkan kakinya satu kali, kemudian muncullah duri-duri tajam dan besar disekitar Zen. Duri-duri itu kemudian menusuk tubuh lima Ranker tadi. Dan seketika saja mereka langsung tewas ditempat karena duri-duri berlian itu memiliki racun yang sangat mematikan.


"Kalian semua! Lari sekarang juga sebelum tertusuk duri-duri itu!" Ucap ketua penyihir.


"Kalian ingin lari? Tidak akan kubiarkan!" Sahut Zen dengan menghentakkan salah satu kakinya lagi dan mereka semua pun akhirnya tertusuk dan mati karena tidak bisa melarikan diri.


"Kau lihat kan Viscount sialan, semua prajurit dan penyihir juga Ranker milikmu telah tiada. Dan sekarang giliranmu dan juga keluargamu!" Teriak Zen dengan tatapan matanya yang menakutkan.


"Ku-kumohon, to-tolong lepaskanlah aku dan juga keluarga. Aku ber-berjanji tak akan menculik tuan Putri lagi!" Ucap viscount dengan terbata-bata dan berlutut dihadapan Zen.


"Menyedihkan, kau sampai berlutut seperti itu untuk ku ampuni. Baiklah akan ku lepaskan dirimu berserta keluargamu, tapi bawa tuan Putri padaku sekarang juga!" Sahut Zen.


"Ba-baiklah! Hei kalian, anak tidak berguna! Cepat bawakan tuan Putri dan serahkan padanya sekarang!" Teriak viscount kepada anak-anaknya.


Mereka pun kemudian melepaskan Putri Irene yang dikurung dipenjara bawah tanah yang berada dibawah kediaman rumah mereka.


"Kalian, kalian mau membawaku kemana?" Tanya Putri Irene dengan kedua tangannya dipegang oleh mereka.


"Mengembalikanmu pada anak buah ayahmu yang menyerang kediaman keluarga kami!" Sahut mereka sambil menarik-narik tangannya untuk menyuruhnya berjalan keluar dari ruangan bawah tanah. Dan sesampainya ditempat Zen....


Mereka langsung mendorong Putri Irene kearah Zen, dan setelah didorong oleh mereka... Putri Irene langsung tersungkur ke lantai.


"Kami sudah melepaskannya, sekarang pergi dari sini sekarang juga!" Ucap anak-anaknya viscount.


"Pergi dari sini setelah kalian mendorong Putri Irene seperti itu! Jangan harap, aku masih ada urusan dengan kalian semua." Ucap Zen dengan tersenyum.


"Aku sudah melepaskannya dan kau juga harusnya melepaskan kami!" Bantah viscount Silvester.


"Ya, aku memang akan melepaskan kalian. Tapi bukannya membiarkan kalian hidup seperti biasa, melainkan melepaskan kalian semua dari raga kalian, Elemen api, keluarlah naga api dan bakar tempat ini beserta orang-orang sialan itu sekarang sampai jadi debu!" Ucap Zen sambil berlari keluar bangunan rumah milik viscount itu bersama Putri Irene.


Dan setelah mereka keluar, naga api milik Zen langsung membakar bangunan beserta orang-orangnya didalam sampai jadi debu.


"Yui, kau baik-baik saja. Wajahmu terlihat pucat dan jaketmu yang berwarna putih itu juga warnanya berubah jadi merah darah, jangan bilang itu darahmu?" Tanya Putri Irene dengan ekspresi khawatir.


"Aku baik-baik saja, ini bukanlah darahku...." Sahut Zen yang kemudian pingsan dan tersandar dipundaknya Putri Irene.


^^^Bersambung....^^^