ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 34 { bunuh diri? }



"Kami mohon Zen, tolong maafkan kami. Kami tidak bermaksud untuk menghina dan membencimu, kami melakukan itu semua karena Pangeran Kaito yang memaksa." Ucap beberapa murid perempuan yang menghampirinya tadi.


Mendengar kata-kata itu, Lucas langsung berbisik pada Zen.


"Yui, apa kau akan memaafkan mereka semua setelah apa yang mereka lakukan padamu?" Bisiknya.


Setelah mendengar bisikan itu, Zen berkata dalam hatinya....


"Apa yang terjadi padaku? Kenapa di lubuk hati yang paling dalam, aku ingin memaafkan mereka semua. Padahal aku tahu kalau mereka melakukan itu karena keinginan mereka sendiri bukan karena Kaito. Dan lagi, kenapa aku berhenti menyerang Kaito disaat-saat dia hampir mati. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Padahal tadinya aku ingin membunuhnya, tapi kenapa malah terhenti?" Ucap Zen didalam hati dengan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Lalu dia berkata lagi di dalam hatinya....


"Nggak, kali ini aku tidak boleh melakukan hal yang tidak aku inginkan lagi." Ucapnya dalam hati.


Lalu setelah itu Zen membalas perkataan murid perempuan tadi....


"Jangan kalian pikir aku akan memaafkan kalian setelah mendengar alasan tidak masuk akal itu! Setahuku, Kaito tidak pernah memaksa kalian untuk membenci dan menghinaku. Meskipun dia juga menghinaku, tapi dia tidak pernah meminta kalian untuk menghinaku juga. Malahan, kalianlah yang awalnya menghina dan menganggap ku bocah bodoh! Ayo Lucas, Diego, kita pergi dari sini!" Ucap Zen dengan tatapan dingin.


"Oh, oke. Ayo kita pergi!" Sahut Lucas.


Kemudian mereka bertiga pun pergi ke luar tempat itu, disaat mereka sudah didekat pintu luar area pertarungan, salah satu murid perempuan tadi berkata....


"Hanya karena wajah tampanmu itu, kau sudah berlagak sombong! Ingat, kau hanyalah seorang rakyat jelata! Kau bukanlah pangeran, kau pikir kami serendah itu apa?" Ucap salah satu murid perempuan tadi.


Setelah itu Zen menoleh kebelakang dan berkata....


"Ya, aku memang seorang rakyat jelata. Tapi, terimakasih banyak atas hinaannya, karena kau sudah menunjukkan sifat aslimu yang mengerikan itu. Oh, iya... kalian itu lebih buruk dari pada sampah! Karena kalian hanya mau bergaul dengan orang-orang setingkat dengan kalian, dan berlutut kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya. Bahkan kalian selalu menempel pada Kaito yang merupakan seorang Pangeran. Andai aku adalah seorang Pangeran... kalian semua pasti akan aku usir dari hadapanku. Karena kalian itu lebih buruk dari pada sampah yang menjijikkan!" Sahut Zen kepada murid tadi, setelah itu dia pun pergi ke luar.


Mendengar kata-kata dari Zen, murid tadi langsung marah dan berkata....


"Dasar murid brengsek! Bisa-bisanya dia menghinaku sebagai sampah, memangnya dia itu siapa? Dia hanyalah seorang rakyat jelata yang mendapat kesempatan masuk ke akademi ini."


Di luar akademi tempat Zen berada....


"Yui, kata-kata itu keren sekali! Dimana kau mendengar kata-kata itu? Tanya Lucas pada Zen.


"Aku tidak mendengarnya dari siapa-siapa, itu adalah kata-kata ku sendiri. Menurut pendapatku, orang yang hanya mau bergaul dengan orang-orang setingkat dengannya dan menghina juga merendahkan orang yang lebih rendah pangkatnya dibanding dia, lebih buruk dari pada sampah. Dan orang yang hanya melihat seseorang dari luarnya saja, lalu berasumsi kalau orang itu tidak baik, mereka sama seperti sampah." Sahut Zen.


"Apa hubungannya kata-kata keduamu tadi Yui? Bukannya itu tidak nyambung?" Tanya Diego kepada Zen.


"Aku juga bingung, entah kenapa belakangan ini aku mengatakan dan melakukan sesuatu hal yang tidak seperti biasanya." Sahut Zen lagi.


"Hei, Lucas. Itu Hilda kan?" Ucap Diego sambil menunjuk ke seorang murid perempuan yang ada didepan mereka.


"Ah, iya... itu memang Hilda." Sahut Lucas.


"Hilda! Dimana Hilda?" Tanya Zen pada mereka berdua.


"Itu, yang disana. Yang rambutnya berwarna putih salju itu." Sahut Lucas.


Setelah itu, Zen langsung berlari ke arah Hilda dan menyapanya.


"Hai, Hilda!" Ucapnya.


"Su-suara itu mirip dengan suara Zen, apa dia ada didekat sini?" Gumam Hilda setelah mendengar kata-kata itu, kemudian dia menoleh kebelakang....


"Siapa yang memanggilku tadi?" Tanya Hilda kepada orang-orang disekitarnya.


"Hei, Yui! Kenapa kau berlari ke arah sini? Haah... hah... hah... larimu cepat sekali." Ucap Lucas pada Zen.


"Hai, Hilda...." Ucap Zen dengan tersenyum ke arah Hilda.


Teman-temannya Hilda langsung terpesona saat melihat wajah Zen yang tersenyum ke arah mereka.


"Hei, Hilda. Murid laki-laki tampan itu menyapamu, dia benar-benar tampan. Bahkan kurasa, ketampanannya itu sudah setara dengan Pangeran Zen." Ucap temannya.


"Apa maksudmu? Dia itu adalah anak nakal yang waktu itu, dan lagi... dia itu hanya murid bodoh yang selalu membuat kekacauan. Jadi jangan samakan dia dengan Zen, hanya karena wajahnya yang tampan, kalian menyamakannya dengan Zen yang sempurna!" Sahut Hilda kepada temannya. Setelah itu... dia mendekati Zen dan berkata...


"Jadi kau yang memanggil namaku tadi, murid bodoh dan bermasalah sepertimu menyapaku, haah... rasanya sangat menyebalkan! Semua laki-laki sama saja, selalu menggodaku dengan bermacam cara. Dan kau adalah yang paling buruk diantara mereka, kau berusaha mirip seperti Zen agar aku terpikat. Menjijikkan!" Ucapnya kepada Zen.


"Apa maksudmu? Menggodamu! Aku hanya menyapamu, tidak lebih dari pada itu." Sahut Zen.


"Sudahlah, aku tidak peduli dengan yang kau katakan! Ayo kita pergi dari sini sekarang teman-teman!" Ucapnya Hilda yang kemudian pergi dari tempat itu bersama teman-temannya.


"Hei, Yui. Hilda itu benar-benar menyebalkan! Masa orang menyapanya saja dibilang menggoda, dan dia selalu menilai seseorang dari sudut pandangnya saja. Jika orang itu sudah di anggapnya buruk, orang itu tetap akan buruk dimatanya. Meskipun orang itu sudah berubah menjadi baik, dia tetap menganggap orang itu sama seperti sebelumnya. Karena itulah, aku dan Diego berhenti menjadi temannya.


"Kenapa kau hanya diam, Yui?" Tanya Lucas setelah melihat Zen yang hanya terdiam.


"Ke-kenapa sekarang Hilda termasuk orang yang ku benci? Tatapan matanya yang sedang menatapku sama seperti tatapan mengerikan orang-orang yang menghina dan membenci keberadaanku di tempat ini. Kenapa hatiku terasa sakit setelah melihat perlakuan buruknya terhadapku?" Gumam Zen.


"Hei Yui, apa kau bicara sesuatu?" Tanya Diego pada Zen.


"Ti-tidak ada, aku tidak berbicara apapun. Kau mungkin hanya salah dengar, aku pergi dulu... ada sesuatu hal yang harus kulakukan...." Sahutnya dengan kepala menunduk dan kemudian setelah itu berlari ke tempat jurang yang waktu itu.


"Ada apa dengan bocah itu barusan?" Ucap Lucas pada Diego.


Sesampainya Zen ditempat jurang itu dia kemudian berjalan ke ujung jurang dan menatap kebawah.


"Mungkin... jika aku jatuh di jurang ini, penderitaanku di dunia ini akan berhenti. Dan mungkin aku bisa bertemu dengan kedua orang tuaku...." Ucap Zen sambil melihat ke bawah jurang.


Tiba-tiba....


Duakk!


"Berani-beraninya kau ingin bunuh diri! Jika kau jatuh di jurang ini lalu tiada, kau tidak akan bisa bertemu orang tuamu. Karena kau pasti akan disiksa atas perbuatan dosa seperti ini." Ucap tuan agung setelah memukul kepalanya Zen dengan tongkat yang kegunaannya untuk memukul kepalan Zen itu.


"Ba-bagaimana kau ada disini?" Tanya Zen.


"Bagaimana pun caranya itu tidak penting! Jika kau ingin bunuh diri, kau pasti akan menyesal setelah disiksa atas perbuatan dosamu itu." Sahut tuan agung.


"Siapa bilang aku ingin bunuh diri? tadi kan aku hanya bilang "mungkin" kau pikir aku akan bunuh diri. Jika aku melakukan itu, sama saja aku menyia-nyiakan pengorbanan kedua orang tuaku." Ucap Zen.


"Oh, jadi begitu ya. Sialan kau Lucky brengsek! Dah Zen, aku pergi dulu... jaga dirimu baik-baik." Sahut tuan agung yang kemudian menjentikkan jarinya dan setelah itu menghilang.


Ditempat kekaisaran Diamond....


"Dasar Lucky brengsek! Bisa-bisanya kau menyuruhku pergi menghentikan Zen yang ingin bunuh diri. Dia tidak bunuh diri bodoh!" Ucap tuan agung.


"Ta-tapi dia berada di jurang itu untuk apa, dan lagi... dia juga mengatakan, "mungkin jika aku mati" itu yang kudengar selagi kau pergi tadi." Sahut Lucky dengan ekspresi ketakutan.


"Hah... sudahlah!" Ucap tuan agung.


"Tuan agung... kenapa ceritanya jadi begini sih? Kenapa Hilda termasuk orang yang dibenci Zen? Aku adalah penggemarnya Hilda, dan aku ingin Hilda bisa menjadi pendamping hidupnya Zen." Tanya Lucky kepada tuan agung.


"Mana ku tau, aku bukanlah pencipta dunia ini. Tapi... aku tau alasan Zen mulai membenci Hilda." Sahut tuan agung.


"Apa alasannya?" Tanya Lucky lagi.


"Alasannya adalah... sifat Hilda sudah termasuk orang yang dibenci oleh Zen. Katanya dia mencintai Zen, tapi dia sendiri tidak bisa menyadari kalau orang yang menyapanya tadi adalah Zen. Dan kau tau Lucky aku akan memberi tahumu kejadian dimasa depan sedikit, orang yang akan membuat segel kutukan Zen itu terlepas adalah Hilda! Dia akan membuat kebencian, amarah dan kegelapan Zen meledak karena sifatnya." Ucap tuan agung.


"Kenapa kau malah memberi spoiler padaku! Menyebalkan! Hanya karena kau bisa melihat masa depan, kau malah membuatku semakin penasaran!" Sahut Lucky.


"Oh, iya. karena sudah terlanjur begini aku ingin bertanya padamu, siapa yang akan menjadi pendamping Zen dimasa depan? Hilda kan?" Tanya Lucky.


"Entahlah... Itu tidak pasti sih, Jika Hilda tidak merubah sifatnya itu... dia tidak akan pernah bisa bersama dengan Zen. Karena pendamping Zen itu harus memiliki sifat yang sebaik malaikat." Sahutnya.


"Jadi begitu ya. Aku yakin pada Hilda, kalau dia pasti akan merubah sifatnya!" Ucap Lucky.


"Tapi kau tau Lucky, aku tidak akan pernah memberikan restu ku pada Hilda. Karena... aku tidak menyukai sifatnya itu." Sahut tuan agung.


"Kenapa kau tidak merestui Zen dengan Hilda! Hilda pasti akan berubah suatu saat nanti, aku yakin itu." Ucap Lucky lagi.


"Yah, kita lihat saja. Jika dia memang bisa merubah sifatnya, aku akan memberikan restu ku padanya. Tapi... jika sifatnya tidak berubah.... Yah begitulah ceritanya." Sahut tuan agung.


^^^Bersambung....^^^


*Pertanyaan*


siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini....


* Siapa sebenarnya tuan agung?


* Dan siapa yang bisa mengetahui, kalau ayah dari Kaisar Lord itu adalah.... apa?


Jawab pertanyaan diatas ini dengan berkomentar....


...Mungkin jika kalian jeli dalam membaca di episode sebelumnya,...


...kalian pasti bisa menerka-nerka jawabannya....