ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 51 { Zen berubah menjadi anak kecil karena kalung Demoid }



Sesampainya Zen di akademi....


"Yui! Direktur Arthur sedang mencarimu...." Ucap salah seorang murid perempuan.


"Oh, makasih infonya. Aku akan pergi menemuinya sekarang." Sahut Zen.


"Ahk, dia berterimakasih padaku. Kau dengarkan teman, dia berterimakasih padaku." Ucap murid perempuan tadi.


"Iya, aku dengar kok." Sahut temannya, dalam hatinya berkata....


"Sial, harusnya aku yang memberitahu Yui! Mungkin aku yang akan mendapat terimakasih darinya."


Knock, knock....


"Masuklah!" Ucap Direktur Arthur.


Mendengar hal itu, Zen kemudian masuk.


"Kenapa anda mencariku Direktur Arthur?" Tanya Zen.


"Ada misi dari kekaisaran... mereka ingin kau yang menyelesaikannya. Tugasmu adalah, mengirimkan kertas gulungan rahasia ini kekaisaran ENGLANE FREZEA INCESIA."


"Orang biasa tidak akan bisa membuka gulungan ini karena memiliki segel, dan hanya Kaisar Hans dan Kaisar Learn lah yang bisa membukanya. Waktumu mengantarkan gulungan kertas ini hanya dua minggu, jadi jangan sampai kau telat mengantarkannya!" Sahut Direktur Arthur.


"Cuman mengantar ini kan? Kenapa hanya aku seorang saja yang mengantarkan ini?" Tanya Zen.


"Aku tidak tau alasannya karena apa, tapi lebih baik kau bersiap untuk pergi. Aku akan mencari alasan jika teman-temanmu dan para murid lainnya mencarimu karena ini adalah misi rahasia. Kau bisa pergi sekarang...." Ucap Direktur Arthur.


Setelah itu Zen langsung keluar membawa tas yang didalamnya gulungan kertas rahasia itu, dia per ke dalam hutan.


"Hei, Kakek tua! Apa kau mendengar teriakanku dari sini! Jika kau mendengarnya... kuharap kau bisa menemuiku sekarang juga!!!" Teriak Zen di dalam hutan itu.


Tiba-tiba muncullah tuan agung didepannya, dan dia bertanya apa alasan Zen memanggilnya.


"Ada alasan apa kau memanggilku?" Tanyanya kepada Zen.


"Apa kau bisa menteleportasi diriku kekaisan ENGLANE FREZEA INCESIA? Ku mohon... aku malas melakukan perjalan yang memakan waktu lama." Sahut Zen.


"Baiklah, tutup matamu sekarang juga." Ucap tuan agung.


Kemudian Zen menutup matanya dan setelah itu tuan agung langsung menjentikkan jarinya, dan Zen langsung berada didalam ruang kerja Kaisar Learn. Sontak saja hal itu membuat Kaisar Learn yang ada ditempat itu langsung terkejut, dan hal itu juga membuat terkejut kakaknya Incelote yaitu Leandro, dia juga berada diruangan itu saat itu karena alasan pekerjaan.


"Apa-apaan dua orang itu! Dan lagi, cara berpakaian mereka yang menutup kepalanya. Apa mereka adalah seorang pembunuh yang berencana membunuh kita yah?" Tanya Leandro pada Kaisar Learn.


"Hai, paman Learn... ini aku Yui. Aku bukan penjahat kok, aku pergi ke sini untuk mengantarkan gulungan kertas ini." Ucap Zen dengan membuka tudung di jaketnya dan setelah itu dia memberikan gulungan kertas itu kepada Kaisar Learn.


"Ah, jadi kau orangnya yang dikatakan anak gelap ayahku itu ya. Aku tau kok kalau itu hanya rumor yang tidak benar, tapi kau hampir membuat keluarga ku berantakan."


"Dan kau tidak perlu menceritakan alasan kau memiliki rambut yang sama dengan kami karena aku sudah tau semuanya. Bahkan aku juga tahu kalau kau itu adalah Zen putra dari Kaisar Zeiland." Ucap Leandro.


"Tidak ku sangka, kau menggunakan tuan agung untuk menyelesaikan misi ini lebih cepat. Tapi kerja bagus, oh iya... Putri ingin bertemu dengan mu. Dia sudah menunggumu di ruang tamu, aku akan menyuruh pengawal untuk mengantarkan mu kesana." Ucap Kaisar Learn.


Setelah Kaisar Learn mengatakan itu, dia memerintahkan pengawal kerajaannya untuk mengantarkan Zen. Sesampainya diruang tamu kerajaan


ENGLANE FREZEA INCESIA....


"Yui! Aku sangat merindukanmu...." Ucap Putri Irene sambil memeluknya.


"Ah, kau tau Rin... sepertinya Pangeran Incelote jengkel melihatmu memelukku. Jadi ku mohon lepaskan... karena rasanya tidak enak saat dia menatapku seperti itu." Ucap Zen dengan melepaskan dirinya dari pelukan Putri Irene.


"Baiklah...." Sahut Putri Irene dengan sedih.


Tiba-tiba saja Putri Irene menendang kepalanya Pangeran Incelote, saat itu Pangeran Incelote sedang duduk disofa sambil menatap tajam kearah mereka berdua.


Duak....


"Apa yang kau lakukan barusan padaku Rin? Memangnya aku salah apa denganmu?" Tanya Pangeran Incelote sambil mengusap kepalanya untuk mengurangi rasa sakitnya.


"Itu semua karena kau bodoh! Tadi itu kesempatan langka loh...." Bisik Putri Irene ke Pangeran Incelote dengan wajah mengerikan.


"Iya, aku minta maaf. Tapi kau itu sudah remaja bukan anak-anak lagi, dan dia juga remaja. Aku tidak ingin sampai kalian melakukan hal-hal yang aneh mengerti." Ucap Pangeran Incelote.


"Kau tau Pangeran Incelote, aku tidak pernah berpikiran hal-hal yang seperti itu kepada adikmu. Jadi jangan khawatir... karena selama ini aku tidak pernah memeluk seseorang melainkan orang yang telah memelukku, dan aku bukanlah laki-laki hina seperti dipikiranmu itu." Sahut Zen.


Kemudian dia duduk di sofa yang berhadapan dengan Putri Irene dan Pangeran Incelote. Setelah itu Putri Irene menyerang Pangeran Incelote lagi dengan menarik rambutnya karena masih jengkel padanya.


"Akhh... lepaskan tanganmu dari rambutku, Rin!" Teriak Pangeran Incelote karena kesakitan.


"Aku tidak akan pernah melepaskan mu sampai aku puas!" Sahut Putri Irene.


"Melihat mereka berdua... seperti melihat kedua orang tuaku bertengkar disaat aku masih kecil." Gumam Zen.


Zen terus menerus mengingat kenangannya bersama kedua orang tuanya saat kecil, dan itu membuat dia berpikir kalau seandainya dia bisa menjadi kecil seperti dulu dan bahagia bersama kedua orang tuanya.


"Tuan muda Zen, anda harus berhenti berpikiran seperti itu! Jika anda masih melakukannya... anda akan dalam masalah!" Ucap kalung Demoid kepada Zen untuk memperingatkannya.


Tapi dia tidak mendengarkan perkataan kalung Demoid, dan hal yang tidak diinginkan pun terjadi. dia tiba-tiba nb berubah menjadi anak kecil berumur satu tahun, sebelum dia berubah... muncul cahaya dikalung Demoid dan setelah cahaya itu hilang dia pun berubah menjadi anak berumur satu tahun tapi akalnya tetap seperti sebelumnya.


"Yui! Eh, kenapa dia berubah menjadi kecil?" Ucap Putri Irene yang kebingungan.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada bocah menyebalkan itu? Bagaimana dia bisa berubah menjadi bocah berumur satu tahun?" Ucap Pangeran Incelote.


Mendengar kata mereka berdua, Zen pun melihat kedua tangannya dan dia pun langsung berteriak.


"Idakk... pa yang teljadi ada ku? Sua ku! Pa yang seenalna teljadi ada ku?? (Tidak... apa yang terjadi padaku? Suara! Apa yang sebenarnya terjadi padaku?)" Teriaknya.


"Sudah saya peringatkan pada anda agar tidak berpikiran seperti itu, tapi anda tetap tidak mendengarkan saya. Tunggu sebentar dulu, saya akan memanggil tuan agung. Lagi pula dia juga masih berada diruang kerjanya Kaisar Learn." Sahut kalung Demoid dengan berkomunikasi lewat pikiran.


"Adi ni seau alahmu ya alung elek! Kebalikan ubuhku seelti iyasana sekalan uga! (Jadi ini semua salahmu ya kalung jelek! Kembalikan tubuhku seperti biasanya sekarang juga!)" Teriaknya Zen sambil menghentakkan kakinya karena kesal.


Mendengar Zen mengatakan hal-hal yang tidak terlalu jelas seperti itu membuat Pangeran Incelote dan Putri Irene kebingungan untuk memahaminya tapi....


"Meskipun aku tidak memahami perkataannya, tapi kata-katanya itu sangat lucu. Dan lagi aku ingin memeluknya yang menggemaskan itu." Ucap Putri Irene pada Pangeran Incelote.


"Meskipun dia menjadi kecil, tapi akalnya tetap sama seperti sebelumnya... jadi aku tetap akan melarangmu memeluknya mengerti!" Sahut Pangeran Incelote.


Tapi sayang... Putri Irene tidak mendengarkannya dan dia sudah memeluk Zen sambil mengusap kepalanya Zen, melihat hal itu Pangeran Incelote langsung marah.


^^^Bersambung....^^^