ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 60 { Hutan Terlarang }



Sesampainya Zen disana... dia menurunkan kedua bocah itu dibawah pohon....


"Setelah aku membantu teman-teman ku,aku akan meminta mereka membawa mu ke direktur akademi kami untuk membawa kalian ke panti asuhan. Dan saat mereka bertanya dimana kalian tinggal, dan bagaimana kalian bisa bersama ku... katakan saja kalau kalian tersesat saat melarikan dari monster yang menyerang desa kalian, dan hanya kalian yang masih hidup."


"Lalu mereka pasti akan pergi ke arah bandit tadi untuk pulang, saat mereka melihat mayat para bandit itu... dan bertanya pada kalian, apakah kalian melihat siapa yang berkelahi melawan bandit-bandit itu... jawab saja, kami tidak tau dan kami tidak melihatnya oke."


"Tapi bukannya kakak yang mengalahkannya, dan kami selamat juga karena kakak. Kenapa kakak malah tidak ingin mereka tau tentang perbuatan hebat kakak?" Tanya bocah perempuan dengan menggenggam tangan Zen.


"Kamu tau, aku tidak bisa menjelaskannya pada kalian soal itu. Jadi aku minta maaf...." Sahutnya dengan mengusap kepala bocah itu.


"Oke tunggu disini, aku mau ke ujung bukit ini." Ucapnya sambil berlari ke arah ujung bukit dan sesampainya dia sana, dia kemudian menengok kebawah dan melihat teman-temannya sedang terjebak dipasir hisap.


Dia kemudian berteriak....


"Hei! Apa yang sedang kalian lakukan disana? Kenapa kalian malah tidak mengajakku bermain pasir penghisapap itu bersama kalian?" Ucapnya dengan wajah tersenyum.


"Hei, kau bocah sialan! Jangan terlalu banyak basa-basi lagi, cepat bantu kami!" Sahut teman-temannya.


"Ckk... baiklah, tapi aku tidak punya tali untuk ku ulurkan pada kalian. Jadi... apakah kau bisa membuat bayangan yang berbentuk tali baja Nikel!" Tanya Zen.


"Iya, aku bisa membuat bayangan bentuk itu! Jadi saat bayangan itu sampai ke sana pegang dan tarik jika kau bisa, itu pun kalau kau bisa. Kalua tidak, ikatkan saja ke pohon yang ada di atas sana dan kami akan memanjat tebing ini nantinya." Jawab Nikel dengan mengeluarkan bayangan bentuk tali baja.


"Kami semua sudah memegang tali ini Yui, jika kau bisa menarik kami semua tarik saja." Ucap Nikel.


"Mana mungkin dia bisa menarik kita semua, bahkan satu orang dari kita lun dia mungkin saja tidak bisa!" Sahut Hilda. Dan setelah mendengar kata-kata yang menusuk dari Hilda itu, Zen langsung mengerahkan tenaganya untuk menarik mereka semua.


Dan seketika saja mereka semua terangkat dari pasir hisap itu bahkan sampai melayang di udara, tapi tidak untuk si kembar yang memiliki badan.


"Akhirnya... kita semua lepas dari pasir sialan itu...." Ucap Lucas dengan bernafas lega.


"Aku bingung dengan kalian, bagaimana kalian semua bisa terjebak di pasir hisap itu... tapi kalian bisa menjelaskannya nanti karena aku mau pulang sekarang. Dan... aku titip dua bocah itu ya... dah." Ucap Zen dengan berlari ke arah jalan untuk keluar dari hutan itu, dan saat dia sudah jauh dari teman-temannya, dia berbalik dan menuju ke arah Dungeon yang tempatnya berdekatan dengan hutan terlarang.


"Yuii! Hah... ya ampun, bisa-bisanya dia malah pulang sebelum menyelesaikan misi." Ucap Terissa, Cloe, dan juga Hankou.


"Yerui itu benar-benar baji**an! Aku akan meminta dia untuk dikeluarkan dari tim kita, karena dia tidak berguna sama sekali. Kita bahkan menyelesaikan misi menangkap para bandit, tapi dia malah pulang dan meninggalkan dua bocah ini dengan kita." Ucap Hilda dengan wajah kesal.


Mendengar kata-kata Hilda, bocah perempuan tadi berbisik pada kakaknya....


"Bukannya, kakak tadi sudah mengalahkan para bandit itu... kenapa dia tidak mengatakannya, sampai-sampai kakak yang berambut putih salju itu menghinanya seperti itu?"


"Kakak itu kan bilang, dia punya alasan untuk tidak mengatakan hal itu... dan kita tidak diperbolehkan mengatakan hal itu, jadi kakak harap kamu diam saja." Sahut kakaknya dengan berbisik supaya tidak kedengaran.


Mia dan juga Terissa kemudian mendekat kearah bocah itu dan juga bertanya....


"Bagaimana kalian berdua bisa bersama dengan Yerui?" Ucap mereka berdua dengan wajah tersenyum kearah mereka.


"Kami berdua bisa bersama dengannya karena sebelumnya kami tersesat didalam hutan ini saat melarikan diri dari serangan monster di desa kami, dan hanya kami yang masih hidup." Jawab si bocah laki-laki.


"Lalu apakah sebelumnya kalian berdua melihat para bandit melintas di hutan ini?" Tanya Terissa.


"Kami tidak melihat siapapun sebelumnya di hutan ini selain Yerui." Ucap bocah laki-laki.


"Hanya mereka berdua yang selamat dari para monster, dan desa juga mereka sudah hancur juga tak berpenghuni. Jadi kita serahkan mereka pada direktur Arthur saja." Ucap Nikel.


"Setuju, jadi mari serahkan mereka karena lagi pula kita tidak menemukan jejak apa-apa." Ucap Emanuel sambil ngemil makanan ringan.


"Ya sudah kalau begitu, mari kita keluar dari huta ini." Sahut Nikel, dan kemudian mereka pun berjalan menuju keluar pada hutan itu dan saat hampir keluar dari hutan itu... mereka melihat para bandit sudah tak bernyawa dengan kepala yang terpisah dari tubuhnya.


Mia dan Terissa kemudian menutup kedua mata bocah itu supaya tidak melihat mayat mengenaskan itu, dan yang lainnya mengevakuasi mayat itu.


"Diego, apa kau bisa membuat kubah dari tanah karena kekuatan mu kan elemen tanah, karena kita harus menyembunyikan mayat ini sementara waktu? Dan aku akan membersihkan bekas darah ini dengan sihir ku." Ucap Lucas.


"Tentu saja... tapi setelah Nikel, Cloe, Emanuel, Hankou dan juga Hilda selesai mengumpulkan mayat itu ditempat yang sama baru aku akan menutupinya dengan tanah." Sahut Diego.


"Aku bertanya-tanya, siapa yang telah mengalahkan mayat ini...." Oceh Hankou.


"Mungkinkah Yerui yang telah mengalahkan mereka bertiga, karena Yerui lebih dulu kembali dari kita." Ucap Mia dan Terissa.


"Itu tidak mungkin, diperkirakan mereka sudah tiada sudah hampir satu jam, karena darah dari mayat ini sudah meresap ke tanah. Dan kalau Yerui yang mengalahkannya saat perjalanannya pulang, sudah pasti darah mayat bandit-bandit ini belum meresap ke tanah." Bantah si Nikel


"Yang dikatakan oleh Nikel itu benar, Yerui itu tidak akan bisa mengalahkan para bandit ini karena dia itu menyedihkan." Sahut Hilda.


"Tapi Yerui tidak lemah, dia bahkan bisa mengalahkan pangeran Kaito, dan bukan hanya itu... tadi saja dia bisa menarik kita semua dari pasir hisap secara bersamaan. Aku tau kamu sangat membencinya, tapi hanya karena kau membencinya... kau tidak bisa melihat sisi baik darinya meski sedikit saja. Karena jika bukan dia, kita semua sudah tenggelam di pasir itu." Ucap Mia dengan wajah kesal.


"Aku tau alasanmu membela Yerui, kau suka padanya kan? Dia memang tampan, tapi dia itu hanya baji**an yang selalu merepotkan kita!" Sahut Hilda.


"Tunggu, Hilda mengatakan hal itu pada Yui? Jika itu memang benar, pantas saja dia pergi meninggalkan kalian waktu itu. Jika aku jadi dia, aku mungkin kehilangan kesabaran ku dan akan menghajar Hilda meskipun dia seorang wanita." Ucap Lucas dengan melipat kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Hilda.


"Dengar, berhentilah bertengkar... dan mari serahkan dua bocah ini dan melapor tentang kejadian ini kepada direktur Arthur, oke." Ucap Nikel supaya mereka berhenti adu mulut. Lalu mereka pun kembali ke akademi.


Dan sedangkan Zen, dia sudah sampai didepan Dungeon....


"Tempat Dungeon nya benar-benar berseberangan dengan hutan terlarang... ini mungkin akan menguras tenaga ku, tapi pengalaman yang kudapatkan sepadan." Gumamnya dengan tersenyum dan semangat yang membara, lalu dia pun kemudian masuk.


Baru sesaat dia masuk kedalam Dungeon itu, dia sudah disambut ratusan prajurit goblin dengan sikap yang beringas dan mereka menyerang Zen secara bersamaan. Zen kemudian melompat keatas lalu mengeluarkan pedang dan menancapkan pedang kaisar Lord untuk menghindar dan setelah itu dia langsung memanggang goblin itu.


"Hah sialan, mereka banyak sekali... sampai sampai aku bergelantungan di atas langit-langit Dungeon ini... dan mereka masih banyak sekali." Ocehnya.


"A-apa... mereka berusaha memanjat dinding Dungeon ini!" Ucapnya dengan wajah terkejut.


Dia kemudian membangkitkan kekuatan Diamond nya dan membuat duri-duri tajam yang sangat banyak untuk menusuk ratusan goblin itu, tapi hal itu belum cukup. Karena masih banyak goblin yang tersisa.


Dan tiba-tiba saja muncul goblin dibelakang tubuhnya saat dia bergelantungan di langit-langit Dungeon, goblin itu kemudian menyerang punggungnya dan hampir membuat dia jatuh dan tertusuk duri berlian yang dibuatnya.


Dia berusaha menahan rasa sakit dan menahan pegangannya dari pedang yang dia tancapkan supaya tidak terjatuh, dengan keadaan yang sangat genting itu dia berusaha fokus untuk membalas serangan goblin yang membuat punggung belakangnya robek akibat bekas cakarannya karena kuku goblin itu sangat tajam dan runcing.


Kemudian dia berhasil menyerang goblin itu dengan kekuatan api dan goblin itu langsung terjatuh dan mati karena tertancap tepat di duri yang dia buat. Zen kemudian menghela nafas dan kemudian menghilangkan duri berlian yang dia buat tadi, lalu dia pun melompat ke bawah dan menepuk tangannya supaya pedangnya bisa berpindah ke tangannya.


Para goblin yang masih hidup semuanya maju dan kembali menyerang Zen tanpa ampun, dengan tenaga yang hampir habis Zen menebas para goblin sampai tak bersisa. Dia akhirnya berhasil menaklukkan sebuah Dungeon yang diisi ribuan goblin seorang diri, tapi dibalik kemenangannya itu, dia harus terluka parah yang membuat tangannya penuh goresan luka bekas cakaran dan juga serangan dari para goblin dan belum lagi luka serius yang ada di punggungnya.


Kemudian dia menelusuri Dungeon itu sampai kedalam, dan menemukan tumpukan koin emas dan batu kristal mana yang menancap di langit-langit Dungeon dan batu kristal itu memancarkan cahaya berwarna biru dan hal itulah yang membuat Dungeonnya tidak gelap dan tanpa cahaya. Setelah itu dia kemudian melapor pada Ketua Kon, kalau dia sudah menaklukkan Dungeon itu dan ada banyak tumpukan koin emas juga batu kristal mana di dalam Dungeon itu.


Lalu ketua Kon kemudian berkata bahwa dia akan mengirimkan para penambang dan prajurit milik Direktur Arthur untuk ke sana dan itu atas ijin Direktur Arthur sendiri karena setelah Zen melapor, dia kemudian melaporkannya ke Direktur Arthur. Setelah dia mendapatkan ijin dan bantuan prajurit dan para penambang dari Direktur Arthur, dia kemudian menghubungi Zen dan bilang kalau Dia akan mengirimkan para penambang dan prajurit lalu Zen bisa pergi dari Dungeon itu sekarang untuk beristirahat.


Dan Zen pun kemudian keluar dari Dungeon itu dengan keadaan penuh luka, tapi jaketnya yang robek kembali seperti semula dan bahkan bercak darah yang ada di jaketnya juga menghilang.


"Haah... hampir saja aku mati konyol di Dungeon itu." Ucapnya setelah keluar dari Dungeon dan dia kemudian melihat ke arah hutan terlarang kemudian bergumam sambil melangkah mendekat kearah hutan terlarang itu....


"Tidak ada manusia yang bisa masuk ke dalam Dungeon ini, begitu juga dengan para iblis yang ada didalam hutan terlarang ini... mereka tidak akan bisa keluar karena ada dinding penghalang yang dibuat para penyihir dan mereka bahkan telah menyegelnya sampai mana mereka hampir habis. Tapi bukannya hutan terlarang ini sangat indah seakan-akan ini seperti taman bukannya tempat para iblis muncul."


Anehnya pada saat menyentuh dinding penghalang yang berwarna merah tembus pandang itu, tangannya bisa menembusnya. Hal itu membuatnya kaget dan saat melangkah kebelakang, kakinya tersandung batu yang kemudian membuatnya terjatuh dan masuk ke dalam hutan terlarang.


"Haah... untung saja aku terjatuh dengan posisi tengkurap, jika seandainya dengan posisi sebaliknya... pasti rasanya sangat sakit karena luka cakaran goblin tadi. Harusnya aku tidak mendekat ke tempat hutan terlarang, dan pulang saja untuk mengobati luka ini...."


Dia kemudian berdiri dan melihat kearah belakangnya, pada awalnya dia bingung apakah dia berada di dalam hutan terlarang, atau malah sebaliknya... lalu setelah memperhatikan beberapa menit barulah dia sadar kalau dia berada di hutan terlarang. Kemudian dia berlari kearah dinding penghalang itu untuk keluar, karena dia tidak tau kalau dia akan keluar dari sana tanpa hambatan dia mengambil ancang-ancang untuk berlari dengan kecepatan tinggi supaya menembus dinding itu lagi dan alhasil dia menabrak pohon besar didekat Dungeon tadi.


"Akh...sialan... kupikir tidak akan semudah itu tapi ternyata, benar-benar menyebalkan! Tapi bagaimana aku bisa menembus dinding penghalang kuat yang bahkan dikasih segel itu? Ayahku bilang, tidak akan ada manusia yang bisa memasukinya bahkan mereka sendiri sudah mencobanya tapi anehnya aku malah dengan mudahnya menembusnya." Gumamnya sambil mengusap kepalanya.


Dia kemudian mendekat ke hutan terlarang itu lagi, karena rasa penasarannya memuncak... dia kemudian melangkah masuk dan melihat-lihat sekitar hutan itu. Dia kemudian terkejut setelah semakin kedalam hutan itu karena bukannya melihat iblis bertebaran didalamnya dia malah melihat pemandangan alam yang indah, bahkan matahari juga menyinari hutan itu.


Lalu dia menemukan sebuah pohon yang sangat besar tapi anehnya daunnya hanya sedikit, sedangnkan bunganya malah menutupi pohon itu seperti daun di pepohonan lain, dan bunga itu berwarna pink kemerah-merahan dan disamping pohon itu terdapat air terjun yang airnya sangat jernih nan indah.


Bukannya merasa senang melihat keindahan alam yang baru saja dia lihat itu, dia malah sesak nafas dan membuatnya tidak bisa berdiri. Dan bahkan kepalanya sakit setelah melihat pohon dan air terjun, rasa sakit itu kemudian semakin menjadi-jadi sampai membuatnya pingsan dan tak sadarkan diri.


Saat dia pingsan, dia kemudian berada dibawah alam sadarnya dan anehnya dia melihat pohon dan air terjun yang sama dia lihat sebelum dia pingsan tapi anehnya dia melihat ada seorang bocah duduk bersandar di bawah pohon itu sendirian dan terlihat seperti sangat kesepian.


Lalu muncullah seorang bocah tepat didepan bocah tadi dan mereka terlihat seperti bocah kembar karena ruma mereka berdua sangat mirip, walaupun yang satu berambut putih dengan bola mata berwarna biru seperti berlian dan yang satunya lagi. berwarna hitam dan bola mata berwarna hijau. Tapi anehnya rupa dua bocah yang perkiraan umurnya masih delapan tahun itu sangat mirip dengannya dan seakan-akan itu adalah dirinya sendiri.


Di pohon itu kemudian terdapat dua ayunan yang muncul dengan seketika setelah si bocah rambut putih itu menjentikkan jarinya, dan dua bocah itu duduk di ayunan itu sambil mengobrol dan bercanda juga tertawa. Dia kemudian mengusap matanya karena tidak percaya apa yang dia lihat, kemudian dua bocah itu turun dari ayunan dan main kejar-kejaran dengan mengelilingi sekitar pohon itu, hanya dalam beberapa kali mereka mengelilingi pohon itu, kedua bocah itu kemudian bertambah tinggi dan besar dan ukuran tubuh mereka tepat seperti Zen.


Lalu mereka berhenti main kejar-kejaran dan bocah berambut putih tadi kemudian menepuk pundak si bocah rambut hitam itu, dan tiba-tiba saja bocah rambut hitam itu menangis sejadi-jadinya sampai terisak-isak dan anehnya air mati Zen juga mengalir deras seperti bocah itu dan dia bahkan sampai terisak-isak juga.


"Kenapa aku juga ikutan menangis, dan bahkan hatiku juga ikut sakit. Siapa Dua bocah itu sebenarnya, kenapa mereka berdua sangat mirip dengan ku. Yang satu versi asli diriku tanpa perubahan dari kalung Demoid dan satu lagi seperti aku yang sedang mengaktifkan kalung Demoid supaya aku mirip dengan kakek ku Note, apa mereka berdua adalah gambaran diriku jika bersama?" Tanya nya dalam hati, kemudian dia mengusap matanya.


Lalu bocah berambut putih itu kemudian memeluk bocah satunya itu sambil mengusap air matanya dan setelah itu dia pun menghilang, dan bocah berambut hitam itu menangis lagi sejadi-jadinya. Kemudian seorang perempuan seumuran dengannya tiba-tiba muncul dan memeluknya sambil berkata....


"Aku akan menemanimu disaat kau kesepian dan merindukan temanmu itu, jadi ku mohon berhentilah menangis."


Zen kemudian bingung dan tak habis pikir karena perempuan yang memeluk bocah itu seperti Putri Irine, dia pun kemudian melihat nya dengan lebih tajam dan perempuan itu benar-benar mirip dengan Putri Irine.


Dan tiba-tiba hutan yang indah itu berubah menjadi tempat eksekusi, dan yang dieksekusi disana adalah perempuan yang mirip Putri Irine dan sedangkan bocah itu tangan dan kakinya di rantai didekat tempat eksekusi itu... lalu sebuah tali pun ditebas dan kepala perempuan itu pun kemudian terpisah dari tubuhnya. Bocah itu berteriak dan terus berteriak supaya temannya dibebaskan dari hukuman itu dengan bayaran dia lah yang akan dihukum mati. Tapi orang yang memotong tali itu tidak menghiraukannya dan menebas talinya. Orang yang menebas tali itu rupa wajahnya menyerupai Hilda.


Zen kemudian terkejut melihat semua itu, lalu tempat eksekusi itu berubah menjadi tempat danau kolam darah manusia beserta bangkai-bangkai nya, dan hanya ada satu manusia yang tersisa yaitu bocah tadi. Dan kolam darah itu persis seperti di mimpinya dulu....


Setelah melihat semua kejadian di alam bawah sadarnya itu, dia akhirnya terbangun dari pingsan nya.


^^^Bersambung....^^^