
Dulu Jun tidak begitu ahli menahan sikap panahan, tapi kali ini wajahnya terlihat serius dan memastikan otot-otot lengan penahan busur dan lengan penarik talinya berkontraksi sebaik mungkin, dengan begitu sikap panahannya tidak berubah. Bersiap melakukan pembidikan.
Disela konsentrasinya, Jun melihat perubahan yang tak terduga terjadi d itempatnya berdiri itu. Suasana lapangan latihan berubah perlahan-lahan membentuk berbagai pohon lebat, daun-daun hijau, tanah becek dan langit biru yang cerah, suasananya menjadi lebih dingin dan sedikit ber-angin. Bisa ia pastikan kalau sekarang dia berada di dalam hutan.
Pria yang berasal dari China itu mengenakan pakaian yang berbeda, sedikit sulit dijabarkan model dan kain yang dipakainya itu, yang jelas sangat aneh dan berkesan seperti anak yang hidup di desa, di tangannya terdapat busur dan sebuah panah yang diarahkan pada dua orang yang sedang berlari menghindarinya, Jun tahu kalau dia sedang membidik mereka. Sedikit takut akan apa yang terjadi, Jun hanya bisa memperhatikan dan membiarkan sosoknya tersebut.
“Tidak, jangan lakukan itu!” cegah Gongchan yang berada di sampingnya. Jun jelas kaget, Gongchan mengenakan pakaian yang sama dengannya, ia bahkan tampak kumal. “Jangan membunuh mereka!” pintanya.
“Hyung! Apa kau akan terus bersikap seperti ini, mereka harus mati. Karena kedatangan mereka desa kita terkena penyakit yang membingungkan, semua keluarga kita sudah mati, aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi!” Jun berujar keras, menatap tajam Gongchan. Sempat terguncang dengan penuturan dirinya itu, Jun di masa 2017 merasa bingung, apa maksudnya dari fenomena yang tengah ia saksikan dan rasakan saat ini. Jelas-jelas ia berada dalam tubuhnya mengikuti latihan tapi sekarang ia menjadi Jun di zaman entah kapan dan berencana membunuh.
“Ini bukan kesalahan penyihir itu, mereka bahkan…”
“Aku tidak peduli!” sela Jun dingin, kembali mengarahkan bidikan pada mereka, sebelum Gongchan sempat menghalanginya, anak panah berhasil melesat dan mengenai kaki salah satu penyihir perempuan berambut pirang hingga terjatuh.
Sorakan terdengar, mereka bertepuk riuh merayakan nilai sempurna yang didapat Jun saat ia melepas anak panah. Ini pertamakalinya Jun mendapat nilai 10 dan memukau semua yang melihat, mereka tampak senang tapi tidak dengan Jun. Ia masih bertahan dengan busurnya terpaku dan menerawang ke tempat yang sempat ia kunjungi itu. Barusan masa lalu kah, khayalan atau ilusi yang dilihatnya, terasa sangat nyata. Dan tangannya bergetar saat melepas anak panah, tak hanya itu tubuhnya mendadak melemas. Benarkah ia sudah melukai seseorang dengan panahnya.
Sesaat ia mencoba menormalkan pikirannya dan tanpa sengaja menangkap sosok Gongchan yang tengah tersenyum tulus melihat hasil yang dilakukan Jun. Mendadak rasa bersalah menelusup dalam hatinya, dan ia menyadari panggilan ‘hyung’ pada sunbae nya itu, mungkinkah dulu mereka sangat akrab.
Mengalihkan pandangan dari Gongchan, Yerin melambaikan tangan ke arah Jun, wajahnya menunjukkan kekhawatiran dan bertanya melalui pandangan mata tentang keadaan Jun. Merasa senang karena diperhatikan, Jun tersadar dengan posisinya, ia harus bisa memenangkan audisi ini agar bisa maju ke lomba, membuktikan ucapannya pada Yerin.
Kembali ke tahap-tahap memanah. Jun mengalami dejavu aneh itu lagi tepat saat ia akan membidik. Perasaannya sama seperti saat ia memasuki hutan dan menjelma menjadi dirinya yang berbeda. Kali ini dia sudah berada di depan seorang perempuan, yang tampak tak asing.
Sinbi. Perempuan yang datang secara misterius dari masa lalu. Dia menghalangi padangan Jun untuk melihat penyihir pirang yang sedang terluka itu, meski begitu Jun tidak gentar dan memilih untuk melenyapkan Sinbi terlebih dahulu. Ngeri akan dirinya yang memutuskan untuk membunuh, Jun hanya bisa memperhatikan tanpa bisa ikut campur.
“Kau tidak akan bisa menghentikan penyakit ini hanya karena membunuh kami. Dan aku bisa menyihirmu menjadi apapun yang kuinginkan!” kecam Sinbi bergema, meski sebenarnya itu hanya sekedar gertakan, mereka adalah penyihir yang belum mendapat izin untuk beroperasi dan dilarang untuk melakukan sihir apalagi kepada manusia. Meski begitu Sinbi berani melanggar hal itu tanpa mempedulikan konsekuensinya, ia tidak boleh membiarkan temannya meninggal begitu saja, panah Jun memiliki perisai dan racun yang bisa membunuh penyihir.
Meski mendapat kecaman yang serius, Jun tidak gentar, dalam jarak 70 meter dia kembali melepas anak panah. Hal itu terjadi dalam sepersekian detik yang tak terduga. Sebelum Sinbi melontarkan sihir pada Jun, Gongchan menjadikan dirinya tameng pelindung untuk dua penyihir itu hingga ujung anak panah berhasil menembus kulitnya, tepat di dada.
“Hahh …” napas Jun terengah kaget, tersentak dengan apa yang dilihatnya. Tubuhnya kini terasa begitu lemas dan pandangan matanya memburam. Ia baru saja membunuh Gongchan. Perlahan namun pasti sorakan kedua untuknya mendadak hening saat Jun terjatuh pingsan.
“Annyeong,” sapa Sinbi mengejutkan, Jun segera membenahi diri dan duduk menatapnya. Sinbi yang muncul di balik tirai segera menghampiri dan berdiri tegak melihatnya. “Kau terlihat pucat.” ucapnya terdengar menyebalkan bagi Jun. Apa maksud tujuan Sinbi datang dan memberinya kenangan buruk. “Untuk pelajaran bagimu.” jawab Sinbi.
Tanpa menunggu pemikiran lain dan pertanyaan dari Jun, Sinbi berbalik pergi. Tak terima ditinggalkan tanpa keterangan pasti, Jun segera menyusul. Sinbi sudah menghilang, tapi dengan sigap ia keluar UKS, mendapati Sinbi yang tengah berjalan di koridor sekolah.
“Yakk kau! Berhenti disana!” seru Jun pada Sinbi yang tidak digubris sama sekali. Sinbi terus saja berjalan seakan membiarkan Jun mengikutinya.
Jelas kesal dengan perilaku sok misterius Sinbi dan penasaran akan dirinya di masa lalu, Jun terus memanggil dan mempercepat langkah mendekatinya. Namun setiap kali itu terjadi Sinbi selalu lebih cepat dan berada di depannya.
Tiba di atap sekolah, Sinbi berdiri di tepi pagar. Sontak Jun berlari menghampirinya.
“Yakk apa yang sedang kau lakukan? Bunuh diri! Sebelum itu jelaskan padaku tentang apa yang terjadi di hutan!” seru Jun marah. Sinbi menoleh dan tersenyum kecil.
“Itu tentangmu, tentang dirimu yang sudah membunuh banyak orang.” dingin Sinbi, Jun merasa terintimidasi akan suaranya, sedikit menakutkan.
“Aku tidak melakukannya, itu oranglain.” elak Jun.
“Kau percaya reinkarnasi, itulah dirimu.” tukas Sinbi.
“Lalu kenapa aku harus melihat itu!” sewot Jun, masa bodoh reinkarnasi atau bukan, yang pasti inilah kehidupannya.
“Entahlah, mungkin untuk pelajaran …”
“Jangan bercanda! Pelajaran untukku?” sinis Jun, “Aku bahkan tidak merasa itu perbuatanku!”
Sinbi tidak menanggapi, dia kembali memunggungi Jun dan berujar santai, “Lihatlah!” suruhnya sembari melihat ke bawah, Jun penasaran, tanpa ragu ia naik ke pagar tembok atap dan melihat apa yang dimaksud Sinbi. Mereka melihat Gongchan yang sedang melakukan pemanasan tangan dibantu Jinyoung. “Bukankah dia yang kau bunuh?”
“Yakk!” sentak Jun kesal, namun secara tiba-tiba sosok Sinbi menghilang digantikan dengan seruan Yerin yang terdengar panik dan berlari menghampiri Jun. Tanpa aba-aba apa pun Yerin menarik Jun untuk turun, menatap marah.
“Kau sudah gila ya! Untuk apa berdiri disana, berencana bunuh diri! Sebenarnya dimana kau simpan otakmu itu, kau sudah berhasil mencetak angka 10 dan sekarang memutuskan bunuh diri!” seru Yerin cemas.
Terdiam entah harus menjawab bagaimana, Jun merasa dipermainkan. Sinbi lagi-lagi memberi tekanan pada dirinya, kenapa pula dia harus mendengarkan omong kosong perempuan itu.