You're Fiction

You're Fiction
April Story -01



Dulunya ia adalah pribadi yang ceria, tapi semenjak kedua orangtuanya meninggal Kim Chaewon berubah pendiam, terlebih saat ia harus tinggal di rumah pamannya yang memperlakukan dia dengan semena-mena. Ia juga dituduh sebagai penyebab kematian ayah dan ibunya sehingga saat di sekolah ia tidak punya teman.


Namun di bulan April ia bertemu dengan salah satu seniornya, Kwon Soonyoung yang tidak tahu tentangnya, ahli membuat koreografi dalam menari dan membuat lagu. Karena hobi dan tugas, Chaewon mulai dekat dengan Hoshi yang menawarkan bantuan padanya.


Pengenalan Tokoh


Soonyoung : Berada di kelas 11-2, berkpribadian menarik dan riang, ramah juga suka tersenyum, kurang peka pada sekeliling, ahli menari dan membuat koreografi terkadang bisa menulis lagu.


Chaewon : Berada di kelas 10-1, pintar tapi pemalu dalam artian sulit bergaul dengan oranglain, tubuhnya fleksibel dan baik dalam menari, kehidupannya santai dan dia begitu disayangi orangtuanya.



APRIL STORY


“Kurasa ini adalah bulan terbaikku, dimana aku bisa bersemi dan merelakan apa yang hilang.”


Bagaimana caraku mengawali cerita ini? Pertama yang kupikirkan adalah pertanyaan itu, hingga akhirnya kupikir akan lebih baik jika kumulai dengan pribadiku. Sebelumnya kepribadianku sudah dibahas dibagian pengenalan, aku hanya akan menambahkan. Dulu kehidupanku memang santai dan berjalan biasa, belajar, bermain dan bersama keluarga. Ayah juga ibuku sangat baik, mereka memberikan perhatian sepenuhnya padaku, tapi tidak setelah satu tahun yang lalu.


Orangtuaku meninggal saat itu, karena sebuah kecelakaan ketika akan pulang dari perjalanan bulan madu mereka untuk memperingati ulang tahun pernikahan yang ke 15 tahun. Awalnya aku tidak percaya hingga aku melihat jenazah keduanya, disanalah kehidupanku benar-benar berubah.


“Apa kau tidak bisa cepat turun dan pergi ke sekolah!” seru pamanku dengan sentakan khasnya, dan aku menjawabnya biasa seakan ini memang sudah jadi kebiasaan.


“Aku turun.” kulangkahkan kakiku menuju dapur memperlihatkan wajahku pada paman, seperti setoran wajib, dan paman seperti hari-hari kemarin menyuruhku pergi tanpa memberiku sarapan. Kuanggukkan kepalaku kecil dan berlalu dari rumah yang telah kudiami selama satu tahun ini, sesuatu yang sebenarnya bukanlah rumah. Karena ibuku anak tunggal dan kakek nenek tidak merestui pernikahan orangtuaku, aku yang tidak punya wali ini dititipkan pada adik ayah yang sama sekali tidak akur dengan ayahku, jadilah keseharianku penuh dengan kemarahan dan kegelapan.


Paman melihatku seperti orang asing bahkan mungkin musuh, tak pernah sekalipun dia bersikap layaknya wali untukku, dan aku hanya makan satu kali dalam sehari, aku juga tidak pernah diberi uang saku, menyedihkan bukan? Ah iya, uang harta orangtua? Aku akan mendapatkannya saat usiaku 17 tahun, dan itu masih butuh 2 tahun lagi, aku berharap sampai saat itu tiba aku dalam keadaan sehat. Aku akan membuat rencana untuk memperbaiki kehidupanku dan belajar mandiri tanpa orangtua, juga pergi dari rumah paman.



Cuacanya sangat bagus, langit tampak cerah dan bunga-bunga mulai mekar, sangat disayangkan jika aku tidak melihatnya disela perjalananku menuju sekolah. Sesekali aku melirik kelompok gadis yang memakai seragam sama denganku tengah mengobrol dan berjalan menuju sekolah, juga para siswa pria yang bersepeda masuk gerbang maupun saling mengejek. Seandainya aku punya teman, dan jika saja ada orang yang mau menjadi temanku, maka aku janji aku tidak akan pernah melepaskannya, aku akan menjadikannya teman seumur hidupku.


Bukan maksudku bersumpah tanpa kejelasan, ini tanda kalau aku memang butuh teman sekeras apapun aku berusaha bertahan hidup. Di sekolah sma baruku ini aku belum sempat menemukan teman, lagipula mereka sudah lebih dulu menghindariku, itu karena ulah anaknya paman. Hm, Kim Jinsol, gadis yang sebaya denganku dan mengedarkan rumor bahwa aku gadis yang berbahaya dan dikutuk sebagai pembawa sial.


Ceritaku sudah umum dan membosankan, aku sendiri juga merasa bosan, aku berharap ini bukan kenyataan. Kisahku dibulan April akan dimulai saat seseorang menabrakku hingga angin menjatuhkan bunga yang mekar tepat di atas kami.



Chaewon berjalan teramat santai seakan sengaja menikmati waktunya menuju gerbang sekolah yang tinggal 5 meter lagi. Ia menengadah melihat pohon tinggi di sepanjang trotoar merasa takjub dengan mekarnya bunga, tanpa ia sadari Soonyoung berlari tergesa menuju ke arahnya dan menabrak Chaewon hingga mereka terhuyung satu sama lain dan berusaha menstabilkan tubuh masing-masing agar tidak terjatuh tepat di bawah pohon yang sangat tinggi, perlahan bunganya terjatuh menerpa mereka.


“Maafkan aku, aku harus segera masuk dan menemui pelatihku, aku minta maaf.” Soonyoung berulangkali menundukkan kepalanya pada Chaewon tanpa mengetahui tas selempangnya yang tersangkut di kancing tangan blazer yang dikenakan Chaewon. “Kau baik-baik saja? Jika iya, aku permisi dulu.” suara khas milik Soonyoung yang riang dan tulus itu membuat Chaewon tidak bisa berkata-kata, ia memperhatikan Soonyoung, matanya sangat sipit hingga terlihat seperti garis yang melengkung indah, dan wajahnya berkilau, enak untuk dipandang.


“Sekali lagi maafkan aku,” tundukkan terakhirnya sebelum melangkah pergi. Sepertinya keinginan Soonyoung untuk secepatnya masuk sekolah tidak bisa terpenuhi, tepat saat ia berjalan pergi blazer lengan Chaewon tertarik, Soonyoung refleks melihat ke belakang, terkejut dan memasang wajah bersalah saat melihat tasnya membuat kancing itu lepas. “Ah, aku benar-benar minta maaf.” sesalnya membuat Chaewon malah tersenyum.



Dengan ragu-ragu Chaewon mengerling ruang latihan dance di sekolahnya itu, mencari Soonyoung. Sebenarnya dia enggan untuk datang, tapi karena penasaran ingin melihat pria yang menabraknya tadi pagi, ia pun memutuskan datang.


“Oh kau siapa?” tanya Dokyeom salah satu rekan dan teman Soonyoung, suaranya paling bagus diantara yang lain. Chaewon kaget hingga tubuhnya terlonjak, melihatnya Dokyeom merasa bersalah. “Maaf,” cengirnya.


“Ah kau yang tadi pagi!” seru Soonyoung datang di belakang Dokyeom, menghampiri mereka, “Minggirlah!” dengan bercanda ia mendorong Dokyeom menjauh dari Chaewon. “Kukira kau tidak akan datang kesini,” akrab Soonyoung mengabaikan Dokyeom yang bergumam meledeknya.


Chaewon hanya mengangguk.


“Masuklah, maaf ruangannya bau keringat. Anak-anak sudah pergi, Dokyeom paling sedang latihan menyanyi.” Soonyoung tersenyum kecil membuat matanya membentuk angka 10:10, sangat memikat. Chaewon tidak menanggapi dan masuk ke dalam, ruangannya cukup besar dan nyaman, ada banyak kaca menghiasi ruangan, Dokyeom menghiraukan mereka. Soonyoung dan Chaewon masuk ke dalam ruangan lainnya yang lebih tepatnya adalah loker, disanalah Soonyoung menyuruh Chaewon duduk dan menyerahkan blazernya.


Ada sekotak alat jahit, Chaewon bisa menebak Soonyoung sudah menyiapkannya sejak tadi.


“Kau tidak perlu menjahitkannya, aku bisa melakukannya sendiri.” kata-kata itu tidak terucap langsung, Chaewon mengungkapkannya dalam pandangan. Soonyoung sama sekali tak mengerti, masih berharap Chaewon menyerahkan blazernya.


“Aku akan menjahitkannya dengan cepat, kau mungkin harus segera pulangkan.”terang Soonyoung tersenyum.


Hingga pada akhirnya, Soonyoung tengah memasangkan kancing lengan blazer Chaewon selama 10 menit dan itu belum selesai.


“Sebenarnya aku bisa melakukannya kok.” kekeh Soonyoung yang kesusahan memasukkan benang ke jarum, Chaewon menyodorkan tangannya untuk membantu, dan Soonyoung memberikannya dengan wajah malu.


“Harusnya jarum yang dimasukkan cukup panjang agar tidak mudah habis.” saran Chaewon menunjukkan ucapannya itu dengan memasukkan benang ke jarum cukup panjang, Soonyoung bersorak memujinya.


“Siapa namamu? Aku belum pernah melihatmu, sepertinya kau kelas satu, benarkan. Apa keahlianmu, maksudku kenapa kau masuk ke sekolah seni ini, pasti kau sangat ahli dalam bermusik. Melihat tanganmu yang kecil itu pasti biola, atau mungkin seruling? Kau masuk klub apa?” sepanjang menjahit Soonyoung terus berceloteh dan bertanya, sedang Chaewon sama sekali tidak menjawab, ia syok mengetahui Soonyoung sangat ramah, cerewet dan baik padanya. Lagipula Chaewon tipe orang yang pemalu, dan ia kini menutup dirinya dari banyak orang semenjak orangtuanya meninggal, meski itu hanya berlaku di sekolah, saat ia kerja paruh waktu, dia juga orang yang sangat cerewet. Toh tidak ada orang yang akan melaporkan perilakunya seperti saat di sekolah. Mengingat itu, Chaewon segera memikirkan Jinsol.


Bagaimana jika Jinsol tahu ia sedang bersama Soonyoung? Pasti gadis itu akan marah dan lebih parahnya memberitahu Soonyoung kalau Chaewon adalah gadis malang dan sial.


“Hey!” ucap Soonyoung menyadarkan Chaewon.


Refleks Chaewon berdiri dari duduknya, Soonyoung sedikit kaget mencondongkan tubuhnya untuk melihat Chaewon. Adik kelasnya itu mengulurkan tangan pada Soonyoung. Terdiam beberapa detik.


“Ah, kau mengajakku kenalan?” seru riang Soonyoung berdiri dan menjabat tangan Chaewon. “Namaku Kwon Soonyoung, dari kelas 11-2, kau?” Chaewon tersihir, tangan Soonyoung tengah mengenggam tangannya.


Chaewon menarik tangannya itu, gugup. Dia lalu mengambil blazernya dari tangan Soonyoung, memberi anggukan salam dan pergi.



“Kim Chaewon antarkan coklat ini ke meja no 5!” suruh manajer sekaligus pemilik kafe coklat itu, Chaewon dengan tanggap melakukannya, dia dan manajer sangat akrab, mereka sudah seperti adik kakak. Bahkan manajer Park itu siap membantu Chaewon jika dia akan pindah dari rumah pamannya.


Chaewon berbalik menuju meja kasir, tepat saat pintu kafe terbuka. Soonyoung, Dokyeom dan Mingyu masuk ke dalam dengan heboh, mereka membicarakan tarian dan latihan tadi. Gugup tanpa alasan, Chaewon berbalik tak jadi menyapa dan berjalan cepat agar Soonyoung tidak melihatnya.


Entah kenapa Chaewon berpikir untuk bersembunyi.