You're Fiction

You're Fiction
Mirror Scene -03



Hari-H pun tiba. Lapangan Indoor yang akan digunakan lomba sudah siap begitu pun dengan para peserta. Mingyu dengan baju basketnya melambaikan tangan pada Nayoung, gadis itu menepati janjinya dan duduk mendukung Mingyu, tak hanya itu, Nayoung membawa banner untuk menyemangati sahabatnya tersebut.


Bersama kelompoknya Mingyu memulai permainan, untuk beberapa waktu mereka saling bertahan dan Mingyu bermain dengan bagus, selain ia memiliki tubuh yang tinggi keahliannya dalam bermain basket sudah tak diragukan lagi. Sejak SD ia selalu bermain basket bersama Nayoung, dan menang turnamen saat SMP juga SMA.


Seseorang mengalihkan perhatian Nayoung, gadis yang juga diselingkuhi Wonwoo, baru saja duduk di kursi tribun sebelahnya, hanya terhalang tangga jalan. Merasa dipandangi, gadis itu balik menatap Nayoung, ada wajah terkejut. Tak lama, suara sorakan terdengar, Mingyu baru saja mencetak angka, Nayoung bergegas berteriak dan bertepuk senang, memberi selamat dengan ekspresinya pada Mingyu yang memang sedang menatapnya, sedang gadis itu sempat mendesah kecewa lalu menyadari tatapan Nayoung – Mingyu.


Waktu istirahat.


Gadis itu berdiri di depan Nayoung.


“Boleh aku duduk disini?” tanyanya meminta izin, yang pasti Nayoung tahu kalau gadis ini akan mengajaknya bicara.


“Hm,” angguk Nayoung.


“Mianhae,” ucapnya mengejutkan Nayoung, “Kau pasti sama terlukanya denganku, kudengar kau sudah tiga tahun berpacaran dengannya. Tidak kusangka kalau aku yang menjadi penghancur hubungan kalian sebagai orang ketiga. Tapi sungguh, aku tidak tahu kalau kalian berpacaran, yang kutahu dia adalah orang yang dingin dan jarang bergaul dengan oranglain.” tuturnya terdengar tulus. Nayoung tidak berani bicara, bahkan bertanya.


“Jeongmal mianhae,” gadis itu menatap Nayoung, tersenyum kecil yang justru terlihat miris bagi Nayoung. Senyum yang sama seperti dirinya kemarin, yang dibuat untuk menutupi kesedihan. Setelah itu, ia pergi.


Nayoung memperhatikan, melihat punggungnya yang menghilang keluar ruangan. Pasti sangat sulit baginya menerima kenyataan, bahkan Wonwoo memutuskan dan bicara kasar padanya saat itu. Nayoung jadi ingin tahu, kenapa Wonwoo menduakannya, dan kapan ia dan gadis itu bertemu, bagaimana mereka bisa bersama juga perasaan Wonwoo saat melakukan perselingkuhan. Mengingat itu Nayoung menjadi marah, Wonwoo sangat jahat, dan lebih kejamnya lagi pria itu seakan tidak menyesali perbuatannya.


Diakhir perlombaan. Nayoung menunggu Mingyu untuk bertemu. Ia sempat melihat gadis itu sedang menghampiri seorang pria yang mirip dengannya, menepuk dan menghiburnya karena kalah. Gadis itu sepertinya orang baik, pikir Nayoung.


“Nayoung-ah!” panggil Mingyu dengan tersenyum lebar hingga gigi taringnya yang jelas itu terlihat, refleks Nayoung menoleh ke arahnya, menghampiri dan memeluk Mingyu senang. Mingyu terdiam kaget, hatinya bergemuruh.


Dilepasnya pelukan itu, Nayoung tersenyum bangga, menepuk-nepuk punggung Mingyu gemas, “Kau melakukannya dengan baik, selamat karena sudah menang. Wah aku senang sekali, padahal bukan aku yang main.” jujur Nayoung menyelamati sahabatnya tersebut.


“Hm, hentikan orang bisa salah paham!” canda Mingyu, “Malam ini kau ada acara tidak? kalau tidak bergabung saja dengan kami, kami mau mengadakan pesta, makan-makan!” ajak Mingyu.


“Yang benar saja, itu kemenangan timmu, kalau aku datang itu memalukanku. Aku tidak kenal yang lain, dasar kau ini!” tolak Nayoung memukul pundak Mingyu.


“Yah kenapa kau memukulku!” Mingyu meringkukkan tubuhnya menjauh dari jangkauan tangan Nayoung.


“Mingyu-ya, ppali! Mobil sudah siap!” seru rekan tim Mingyu, Nayoung mengerling Mingyu untuk pergi.


“Ya baiklah, aku akan menyusul!” Mingyu menyahut dengan lantang, “Malam ini setelah pestanya selesai, ayo kita bertemu di sungai Han, kau harus merayakan kemenanganku!” tukas Mingyu dengan nada mengancam.


“Oke Kim Mingyu-ssi!” angguk Nayoung menekankan.


“Aku pergi dulu, bye!” Mingyu berjalan pergi, disela langkahnya yang tergesa menyusul ia berbalik dan melambaikan tangan pada Nayoung, menunjukkan senyum taringnya itu dengan mata yang sangat cerah dan bahagia. Nayoung membalas lambaiannya, barulah setelah Mingyu menghilang, Nayoung menurunkan tangannya dan bergerak menyentuh hatinya, kenapa disini terasa sakit.


“Noona, ayo pulang!” ajak adik Kim Sohye, gadis yang juga sempat berpacaran dengan Wonwoo, yang terhenyak dari pemandangan singkatnya melihat keakraban Mingyu dan Nayoung.


“Kajja!” ajak Sohye menepuk pundak adiknya dan melangkah keluar lapangan.


“Noona kenapa Wonwoo hyung tidak datang, apa kalian sedang bertengkar?” tanya Kim Suho, Sohye terdiam sejenak dan menggeleng kecil.


“Harusnya noona memutuskannya! Dia sangat dingin dan tidak romantis, dan wajahnya itu, benar-benar tipe playboy, bad boy.” suruh Suho.


“Hm kau benar, dia itu sok keren.” ujar Sohye menimpali.


~ ~ ~


2 tahun lalu.


Sohye selesai belanja bulanan titipan ibunya, dan mendorong troli belanjaan setelah dari kasir. Tepat di turunan khusus barang menuju keluar bangunan ponselnya berdering sangat keras, mengagetkan dirinya juga yang lain, bahkan getarannya membuat tubuh Sohye tersetrum karena terkejut.


Sibuk mengambil ponsel yang berada di tas kecilnya, Sohye melepaskan pegangannya di troli tanpa sadar, hingga trolinya mengelinding ke bawah tanpa bisa terkontrol. Sohye berseru kaget, dan seseorang yang baru muncul tertabrak troli. Belanjaannya terjatuh begitu pun dengan Wonwoo. Sohye segera berlari menghampiri, berjongkok di samping Wonwoo.


“Kau baik-baik saja?” tanya Sohye khawatir. Wonwoo menolak bantuannya dan berdiri sendiri, menatap Sohye yang panik dan terlihat begitu cemas, “Apa ada yang terluka? Wah bagaimana ini, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf.” Sohye berulangkali menunduk minta maaf tanpa sadar Wonwoo pergi meninggalkannya. Mendongak untuk melihat, Sohye menghela napas merutuki kecerobohannya, menoleh pada belanjaan yang berhamburan, dan menemukan dompet Wonwoo yang terjatuh.


“Kupikir aku harus cepat melupakannya,” gumam Sohye masih berjalan bersama Suho, menenangkan kemarahan dan kesedihan airmatanya yang akan tersentuh lagi akibat Wonwoo jika ia tidak membatasi kenangan mereka berdua.


~ ~ ~


Dengan enggan Wonwoo keluar dari ruangan billiard dan mengekor di belakang ayahnya yang baru saja menjemput. Seperti sudah langganan, ayahnya akan datang menjemput setiap kali ia bermain billiard sampai malam. Tak ada tanda-tanda keduanya akrab, mereka hanya melakukan tugas sesuai status, dan selebihnya hanya menjadi urusan masing-masing.


Menutup pintu mobil samping kemudi, Wonwoo bersandar santai tentu dengan wajah datarnya, sedang sang ayah sudah siap melajukan mobil.


“Berhenti bermain billiard dan langsung pulang!” suruh ayahnya. Wonwoo memalingkan wajah melihat lampu bangunan di sisi kirinya, acuh. “Aku akan memindahkan jurusanmu ke manajemen dan mulailah belajar dari awal, perusahaan membutuhkanmu nanti.” Jika sudah membicarakan hal ini Wonwoo semakin malas, sepenuhnya mengabaikan.


“Jangan pikir dengan mengabaikanku, kau akan aman. Aku yang akan mengurus semua kepindahanmu, untuk apa kau belajar bahasa Jepang!” tukasnya cepat, Wonwoo melirik ayahnya dan menyadari sesuatu.


“Apa kau habis minum?” tanya Wonwoo tak memerlukan jawaban. Melihat sekilas saja Wonwoo tahu ayahnya mabuk lagi, ini sudah sering terjadi sejak ia ditinggalkan istrinya dan hidup berdua dengan Wonwoo.


“Kau tahukan menyetir dalam keadaan mabuk dilarang, berhenti sekarang!” suruh Wonwoo.


“Cih, kau berani menyuruh ayahmu. Jangan mengalihkan pembicaraan, lagipula aku belum mabuk.” kecamnya. Namun itu tak sesuai dengan ucapannya, karena saat ini mobilnya sedikit oleng.


“Hentikan sekarang!” suruh Wonwoo sebelum ayahnya hilang kesadaran, awalnya memang ia masih bisa berjalan dan berpikir tegak, tapi setelah itu lama-lama pandangan ayahnya akan berkurang.


“Diam saja!” bentak ayahnya malah mempercepat, ia juga melewati lampu merah.


“Apa yang sedang kau lakukan! Hentikan sekarang juga!” sentak Wonwoo menyadari kondisi ayahnya yang mulai mengurang.


“Aku ini ayahmu! Panggil aku dengan benar!” marah Tuan Jeon, tanpa menyadari arah setirnya yang salah, masuk ke jalur yang berlawanan. Wonwoo dengan cepat mengambil alih setir berniat berbalik kembali atau membanting setir, sayangnya Tuan Jeon malah mendorongnya hingga mengenai jendela. Kecelakaan yang sepersekian detik itu tak terelakkan. Mobil yang ditumpangi Wonwoo menabrak keras van besar di depan mereka yang tidak sempat berhenti.


~ ~ ~