
“Apa hubungannya kau menyayangiku dengan menyuruhku mengajarinya. Ckck. Baiklah akan kucoba sebagai seorang ketua klub.” Tulus Jinyoung paham akan situasinya. Gongchan sudah seperti adik baginya, karena itu Jinyoung mengenal Gongchan seperti apa. Meski dia kesal pada seseorang tetap saja Gongchan seringkali khawatir akan orang itu. “Ah mengenai Yerin, bukankah sudah saatnya kalian menghentikan cinta segitiga, kurasa Yerin menyukaimu, jadi kau harus segera mengajaknya berkencan. Apa sih sebenarnya yang menghalangimu!” lanjut Jinyoung ingin tahu, ini sesuatu yang tidak ia pahami dari Gongchan.
“Aku tidak yakin perasaan kita bertiga sebenarnya seperti apa.” Singkat Gongchan tersenyum kecil, banyak kemungkinan yang akan terjadi. Ia jadi teringat masa-masa berkelahi dan bertengkar dengan Jun.
Saat mereka rebutan memberikan minum pada Yerin, Gongchan melakukannya dengan diam-diam menaruhnya di tempat duduk Yerin sedang Jun berteriak sambil memberikan langsung pada Yerin dan menyuruh Yerin minum didepannya.
Saat Yerin kehilangan jam tangan, Gongchan hanya memberi perhatian dengan mencarinya bersama nanti sedang Jun sampai tengah malam mencari benda itu dan tersenyum senang saat memberikannya pada Yerin esok harinya.
Terkadang Gongchan iri pada sifat terbuka dan berani nya Jun, juga pada perasaan tulus Jun yang dilakukan apa adanya dan acuh dengan perkataan oranglain.
Sepulang latihan, Jinyoung menghampiri Jun.
“Bisa kita bicara?” ajak Jinyoung, Jun mengangguk.
“Kudengar kau ingin ikut dalam perlombaan ini, tapi ini bukan hal mudah kau harus banyak berlatih dan datang setiap hari. Karena itu aku akan membantumu,”
“Tidak perlu, aku akan berlatih sendiri, mungkin dengan bantuan Vernon. Lagipula aku tidak mungkin meminta bantuan seorang ketua untuk melatihku sendirian, oranglain akan iri, mereka juga ingin ikut dalam lomba ini.” tolak Jun tanpa membiarkan Jinyoung menyelesaikan ucapannya. Menyadari penolakan itu membuat Jinyoung tersinggung, tapi dia mengambil nilai positif bahwa yang dikatakan Jun memang benar. Dia tidak boleh berpihak pada salah satu anggotanya.
“Baiklah, aku mendukungmu, tapi jika kau butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungiku.” tulus Jinyoung apa adanya.
Disaat semua orang sudah pulang hanya Jun dan Vernon yang bertahan di tempat latihan, tak sedetik pun Jun melewatkan waktunya untuk belajar, hingga ia harus membuka buku dan melihat gerakan memanah yang baik, dimulai dari 30 m sampai 70 m. Tapi belum ada hasil yang memuaskan.
Tiba-tiba Vernon mendapat telepon.
“Jun-ah, maafkan aku, sepertinya aku harus pulang duluan, ibuku bilang nenek sakit, kami harus segera berangkat ke sana. Kau tidak apa sendiri?” tutur Vernon cemas.
“Tentu saja, pergilah!” senyum Jun.
“Jangan latihan terlalu larut seperti kemarin-kemarin, kau harus istirahat!” saran Vernon sembari bergegas menuju loker bersiap pulang.
“Hm!” seru Jun mengiyakan dan kembali mengambil anak panah, mengangkat busur.
Sudah pukul 10 malam, sepertinya latihan hari ini cukup, Jun mendadak pegal. Tak lama ia sudah berada di halaman kampus, berjalan sendirian. Tepat beberapa langkah secara mendadak dan dalam waktu bersamaan lampu jalan yang terpasang di kampus mati semua, kaget dan mendadak takut, Jun mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, gelap sekali.
Masih di tempatnya berdiri Jun melihat sebuah cahaya kecil berjumlah 6 yang sedang menghampirinya, Jun sedikit bergidik dan cemas tapi kakinya tidak mau bekerjasama untuk kabur.
“Sepertinya kau kaget sekali.” ujarnya lagi dengan suara khas yang imut. Jun terkesiap sejenak saat semua lampu kembali menyala dan dengan jelas bisa melihat wujud perempuan itu. Tingginya hampir sama dengan Yerin, hidungnya sangat mancung, wajahnya cantik dan senyumnya terlihat manis. Terlebih bola matanya tampak berkilau.
“Kau Mun Junhui? Benar?” tanyanya diselingi senyuman. Jun mengangguk, setahunya ia belum pernah melihatnya di kampus. “Namaku Hwang Sinbi, aku datang dari masa lalu.” ungkapnya membuat Jun melongo tak percaya. Masa lalu? Yang benar saja ini bukan dunia komik, lagipula tidak ada perempuan berdandan modern sepertinya di masa lalu. Hwang Sinbi tampak seperti perempuan zaman sekarang, pakaiannya terbuat dari kulit mahal, mengenakan sepatu setinggi betis dan blazernya jelas diproduksi tahun 2017.
“Aku belajar beradaptasi disini, banyak sekali perubahan.” tutur Sinbi seakan menjawab pemikiran Jun.
“Aku tidak mengerti maksudmu, tapi bisakah kau terangkan sedang apa dan kenapa lampunya bisa mati juga menyala mendadak?” tanya Jun tak percaya padanya.
“Tak apa tak percaya padaku. Tapi lampu ini aku yang melakukannya, aku datang untuk menemuimu.” Jun dibuat semakin pusing, dan ia mendadak merasa dipermainkan.
“Maaf aku harus pulang.” acuh Jun dan berjalan melewati Sinbi.
“Jung Yerin, gadis yang manis dan ceria. Kau pasti sangat menyukainya.” perkataan Sinbi mampu membuat Jun mengurungkan niatnya untuk pulang dan kembali berhadapan dengannya.
“Kau berusaha keras untuk bisa ikut lomba demi mendapatkan perhatian darinya, apa kau ingin bantuan dariku?” tawar Sinbi, lalu menyodorkan ketiga anak panah yang dibawanya pada Jun. “Anak panah ini akan memberikan keajaiban padamu, dan pastinya akan mengubah kehidupanmu.” Jun masih enggan untuk menerima anak panah itu, tapi Sinbi menatapnya penuh keyakinan. Seakan ini adalah kesempatan langka yang belum tentu akan terjadi lagi padanya. “Jangan sampai Gongchan mengalahkanmu!” mendengar nama pria itu membuat Jun langsung menyambar anak panahnya dan menatap geram Sinbi, sepertinya gadis ini mengetahui banyak hal tentangnya.
“Tentu saja, aku bahkan bisa menebak apa yang kau pikirkan.” tukas Sinbi, “Sampai bertemu nanti, annyeong.” Lampu kembali mati, dan dalam sekejap menyala kembali tapi sosok Sinbi sudah menghilang.
“Apa aku sedang bermimpi?” tanya Jun tak percaya, di tangannya tergenggam tiga anak panah pemberian Sinbi, ujungnya tidak bercahaya lagi.
Esok harinya, di tempat latihan memanah, lapangan indoor yang terdapat di kampus. Semua orang tengah disibukkan dengan persiapan dan tes untuk pemilihan perwakilan olimpiade memanah nanti. Dan saat ini Jun kembali mengikutinya dalam nomor pertandingan 70 meter, bersiap melakukan stand dengan busur dan tiga anak panah yang ia dapatkan kemarin malam dari Sinbi.
Melihat dalam diam, Yerin mengamati posisi kaki Jun pada lantai cukup baik, titik berat badan ditumpu oleh kedua kaki secara seimbang, tubuhnya tegak tidak condong ke depan atau ke belakang, samping kanan maupun kiri. Tidak sesombong sebelumnya, Jun menggunakan sikap square stand, sikap sejajar yang biasanya dipakai oleh pemanah pemula, sepertinya dia banyak belajar dan mencoba bermain dengan baik. Senang akan perubahan tersebut Yerin tersenyum kecil, dalam hati kecilnya dia berharap Jun bisa melakukannya dengan baik.
Jun melakukan gerakan menempatkan ekor panah ke nocking point pada tali dan menempatkan shaft pada arrow rest, kemudian diikuti dengan menempatkan jari-jari penarik pada tali dan siap menarik tali. Tak lupa ia memperhatikan kembali apakah anak panah yang dipasang sudah lurus tersandar di busur dengan baik.
Kali ini beralih ke tahap extend, ia mengangkat lengan busur dengan lengannya yang berusaha se-rileks mungkin, tali ditarik oleh tiga jari yaitu jari telunjuk, jari tengah dan jari manis. Tali diletakkan pada ruas-ruas jari pertama dan tekanan busur terhadap telapak tangan penahan busur berada di tengah-tengah titik V, yang dibentuk oleh ibu jari dan jari telunjuk.
Dengan otot lengan yang selama ini dilatihnya, Jun menarik tali sampai menyentuh bagian samping dagu, hidung dan bibir, kemudian menjangkarkan tangan penarik tali menempel di dagu, yang membuat Yerin merasa yakin tempat penjangkaran yang dilakukan Jun tampak kokoh.
Dulu Jun tidak begitu ahli menahan sikap panahan, tapi kali ini wajahnya terlihat serius dan memastikan otot-otot lengan penahan busur dan lengan penarik talinya berkontraksi sebaik mungkin, dengan begitu sikap panahannya tidak berubah. Bersiap melakukan pembidikan.
Disela konsentrasinya, Jun melihat perubahan yang tak terduga terjadi d itempatnya berdiri itu. Suasana lapangan latihan berubah perlahan-lahan membentuk berbagai pohon lebat, daun-daun hijau, tanah becek dan langit biru yang cerah, suasananya menjadi lebih dingin dan sedikit ber-angin. Bisa ia pastikan kalau sekarang dia berada di dalam hutan.