You're Fiction

You're Fiction
Confession -04



Part 6 : Kembali


Memeluk lutut memperhatikan Jungshin, Sinbi hanya mengigiti kuku tangannya, berpikir keras untuk memulai percakapan dan membicarakan apa yang terjadi. Meminta pendapat dan bantuan agar ia bisa pulang. Tapi karena tahu Jungshin punya masalah dengan kekasihnya, Sinbi jadi sulit mengutarakan itu, ia serasa mati rasa jika berada dalam suasana canggung dan tegang seperti sekarang.


Tiba-tiba saja petir mengelegar, mengagetkan keduanya. Sinbi bahkan menjerit ketakutan, suara petirnya tidak berhenti disana, saling menyusul untuk beberapa saat. Sinbi yang mengidap Brontophobia, rasa takut pada petir itu sudah berkeringat dingin dan jantungnya berdegup kencang. Di petir selanjutnya ia refleks bersembunyi di balik pintu menutup kepala dengan tas selempangnya, berusaha menghindari petir. Melihat hal itu Jungshin melongo dan menyadari jika Sinbi sepertinya takut pada petir.


Ia segera menghampiri Sinbi dan menurunkan tas tersebut, mata mereka saling bertemu dan bersitatap sekilas sebelum listriknya mati.


“Akh,” Jungshin merintih, memegangi kepalanya. Sinbi memperhatikan.


“Kau baik-baik saja?” lirih Sinbi. Jungshin menetralkan pikirannya, menjauhi Sinbi dan keluar rumah. Ia harus menemui Eunha. “Yakk, kau mau kemana!” teriak Sinbi putus asa. Ia tak ingin ditinggal di rumah sendirian dalam gelap, tapi juga tak bisa keluar rumah karena ada petir.


Tanpa mempedulikan apapun Jungshin bergegas menyusuri jalan menuju halte, ia akan meminta penjelasan dan alasan Eunha yang sebenarnya. Mereka sudah berpacaran selama 8 bulan apa mungkin karena bosan Eunha selingkuh darinya dan memilih memutuskannya. Ini tak adil bagi Jungshin, ia selalu menjadi orang pertama yang sangat senang jika bersama Eunha, ia akui itu, tapi kenapa Eunha tega mengesampingkan momen bahagia diantara mereka dengan perselingkuhan. Tak ingin percaya Jungshin memilih tidak meragukannya, meski tadi ia sempat melihat mereka disana, tampak mesra dan membicarakan masa depan sang pria, yang akan kuliah tanpa meninggalkan Eunha. Jika memang sebenarnya Eunha tak ingin berhubungan jarak jauh bukankah ia hanya perlu bicara dengan Jungshin dan mencari solusi bersama.


Meski begitu hatinya sangat sakit, sejak kapan Eunha menyelingkuhinya? Apakah selama ini gadis itu tidak menyukainya?



Part 7 : Kekasihnya


“Kau gila, mana mungkin aku percaya pada bualanmu itu!” sergah Jungshin menghentikan cerita Sinbi yang menceritakan semuanya dari awal, saat laptopnya mati tanpa alasan dan kedatangan ia ke rumah ini bersama dengan Jungshin yang masuk ke tahun 2017, tapi sekarang giliran Sinbi yang terbawa ke tahun 1997 bersama dengan Jungshin yang tidak ingat apa pun.


“Aku serius, kau tadi melihatnya kan dari mataku. Kau bilang bersamaku di ruangan gelap, itu disini, di ruangan ini. Tempatnya sangat kotor dan berantakan, tempat ini jadi tak terpakai di tahun 2017!” kukuh Sinbi berusaha keras membuatnya percaya, ia bisa gila. Ia harus pulang, dan menyesal membantu Jungshin pulang jika begini jadinya.


“Tunjukkan padaku kalau kau dari masa depan!” tuntut Jungshin. Sinbi berpikir dan melirik ponsel, menyambarnya cepat, menunjukkannya pada Jungshin hampir mengenai hidung jika pria itu tidak tanggap memundurkan wajahnya. “Apa itu?” tanyanya tak berniat.


“Ini ponsel, smartphone. Layarnya, touchscreen. Kau bisa mengaktifkannya dengan sentuhan,” tutur Sinbi menarik tangan Jungshin yang kaget, hendak menariknya kembali tapi Sinbi pantang melakukan itu, menyuruh Jungshin menyentuh ponsel. Terpukau tak percaya, ponsel itu bercahaya setelah ia sentuh, menggeser layarnya dan terbuka.


“Lihat, ini adalah barang yang kubawa dari masa depan. Percayalah! Akan sangat jahat jika kau tidak percaya, aku tak mau tersesat di dunia ini sendirian. Ah, aku lahir tahun apa? Tahun 1998, itu berarti aku belum lahir!” cetus Sinbi memompa jantungnya, adrenalinnya terpacu, itu artinya dalam satu tahun ia bisa melihat dirinya yang masih bayi?


“Jangan ngawur!” acuh Jungshin.


“Kakek, kita harus bertanya pada kakek Jungshin. Dia tadi tidur di sini bersamaku, ayo kita cari!” sebuah kekonyolan yang membingungkan, Jungshin yang menjawab tak punya kakek bernama yang sama dengannya, terpaksa menuruti tarikan Sinbi pada tangannya, mengajak ia berkeliling tempat itu sampai berhenti di dapur.


“Wuah, ada makanan, air putih!” seru Sinbi senang, langsung saja melepas pegangan dan mengambil minum, menoleh sekilas pada Jungshin, “Boleh aku minum dan makan, perutku lapar sejak kemarin?” pintanya.


“Ah merepotkan sekali.” keluh Jungshin.


Terus memperhatikan Sinbi yang makan dengan lahap, Jungshin mulai berpikir, gaya pakaian Sinbi terlihat modis dan pasti sangat mahal, ponsel itu jelas bukan benda sembarangan, tak ada yang seperti itu di sini kecuali ponsel biasa, atau pager. Dan, ingatan sekilas tadi menganggunya.


“Maaf karena sudah membuatmu terpaksa mengantarku ke sini.” sesal Jungshin dalam pandangan mata tadi, memeluk Sinbi dan ikut terpejam. Setelah dipikir, jelas itu dirinya, dan lantainya juga mirip dengan lantai rumahnya.


Beberapa saat setelah Sinbi tersesat di masa lalu.


Merasa risih dan kesal, Jungshin berbalik dalam sekali gerakan ke belakang dan mendapati Sinbi berada tak jauh dari posisinya, berpura-pura melihat sesuatu, menengadahkan kepala memandangi pohon dan bersikap seperti pejalan kaki biasa meski Jungshin tahu gadis itu tengah mengikutinya. Tak tahan Jungshin memilih untuk menghampirinya.


“Jangan mengikutiku! Aku sedang bersiap untuk masuk kuliah, jadi jangan ganggu aku!” suruh Jungshin yang menurut Sinbi kejam. Dia bahkan sudah menganggu ceritanya, membuat Sinbi tidak ikut lomba, menghabiskan uang untuk biaya rumah sakit dan menemaninya jalan jauh dari Seoul ke sini.


“Aku tidak suka ditinggal sendiri, dan berhubung aku sudah ada di Busan, aku ingin melihat-lihat!” sewot Sinbi mendahului, lalu berhenti. Bagaimana pun sangat riskan berjalan-jalan di tempat yang tidak ia ketahui. Tahu akan pemikiran gadis itu, Jungshin kembali berjalan, mengacuhkan Sinbi dan melanjutkan langkahnya. Selama perjalanan Jungshin asyik bersenandung pelan dan terdengar ria, tanpa menyadari Sinbi yang mendengarkan dan ikut menyanyi meski hanya menuruti lagamnya.


Setibanya di SMA Jungshin, Sinbi terpaksa menunggu di luar karena ia dilarang keras mengikutinya sampai ke dalam. Berpura-pura mematuhinya, Sinbi segera menghitung timing yang pas untuk menyusulnya, lanjut membuntuti juga berharap tidak ketahuan.


Dengan terpaksa Sinbi menghentikan langkahnya saat seseorang memergoki dan bertanya apa yang sedang ia lakukan di sekolah tanpa seragam. Ah benar, tadi itu Jungshin mengenakan seragam, kenapa ia tidak menyadarinya, lagipula tempat ini adalah sekolah. Dan yang menegurnya sekarang ada seorang guru, mengenakan kacamata gantung sembari menelisik sosok Sinbi yang tampak asing baginya.


“Ah, aku tersesat, aku mencari temanku. Aku baru liburan ke sini, ada urusan keluarga, permisi.” terang Sinbi sedikit terbata karena harus berbohong, setelahnya merasa bersyukur karena guru itu tampak tak curiga. Sayangnya, Sinbi kehilangan jejak Jungshin, yang sepertinya masuk ke ruang guru.


Memperhatikan tempat itu, Sinbi yakin ia benar-benar berada di tahun 1997, segala sesuatunya tampak natural dan tidak ada teknologi canggih, penampilan siswa dan guru pun berbeda. Bisa dipastikan seragam yang mereka kenakan juga sudah tidak digunakan lagi. Menghela napas bingung Sinbi dikejutkan dengan kehadiran seorang siswi yang menatapnya aneh.


“Sepertinya kau mengikuti Jungshin oppa, benarkan!” tuduhnya yang memang benar, lalu mendekati Sinbi yang kikuk, “Apa kau menyukainya juga? Fansnya?” Sinbi mengangguk kecil sekenanya, “Wah senang sekali, aku juga fansnya, dia sangat tampan dan berbakat. Kau sudah lihat videonya dulu saat lomba?” semangatnya begitu antusias, mengambil ponsel model dulu, membuka tutupnya dan menunjukkan sebuah video pada Sinbi. “Dia memenangkan lomba ini bulan Februari lalu, di hari valentine. Bermain piano dan menyanyikan lagu cinta, sebuah lagu pernyataan cinta. Sedih sekali karena dia menyatakan cinta pada gadis lain,” ceritanya dengan berbagai ekspresi.


“Apa aku boleh melihatnya?” tanya Sinbi hati-hati.


“Tentu saja, sepertinya kau belum lihat!” dengan rendah hati ia memperbolehkan Sinbi menonton video Jungshin yang memainkan piano sambil menyanyi. Sebelum itu Jungshin memberi pidato singkat jika lagu ini dibuat untuk seorang gadis yang menarik hatinya dan ia berencana memberikan lagu ini padanya sebagai pernyataan cinta.


Nega malhal ttaemyeon nan [Saat kau bicara]


Nado moreuge neol bogo [Tanpa sadar, aku memperhatikanmu]


Nega hwanhage useul ttae nan [Saat kau tersenyum]


Eoneusae neol ttara useo [Aku tiba-tiba tersenyum juga]


Nega geotgo isseul ttaen [Saat kau berjalan]


Ne dwireul ttaraseo geotgo [Aku mengikutimu dari belakang]


Nega sujupge norael hal ttaen [Saat kau bersenandung]


Eoneusae kosnoraereul hae [Aku tiba-tiba ikut bersenandung bersama]


Mollasseo naega ireol jureun [Aku tak tahu kan menjadi seperti ini]


Nega nae jeonbuga doel jureul [Bahwa kau kan menjadi segalanya bagiku]


Neoui haengbokdeuldo neoui seulpeumdeulmajeo [Kebahagiaanmu, bahkan kesedihanmu]


Ne modeun ge nae geosil jul mollasseo [Aku tak tahu semua itu kan menjadi milikku]


Ijen nae mam gobaekhalge [Kini aku kan mengungkapkan isi hatiku]


Deoneun sumgil su eopsneun nae mam [Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku lagi]


Neol johahandago neol saranghandago [Bahwa aku menyukaimu, mencintaimu]


Nega naui jeonburago [Bahwa kau adalah segalanya bagi]


Ireon naui mam badajugessni [Akankah kau menerima hatiku?]


Sinbi akhirnya tahu kalau lagu ini adalah lagu yang sebelumnya dinyanyikan Jungshin saat berangkat tadi.


Setelahnya, siswi tersebut mengambil ponselnya dan tersenyum senang.


“Apa ia ditolak?” tanya Sinbi.


“Tentu saja tidak! gadis itu menerimanya, mereka sudah berpacaran sampai sekarang, mungkin sudah 8 bulan.” seru siswi itu mengagetkan jantung Sinbi. Seakan-akan Sinbi sudah bertanya hal aneh, karena Jungshin adalah siswa populer tak mungkin ia ditolak. “Kau patah hati? Jangan khawatir, bergabunglah dengan kami, fans patah hati Jungshin oppa.” tawarnya hanya dibalas cengiran kaku dari Sinbi.


“Kudengar dia akan kuliah di Seoul jurusan musik, kuharap sih mereka putus.” bisiknya dengan mata berbinar, Sinbi lagi-lagi berusaha mengangguk setuju.


Tuhkan ia sudah menebak, sekalinya kehilangan jejak ia akan kelimpungan mencari Jungshin, apalagi setelah diajak mengobrol oleh siswi tadi yang mungkin lebih muda dari Jungshin. Mengingat namanya yang tertera di papan nama seragamnya, Jung Yerin, Sinbi tersenyum geli menyadari pria yang membawanya ke masa lalu itu cukup populer.


Berhenti di sebuah bangku dan melakukan kebiasannya, menselonjorkan kaki, memijitnya dengan kepalan tangan, tanpa sengaja Sinbi mendengar sebuah suara, seperti pertengkaran. Mengendap-endap ingin melihat, Sinbi terkejut saat ia melihat Jungshin ada di sana, pantas saja suaranya tidak asing.


Jungshin tengah berhadapan dengan dua orang, satu pria yang sama tinggi dengannya, dan perempuan, berambut hitam ala bob dengan pipi tembem, berkulit putih cantik. “Ah, dia,” pekik Sinbi segera menutup mulut takut terdengar, memastikan kalau perempuan itu ada dalam video kecelakaan Jungshin.


“Apa karena ini kau meminta putus dariku?” tanya Jungshin terdengar sedih, matanya menyiratkan rasa sakit dan kecewa, wajah itu tampak pucat menurut Sinbi. “Kau selingkuh dariku dan minta putus karena tak ingin pacaran jarak jauh, pintar sekali kau.” keluh Jungshin menahan marah. “Bisa kau tinggalkan kami berdua!” tuntutnya pada pria di samping kekasihnya, Jung Eunha.


“Ah iya,” kikuknya, Eunha mencengkram tangannya.


“Dia tetap disini, kita sudah berakhir, jadi tidak ada yang harus dibicarakan lagi!” suruh Eunha, mengamit tangan selingkuhannya dan pergi. Jungshin memanggil, menyusul untuk menghentikannya.


“Kau tidak bisa bersikap seperti ini, jelaskan padaku! Apa aku membuat kesalahan?” tanya Jungshin tak terima, lebih dari itu ia tak ingin kehilangan Eunha, gadis yang selama ini sudah menyita perhatiannya sejak masuk sekolah dan baru bisa ia ungkapkan diakhir masa sekolahnya.


Eunha tidak mengubrisnya, “Aku akan menunggumu di halte bus sampai kau datang, karena itu kumohon jangan mengabaikanku! Kita bicarakan ini.” pinta Jungshin memutuskan, membiarkan pria itu membawa Eunha pergi.