
Sinopsis
Malam itu, Yeeun di ikuti oleh seorang pembunuh dan akhirnya tertangkap. Ia harus rela kehilangan salah satu anggota badannya, dan berhasil kabur dari sang pelaku. Namun kejadian itu justru membuat dia disalahkan karena menarik perhatian seorang pembunuh berantai ke sekolah tersebut.
Dari status korban yang selamat dari pembunuh Yeeun kini menjadi korban bully semua siswa dan dijauhi. Tak lama setelah itu salah satu siswi yang juga merupakan teman dekat Yeeun meninggal karena dimutilasi. Sekolah gempar dan Yeeun sangat tertekan.
Pengenalan Tokoh
Yeeun. Pemberani, suka tantangan, menyayangi orangtua, sisi buruknya adalah tidak suka menerima kritik atau pun tanggapan oranglain mengenai apa yang ia sukai.
Dongwoon. Seorang guru matematika, walikelas 11-C, misterius dan tidak suka mengikuti rapat guru, tapi bisa diandalkan.
Yooa. Suka menghamburkan uang, paling antusias jalan-jalan, tidak mudah menyimpan kepercayaan atau kesetiaan pada oranglain, ia begitu peduli dengan Jenny.
Jenny. Polos, pendengar yang baik, suka jalan-jalan, sedikit tertutup tapi mudah bergaul dengan oranglain.
Kogyeol. Berkelahi adalah hobinya, bisa setia kawan selama mereka setia padanya, menghargai pertemanan kelompoknya, kasar dan malas.
Sehyung. Tipe orang yang ragu-ragu, cemas, penasihat dikelompok, berteman dekat dengan Yeeun, tapi sulit mengutarakan pendapatnya.
‘Ada banyak cerita dibalik kegelapan'
“Kau yakin bisa pulang sendiri? Ini sudah hampir tengah malam, menginap saja disini bersama kami.” bujuk Sehyung mencemaskan Yeeun yang bersikukuh untuk pulang. Ia tidak mau sampai orangtuanya marah, karena mereka tidak menyukai Yeeun berteman dengan ketiga gadis yang tengah bersama dengannya itu. Entahlah, apa alasannya.
“Benar, aku bisa menghubungi dan membujuk mereka untuk mengizinkanmu.” rayu Jenny tersenyum menyakinkan.
Yeeun menggeleng, “Mereka tidak akan mendengarkan, aku tidak mau mereka menghina kalian lagi.” tolak Yeeun, Yooa memberenggut sebal.
“Sejak kapan kau mempedulikan kami,” sinisnya, seperti itulah sikap Yooa selalu jujur dalam mengatai orang, tapi dia adalah teman yang asyik jika sudah mengobrol banyak hal tentang tren juga tempat wisata di Korea. Dia sudah seperti guide bagi mereka.
“Kau bersikeras mengusirku.” tuding Yeeun jutek. Keduanya sama-sama keras kepala.
“Tidak, ini bukan rumahku.” sanggah Yooa tenang.
Ssrrs, angin malam dipukul 11 itu terasa mencekam dan dingin, langkah kaki Yeeun terdengar cepat menuju rumahnya yang memang cukup jauh dari keramaian. Menyibukkan diri dengan menyanyi kecil Yeeun kini memasuki gang, menuruni undakan dan berbelok ke arah kirinya hingga sebuah bayangan terlihat olehnya.
Berhenti sejenak, Yeeun hanya mampu menenangkan detak jantungnya yang berderu kaget juga takut. Bayangan tadi jelas membentuk wujud seorang manusia, memakai topi yang menghalangi wajahnya. Berpikir positif Yeeun terus berjalan, mengabaikan langkah kaki lainnya yang terdengar senada dengan langkahnya. Bulu kuduknya merinding, ia mengepalkan tangan dengan kuat dan berlari.
Napas Yeeun ngos-ngosan, dengan ragu-ragu Yeeun menoleh ke belakang, bayangan itu menghilang. “Aaah!” teriak Yeeun, saat tak terduga serangan dari samping mengejutkannya, mendorong kuat tubuh Yeeun hingga menabrak beberapa tong sampah.
Gadis berusia 16 tahun itu memberontak keras, memukul-mukul penyerangnya yang terlalu kuat. Tangannya meraih apa pun yang bisa ia ambil, seperti saat ini ia mengambil plastik sampah sayuran dan melemparkannya ke kepala penyerang, sama sekali tak berpengaruh, penyerang yang diduga pria itu membalas Yeeun dengan memukul kepalanya menggunakan batu sekuat tenaga, hingga Yeeun terjatuh pingsan. Wajah dibalik topi itu tersenyum miring, menikmati pukulannya.
Penyerang itu menyeret Yeeun dengan menarik kerah seragam gadis itu melewati ladang gandum dan terus membawa Yeeun menuju rumput liar jauh dipandangan para masyarakat, menghempaskan tubuh Yeeun ke tanah.
Dengan setengah tersadar Yeeun terbangun, merasakan luka dan nyeri di kepalanya, mencoba menajamkan pandangannya yang memburam, melihat seseorang tengah membersihkan batu penuh darah dengan menjilatinya lalu melemparkannya ke sembarang arah, Yeeun bergidik, ketakutannya meningkat saat pria itu menyadarinya telah sadar, Yeeun hanya bisa melihat matanya yang menunjukkan kesenangan.
Setiap langkah yang dilakukan pria itu, Yeeun beringsut mundur mencoba berdiri dan pergi sejauhnya, seakan menyukai ekspresi ketakutan Yeeun pria itu semakin mendekatinya, Yeeun berhasil berdiri dan berbalik lari tapi pria yang memakai sarung tangan itu lebih dulu mencekiknya, menghempaskan tubuh Yeeun ke tanah sambil mempererat cekikan.
“Jangan bunuh aku! Aku mohon, jangan bunuh aku!” seru Yeeun dengan suara tercekat kehabisan napas, tak lama cekikan itu melonggar, Yeeun kembali bisa bernapas dan pria itu mendorong kepala Yeeun keras hingga rasa sakit di kepalanya terasa menyakitkan.
Siapa pun tolong aku, gumam Yeeun dalam hati. Hidupnya seakan tinggal menghitung detik, ia berada dalam kegelapan yang jauh dari jangkauan.
“Aku akan membunuhmu dengan perlahan.” bisik pria itu dengan suara berat, meraih tangan kanan Yeeun, merentangkan dan menahannya kuat.
Yeeun masih berontak mencoba melepas cengkraman yang menyakitkan itu, tangan lainnya memegangi lengan pria itu. Sebilah pisau dapur yang sering digunakan untuk memotong daging berada tepat di tangan pria itu.
“Seperti memotongmu sedikit demi sedikit.” suara itu adalah suara terburuk yang pernah Yeeun dengar, yang mampu membuat Yeeun berontak lebih keras tak peduli dengan luka apa pun lagi, kakinya menendang-nendang tubuh pria itu yang mengabaikan dan tahan banting.
“Andwae! Andwae, tolong aku! Jangan bunuh aku!!” histeris Yeeun menangis sembari mencakar tangan si-pria. Namun,
“Aaaaah,” teriak Yeeun memekakkan kegelapan, darah mengalir segar dari tangannya yang terputus itu. Seakan tak peduli dengan kesakitan Yeeun, pria itu meraih dan mencengkram tangan kiri Yeeun yang tadi sempat memberikan cakaran padanya.
Seakan bersiap memotong lagi, pria itu mengayunkan pisaunya, Yeeun bukan hanya meringis kesakitan lagi, ini membuatnya pusing dan sakit yang tak tahan. Apa benar ia akan mati sekarang? Seperti ini?
“Siapa itu?” teriak seorang pria datang di depan mereka, menyenter tepat ke arah penyerang. Silau akan cahaya kecil itu, penyerang segera memalingkan wajahnya menunda kesenangannya menyakiti Yeeun. Senter itu terarah pada potongan tangan yang berdarah. “Apa yang sedang kau lakukan!” ia marah, namun dalam hitungan detik, pria itu berlari menerjangnya dan membunuhnya dengan pisau. Yeeun berdiri sekuat tenaga melenyapkan pikiran untuk mati dan menyerah, dengan memegangi tangannya yang terus berdarah itu Yeeun berlari secepat ia bisa, sampai ia tak peduli lagi dengan arah tujuan. Semuanya tergantung kedua kakinya yang berlari cepat, membawanya pergi dari seorang pembunuh.
Sadar Yeeun menghilang, penyerang berbalik mengejarnya. Sepanjang jalan ladang gandum mereka saling kejar, Yeeun terus memberinya jejak dengan darahnya yang mengalir.
Hampir, hampir saja ia tertangkap jika tidak ada sebuah mobil yang melintas di depannya. Untungnya mobil berhenti sebelum menabrak Yeeun yang terus melanjutkan larinya. Kaget dengan apa yang baru saja terjadi, dua penumpang itu hanya mampu melihat Yeeun yang berlari, tidak melihat jelas tangan gadis itu yang terluka. Sejenak penyerang itu bersembunyi dan kehilangan jejak Yeeun tapi ia segera menuju jalan pintas untuk menemukan incarannya.
Berhasil mendapatkan Yeeun, penyerang itu terpaksa harus berhenti karena Yeeun bertemu dengan para petani yang tengah berjalan bersama untuk rapat desa dengan penuh protes, seakan kehilangan nafsu dan kesenangan, pria itu berbalik pergi.
“Ahjussi, puwajuseyo!” rintih Yeeun dan jatuh pingsan di hadapan para petani yang langsung menjerit melihat kondisinya.