
Secara diam-diam dan tidak diketahui siapa pun, Jenny menemui Yeeun dengan bantuan Sehyung. Sudah dua hari Sehyung mengajaknya bertemu Yeeun, lagipula Sehyung memutuskan untuk berada dipihak Yeeun. Ia merasa tidak seharusnya menjauhi Yeeun mengenai apa yang terjadi pada sahabatnya tersebut. Hati nuraninya menentang keras untuk membenci Yeeun dengan alasan yang tidak masuk akal.
Dan Yeeun sangat bersyukur Sehyung kembali padanya, persahabatan mereka sejak SMP rupanya tidak kandas begitu saja.
Dengan ragu-ragu Jenny menghampiri Yeeun di rumah Sehyung, gugup dan canggung untuk memulai pembicaraan. Sedang Sehyung hanya menyemangatinya dengan tersenyum cerah dan Yeeun hanya terdiam, tak tahu harus bagaimana.
“Hm, mianhae.” hanya itu awalan yang terucap dari Jenny, bagaimanapun ia juga merasa bersalah dan benci harus menjauhi Yeeun. Melihat tangan Yeeun yang sudah tidak ada semakin membuat Jenny menyesal. “Aku tidak bermaksud menjauhimu, hanya saja...”
“Arraseo,” sela Yeeun, pasti Jenny juga merasakan ketakutan yang sama seperti siswa lainnya, juga karena tidak ingin kehilangan Yooa, salah satu sahabat mereka meski dia seringkali bicara pedas dan semaunya. “Tidak perlu membahasnya lagi, aku berterimakasih karena kau mau datang.” tukas Yeeun tulus, senang akan kedatangan Jenny meski ia tidak terlalu berharap.
“Jeongmal mianhae!” Jenny tiba-tiba menangis, ini terasa seperti dia sudah melukai sahabatnya, mendengar ketulusan Yeeun membuatnya semakin sedih dan menyesal.
“Sudahlah jangan menangis!” hibur Yeeun menepuk-nepuk pundak Jenny dengan tangan kirinya, ia tersenyum manis. Jenny benar-benar perasa.
“Baguslah kalian sudah baikan.” lega Sehyung.
Yooa menggebrak meja Jenny dengan keras, membuat ketiga gadis itu terlonjak kaget. Yeeun menatapnya tajam, Sehyung sedikit cemas dan mencoba memberi tatapan hangat, sedang Jenny tidak mampu menatap Yooa langsung, melirik takut.
“Jadi ini balasanmu padaku Lee Jenny!” kesal Yooa penuh penekanan, Jenny semakin menunduk. kali ini Yooa menatap kesal Yeeun. “Kau berhasil membawanya ke sisimu lagi, seperti dulu. Kau yakin bisa berteman dengannya setelah apa yang terjadi padamu. Bukankah Sehyung sudah cukup untuk mengganti tangan cacatmu itu!”
“Yooa-ya!” tegur Sehyung, ia terpaksa berdiri saat Yooa masih menatap kasar Yeeun. Mencengkram tangan Yooa dan mencoba membawanya pergi. “Ayo kita bicara baik-baik!” ajaknya, Yooa menghempaskan tangan Sehyung, bersitatap tegang dengan Yeeun.
“Setelah melibatkan kami dalam masalah kau masih bisa sekolah, dan berbagi cerita dengan teman-temanku. Kenapa? Kenapa kau tidak pergi dan diam saja di rumahmu!” sentak Yooa.
“Ini bukan salahnya, dia juga berhak untuk hidup kembali.” bela Sehyung.
“Hidup? Yang benar saja, hidupnya sudah hancur, tidakkah kau lihat faktanya, dan betapa menyedihkannya dia? Memangnya siapa dia yang mengabaikan kita saat malam itu, kalian sudah menyuruhnya untuk tidak pulang. Dan sekarang dia muncul dari kematian membuat semua dalam bahaya!” amarah Yooa membuncah. Gadis yang terkenal dengan fashion dan sifat juteknya itu tampak menakutkan. Jenny hanya menoleh sekilas merasa serbasalah dan menyesal pada Yooa. Ia tahu alasan Yooa bersikap seperti ini, apalagi dia dan Yooa sudah berteman sejak SD.
“Lalu apa maumu? Haruskah aku menghabiskan kehidupanku terkurung dalam penderitaan ini, mengurung diri di kamar hingga membusuk? Sudah cukup aku kehilangan kepercayaan diri, teman dan tanganku, haruskah aku juga kehilangan arti hidupku! Ini juga berat untukku, aku seperti mati! Rasanya disini sangat sesak,” Yeeun memukul jantungnya dengan wajah sedih, matanya berair. Sehyung miris melihatnya, Jenny bahkan sudah menangis pelan. “Haruskah aku mati saja, haruskah aku mati dimutilasi olehnya!” teriak Yeeun tak tahan, berbalik dan berlari pergi.
“Yeeun-ah!” panggil Sehyung khawatir, melirik sekilas Yooa dan berlari menyusul.
Tangan Yooa mengepal dan bergetar. Ia tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan, kenapa rasanya sangat menyakitkan.
Tidak bisa menyusul dan menemui Yeeun, Sehyung kini setengah berlari menemui Kogyeol yang sedang kesakitan akibat pertempuran yang baru saja ia lakukan dengan kelompok gang di sekolah lain. Mereka kini berada di tempat parkir pasar yang sudah tak terpakai.
Gyujin dan Wei segera menyingkir saat Sehyung datang, keduanya bahkan memutuskan untuk pergi. Kogyeol semakin kesal dia menendang aspal dengan keras. Berani sekali mereka menghubungi Sehyung untuk datang.
“Jangan salahkan mereka. Aku yang menyuruh mereka untuk meneleponku langsung jika terjadi sesuatu padamu!” tegas Sehyung mengamati luka Kogyeol yang mengakibatkan wajahnya memar dan berdarah, begitupun dengan tangannya. “Mana lagi yang luka?” tanya Sehyung membalikkan paksa tubuh Kogyeol agar bisa melihat punggung pria itu, biasanya Sehyung akan mendapatkan luka di sana akibat pukulan kayu atau lainnya. Syukurlah hanya ada lebam di pundaknya.
Sehyung memukul lebam itu dan Kogyeol meringis kesakitan.
“Yakk, apa yang kau lakukan!” kesal Kogyeol.
“Berhentilah tawuran! Jika tidak aku benar-benar akan menyerah padamu. Ini sangat menganggu dan membuatku benci!” sentak Sehyung.
“Aku tidak bisa berhenti begitu saja!”
“Kenapa? Karena kau menikmatinya, memukuli oranglain dan terluka. Lalu aku apa, kita sudah bersama selama 2 tahun. Sepertinya kau lupa untuk memberi arti diriku dalam hidupmu, ini melelahkan Go Minsoo.” letih Sehyung. Hubungan mereka sudah tidak sebaik dulu, bahkan komunikasi mereka juga tidak sejalan seperti biasa, Kogyeol sudah banyak berubah. Sehyung tahu kalau Kogyeol memang menyukai pertempuran tapi saat itu ia sama sekali tidak melihat kesenangan yang dirasakan Kogyeol, Sehyung hanya mengira Kogyeol memang melakukan itu untuk melindungi diri dan teman-temannya.
“Jadi kau ingin kita putus? Baiklah, kita hentikan saja, kau bisa mengakhirinya!” dingin Kogyeol, “Tapi aku tidak yakin kau bisa lepas dari bayanganku atau tidak, kau hanya gadis rapuh Sehyung-ssi.” setelah itu Kogyeol meninggalkannya sendirian tepat tengah malam.
Desiran angin terasa dingin dan mencekam, suasana jalan yang dilalui Sehyung terasa lama dan menakutkan, dengan langkah pasti ia bergegas untuk pulang, melupakan ucapan Kogyeol.
Menghela napas kecewa Sehyung mengeratkan jaket, anginnya terlalu dingin. Kenapa juga dia bergegas keluar menemui Kogyeol setelah ditelepon Wei, mengkhawatirkan pria itu tanpa melihat jam. Ini sudah sangat larut dan rasanya perjalanan pulang terasa lama.
Tiba-tiba dari arah samping seseorang berlari dan mendorong keras Sehyung hingga mereka terjatuh diantara semak-semak. Seorang pria berpakaian serba hitam mengenakan tudung menutupi wajahnya membekam mulut Sehyung yang secara refleks memberontak keras, menendang, memukul dan menampar-nampar. Tapi pria itu tidak menyerah ia mengeluarkan batu dari jaketnya dan memukul Sehyung dengan keras hingga gadis itu merasakan nyeri teramat di kepalanya yang langsung berdarah. Sadar tidak langsung pingsan, pria itu kembali memukulnya dua kali dan Sehyung terjerembab tak berdaya di rerumputan itu.
“Andwae! Andwae, Sehyung-ah!!” jerit Jenny keras, menangis dan bergetar hebat. Kelas mereka baru saja mendapat kabar mengenai kematian Sehyung yang ditemukan di padang penuh bunga kuning dengan keadaan mengenaskan, tubuhnya dimutilasi.
Guru mencoba menenangkannya. Sedang siswa lain beralih menatap tajam menyalahkan Yeeun, ada raut benci yang bisa dirasakan Yeeun dari pandangan mereka, meski begitu Yeeun lebih syok dengan berita yang baru didengarnya itu. Hatinya bergemuruh keras merasakan sakit yang teramat menyiksa, ia ingin menyangkal kenyataannya tapi tidak bisa menampik perasaan apa pun. Yang pasti Yeeun merasa lebih sakit dari siapa pun, berlipat. Tangan kanannya menegang dan membuatnya mengerang sakit, kepalanya terasa pecah.
Seseorang di bangkunya mengepal kuat, menahan airmata juga mengabaikan Jenny yang tengah dibawa ke UKS, Yooa berdiri kasar, mengambil ranselnya dan menghampiri Yeeun. Ia melempar ransel itu tepat di muka Yeeun hingga rambutnya tersibak menutupi wajah Yeeun yang jelas terhantam keras.
“Apa kau puas sekarang, sadarlah Jang Yeeun kau sudah membunuh temanmu sendiri. Karenamu dia mati oleh psiko itu!” amuk Yooa, sebelum gadis itu melakukan sesuatu pada Yeeun, Dongwoon datang dan menjauhkannya.
“Tenanglah! Kau tidak boleh melakukan hal ini! Dia juga terluka, ini karena kesalahanku tidak bisa melindungi kalian. Kumohon tenanglah!” Dongwoon terus menenangkan Yooa dalam pegangannya, dan melirik Yeeun yang menunduk sedih.
Dengan langkah gontai Yeeun beranjak keluar kelas, menangis dan mengabaikan semua pandangan oranglain. Rasanya ia benar-benar ingin mati.
Terduduk di ayunan tempatnya sering bermain, wajah Yeeun sembab. Ia bisa merasakan sosok Sehyung kemana pun langkah kakinya pergi. Kenangannya dengan Sehyung teringat bagai slide yang tidak ada akhirnya, menyayat hatinya sedikit demi sedikit.
Ini salahnya, harusnya ia tidak sekolah, harusnya ia tidak menerima pertemanan dari Sehyung lagi, harusnya ia mendengarkan Yooa kalau ia hanya membawa masalah, harusnya saat itu ia mati saja.
“Ulljima!” suara Sehyung mengalihkan Yeeun dari penyesalannya, menatap ayunan di sebelahnya, Sehyung tengah menatap dirinya sambil tersenyum. “Wajahmu akan ikut bengkak jika kau terus menangis.”
Seakan nyata, Yeeun terdiam memandanginya.
“Gweanchana, aku tidak kesakitan sama sekali. Sekarang aku baik-baik saja, maaf karena terlambat menemanimu saat kau membutuhkanku. Jangan menyalahkan dirimu, ini bukan salahmu. Jang Yeeun, jeongmal mianhae.” senyuman Sehyung berganti dengan tatapan sedih seakan ia tidak rela meninggalkan Yeeun bersama dengan penderitaannya yang bertambah. “Annyeong.” Sehyung mencoba tersenyum sebaik mungkin tapi itu justru membuat Yeeun semakin terluka, menangis sekerasnya.
“Jeongmal mianhae, jeongmal mianhae!” Yeeun terus mengulangnya seakan ucapan itu mampu membuat rasa sakitnya terkikis hilang.
Kematian Sehyung seperti virus yang menyebar, televisi membantu virus itu meluas. Dan polisi disibukkan dengan mencari bukti, mengunjungi TKP dan lainnya. Dongwoon bahkan ikut membantu dengan diam-diam di sekolah, membuat rapat orangtua. Dimana rapatnya berakhir mengecewakan, banyak para orangtua yang membawa anaknya pulang dan tidak sekolah. Meski begitu Dongwoon tidak menyerah dia melakukan penyelidikan sendiri.
Sedang Yeeun, sehari setelah kematian Sehyung ia mengunjungi makam temannya itu, menerima amukan dari orangtua Sehyung, diusir dan dibenci. Ia lalu menemui Dongwoon, dengan wajah yang menyiratkan kehilangan serta luka Yeeun mengemukakan keinginannya untuk bergabung dengan Dongwoon dan menangkap pelaku.
Tak bisa dipungkiri kalau Yeeun sempat kecewa pada Dongwoon yang tidak melindungi Sehyung, tapi melihat betapa sungguh-sungguhnya Dongwoon mengungkap kejahatan ini dan berlutut meminta kesempatan, Yeeun terenyuh, setidaknya ada seseorang yang masih berada di sisinya, juga bersedia sebagai sandaran.
Di pagi hari, di sekolah yang sepi dengan siswanya. Kogyeol tengah memukuli seseorang dengan brutal, mengeluarkan semua amarahnya. Gyujin dan Wei tampak cemas, jika dibiarkan Kogyeol bisa saja membunuhnya.
“Hentikan! Dia bisa mati!!” teriak Wei menyeret Kogyeol untuk berhenti, dengan bantuan Gyujin mereka berhasil menjauhkan Kogyeol dari korbannya itu.
“Lepaskan!” Kogyeol terus memberontak dan sesekali mengeluarkan tinju serta tendangannya untuk kembali memukul. Tapi Wei dan Gyujin bertekad untuk membawanya pergi.
“Cih, kau memang pembunuhnya. Sehyung memutuskanmu dan kau tidak terima. Bukankah Sehyung sangat rapuh!” ejek korbannya itu masih bisa mencibir meski tubuhnya terluka parah begitu pun dengan wajahnya. Dua temannya segera memapahnya untuk berdiri.
“Yakk brengsek!” maki Kogyeol, “Lepaskan aku!!” Kogyeol menghempaskan Wei dan Gyujin. Cukup tersentak akan pukulan mendadak Kogyeol pegangan mereka melonggar. Untungnya sebelum Kogyeol menerjang siswa pria yang bersekolah sama dengannya itu Dongwoon datang, menahan tinju Kogyeol.
“Hentikan, jika kau melakukannya sama saja dengan mengakui kau pembunuhnya!” tuntut Dongwoon tajam yang juga menghentikan Kogyeol dengan tatatapannya itu.