You're Fiction

You're Fiction
Our Mistake -01




Statusnya adalah mahasiswa baru di Seoul University demi memenuhi keinginan orangtuanya sebagai dokter bedah anak, namun, Kim Leedo, sebenarnya tak menginginkan hal ini, sejak dulu ia lebih tertarik sebagai pengembang game, dan sudah lama berkutat dengan dunia IT. Bahkan berusaha membuat game menarik yang bisa dikembangkan.


Walaupun begitu Leedo tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya yang berusaha keras membiayainya sekolah, memberinya berbagai les serta bersabar akan nilai biologinya yang tidak begitu baik. Dengan kerja keras dan rasa ingin membanggakan orangtua akhirnya Leedo berhasil masuk universitas hebat setelah mengikuti suneng selama 3 kali.


Dan hal yang paling ia syukuri adalah keberadaan Jo Haseul, kekasihnya sejak kelas 2 SMA, mereka sudah bersama selama 5 tahun dan Haseul selalu mendukung apa pun yang ia lakukan.


Makanya, kepindahan ia ke Seoul cukup hampa karena Haseul tidak ikut, gadis itu kuliah di tempat yang berbeda dengannya. Ini akan jadi pertamakalinya mereka berhubungan jarak jauh. Ada kekhawatiran dan rasa sedih, bagaimana pun Leedo terlalu menyayanginya, sehari sebelum pergi pun Leedo seharian berbicara dengan Haseul, menyuruh ini dan itu, agar selalu meneleponnya. Sampai Haseul terpaksa kabur untuk masuk kelas, tak mungkin membolos kuliah.


Tampak lesu, hanya duduk malas di kursi putarnya sembari menatap layar ponsel, Leedo hampir kebosanan menunggu telepon Haseul, disisi lain ia tak ingin menelepon lebih dulu, karena Haseul bilang ia sedang ada kelas, berjanji ia yang akan lebih dulu menelepon.


Detik jarum jam terus saja bersuara sendirian, hingga akhirnya, gerakan tangan Leedo yang menyambar ponsel dan menekan angka 1 terdengar. Sambungan terhubung, suara Haseul menyapa dan Leedo tersenyum lega, teramat manis bagi paras wajah tampannya yang terbilang dingin.


“Aku tak mau menunggu lagi, aku juga sedang kosong.”


“Kau ingin aku belajar? Tidak Haseul-ah, aku sudah belajar selama 6 tahun ini. Biarkan aku tenang semester ini.” tolak Leedo, “Ada penyambutan mahasiswa baru, ah keadaannya sangat kacau, aku hampir muntah di depan wajah senior. Mereka juga membahas keterlambatanku masuk,” Leedo bercerita banyak, Haseul menanggapi dengan baik. Obrolan mereka selalu panjang dan menarik.


“Aku merindukanmu,” ungkap Leedo, lemah lembut, matanya menatap figura berisikan fotonya dengan Haseul yang sedang berkencan di taman bermain. Di sebrang, Haseul membalas ungkapan tersebut dengan sama manisnya, diakhiri Leedo yang harus bertahan dan semangat.



Siapa pun di fakultas kedokteran mengenal Leedo sosok yang dingin dan sulit didekati, terlebih pria itu selalu menciptakan jarak, apalagi terhadap perempuan. Hanya ada segelintir teman pria yang betah berlama-lama dengannya yang membosankan. Mungkin karena ia terbiasa belajar berjam-jam, tak pernah bermain keluar dan ditekankan menjadi dokter maka Leedo tak pandai bersosialisasi.


Meski begitu Leedo tak menyadarinya, ia merasa baik-baik saja sendirian, menghabiskan waktu dengan setumpukan buku, tugas, dari kampus ke flat, dari flat ke kampus dan begitulah untuk dua bulan. Leedo terlalu serius, tapi siapa yang menduga, jika sosoknya saat bersama Haseul adalah kebalikannya.


Leedo akan sangat cerewet, merajuk, kadang bermanja-manjaan, disisi lain ia juga sangat perhatian. Sungguh, Haseul adalah gadis beruntung yang bisa membuat Leedo menetapkan hati hanya padanya.


Darah menetes mengotori makalah Leedo yang banyak coretan merahnya. Dengan tanggap Leedo mengangkat wajah menahan aliran darahnya mengalir lebih banyak, ke kamar mandi, berdiri di depan cermin wastafel setelah menarik beberapa tisu untuk membersihkannya.


“Ini sudah ketiga kalinya aku mengulang makalah. Aku memang tidak ada bakat dalam kedokteran.” keluhnya, menyeka darah. Disaat seperti ini ia benar-benar menginginkan Haseul berada di sampingnya seperti dulu.



“Kau mimisan,” ucapnya, menyuruh Leedo mengangkat wajahnya lebih tinggi lagi, dan tangannya menyentuh leher belakang Leedo demi membersihkan darah. “Kita ke toilet,” suruhnya, tapi Leedo malah mencengkram tangan Haseul di lehernya tersebut, menatap tepat manik mata Haseul yang mengisyaratkan, ‘turuti perkataanku!’.


Leedo keluar dari toilet pria, tersenyum mendapati Haseul masih menungguinya.


“Kukira kau menunggu di tempat lain,” kekeh Leedo.


“Tadinya ingin, pria-pria itu memandangiku aneh.” canda Haseul, lalu mengamati wajah pucat Leedo, darahnya sudah bersih. “Kita sudahi saja belajarnya, ayo kita pergi berkencan!” ajak Haseul, mengenggam tangan Leedo yang saat itu terasa panas, karena demam dan berdebar.


Keterampilan Leedo dalam praktek cukup hebat, hanya saja ia selalu ketinggalan dibanding yang lain, terkadang harus sering bertanya pada rekan kelompoknya. Hingga, diakhir kelas, Leedo kembali termenung. Ia pikir setelah masuk semuanya akan baik-baik saja, tapi semakin dalam, ia malah merasa tersesat. Ia tak menyalahkan cita-cita sebagai dokter, yang jelas sebuah profesi hebat dan baik, tapi, ia tak mumpuni. Leedo hanya merasa bersalah, bagaimana mungkin dirinya bisa menjadi dokter sementara hatinya selalu meragu.


Haseul menelepon, tak tanggung-tanggung sebuah panggilan video call. Mencoba merubah ekspresi setenang mungkin Leedo mengangkatnya. Hatinya membuncah gembira, mendadak rasa sakit tadi tergantikan dengan kebahagiaan hanya dengan melihat senyuman Haseul, gadis berambut panjang hitam dengan wajah kecil yang pipinya selalu merona.


“Sudah tiga hari ini kau tidak menelepon, aku mengkhawatirkanmu.” ungkap Haseul, sudah 6 bulan berlalu sejak mereka berpisah.


“Aku tak ingin menganggumu, kau pasti sibuk menyiapkan skripsi.”


“Besok aku tidak ada kelas, kau mau berkencan?” tawar Haseul, Leedo tersenyum kecil, mengiyakan, tak ragu lagi, tak melihat jadwalnya lagi. Ini seperti hadiah paling mewah. “Kau tidak ada kelas besok?” tanya Haseul tersenyum geli melihat anggukan Leedo yang seperti anak kecil.


“Aku lebih ingin berkencan denganmu,” aku Leedo.


Haseul selalu tahu kapan Leedo membutuhkan teman, entahlah, seakan-akan ada telepati diantara mereka.


Esok harinya, setelah berdandan rapi dan menunggu di halte dengan wajah berseri, Leedo menantikan kedatangan Haseul. Ia akan menunjukkan Seoul pada kekasihnya itu, mentraktir makanan enak dan bersenang-senang seharian tanpa terbebani tugas kampus, omelan orangtuanya, juga upayanya sebagai dokter.


Satu jam berlalu Haseul tak kunjung datang, dan yang ia dapati adalah ponselnya bergetar. Haseul menelepon mengatakan ia tak bisa datang karena ada urusan mendadak mengenai kuliahnya, serta praktek pramugari yang sedang ia jalani. Gadis itu berulangkali mengatakan maaf, dan Leedo mencoba menghiburnya. Hubungan mereka selalu manis, jarang ada pertengkaran, satu sama lain tahu saat harus mengalah, memberi perhatian dan semangat.


Karena sudah rapi, Leedo pikir akan lebih baik jika ia jalan-jalan, toh selama ini ia selalu mengurung diri di flat.


Kelelahan saat menikmati waktu sendirinya, Leedo membuka pintu flat dengan lesu. Mengganti sepatu dengan sandal rumah dan berhati-hati menyimpan sekotak kado di atas meja, ia akan memberikan ini pada Haseul.