
Part 4 : Sosok Baru
Tak ada yang tahu jika kematian 57 mahasiswa Jurusan Kimia mati karena di bunuh sekumpulan vampir, yang mereka tahu adalah kebakaran lah yang menewaskan mereka hingga tak ada satu pun yang tersisa. Segenap pemerintah mengucapkan bela sungkawa pada keluarga korban dan mencoba melakukan yang terbaik untuk memeriksa jika ada mayat yang bisa diindetifikasi maupun hal lainnya. Pihak polisi dan tim forensik sibuk berada di TKP demi menemukan kepastian dari kecelakaan itu.
Sedang, satu-satunya saksi yang selamat tengah terpuruk dan menyembunyikan dirinya seharian penuh dengan menangis, menyesal dan merasa bersalah. Ia sangat ketakutan, sampai berpikir kalau saja ia ikut mati maka perasaan bersalah karena tak bisa menyelamatkan mereka tidak bercokol kuat dihatinya, mencekik udara disekitarnya sehingga ia tak bisa bernapas, berada di rumah saja membuatnya tersiksa.
Dengan langkah berat, sepasang kaki itu berjalan gontai menuju Pearl yang terbaring lemah diatas ranjangnya. Berhenti tepat disamping, Chorong memperhatikan raut wajah Pearl yang masih pucat, memperlihatkan urat-urat halusnya yang sangat mengerikan bagi Chorong karena berwarna ungu sanga, begitu gelap. Jika pemikirannya benar, pria ini adalah vampir dan keberadaannya akan membahayakan Chorong juga warga lain, ia tak punya pilihan selain membunuhnya. Tak tahu mungkin saja dia sama jahatnya dengan yang lain, berusaha menampik kenyataan bahwa ia menyelamatkan Chorong.
Dengan pisau tergengam di kedua tangannya, Chorong bersiap menusukkan mata pisau tajam itu ke leher Pearl, tepat sebelum tangan Pearl menahannya, bersitatap dengan ujung pisau dan tanpa mengeluarkan kekuatan lebih ia melepas pisau dari tangan Chorong, menarik gadis itu lebih dekat dengannya. Menyisakan jarak tipis diantara wajah keduanya. Chorong bisa merasakan deru napas Pearl yang tersenggal masih dalam keadaan lemah, mata yang menatap lekat dan wajahnya yang tampak memukau, tampan disertai dingin yang melemahkan setiap orang yang melihatnya. Sedang Pearl bisa merasakan ketakutan dari napas dan tatapan Chorong, tubuh perempuan itu sangat dingin dan matanya begitu sembab.
Perlahan Pearl menyingkapkan rambut panjang Chorong kebelakang, membuat tubuh Chorong menegang, menunggu ketakutan akan apa yang ingin Pearl lakukan padanya. Namun Pearl tidak mengigitnya, menghisap darah seperti yang dilakukan vampir lain, ia malah memegangi dan mengusap leher Chorong dengan lembut, memberikan sensasi aneh pada Chorong, sebuah ketakutan yang diselipi desiran di jantungnya. Tangan dengan kuku panjang itu yang berawal dingin berangsur-angsur terasa hangat, Chorong sempat terhipnotis. Matanya berubah sorot, penuh kebingungan memperhatikan Pearl yang terlihat senang, tersenyum sangat kecil sebelum menarik Chorong dalam dekapannya, yang hangat?
Setelah dua jam, Chorong memutuskan keluar rumah dan membiarkan pria itu terlelap dalam tidurnya, berencana ke apotek membeli obat yang diperlukan mengingat persediaannya sudah kosong. Sepanjang menuju apotek kakinya menegang, mendadak rasa takut itu menyelimuti seluruh tubuhnya, disertai dingin yang menjalar hebat. Chorong tak bergeming dari tempatnya, semua orang tampak seperti vampir baginya, dan yang lain terlihat seperti korban dengan darah di leher, mengejang kesakitan.
Tidak tahu jika ini menjadi trauma baginya, Chorong tampak kesulitan, dia tak berani menatap siapa pun, sampai seseorang tanpa sengaja menyenggolnya. Bereaksi berlebihan, Chorong mengangkat wajah dengan mimik ketakutan, rambut panjangnya yang terurai menutupi sebagian wajahnya yang syok, depresi dan menjerit diiringi airmata, tubuhnya bergetar. Tak mempedulikan apapun lagi Chorong berlari kembali ke rumahnya mengacuhkan pertanyaan dan pandangan oranglain kearahnya.
Menutup pintu keras, Chorong tersungkur, meringkuk sedih. Apa yang harus ia lakukan?
“Tak apa, ini bukan salahmu. Kau tidak bermaksud meninggalkan mereka, dan mereka juga tahu kau tidak bisa menyelamatkan siapa pun.” Pearl berujar dengan intonasi pasti yang tegas, tapi anehnya mampu menenangkan Chorong dalam keterbatasan otaknya yang terus berpikir untuk menyalahkan diri sendiri. “Jika kau bersedia, aku akan berusaha menebus kesalahanku dengan melindungimu.” Untuk pertamakalinya Chorong melihat pria itu tampak seperti manusia normal, gurat wajahnya tidak setegas sebelumnya, kulitnya tidak begitu pucat dan sinar mata Saphire Blue nya meredup. Ini aneh, kuku tangannya juga menghilang. “Kau benar, aku memang kehilangan kekuatanku, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu merasa aman.” Tutur Pearl. Ini adalah fakta, ia seorang Dhampire Outcast, yang jika ia melindungi manusia kekuatannya bisa hilang setengah atau bahkan sepenuhnya. “Setidaknya mereka tidak akan mem-baui aromaku.” Cukup sebagai obat penenang, kata-kata terakhirnya membuat Chorong berdiri perlahan, menatapnya lekat dan kemudian jatuh pingsan.
Part 5 : Mencoba Seperti Manusia
Bukan dalam sehari maupun dua tiga jam, Chorong tertidur selama seminggu dan baru terbangun dari mimpi panjangnya itu saat matahari berangsur mundur di pelupuk timur, menghasilkan senja dan lembayung cantik di langit. Merasakan tubuhnya yang kaku, Chorong berusaha duduk sampai matanya menangkap sosok Pearl yang tersenyum senang, dengan penampilan sedikit berbeda.
“Kau bukan mimpi?” cetus Chorong diakhiri helaan napas merutuki dirinya, yang menganggap kejadian di villa adalah mimpi. “Berapa lama aku pingsan?” tanya Chorong, dan maniknya itu terfokus pada Pearl. Pria itu mengenakan sweeter coklat muda miliknya dengan jeans hitam, rambut pendek berbentuk horizontal dengan bagian depannya yang mencuat rapi, tampak dewasa dan fresh, warna matanya terlihat normal, coklat terang dan kulitnya tidak se-pucat dulu. Chorong bisa saja salah paham jika dia adalah seorang manusia, dan bukan vampir. Pearl terlihat tampan dan mempesona.
“Seminggu, dan selama itu aku berusaha menjadi manusia. Apa ini berlebihan?” tanya Pearl menunjukkan penampilannya, Chorong bingung, haruskah ia bersikap ramah, berbicara sopan dan akrab pada vampir, tapi selama seminggu ia tidak melakukan hal buruk padanya, Pearl merawatnya.
“Tidak, itu cocok untukmu.” Mencoba, Chorong senang suaranya terdengar normal.
Terpaku pada keahlian Pearl, Chorong menatap takjub pada menu yang ada.
“Aku juga belajar masak, tapi tidak tahu rasanya sedap di mulut manusia atau tidak. Karena meski aku makan, nutrisinya tidak berpengaruh padaku.” Tutur Pearl sebelum menyerahkan sumpit pada Chorong.
“Mereka adalah Vampaneze, vampir yang cerdas dan suka membunuh manusia. Dan kami berusaha melawannya, dia juga membenci Dhampire, yaitu aku, vampir yang lahir dari ibu manusia dan ayah seorang vampir, mereka mengira aku adalah aib dan lambang kesialan. Waktu itu aku kabur dari mereka, dan tak kusangka mereka malah masuk villa yang saat itu digunakan oleh kalian.” Pearl benar-benar seperti manusia, dia pandai bicara dalam bahasa Korea.
“Lalu kenapa kau datang menolongku?” mulai tertarik Chorong memandanginya.
“Lehermu, ada tanda klan disana, menandakan kalau kau juga seorang vampir.” Tunjuk Pearl, Chorong menegang tak terima.
“Tidak, aku bukan vampir!” sergahnya setengah berseru.
“Kau sama sepertiku Outcast, tapi mungkin kau adalah vampir karena keturunan. Jika di teliti lagi salah satu silsilah keluargamu pastilah seorang vampir.” Chorong mendengus tak percaya. “Maafkan aku, melibatkanmu dalam masalah ini.” Sesal Pearl.
“Vampir bisa minta maaf? Wuah, ini gila!” sebal Chorong mengigit bibir bawahnya, menahan marah dan bingung.
“Makanlah!” suruh Pearl bangkit dari duduknya.
“Siapa namamu?” tanya Chorong. “Apa mereka tidak tahu kau disini?”
“Tidak, aku kehilangan kekuatanku dan mereka tidak akan mendeteksi darahku.” Terang Pearl menenangkan, “Namaku, Yook Sungjae, itu nama dari ibuku yang seorang manusia.” Ada perasaan aneh yang menelusup dalam diri Pearl, menyebut namanya sendiri, Sungjae terdengar manis dan mendebarkan baginya.
“Baiklah, aku akan memanggilmu Sungjae.” Memutuskan hal pelik, Chorong berpikir inilah yang terbaik, menerima kehadiran Sungjae disisinya sampai ia merasa baik. “Terimakasih untuk semuanya, Sungjae-ssi.” Tulus Chorong membuat jantung Sungjae berdetak keras, senyuman kecil gadis itu membekas dalam pandangannya. Sedikit salah tingkah Sungjae segera beranjak dari dapur, tapi baru tiga langkah ia kembali berbalik pada Chorong.
“Aku sudah membuang dan membakar mobilnya.” Ujar Sungjae, mereka saling bersitatap. “Kurasa itu lebih baik, mereka tidak boleh tahu kau ada disana. Aku hanya tidak ingin kau dipanggil polisi dan menderita, maaf. Kau hanya perlu melanjutkan hidupmu, karena itu hiduplah!” Wajah Chorong menegang, aliran darahnya seakan terhenti mendengar hal itu. Gerak bibir Sungjae mengingatkannya akan perkataan terakhir Himchan, ‘Pergi dan Hiduplah!’
Meski berat, Chorong mengangguk kecil. “Ya, itu lebih baik.”
Dan semenjak itu, hari-hari Chorong terasa lebih ringan. Ia disambut dengan baik oleh rekan se-kampusnya yang mengira sakitnya Chorong akibat berita tentang villa, dan tak tahu menahu jika Chorong juga datang. Bagi gadis itu ini adalah hal baik sehingga ia tak perlu dibayangi rasa takut maupun menjelaskan pada mereka soal vampir, toh tak akan ada orang yang percaya padanya. Selain itu, Sungjae adalah alasan terbaiknya untuk bertahan, pria itu membantunya dengan baik, memberikan dorongan kuat bagi Chorong untuk menghenyakkan bayangan vampir di benaknya. Perlahan tapi mengalir, hubungan mereka mulai akrab dan tanpa sadar Chorong bergantung padanya. Sungjae mampu mengatasi traumanya saat teringat pembunuhan di villa.
Malam itu, saat mereka berada di perpustakaan kampus.
Chorong tertidur, Sungjae tidak berani membangunkannya meski sadar jam malam hampir selesai. Ia menyingkapkan helaian rambut Chorong dan mengamati tanda itu dengan lekat, tangan lainnya mengepal menahan sesuatu, matanya terlihat sendu. Gadis ini memberikan banyak pengalaman padanya sebagai manusia, dan memperlakukan ia dengan baik. Lalu haruskah ia melakukannya? Berseteru hebat dengan keinginannya, Sungjae tak sadar jika Chorong terbangun dan tengah memandanginya.
“Kenapa? Apa tandanya menyala lagi?” parau Chorong bangun, duduk berhadapan dengan Sungjae. “Oh, kenapa matamu berkaca-kaca, apa sesuatu terjadi?” cemas Chorong mendekatinya, menyentuh wajah dan menatap mata Sungjae. “Vampir juga bisa menangis?” tanya Chorong menyadari jika ada butiran airmata di kelopaknya. Sungjae menggeleng, memegangi tangan Chorong yang masih bertahan di wajahnya, membiarkan jantungnya berdegup keras. Dosa lainnya, dibanding menyelamatkan manusia, ia malah jatuh cinta pada Chorong.