
SONGFIC STORY
“Seperti mawar berduri, tidak bisa melarikan diri
Pelangi berbahaya muncul, di sisi lain cermin” – Fly High
Liburan yang menyenangkan sudah terbayang di dalam benak masing-masing dari ketujuh gadis remaja itu. Merasa tertarik dan penasaran akan villa milik keluarga Kim Yoohyun, yang terkenal luas, memiliki arsitektur yang bagus dan unik juga berada di tempat yang teduh, sejuk serta jauh dari keramaian. Sepertinya mereka sedang terkena virus berpetualang dan menyepi.
Yoohyun sendiri sudah berulangkali mengatakan kalau villanya sangat bagus, bahkan banyak benda-benda unik disertai ruangan kamar yang luas. Mereka bisa bermain sepuasnya di tempat itu, apalagi villa tersebut tidak disewakan dan hanya untuk keluarga. Sempat tak percaya ada villa mewah yang digunakan sekedar istirahat keluarga, keenamnya berdecak kagum, sepertinya Yoohyun benar-benar orang kaya.
“Aku ingin piknik di rerumputan hijau.” seru Sua penuh semangat.
“Biar aku yang masak!” imbuh Siyeon sama antusiasnya.
“Kita akan berkeliling villa dan melihat seberapa mewahnya.” timpal Jiu, Yoohyun mengangguk-angguk.
“Apa kita bisa berlari lapangan dan membentuk bintang? Mungkin berfoto bersama.” usul Gahyun, gadis yang paling muda diantara mereka.
“Aku ingin menerbangkan pesawat kertas dari lantai paling atas.” ungkap Handong, serentak mereka menoleh aneh padanya. “Aku belum pernah melakukannya, dan sepertinya akan menyenangkan melihat pesawat itu terbang di tempat yang luas.”
“Kupu-kupu disana sangat cantik.” tukas Yoohyun tidak begitu pas dengan pembahasan pesawat, sepertinya hanya kata terbang yang menghubungkan keduanya.
Kali ini keenamnya menoleh bersamaan pada Dami.
Terdiam sejenak, Dami bicara santai dan sederhana. “Aku ingin mencoba kasurnya dan tidur.”
“Yaahhh!” koor keenamnya dengan berbagai ekspresi tak percaya, takjub dan geleng-geleng prihatin.
~ ~ ~
Semua keinginan mereka telah dilakukan saat ini, mereka sedang senang-senang dan menikmati halaman villa yang begitu indah dan asri. Setelah melihat burung dalam sangkar yang begitu cantik dan lucu, mereka mulai makan bersama, mengobrol, membaca komik, berfoto dan melakukan beberapa game.
Kali ini ketujuhnya sedang bermain game khas yang tradisional. Yoohyun kalah dan terpaksa harus menjadi kucingnya.
Tertawa bersama sangat menyenangkan, tak terasa mereka sudah melakukan banyak hal dan terpukau akan kemewahan villa tersebut. Bahkan dengan ucapan berlebihan Jiu mengatakan tempat ini lebih luas dari kampus mereka.
Bersantai dan melakukan aktivitas masing-masing, kini mereka mulai berhamburan kemana-mana. Handong mengajak Gahyun ke kamar di lantai paling atas, menerbangkan pesawat kertas berwarna putih. Sesaat mata Handong terlihat begitu gelap, tertuju fokus pada langit.
“Yakk! Yakk!” teriak Gahyun untuk keberapa kalinya, Handong tersentak dan segera menoleh padanya. “Eonni, waeyo? Kau terhipnotis pesawatnya ya, atau begitu senang bisa menerbangkan pesawat kertas?” tanya Gahyun diselingi ledekan.
“Ania, bukan begitu. Hanya saja …” terhenti, Handong tersenyum kecil menutupi kecanggungan dan kebingungan dibalik ia terdiam. “Langitnya sangat indah.”
“Geurae. Apa di China tidak ada langit seperti ini?” polos Gahyun.
“Yakk! Maksudku ini sangat indah, apalagi melihatnya bersama teman!” elak Handong sambil menepuk lengan Gahyun dan pergi.
Sebelum menyusul Gahyun berseru, “Aku ingin kamar ini, sangat keren!”
Sementara itu, Yoohyun sedang berjongkok dan menulis sesuatu menggunakan ranting kecil, terlihat cukup serius. Hingga Dami datang menghampiri dan menepuk pundaknya. Yoohyun menoleh dan tersenyum kecil.
“Sedang apa?” tanya Dami.
“Menulis angka kedatangan kita kesini.” Jawab Yoohyun, “Kajja!” ajaknya dan pergi meninggalkan tulisan 27-07-17 dengan diikuti Dami.
~ ~ ~
27-07-97.
Villa keluarga Kim yang berubah menjadi asrama putri, masih dengan tumbuhan yang asri dan serba hijau, dan lapangan luas yang khas, serta bangunannya yang unik. Tujuh siswi mengenakan seragam sekolah berjalan bersama, beriringan dan mengobrol.
Salah satu diantaranya sangat mirip dengan Jiu, berambut merah panjang dan memiliki wajah kecil dengan mata tajam seperti elang. Ia berhenti dilangkahnya dan membiarkan yang lain pergi lebih dulu. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik, seakan-akan ia sedang melihat beberapa gadis sedang bermain mengenakan pakaian bebas. Merasa berhalusinasi, Jiu masih berjalan memastikan, tapi kali ini matanya menemukan sesuatu, dengan perlahan ia berjongkok dan melihat lebih dekat, tersenyum kecil.
Berada dalam ruangan asrama yang penuh dengan patung-patung juga beberapa properti lainnya, kini Jiu berada di dalam ruangan khusus tempat bersantai. Menyimpan akuarium kecil tanpa air yang diisi dengan seekor laba-laba, yang barusan ia lihat tadi, karena lucu dan jarang melihat Jiu membawa dan menyimpannya.
Derap kaki seseorang di belakangnya terdengar, tangan temannya itu menepuk Jiu, mengalihkan perhatian Jiu dari laba-laba yang tidak begitu kecil maupun besar itu ke arah rekan asramanya. Tersenyum cerah Jiu pergi menuju kelas.
Keceriaan dan semangat para siswi memudar perlahan demi perlahan. Mereka kini merasa tidak bergairah dan sering melamun. Tak hanya itu mereka seperti kehilangan jiwa masing-masing. Hingga hal itu berlanjut lebih parah, mereka hidup tapi tidak seperti hidup, jiwa dalam diri mereka seakan-akan terjebak dalam mimpi yang tinggi dan berkepanjangan. Setiap kali melarikan diri mereka seperti tertusuk.
~ ~ ~
Kamar di lantai atas.
Handong terlihat melamun, menatap pesawat terbang warna hitam miliknya. Dari ia duduk di pojokan jendela, melempar pesawat dan memperhatikan benda itu terbang Handong tidak sadar, sinar matanya seakan-akan hilang dan terhipnotis.
Asrama berubah menjadi tempat yang tidak nyaman dan menyeramkan, mereka tidak bisa melihat langit cerah dengan baik, merasakan sejuk angin maupun semangat. Seakan-akan energinya sudah dihisap dan yang ada hanya ilusi, kekosongan juga pikiran kacau.
Kegilaan melanda asrama, banyak para siswi yang pergi dan menghilang.
~ ~ ~
Perpaduan tahun 2017 dan 1997.
Siyeon dan Sua sedang jalan-jalan bersama menyusuri jalan menuju hutan, mereka ingin mencoba tantangan dengan masuk ke hutan malam hari, mengenakan jubah panjang dengan tudung yang dipakai di atas kepala dan membawa buku kuno.
“Tidak ada yang aneh, kupikir semua villa itu identik dengan hal mistis, sepertinya kita melakukan tantangan yang sia-sia.” sesal Siyeon.
“Ya sudah yang penting kita mencoba jalan-jalan di malam hari di tengah hutan.” hibur Sua. “Kajja!” Sua mengenggam tangan Siyeon untuk kembali ke villa. Tapi tanpa mereka sadari, suasana di sekitar menjadi lebih gelap dari malam-malam lainnya, angin bertiup kencang dengan kabut yang bagaikan asap tebal, dan perubahan mendadak terjadi dalam kilasan. Sua dan Siyeon menjadi sosok yang berbeda, mengenakan piyama tidur dalam keadaan kosong. Siyeon membawa boneka dan bertingkah seperti ingin membunuhnya, menusuk-nusuk boneka dengan pisau, sedang Sua hanya memperhatikan sembari tersenyum senang.
Wajah mereka benar-benar sama dengan Siyeon dan Sua sebelumnya, tapi kali ini lebih pucat dan seram. Tak lama Sua mengambil pisau Siyeon dan menusuk hatinya sendiri, darah mengalir dan senyumnya semakin lebar.
“Ah,” rintih Sua merasakan hatinya mendadak sakit, Siyeon cemas.
“Wae? Apa ada yang sakit?” tanya Siyeon.
Sua menggeleng. “Aku merasa seperti tertusuk sesuatu yang tajam di sini.” tunjuknya pada bagian yang ia rasakan, hati yang ditusuk Sua lain 20 tahun lalu.
“Yang benar …” Siyeon tertahan tak bisa melanjutkan omelannya karena ia merasa ada seseorang diantara mereka berdua, berdiri dengan mengenakan piyama sepanjang lutut berambut panjang. Sua juga merasakannya, perlahan mereka berdua menolehkan kepala untuk melihat.
Siyeon dan Sua melihat sosok Siyeon di tahun 97 dengan pakaian kumuh dan terlihat menyeramkan, tak lama aliran darah mengalir di tanah tempatnya berdiri, bau anyir dan merah pekat.
“Aaah!” Berduanya berteriak dan berlari bersama menuju villa.
~ ~ ~
Merasa tubuhnya lengket dan ingin merasa segar, Handong memutuskan untuk mandi malam itu. Entah kenapa selama di kamar ia terus saja merasa gerah dan tak nyaman. Seringkali ia merasa parno, seakan-akan ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya, karena itulah Handong tak juga tidur.
Setibanya di kamar mandi, Handong sempat melihat-lihat suasana dan segala sesuatunya yang sudah lengkap. Merasa takjub akan ruangan yang luas, segar dan rapi ini Handong semakin semangat untuk mandi.
Baru saja Handong akan menyalakan air panas ke dalam bakhtub, ia melihat sepasang mata dalam sekejap. Was-was, mendadak kesejukan dan wangi kamar mandi terganti dengan sesuatu yang bau. Menggenggam kedua tangan yang bergetar, Handong melirik cermin. Tadi itu ia sempat melihat mata tersebut di dalam cermin, tapi kali ini tidak ada, hanya pantulan wajahnya yang terlihat.
Baru saja merasa lega sebentar, Handong merasakan cairan pekat dan aneh dikakinya. Perlahan tapi pasti Handong melihat cairan di lantai putih itu. Mundur seketika, Handong merasa ngeri, yang tengah mengalir menuju dirinya itu adalah darah dan asalnya dari bakhtub.
“Aaah!” Handong tersungkur jatuh saat ia mengangkat wajah dan melihat sepasang mata dari sosoknya dulu tengah menatapnya lekat, terbaring tak berdaya di dalam bakhtub. Wajahnya pucat dan bibirnya hitam, pergelangan tangannya terluka dengan darah yang terus keluar.
~ ~ ~