
1 tahun yang lalu.
Chorong mencoba menahan airmatanya setelah mendapatkan penolakan dari Taekwoon. Tanpa basa-basi atau kata menghibur Taekwoon menolak, dan Chorong mencoba memahami itu, ia sudah tahu sifat dinginnya tapi tetap saja masih terasa sakit. Selama ini Chorong sudah berusaha dan hati Taekwoon sama sekali tak tergugah.
Sehari setelahnya, sebuah pembunuhan di hotel x x terjadi. Korban bernama Park Chorong di gorok lehernya sampai mati, lalu di penggal. Sebuah kebetulan Taekwoon bertugas sebagai jaksa kedua yang menanganinya, namun penyelidikannya selalu berakhir buntu, tak ditemukan senjata, jejak, bahkan rekaman, pembunuhan ini terlalu bersih, mengingat seperti apa tersangka membunuhnya, dengan darah yang menciprati handuk dan sprei, dan kepala yang terpenggal. Jelas membutuhkan tenaga besar.
Akibat kejadian yang menimpa Chorong, Bomi dan Eunji frustasi, mereka histeris dan merasa sangat kehilangan. Bahkan 3 hari setelah pemakaman Eunji masih tak bisa merelakannya, sangat marah dan membolos kuliah.
Malam itu di bar, meski tidak minum Eunji tampak kehilangan kendali.
Taekwoon mendatanginya, menyimpan gelas yang baru akan diminum Eunji.
“Ini semua gara-gara kau! Kalau saja kau tidak menolaknya, dia tidak akan pergi ke hotel! Apa kau tidak tahu!! Dia menyukaimu!!! DASAR BERUANG ES!” amuk Eunji, disaat Taekwoon akan memapahnya Eunji malah menendang tempurung kaki Taekwoon dan pergi sejauh mungkin darinya.
Bergegas mengejar, Taekwoon mengikuti arah instingnya.
Eunji berjalan menuju rumah Chorong dengan sempoyongan, dengan menjaga jarak Taekwoon menyusul dan terpaksa menarik tangannya karena hampir limbung.
“Kau! Kenapa bisa!” kaget Eunji, “Pergi dariku!” usirnya, mendorong Taekwoon. Tapi akhirnya malah menangis keras, “Chorong, malang sekali! Kenapa dia dibunuh, siapa yang melakukannya! Aku akan membunuhnya!!” Eunji berbalik berhadapan dengan tembok, lalu membenturkan kepalanya ke sana, hingga dahinya berdarah.
“Apa yang kau lakukan!” sentak Taekwoon, menarik tangan Eunji yang masih cukup kuat memberontak, menghempaskannya dengan kasar.
“Ini salahku, malam itu, jika saja aku menemuinya. Jika saja aku tidak menolak menemaninya!” sesal Eunji hendak membenturkan kembali kepalanya, Taekwoon menghalangi, menahan keningnya dengan telapak tangan. Dan dengan kuat menarik tubuh Eunji ke dalam pelukannya.
“Menangis saja, jangan melukai dirimu!” Taekwoondengan erat memeluk Eunji, tak akan membiarkan gadis itu melukai dirinya sendiri.
Tangisan Eunji pun tak terbendung.
“Seenaknya saja memintaku pindah divisi! Setelah bersusah payah masuk!” gerutu Eunji sambil menendang kerikil tak beraturan. Menyumpahi Taekwoon panjang lebar dan tiba-tiba saja kakinya terhenti. Tanpa sadar ia berjalan menuju rumah Chorong, di tempat yang sama saat Taekwoon menghentikan aksi gilanya.
Sebenarnya Eunji ingat kejadian waktu itu dan berpura-pura tak mengingatnya, ia tidak ingin bertemu Taekwoon lagi, juga sedikit merasa malu. Karena kasus Chorong ia yang semula ingin menjadi polisi bagian patroli dan hendak mendaftar mengikuti pelatihan, kini berganti haluan sebagai detektif.
Ia masih harus menyelesaikan ujiannya yang tinggal menghitung hari, dan menunggu dilantik resmi, sehingga tak perlu membantu dalam hal sepele seperti membuat salinan berkas, memfoto dan lain-lain.
Terhenyak kaget ketika ponselnya berbunyi, Eunji mengumpat, dan segera melihat sebuah pesan.
Terpaksa menggunakan taksi, Eunji tengah pergi menemui Bomi yang baru saja menyuruhnya datang karena hal darurat. Merasa khawatir, apalagi paska kematian Chorong, Bomi sempat terkena depresi dan enggan keluar rumah lebih lama darinya. Terkadang berhalusinasi jika Chorong masih ada, dan selama 6 bulan ia terpaksa menemui psikologi.
Berhenti di hotel x y, Eunji menuju lobi dan mengingat kembali nomor kamar yang diberikan Bomi. Eunji pun masuk ke dalam setelah mengetuk beberapa kali dan tak kunjung ada sahutan, mengedarkan pandangan ke sekeliling, mengecek kamar mandi, dan akhirnya memilih menghubungi Bomi di ponsel. Namun pintu di ketuk dari luar. Eunji membukanya.
Pelayan perempuan yang pernah ia lihat, dengan rambut disanggul rapi dan bertubuh mungil menemuinya.
“Sebelumnya, nona bernama Yoon Bomi menitipkan ini padaku.” Ia memberikan sebuah post it, dan Eunji menerimanya dengan senyuman.
Eunji melanjutkan menghubungi Bomi setelah membaca post it, dimana Bomi pergi keluar sebentar dan akan kembali setelah 30 menit.
‘Harusnya kau sms saja aku jika sedang keluar, atau meletakkan post it di tempat yang bisa kubaca.’ Ketik Eunji.
Bomi membalas, ‘Agar kau tetap disana dan menungguku, tunggu ya. Kalau kau mau, mandi saja dulu.’
Tentu saja dengan senang hati, kapan lagi Eunji bisa menikmati hotel besar, dan sudah jadi kebiasaannya mandi setelah pulang kerja, rasanya ia lelah dan tubuhnya lengket, dengan cepat, Eunji menuju kamar mandi.
Baru saja Eunji selesai mandi, ponselnya berbunyi.
‘Kasurnya empuk seperti milikmu, kurasa kau memilih hotel ini setelah memeriksanya. Ada hal darurat apa? Keluargamu baik-baik saja, terakhir ku dengar mereka bercerai?’
Hal selanjutnya, yang Eunji tahu adalah ia ingin tidur.
Mata Eunji melotot dengan ekspresi ngeri, ia terkejut akan fakta yang terjadi di depannya. Orang yang tak asing lagi baginya itu datang seperti sulap tepat di atas kasur, menindih tubuh.
Hal yang sama terjadi, pelayan bersanggul rapi mengenakan jas hujan dengan pisau teracung di kedua tangannya terperangah tak percaya. Ia duduk di atas tubuh Taekwoon yang refleks mencengkram tangannya, sebelum pisau itu menancap di leher.
Pandangan mata pelayan itu jelas kebingungan, kenapa Taekwoon yang terbaring dan bukan Eunji.
“Jadi kau menusuk mereka sampai mati sebelum memenggalnya?” terka Taekwoon, tangan itu bergetar, bergerak antara ingin menusuk dan tidak, “Lakukan, jika kau bisa menang melawan kekuatan lelaki.” Tantang Taekwoon.
Perlahan diantara kegelisahan, ketakutan juga tak mau Taekwoon terluka, pelayan tadi hilang konsentrasi. Eunji memanfaatkannya, hendak menangkap dari belakang. Namun detik selanjutnya, pelayan itu tersenyum mencibir, Taekwoon memperhatikan. Dan Eunji tak sempat menyergap, bahkan pelayan itu berhasil melepaskan diri dari cengkraman Taekwoon dengan teknik bela dirinya, menyabet tangan Eunji dengan pisau, merobek handuk, menyisakan luka panjang yang berdarah.
Leo menghempaskan tubuh pelayan ke bawah dengan kasar, sebelum menggunakan trik sulapnya, Leo menendang pergelangan tangan pelayan itu hingga pisaunya terlempar jauh, dan mengunci tubuhnya dalam posisi memunggungi, menarik keluar sebuah bunga baby breath, yang mempunyai kelopak merah muda yang di awetkan dari saku bajunya di balik jas hujan.
Rupanya bunga itu memiliki energi supranatural yang menghubungkan satu orang dengan oranglainnya, sehingga kekuatannya disalahgunakan oleh dukun dengan efek menghilang. Bunga yang sama akan menarik pemilik bunga lainnya, karena itu di dua korban sebelumnya, mereka di suruh mandi lebih dulu agar mengenakan handuk yang ditempeli bunga, saat berbaring, pelayan itu menggunakan kekuatan bunga dan membunuh mereka. Bunga yang memiliki arti cinta sejati yang tidak akan pernah berakhir ini adalah sebuah kutukan dan jimat berbahaya.
Dua minggu kemudian.
Kasus ini ditutup, dan tersangka sudah dihukum seumur hidup, dengan motif acak ingin membunuh perempuan berambut panjang. Meski sesungguhnya ini berkaitan dengan Jung Taekwoon. Pelayan tersebut adalah mantan juniornya saat jadi atlet tinju dan sudah lama menyukai Taekwoon. Namun dua hari setelah di penjara, pelayan tersebut bunuh diri dengan mengiris nadi tangannya menggunakan sendok. Ia histeris ingin bersama Taekwoon, memohon pada Taekwoon, dan depresi saat pria itu justru bilang membencinya karena ia memiliki sifat yang buruk, membunuh seseorang dengan mengatasnamakan perasaan.
Dengan luka di tangan yang masih dalam proses penyembuhan, Eunji menemui Taekwoon sehabis sidang.
“Aku belum sempat mengatakannya, terimakasih.” Ungkap Eunji. “Tapi kenapa kau tahu aku ada disana, juga mengenai bunganya.”
“Kau terlalu sering ke jalan itu, dan sangat bodoh.” Ucap Taekwoon, entah berartikan umpatan atau apa. “Apa kau yakin kekuatan fisikmu lulus? Kau sangat lamban ketika akan menangkapnya, membuat orang khawatir saja.” Diakhiri ucapan pelan, Eunji sedikit terlonjak tak yakin.
“Sunbae, ah, Jung Geomsa. Mulai sekarang aku tidak terima disebut lembek, bodoh, maupun lamban. Akan kutunjukkan padamu kalau aku kuat dan pantas jadi detektif!” seru Eunji semangat. Taekwoon tersenyum teramat kecil.
“Eh, kau tersenyum?” kembali tertohok, Eunji kebingungan.
Taekwoon segera memasang ekspresi biasanya, “Kau bisa menemaniku ke makamnya?” Tanya Taekwoon. Eunji tahu maksudnya, saking penasaran dengan sosok Taekwoon yang misterius, selama 2 minggu ini ia bertanya pada satu-satunya anggota keluarga Taekwoon, adiknya, dan akhirnya tahu mengenai Taekwoon yang terpuruk ketika kematian Chorong.
Adiknya bilang, Taekwoon bersikap dingin karena sejak kecil sudah ditinggalkan kedua orangtua dan harus membesarkannya yang masih bayi, sehingga Taekwoon minim akan ekspresi dan emosi oranglain.
4 tahun lalu.
Saat Eunji masih menjadi mahasiswa baru, ia meminum semua jatah minum Chorong yang selalu sial terkena hukuman, maupun sengaja di arahkan para senior. Dengan kesetiakawanannya, Eunji membantu Chorong, apalagi dia yang paling kuat diantara kedua temannya.
Di luar kedai Eunji menepuk-nepuk dadanya, perutnya terasa mual.
“Jika mau muntah pergilah ke ujung sana, ada tempat khusus …” belum selesai bicara, Eunji segera kesana dan muntah. Jung Taekwoonmemperhatikan dari belakang. Lalu mengulurkan pil pada Eunji. “Ini akan membuat perutmu lebih baik, lain kali, hindari mereka dan minumlah semampumu!”
“Bisakah kau ikatkan rambutku?” pinta Eunji, sepertinya ada beberapa helai yang terkena muntahan karena tak sempat ia singkirkan. Taekwoon berdenyit, tapi anehnya ia menurut.
“Harusnya kau potong saja rambutmu!” dumel Taekwoon, meski nyatanya ia tampak nyaman mengikatkan rambut panjang Eunji. Entahlah, gadis aneh yang sok kuat ini terlihat menarik baginya sejak di kedai tadi.
~ TAMAT ~