You're Fiction

You're Fiction
Mirror Scene -10



“Makanlah, akhir-akhir ini kau tampak lesu,” perhatian teman Sohye sembari memberikan daging miliknya di nasi Sohye, gadis itu tengah galau dan fokus berpikir akan sesuatu yang tidak bisa ia ungkapkan pada siapa pun.


Tersenyum kecil, Sohye hendak menyuapkan nasi ke mulutnya tepat saat Wonwoo datang dan menarik tangannya. Sendok terlepas hingga nasinya berhamburan dan semua orang terkejut akan kejadian itu, kedua teman Sohye mendesah hanya bisa melihat Wonwoo menarik Sohye pergi.


Sohye terus memberontak, mencoba melepaskan cengkraman kuat Wonwoo, hingga tiba di luar kampus, tepatnya di belakang bangunan kampus yang cukup sepi, Wonwoo mendorong Sohye ke tembok dan menahan tangannya agar tidak bisa pergi. Mereka saling berhadapan.


“Ceritakan apa yang terjadi setelah aku sadar dari kecelakaan itu!” tuntut Wonwoo, terasa jelas harum badan khas milik Wonwoo juga desah napas pria itu.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


“Ceritakan saja padaku!” sela dan sentak Wonwoo.


“Lepaskan dulu aku!” seru Sohye bersamaan dengan sentakan Wonwoo, “Lepaskan aku, maka aku akan menceritakannya.” Ketus Sohye menatap tajam mata Wonwoo.


~ ~ ~


Taman Rumah Sakit, setelah jam besuk selesai. Nayoung dan Sohye tengah duduk bersama. Mereka terlihat serius dan lebih terbuka dibanding sebelumnya.


“Jadi kau berpikir kalau Mingyu adalah Wonwoo, dan Wonwoo dimasuki ruh Mingyu, begitu?” ragu Sohye belum bisa menerima pernyataan Nayoung.


“Hm, aku yakin kalau Wonwoo tidak mungkin berubah hangat dalam waktu sesingkat itu. Aku sudah mengenalnya selama tiga tahun, dan kata maaf yang ia katakan waktu itu bukanlah dirinya yang asli.” teguh Nayoung.


Gamang, Sohye mencoba melihat kejujuran dari ekspresi dan sorot mata Nayoung, tidak mungkin jika dia berbohong, tapi kenapa dia menceritakannya padaku? Pikir Sohye.


“Itu karena kau juga dekat dengannya, kupikir kau harus tahu.” tukas Nayoung seakan menjawab pertanyaan dalam bentuk diamnya Sohye itu.


Dan selama belajar di kelas, Sohye terus berpikir mengabaikan pelajaran juga ajakan teman-temannya. Barulah saat ia berjalan menuju kantin Sohye melihat para pria yang tengah bermain basket dan mendadak ingatannya sebelum kecelakaan terekam.


Mingyu bersorak menang, dia mengepalkan tangan kanannya dan mengerak-gerakkannya ke atas dan ke bawah sambil tersenyum taring dan bicara yes dilanjut dengan nice, setelah itu berputar dan melayangkan kepalan seakan ia bisa memukul angin. Dan hal yang sama pernah ia lihat, saat Wonwoo berhasil mendapatkan nilai 9 dalam latihan memanah. Termenung lagi, sepanjang di kantin dia hanya melamun, mengingat masa saat ia datang ke rumah sakit dan menemui Wonwoo yang baru sadar, berteriak, bertanya tentang nama dan sifatnya, lupa alamat rumah, bicara sendiri di cermin dan melakukan pemanasan dengan suara beratnya, juga tak tahu dimana kamarnya berada.


Sejak saat itu Wonwoo berubah menjadi pribadi yang berbeda, sangat hangat, perhatian dan ramah. Barulah ketika Mingyu sadar dari komanya, Wonwoo kembali beraura gelap. Mungkinkah ini bisa terjadi? Benar-benar tidak masuk akal.


~ ~ ~


Auranya memang gelap, sisi dari emosinya yang meluap kecewa dan marah terasa mencekam. Jeon Wonwoo baru saja menanyakan kamar Mingyu dan berjalan cepat ke sana. Tanpa izin lagi ia membuka pintu dengan kasar, terhenyak kaget, Mingyu dan Nayoung yang sedang berdiri berhadapan refleks melihatnya. Langkah cepat milik Wonwoo tidak bisa diprediksi, ia memukul Mingyu hingga pasien yang sedang mencoba berdiri sendiri tanpa bantuan Nayoung itu terjerembab jatuh. Tak bisa mengelak dari pukulan selanjutnya, Mingyu mencoba menahan pukulan lainnya dengan tangan. Nayoung kalang kabut, dia berteriak minta tolong dan mencoba menghentikan Wonwoo.


“Lepaskan! Apa yang sedang kau lakukan!” seru Nayoung sekuat tenaga, tapi Wonwoo yang sedang dilingkupi kekesalan melampiaskannya pada Mingyu. Otot Mingyu masih tegang dan belum bisa digerakkan dengan bebas, tapi pertahanannya pada pukulan Wonwoo cukup kuat.


“Kubilang hentikan!” seru Nayoung, dan dibalas dengan dorongan dari Wonwoo hingga ia terjatuh. Gadis itu tak pantang menyerah ia langsung berdiri, dan bantuan datang. 2 perawat perempuan, 2 perawat pria dan 1 satpam. Sedang penonton jelas tak bisa dihitung, mereka penasaran dengan apa yang terjadi.


Wonwoo berhasil dijauhkan dari Mingyu, dan dengan tanggap Nayoung juga 1 perawat pria memapah Mingyu untuk berdiri dan menjauhi Wonwoo. Tapi pria itu, yang selama ini terus menyangkal perasaannya dan hidup tanpa rasa apa pun, juga hanya menanamkan kesendirian, kebencian dalam jiwanya tersebut membuat penahannya kewalahan. Salah satu perawat perempuan menelepon keamanan lain dan bagian polisi.


Sohye datang, masuk tanpa halangan dan melihat apa yang sudah dilakukan Wonwoo pada Mingyu, memar baru di wajah Mingyu dan bajunya yang kusut serta sobek. Wonwoo berhasil lepas dan bersiap menerjang Mingyu, Sohye berdiri menghadangnya.


“Hentikan, kau tidak boleh melakukan ini!” pinta Sohye menahan dada Wonwoo dengan kedua tangannya, menatap dengan pandangan memelas.


Lagi-lagi Wonwoo tak peduli meski ia sempat luluh akan permintaan Sohye, namun mengingat ayahnya meninggal dan kehidupannya yang dirusak itu membuat Wonwoo semakin marah. Ia bersiap dan Sohye masih menahan menarik bajunya. Pegangan Sohye akan lepas sebentar lagi,


“Aku mohon!” pinta Sohye mengencangkan pegangannya, tapi tak dinyana Wonwoo malah mendorongnya sampai mengenai pot bunga yang tersimpan di meja televisi, yang langsung pecah dan mengenai tangan kanan Sohye.


Wonwoo menegang, melihat apa yang baru saja dia lakukan, tapi dengan cepat kebiasaannya yang suka menyangkal berbagai perasaan itu membuatnya melangkah mendekati Mingyu, Sohye berdiri sembari memegangi darah yang mengalir dari lukanya itu. Kali ini dia menghentikan Wonwoo dengan memeluknya seerat mungkin dan tak akan melepasnya.


Jelas Wonwoo terhenti, dan yang lain terdiam. Satpam dan perawat lain yang bersiaga untuk mencegah Wonwoo hanya memperhatikan. Dilihat dari usia Wonwoo yang masih muda mungkin ini karena kelabilan remaja, meski begitu mereka tetap memanggil dan menyuruh polisi datang ke ruangan.


Masih dalam pelukan Sohye, Wonwoo hanya terdiam. Sedang Mingyu mengalihkan pandangan dari Sohye ke Wonwoo dan mencoba memahami situasi yang sebenarnya tersembunyi jauh diantara mereka. Sebenarnya Mingyu sudah mengingat saat-saat ia berada dalam tubuh Wonwoo juga momennya bersama Sohye, selain itu ia juga akan menebak kalau Wonwoo akan marah meski tak menyangka ia akan dihajar di rumah sakit. Sepertinya tingkat kegilaan dan kedinginan Wonwoo sangat akut.


Beda halnya dengan Nayoung, ia merasa cemburu dan kalah melihat Sohye yang berhasil menghentikan Wonwoo, juga betapa hebatnya Sohye memohon, mengabaikan lukanya juga memeluk Wonwoo agar tidak berbuat lebih jauh lagi. Rasanya seperti dialah yang menjadi orang ketiga diantara mereka. Mingyu juga menyadari sorot mata Nayoung yang sedih dan kecewa, sepertinya sahabat perempuannya itu tahu kalau Sohye menyukai Wonwoo melebihi dirinya, dan Wonwoo yang tanpa sadar menyukai Sohye.


“Dasar bodoh! Kenapa kau melukai tanganmu,” Sohye terisak, mendongak melihat Wonwoo dengan dekapan tangannya yang masih di pinggang Wonwoo.


~ ~ ~