
14 hari di rumah sakit membuat Mingyu bosan, dan akhirnya ia bernapas lega bisa pulang. Setelah mengganti pakaian Mingyu menunggu orang yang menjemputnya yang tak kunjung datang, diraihnya ponsel milik Wonwoo dan melihat kontak nomor, hanya ada nama Kim Sohye. Urung untuk menghubungi, akhirnya Mingyu memutuskan pulang sendiri, setidaknya ia masih punya sedikit tenaga untuk ke rumah dan uang di dompetnya.
Berkunjung di tempat respsionis, Mingyu dengan ragu-ragu bertanya.
“Hm, permisi suster. Aku adalah Kim … bukan Jeon Wonwoo dari ruangan Tulip no 13, aku baru saja dinyatakan sehat dan boleh pulang.” ujarnya terbata, menenangkan diri.
“Iya Jeon Wonwoo-ssi, selamat karena sudah sehat dan bisa pulang. Apa ada orang yang akan menjemputmu?” tanya suster ramah.
“Masalahnya mereka semua sibuk, dan bilang tidak bisa menjemputku.” bohong Mingyu, suster sedikit kaget dan tak percaya ada pasien yang harus pulang sendiri.
“Lalu apa kau bisa pulang sendiri? Haruskah aku pesankan taksi dan mengantarmu ke depan.” tawar suster.
“Tidak perlu,” geleng Mingyu. “Hm, aku cukup kuat untuk pulang sendiri,” elaknya tidak enak hati.
“Benarkah?” ragu suster.
“Tapi, bolehkah aku minta alamat rumahku?” tanya Mingyu kemudian, tentu menanyakan alamat rumah Wonwoo, suster itu lagi-lagi terperangah tak percaya.
~ ~ ~
Mingyu berdiri tegak menatap rumah besar berlantai tiga di depannya itu sembari memegangi kertas berisikan alamat yang dituliskan suster untuknya.
“Wah ternyata dia orang kaya, tinggal di komplek elit seperti ini.” gumam Mingyu, lalu memutuskan masuk ke dalam gerbang. Kakinya terhenti, terasa sangat hening dan asing baginya, “Ingat aku bukan maling, ini adalah rumah Jeon Wonwoo, bagaimana pun aku harus bersikap normal. Aku tidak mungkin pulang ke rumah kan, pasti ibuku akan melempari sayuran padaku hingga seluruh badanku akan bau jika aku datang dan mengaku sebagai Mingyu. Lagipula mereka tahunya aku sedang koma, aah, ini membuatku stress!!” seru Mingyu frustasi. Menghela napas tak percaya dengan takdirnya, kenapa dari semua orang harus dia yang salah masuk tubuh, juga kenapa harus Jeon Wonwoo, pria jahat yang sudah menyakiti Nayoung dan Sohye, pria yang ingin dihajar habis-habisan olehnya.
Setibanya di dalam, Mingyu termangu kagum dengan semua peralatan yang ada, dan yang paling menarik adalah foto-foto yang terpampang di dinding maupun lemari. Mingyu memperhatikan foto keluarga yang terpajang besar, “Dia benar-benar punya segalanya untuk bisa memikat perempuan.”
Ditelusurinya foto satu persatu, melihat Wonwoo dari masa kecil hingga lulus SMA, dan yang terakhir fotonya yang sedang memunggungi universitas. Mingyu berdiri tegak dan tepat saat itu pantulan kaca berupa cermin memperlihatkan dirinya dalam fisik Wonwoo.
Mingyu memegangi dagu untuk memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri, tengah menelisik wajah Wonwoo, rahang dan lehernya begitu dewasa tak berbeda jauh dengannya, hanya saja tatapan mata Wonwoo lebih tajam, juga tak ada gigi taring yang jelas, tingginya paling 180cm, lebih tinggi tubuh Mingyu.
“Annyeong,” ucap Mingyu masih berkaca, kaget dengan suaranya sendiri, ‘wah aku baru sadar suaranya sangat berat dan lugas, penuh penekanan, benar-benar playboy.’ umpat Mingyu. “Yakk kau!” wuah terasa berkarisma, pasti orang yang dipanggil akan langsung berhenti. “Benar kau, kemarilah!” suruh Mingyu pada Wonwoo di kaca, berlagak kasar dan berekpresi menantang. Ia tengah berakting konyol, menyukai suara bass Wonwoo.
“Ya kau, berhenti disana!” Mingyu menikmati peran, menunjuk-nunjuk tidak jelas, menggetarkan jakun milik Wonwoo untuk pemanasan. “Kubilang berhenti ya berhenti! Diam disana!” seru Mingyu berputar sembari menunjuk tepat ke arah pintu rumah yang terbuka menampilkan sosok Sohye. “Wuahhhh!” Mingyu memekik kaget, ia sampai mundur dari berdirinya dan segera menenggelamkan telunjuknya dengan cara menyembunyikannya di balik punggung, gugup.
Sohye tertohok, Wonwoo tampak berbeda dari biasanya. Ekspresi wajahnya bertambah selain itu dia selalu berteriak.
“Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Mingyu menormalkan diri, mengibaskan tangan dalam sekali gerakan untuk menghalau rasa malu.
“Aku datang ke rumah sakit dan mereka bilang kau sudah pulang.” jawab Sohye masuk lebih dalam ke rumah sembari menutup pintu. “Apa kau sudah minum obat?” tanya Sohye sangsi akan apa yang dilihatnya beberapa detik lalu.
“Kenapa tidak memberitahuku kau boleh pulang? Kau hanya perlu menghubungiku dan aku akan datang menjemputmu.” ujarnya mewakili rasa cemas dan ingin membantu.
“Tentu aku tidak akan melakukannya, aku sudah merepotkanmu selama hampir dua minggu ini, mana bisa aku menyuruhmu menjemputku, kau terlihat sibuk. Lagipula aku sudah bisa berjalan sendiri kok.” senyum Mingyu, tentu yang dilihat Sohye adalah Wonwoo yang sedang tersenyum.
Melihat senyuman itu hati Sohye berdesir, jarang sekali ia bisa melihat senyuman manis dan akrab milik Wonwoo. Tapi perubahannya yang mendadak ini membuat Sohye semakin cemas, Wonwoo bukanlah tipe orang yang akan berlaku hangat dan memberi perhatian pada oranglain. Bahkan saat mereka pacaran pun Wonwoo hanya melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Sohye memalingkan wajah dari Wonwoo demi mengatur detak jantungnya, bukankah dia sudah berniat melupakan Wonwoo apalagi mengingat Wonwoo yang berkencan dengan Nayoung saat itu membuatnya kembali marah.
“Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu,” terang Sohye setelah mengendalikan hatinya.
“Apa itu?” polos Mingyu.
“Pergilah ganti pakaianmu, aku akan menunggu diluar!” suruh Sohye, Mingyu cengo, antara ingin berganti pakaian dan tidak.
“Apa aku tidak bisa pergi mengenakan pakaian ini saja?” usul Mingyu menunjuk pakaiannya yang jelas adalah pakaian yang dikenakan Wonwoo saat kecelakaan, meski sudah bersih tetap saja ada beberapa bagian yang sobek.
“Setahuku kau tidak pernah memakai baju seperti itu,”
“Ah baiklah, tunggu aku!” Mingyu gelagapan, dia melangkah menuju ruangan sebelah kanannya.
“Itu ruang makan dan dapur, kamarmu ada di lantai dua.” tunjuk Sohye ke lantai yang dimaksud. Mingyu mengangguk kecil dan bergegas menaiki tangga.
Berhasil menemukan kamar Wonwoo, Mingyu bernapas lega dan mencoba menajamkan pendengarannya bermaksud memastikan Sohye masih di sana atau sudah di luar, sampai yakin tak terdengar suara apa pun, Mingyu beristirahat sejenak dan menyadari ruangan luas yang tengah dipijakinya itu. Bahkan kamarnya juga bernuansa tenang dan segalanya tertata rapi.
Tanpa ba bi bu lagi, Mingyu menghampiri lemari, menemukan beberapa jubah panjang, jaket, kaus turtle neck dan kemeja yang hampir semuanya berwarna gelap.
“Sepertinya hidup pria ini sangat gelap.” pikir Mingyu, “Haruskah aku menggabungkan jubah coklat dengan kemeja hitam? Ah terlalu mencolok.” Geleng Mingyu, hingga akhirnya ia memutuskan mengambil turtle neck putih dan mengenakan jubah abu tua, memakai jeans hitam dan berganti sepatu dengan yang lebih nyaman.
~ ~ ~
Krematorium.
Mingyu tak bisa berkata-kata hanya menatap lurus abu seseorang yang berada di salah satu tempat kremasi yang ada. Sebuah foto keluarga terpajang di dalamnya, foto keluarga dimana Wonwoo berada diantara mereka. Seakan tersihir dengan situasi yang dihadapi Wonwoo mendadak Mingyu merasa sedih dan marah. Ia mencengkram kuat jubahnya, dan kemudian mengepalkan tangan. Sedang Sohye hanya memperhatikan.
“Sunbae,” panggil Sohye tak bisa melanjutkan ucapannya karena Mingyu berbalik pergi meninggalkannya. Pandangan mata Sohye mengikuti arah pergi Wonwoo, mengingat jelas ekspresi wajah mantan kekasihnya itu, penuh luka dan amarah. Ini yang pertama, Sohye melihat wajah itu dan mendadak hatinya ikut teriris sakit.
~ ~ ~