
‘Sudah sejak lama aku menyukaimu’
‘Kau tidak tahu seperti apa perasaanku’
Bunga itu mekar tanpa tahu apa pun, bahkan sekedar mengetahui namanya sendiri pun ia tidak bisa, ingatannya terlalu liar menjelajah ke dalam perasaan yang tak terjamah. Dan tak seharusnya ia berada dalam lingkaran perasaan itu, karena pada akhirnya hati dan dirinya lah yang lebih terluka.
Jisoo berjalan menuju kelasnya tanpa menghiraukan panggilan teman sebangkunya itu, yang berusaha menyusulnya dan masih bersikeras memanggil Jisoo dengan sesekali melirik ke arah luar jendela seakan tidak ingin sampai kehilangan jejak pria yang sedari tadi baru saja mereka bicarakan. Pria yang telah berhasil menarik hati Jisoo, pria yang selama ini menjadi kekasihnya 6 bulan lalu.
Jiae mulai kesal karena panggilannya terus saja diabaikan dan dengan sekali hentakan dia berhenti, berbalik cepat menuju arah berlawanan dari letak kelas mereka. Mendengar derap langkah kaki Jiae yang menjauh, Jisoo ikut terhenti dan menoleh ke arah Jiae. Keningnya berkerut menandakan dia sedang berpikir akan alasan Jiae pergi ke arah lain. Jisoo penasaran, kalau saja ia tidak sedang kesal pada Jiae pasti Jisoo akan menyusulnya. Jiae baru saja mengatakan kalau kekasihnya menemui perempuan lain dekat tempat lesnya. Mana bisa Jiae bicara tanpa bukti, lagipula sejak awal Jiae memang tidak menyukai kekasihnya.
~ ~ ~
Ray dengan setia menunggu Jisoo keluar dari kelasnya, sesekali ia melirik gadis yang telah lama menjadi sahabatnya itu. Tak sadar akan pandangan Ray yang tertuju padanya, Jisoo hanya fokus membereskan barang-barangnya dan bergegas menghampiri Ray sembari berkutat dengan ponsel.
“Kau menunggu pesan darinya?” tanya Ray menghenyakkan perhatian Jisoo dari ponsel genggamnya itu dan beralih menatap Ray. Jisoo tidak menjawab, dia hanya mengangguk kecil sambil tersenyum, sedang Ray, dengan jelas dapat melihat matanya yang tampak menyiratkan kekecewaan dan anehnya, juga sebuah kekhawatiran. Tidakkah itu aneh, saat ini harusnya Jisoo lah yang dikhawatirkan karena ia juga mendapat informasi dari teman lainnya bahwa kekasihnya pernah bercanda dan bersama dengan perempuan lain.
Dan Ray, dengan tulusnya menjemput Jisoo ke kelas untuk pulang bersama setelah Jiae memberitahu apa yang terjadi. Tanpa banyak berpikir sebelum Jiae menyelesaikan perkataannya, Ray segera menghubungi Jisoo agar pulang bersamanya meski 2 minggu lalu Ray dan Jisoo sempat bertengkar dan kemudian saling diam, tidak pernah bertemu lagi.
“Kenapa tiba-tiba kau mengajakku pulang bersama? Dipikir-pikir kita sudah lama tidak melakukannya.” tanya Jisoo mencoba menyembunyikan kegundahan dan kegelisahan hatinya akan fakta kekasihnya yang selingkuh.
“Ingin saja.” jawab Ray mengecewakan Jisoo, dalam sudut hatinya yang paling dalam, yang terasa sangat kecil, rupanya Jisoo merindukan kebersamaannya dengan Ray.
“Apa kau ingin ke tempat lain dulu? Aku ingin sekali ketaman bermain.” tawar Ray berusaha seperti biasa, penuh semangat, senyum khas yang selalu menjadi kehangatan tersendiri bagi Jisoo terlihat di wajah tampannya.
“Kau masih saja seperti anak kecil, daripada ke taman bermain bagaimana kalau ke karaoke? Aku ingin bernyanyi.” usul Jisoo, sejenak perasaannya membaik, sesaat ia melupakan kekasihnya.
“Kau masih terobsesi menjadi penyanyi? Yang benar saja, suaramu sangat menganggu saat bernyanyi.” ledek Ray penuh candaan.
“Apa kau bilang?” dan pada akhirnya, mereka berdua saling mengejek, memukul dan bahkan menendang kaki satu sama lain, keduanya bisa menghilangkan rasa canggung dengan cepat. Tapi Ray, dia selalu menjadi tokoh yang mengalah, bukan tanpa sebab, dia melakukannya karena ia menyukai Jisoo. Gadis itu adalah gadis terpenting dalam hatinya, yang berhasil membuatnya jatuh cinta sejak dulu maupun sekarang. Ray bahkan berjanji akan selalu mencintainya sampai akhir hidupnya, meski cintanya bertepuk sebelah tangan.
~ ~ ~
Jisoo terdiam melihat Ray yang tengah menyanyi dengan tulus, penghayatannya yang baik dan suaranya yang merdu membuat Jisoo mendadak kaku, dadanya terasa sesak dan entah kenapa Jisoo merasa dirinya telah menyakiti Ray. Meski begitu, Jisoo hanyalah gadis yang tidak tahu apa pun, dia hanya merasa bahwa kepedihannya saat ini hanya karena rasa rindunya yang terlalu dalam untuk Ray, pria yang selama ini berada di sampingnya, yang selalu membuatnya tertawa dan juga menyeka airmatanya saat sedih.
Ray berhenti ditengah lagu, Jisoo menoleh padanya bingung, sedang lagu Far Away milik C-Clown masih terdengar. Ray meletakkan mike nya dan mendekat pada Jisoo, mereka saling tatap dalam diam. Hingga pada detik selanjutnya.
“Ayo kita berpisah.” ucap Ray. Ia berusaha keras mengucapkan itu meski jantungnya terasa mengecil dan membuatnya sesak luarbiasa. Rasa sakit yang menderanya bagai hujan badai yang mengguyur tubuh, sangat dingin dan tanpa perasaan.
Sedang Jisoo menatap Ray tidak percaya. Matanya memanas, tubuhnya membeku dan rasanya ia seakan tidak bisa bernapas. Bagaimana bisa, Ray? Mengatakan itu padanya disaat ia merasa kesepian dan terluka akan kekasihnya.
~ ~ ~
Ray dan Jisoo keluar bersama dari tempat karaoke tanpa kata, keduanya membisu dalam keheningan yang tercipta baik sengaja maupun tidak. Setelah tepat di luar gedung, mereka berhenti bersamaan dan berdiri sejajar, keduanya menatap seorang pria yang berjalan menuju mereka sambil tersenyum manis.
“Kalian sudah menunggu lama kah? Ah maafkan aku, Soo-ya, maafkan aku.” ujar pria itu diakhiri dengan nada manja pada Jisoo. Dia, Choi Woo Shik, senior mereka yang juga adalah kekasih Jisoo.
“Kau tidak akan pergi bersama kami? Kita bertiga bisa pergi bersama.” ajak Wooshik, Ray menggeleng kecil.
“Tidak perlu, mana bisa aku menganggu sepasang kekasih.” kekeh Ray dalam kepalsuan, sandiwara yang selalu berhasil menipu oranglain bahwa dirinya baik-baik saja.
“Jangan begitu, aku tidak merasa terganggu.” jelas Wooshik. Jisoo hanya terdiam.
“Tapi sepertinya aku yang merasa terganggu, aku bisa saja cemburu pada kalian.” ujar Ray membuat Jisoo sontak menatapnya tak percaya, lagi, perasaan aneh menjalar dalam dirinya, antara senang dan sedih. Cemburu?
“Aku jadi ingin segera punya kekasih.” bisik Ray yang tetap saja masih terdengar oleh Jisoo dan Wooshik.
“Kau ini! Aku sudah cemas.” kekeh Wooshik, ia mengerling pada Jisoo yang kini menundukkan kepalanya kecil. “Cepatlah cari kekasih, dengan begitu aku bisa lega. Jujur saja, aku takut kau menyukai dan merebut kekasihku ini.” Dan untuk pertamakalinya, Wooshik mengenggam tangan Jisoo di depan Ray. Jelas saja, hal itu mampu membuat perut dan dada Ray berkecamuk nyeri. Jisoo sendiri hanya tersenyum kecil. Ray selalu kalah, senyuman Jisoo mampu membuatnya tersudut. Senyum bahagiakah yang Jisoo berikan saat ini, bahagia bersama Wooshik?
~ ~ ~
6 bulan lalu.
Jisoo berlari kecil menuju Ray dan langsung memeluk pria itu dengan riang. Ray jelas sangat terkejut, dia hanya membiarkan tubuh kecil Jisoo memeluknya. Dan tak lama, masih dengan memeluk Ray, Jisoo mendongakkan kepalanya menatap Ray dengan manik matanya yang memancarkan kebahagiaan. Jisoo tersenyum cantik, Ray gelagapan dan gugup, dengan segera ia melepaskan pelukan Jisoo dan mendorong gadis itu untuk menjauh darinya.
Meski diperlakukan seperti itu, Jisoo tidak marah, dia malah tersenyum semakin lebar, menatap Ray dengan sirat kesenangan yang belum ia sampaikan pada Ray.
“Ada berita bahagia ya?” tebak Ray mengangguki argumennya itu.
“Wooshik sunbae dan aku, jadi sepasang kekasih. Mulai saat ini.” ucapnya riang.
Seakan ditampar benda tajam, wajah Ray memerah sedih dan hatinya terbakar.
~ ~ ~
5 bulan lalu.
“Hari ini aku akan berkencan dengan sunbae, jadi kau pulang duluan saja.” suruh Jisoo membereskan buku-bukunya.
“Apa aku tidak boleh ikut seperti sebelumnya?” tanya Ray.
“Tidak boleh, perjanjiannya hanya satu bulan. Mana boleh kau terus mengikuti kencan oranglain. Sunbae merasa tidak enak, aku juga.” tolak Jisoo.
“Tapi…” ucapan Ray terhenti dengan sendirinya saat ia memang menyadari bahwa keikutsertaannya dalam kencan Jisoo dan Wooshik adalah hal aneh. Meski Ray sangat menyayangi dan khawatir pada Jisoo tetap saja ia tidak boleh menjadi orang ketiga saat Jisoo berkencan dengan kekasihnya. Lagipula perjanjian untuk menemani kencan keduanya hanya satu bulan dan itu sudah berakhir, maka sudah waktunya bagi Ray untuk mengalah. Dan akhirnya dia mengangguk, merelakan Jisoo pergi berdua dengan Wooshik.
“Baiklah, aku mengerti. Tapi kau jangan pulang terlalu larut, aku tidak ingin eommeonim khawatir padamu dan menanyakanmu padaku.” tegas Ray, meski sebenarnya luka hatinya semakin melebar.
“Gomawo Ray!” seru Jisoo tersenyum senang.
~ ~ ~