
Sudah seminggu semenjak Mingyu berada dalam tubuh Wonwoo yang mengubah drastis kehidupannya. Selama ini ia hanya ditemani 2 pembantu yang membereskan rumah dan membuat makanan. Selama itu pun Mingyu tidak pergi ke kampus, jujur saja ia tidak tahu jurusan apa yang diambil Wonwoo dan tak yakin apa ia bisa melakukannya dengan baik. Sedang Sohye, dia baru datang sekali dan selebihnya tidak, mungkin karena urusan kuliah atau memang ingin menjauhi Wonwoo.
Hari pertama di rumah ibu Wonwoo.
Mingyu tidak tahu apa ia harus senang karena pindah ke rumah ibu Wonwoo atau merasa sedih. Karena saat ini rasanya sangat canggung dan kaku. Barulah setelah ia sadar akan hubungan diantara keduanya Mingyu merasa serba salah. Wonwoo dan ibunya tidak tampak akrab, bisa dilihat mereka hanya saling diam dan bertemu karena status yang ada.
Hingga dihari kedua.
Pagi yang hangat dan penuh cinta, Mingyu melihat keharmonisan Nyonya Lee dan suami barunya Tuan Jo, mereka berbagi senyum dan bercakap-cakap ria. Tuan Jo menyapa Mingyu dengan ramah dan hanya dibalas oleh Mingyu dengan anggukan pula, ia seakan mati membeku.
Seperginya Tuan Jo, Nyonya Lee masuk kembali dan melihat Mingyu yang masih diam di kursi makannya.
“Apa kau tidak akan makan? Aku menyiapkannya untukmu, dia tidak biasa sarapan karena itu aku akan mengantarnya nanti.” ujar Nyonya Lee membuat Mingyu tersadar, dia adalah ibumu, setidaknya ibu tubuh ini.
“Baiklah, aku akan makan dengan lahap, terimakasih atas makanannya.” cerah Mingyu dan mulai makan. Nyonya Lee menatapnya tak percaya, Wonwoo berubah menjadi hangat dan berseri, dalam hati perempuan berusia 37 tahun itu ia merasa bersyukur.
Jika Wonwoo berubah maka hubungan mereka akan membaik, karena sebenarnya ia sangat sedih jauh dari anaknya dan lebih menderita lagi karena mengetahui Wonwoo membenci dan menganggapnya musuh. Karena sifat dingin dan tertutup dari Wonwoo lah yang membuat ibunya ragu untuk mengakrabkan diri, terkadang anak kandungnya itu menghindar dan menatapnya dengan tajam seakan mengisyaratkan ‘kau bukan siapa-siapaku.’
Perceraian 3 tahun lalu membekas dalam diri Wonwoo dan merubahnya semakin dingin dan acuh. Ia menyalahkan ibunya yang meminta perceraian dan 6 bulan kemudian menikah lagi dengan Tuan Jo. Sulit untuk menjelaskan pada Wonwoo kenapa ibunya ingin bercerai, tapi ini karena rasa lelah dan kecewa pada Tuan Jeon yang lebih mementingkan pekerjaan, rekan kerja juga klien, bertahan selama bertahun-tahun dari usia 17 tahun jelas membuat Nyonya Lee menyerah.
Meski begitu, perceraian tersebut juga berakibat buruk pada Tuan Jeon, yang sangat mencintai Nyonya Lee. Dia jadi sering mabuk jika sudah mengingat mantan istrinya itu, dan menyibukkan diri dengan bekerja tanpa libur.
“Bawalah ini, bekal untuk di kampus!” suruh Nyonya Lee memasukkan bekal makanan ke dalam ransel Wonwoo yang tengah mengenakan sepatu.
“Tidak perlu eomma, aku akan makan di kantin.” tolak Mingyu tak enak hati, tapi dengan cepat ia merutuki diri sendiri. Ini ibuku.
“Ini makanan kesukaanmu, telur gulung, makanlah bersama temanmu.” saran Nyonya Lee lebih berseri karena kedinginan Wonwoo mulai terhapus sedikit demi sedikit. Berpikir bahwa Wonwoo mungkin memutuskan untuk memaafkannya meski belum sepenuh hati.
“Baiklah, eomma.” angguk Mingyu yang jelas tidak menyadari sifat dan sikapnya yang berbeda jauh dengan Wonwoo.
~ ~ ~
Setibanya di kampus, 100% Mingyu kebingungan dan tak ada seorang pun yang ia kenal. Hingga pandangan matanya tertuju pada Sohye yang sedang berjalan berlawanan dengannya bersama dua teman. Merasa senang dengan refleks Mingyu berseru memangil dan menyapanya. Mereka bertiga terkejut, mengerling pada Sohye akan perubahan Wonwoo, sejak kapan pria ter-dingin di fakultas mereka menyapa dengan senyum.
Merasa sudah melakukan kesalahan, Mingyu menggaruk kepalanya dan bersikap biasa. Mereka kini saling berhadapan.
“Pergilah duluan, aku menyusul!” pinta Sohye pada kedua temannya.
“Bukankah kalian berdua sudah putus, lalu kenapa?” penasaran salah satunya, tapi segera dihalau yang lainnya dan mereka pergi meninggalkan Sohye, yang bergegas menyusul Mingyu.
“Sunbae!” panggil Sohye mencengkram tangan Wonwoo untuk menghentikan langkah pria tersebut, Mingyu kaget segera melihatnya. “Aku memanggilmu dari tadi.” protes Sohye dingin. Kenapa Wonwoo harus hadir lagi dalam hidupnya, dan kenapa pula ia masih peduli pada pria jahat ini. “Fakultas bahasa Jepang ada disana!” tunjuk Sohye k earah berlawanan dari langkah Mingyu. Malu, serba salah dan menyesal, Mingyu akhirnya berjalan bersama dengan Sohye menuju fakultas mereka.
~ ~ ~
Kegilaan menimpa fakultas Bahasa Jepang karena perubahan sikap dan sifat Wonwoo. Dia yang dulunya tidak suka berkelompok sekarang berbaur dalam kelompok dengan baik, yang tidak pernah menyapa senior sekarang melakukannya dan bersikap ramah, yang tidak pernah mendengar sapaan orang kini berubah balas menyapa, yang acuh dan tak peduli dengan penderitaan orang mendadak ia kini membantu, selain itu ia menjadi sosok orang yang selalu tersenyum, ceria dan berwarna, aura gelap dari ekspresi, dingin dan pakaiannya menghilang. Mingyu benar-benar merubah kepribadian Wonwoo tanpa ia sadari, meski sebenarnya ia memang tahu kalau Wonwoo adalah orang yang super dingin. Ia juga sempat mencoba dingin sayangnya itu tidak berhasil, hatinya selalu terpanggil untuk berteman dan berbagi. Hanya satu yang mengganjal di hatinya, kapan ia bisa terbangun sebagai Kim Mingyu lagi.
Diperjalanannya menuju kelas, Mingyu melihat Nayoung, hatinya berdetak tak karuan, merasa gugup. Tanpa sadar dia menghampiri Nayoung dan menyapanya.
“Annyeong Nayoungie, kau bertambah tembem ya!” Mingyu langsung menutup mulutnya, merasakan tatapan kaget dari Nayoung.
Bagaimana ini? Aku sudah membuat kesalahan terbesar, Nayoung membenci Wonwoo, dia harus melupakan Wonwoo dan sekarang aku muncul di depannya sebagai Wonwoo, dan parahnya lagi aku baru saja menyapanya sok akrab.
“Maaf tapi aku tidak mengenalmu.” ucap Nayoung sedingin es, tatapannya tajam, sekilas Mingyu menyadari arti tatapan itu, sebuah keterpaksaan, kesedihan dan kerinduan. Mungkinkah Nayoung masih mencintai Wonwoo?
Tubuhnya melemas, mendadak ia terpikir sebuah rencana, yang cukup gila. Ia akan menggunakan tubuh Wonwoo dan mengambil kesempatan untuk meminta maaf pada Nayoung, membuat mereka putus secara baik-baik, dan memastikan Nayoung melupakan Wonwoo.
Terlanjur bertingkah gila kali ini Mingyu memutuskan masuk klub badminton dan mendekati Nayoung. Sulit sekali untuk bisa menemui dan bicara pada Nayoung, gadis itu menjauhinya dan bersikap sinis, seakan mereka tidak pernah saling kenal. Terlebih Mingyu juga kesusahan untuk bermain badminton, peraturannya berbeda dengan basket, meski begitu ia berusaha keras dan syukurlah tubuh Wonwoo tidak selemah yang dikira, dia mempunyai tangan dan kaki yang kuat, berapa kali pun Mingyu latihan, tubuhnya akan kelelahan saat benar-benar dia merasa harus istirahat.
Sehabis latihan, Mingyu sedang membereskan barang-barang karena ia menjadi anggota terakhir maka beres-beres sudah jadi tugasnya. Terperangah kaget, Mingyu melihat Nayoung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan klub badminton. Pandangan mereka bertemu.
“Aku ketinggalan ponsel.” ujar Nayoug menuju lokernya, membuka pin, mengambil ponsel dan beranjak hendak pergi.
“Tunggu sebentar!” panggil Mingyu berpikir bahwa ini kesempatan untuknya, Nayoung berhenti. “Bisakah kita bicara?” tanya dan izin Mingyu, bagaimana pun dia harus bersikap sopan.
“Untuk apa? Untuk apa kita bicara lagi!” seru Nayoung tak terduga, wajahnya menegang dan menahan marah. “Apa ini benar-benar menyenangkan bagimu, setelah selingkuh dan mencampakkanku kau muncul lagi. Kegilaan apa lagi yang ingin kau berikan padaku! Bukankah kau yang memintaku untuk tidak menyapamu dan menganggap kita tidak saling kenal. Jadi kenapa kau ada di depanku lagi?” Kemarahan Nayoung meledak, matanya sudah berkaca-kaca, Mingyu jujur saja kaget dan tak tahu harus bagaimana, terlebih saat ia tahu kalau Nayoung sepertinya akan menangis.
~ ~ ~