You're Fiction

You're Fiction
Mirror Scene -07



“Jangan pernah muncul lagi dihadapanku, memanggil namaku atau bicara padaku, bahkan kau tidak pantas untuk melihatku!” Nayoung berbalik.


“Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf karena sudah menyakitimu. Aku memang bodoh, harusnya aku meminta maaf padamu sejak tiga tahun yang lalu. Jeongmal mianhae.” lirih Mingyu, ia tidak ingin membuat Nayoung menangis lagi.


“Satu persatu kepribadianmu muncul, kau memang gila. Apa ini benar kau? Selama tiga tahun aku tidak pernah mendengar kata maaf darimu, lalu apa kau pikir aku mempercayai ucapanmu itu!” sinis Nayoung, “Kemarahanku sudah ada dipuncak Jeon Wonwoo-ssi, karena itu sebelum aku memaki dan memukulmu lebih baik kau hentikan akting baikmu ini!” kecam Nayoung, pergi dan membanting pintu.


Nelangsa, Mingyu tidak tahu jika niatnya untuk minta maaf sebagai Wonwoo malah berakibat fatal, pasti Nayoung sangat sedih dan membencinya. Sadar akan kegelisahannya, Mingyu merasa terhibur karena Wonwoo lah yang dibenci Nayoung tapi kenapa hatinya merasa enggan dan merasa bersalah, diam-diam ia tak ingin Wonwoo dibenci.


Sohye datang dengan penuh penekanan disetiap langkahnya, memangku tangan diperutnya dan menatap Wonwoo kesal. Mingyu sadar dan membalas tatapan itu dengan sedih, kemarahan Sohye mendadak melunak.


“Sunbae, ketidaktahuanmu ini benar-benar membuat frustasi, apa kau tidak akan latihan memanah dan keluyuran terus!” amuk Sohye. Lagi-lagi ia mengacuhkan niat melupakan dan malah peduli pada Wonwoo berapa kali pun ia menolak mendekati pria yang masih di hatinya itu.


“Maksudmu?” tanya Mingyu.


~ ~ ~


Jadilah sekarang Mingyu berada di klub memanah, memakai baju hoodie putih dan berdiri di jalur panah. Was-was akan pandangan Sohye yang menatapnya galak dan busur yang tengah ia pegangi, selain itu jarak yang harus ia tembak dengan panahnya itu membuat Mingyu semakin ragu. Kenapa kampus ini seperti sekolah atlet, dia harus ikut klub badminton dan sekarang memanah. Ini sangat jauh dari basket.


Tangan Mingyu bergetar, semua anggota memandanginya seakan ingin melumat habis dirinya yang sudah tidak masuk tiga kali, dan sepertinya Wonwoo mempunyai beberapa orang yang benci padanya, hingga Mingyu merasakan tatapan meremehkan dari mereka.


Menguatkan diri, pada akhirnya Mingyu melepas panah yang terjatuh di tengah-tengah lapangan. Semua bersorak tak percaya, mendengus kesal dan berbalik mengacuhkannya. Sohye tampak kecewa, kenapa keahlian Wonwoo menghilang?


Mingyu memasang wajah sedih, dimana ia merasa nelangsa untuk keduakalinya, ini malu yang berlipat ganda, ia menyalahkan diri sendiri yang tidak tahu apa dan bagaimana Wonwoo beraktivitas juga mengenai keahliannya.


Saat Mingyu berbalik ke belakang ia hampir saja menabrak Sohye yang sudah berada di belakangnya. Sontak mereka mundur satu sama lain, Sohye sendiri tidak tahu kalau ia berdiri terlalu dekat dengan Wonwoo.


“Mian,” ucap Sohye berusaha tenang.


Ada yang aneh dalam diri Mingyu, mendadak ia merasa gelagapan dan salah tingkah.


“Sunbae sepertinya kecelakaan itu sangat parah dan membuatmu lupa banyak hal. Dulu, kau sangat sombong dan bersikap keren setiap kali berdiri disini, tapi tadi, ancang-ancangmu bahkan terlihat kacau. Dulu kau mencetak angka 10 sebanyak 3 kali berturut-turut, tapi tadi, kau menjatuhkan panahnya ke tanah …”


“Apa kau berniat mengejekku.” ketus Mingyu dalam suasana hati yang buruk. Sohye terkekeh kecil, dan Mingyu merasakan detakan jantungnya meningkat sedikit.


“Hm, aku mengejekmu dan mengataimu payah.” ledek Sohye, Mingyu cemberut berpikir untuk pergi. “Apa kau juga lupa kalau awal bulan nanti kau akan mengikuti lomba memanah?” ingat Sohye menebak keinginan Mingyu untuk pergi. Membeku, Mingyu melotot tak percaya pada Sohye. “Dilihat dari ekspresimu sepertinya aku benar kalau kau melupakannya. Bagaimana ini kau tidak mungkin diganti, bukankah kau yang ingin ikut lomba ini dan bertaruh. Jika kau menang maka kau akan tetap di klub dan jika kau kalah, maka sunbae harus keluar dari sini.” penuturan Sohye menemui titik pikiran Mingyu, bahwa Wonwoo memang punya banyak musuh.


~ ~ ~


Maka dari itu kini Mingyu berdiri di depan Sohye, membujuknya untuk menjadi pembimbing dan mengakui bahwa ia lupa semua tentang cara memanah. Mingyu merubah total kepribadian Wonwoo di depan Sohye.


Gadis itu tidak langsung mengiyakan, dia mempertimbangkannya setiap detik, bahkan setiap kelasnya ia lalui dengan berpikir. Hingga ia marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menolak permintaan Mingyu, membenci dirinya yang selalu peduli pada Wonwoo.


“Yes! Yes!” Mingyu melonjak senang dan melompat tidak jelas setelah menerima pesan dari Sohye yang menerima permintaannya. Tak peduli dengan beberapa mata yang melihat Mingyu sumringah dan berjalan cepat menuju tempat memanah.


~ ~ ~


Saling berhadapan, Sohye tengah menata keyakinannya untuk mengakhiri perasaan.


“Dua bulan yang lalu kau mencampakkanku dan ketahuan berselingkuh dariku, dengan jahatnya kau mengatakan kata-kata yang kejam, dan itu masih berbekas dalam hatiku. Dua tahun yang lalu kau membuatku menyukaimu, ingin selalu melihatmu dan bersamamu. Dan sekarang kau datang dengan pribadi lain, tanpa izin juga kata maaf kau masuk lagi dalam kehidupan dan keputusanku untuk melupakanmu. Kau menjadi hangat, perhatian, ceria dan selalu tersenyum. Aku tidak yakin apa kau adalah Jeon Wonwoo yang kukenal atau bukan, tapi alasanku berada di depanmu sekarang, karena satu-satunya orang yang membuat jantungku berdebar adalah dirimu.” tutur Sohye mengungkapkan perasaannya, Mingyu hanya mendengarkan dan merasa bersalah. Rasanya seperti dirinya lah yang telah menyakiti Sohye.


“Ini adalah yang terakhir, setelah lombanya selesai aku tidak ingin bertemu denganmu lagi, sunbae.” pernyataan Sohye membuat Mingyu sakit hati, tubuhnya seakan menolak hal itu.


Sementara itu, Nayoung tengah melamunkan sesuatu, melupakan tumpukan buku di depannya. Ada sesuatu yang janggal dan aneh selama ini. Mengapa ia merasa ada sosok lain dalam diri Wonwoo.


Ia ingat saat Wonwoo menyapa dan mengatainya tembem, juga beberapa perilaku Wonwoo yang diam-diam ia perhatikan tanpa ada orang yang tahu. Caranya bicara dan menghibur orang, perhatiannya pada seseorang yang terluka karena jatuh, memisahkan tauge dari makanannya untuk dimakan terakhir, dan melompat senang sambil mengacungkan ponsel sembari bilang yes berulangkali. Rasanya semua itu sama dengan sikap dan sifat Mingyu, sahabatnya yang tengah koma.


Spekulasinya itu bertambah naik saat Nayoung mengingat kembali sikap Wonwoo saat masuk dan latihan badminton, mengibaskan baju bagian pundaknya jika frustasi tak bisa, membuyurkan air minum ke wajahnya lalu minum, juga saat tanpa sengaja Nayoung melihatnya bermain basket malam hari dengan gila-gilaan. Lari dan cara golnya membuat Nayoung ingat pada Mingyu.


Terhentak kaget, ponselnya bergetar. Nayoung segera mengambil dan melihat ponsel, alarm mengunjungi Mingyu. Ia lalu bergegas keluar dari perpustakaan setelah meminjam buku yang diambilnya itu menuju rumah sakit.


Selama dua bulan ini Nayoung tidak pernah absen menjenguk dan menemani Mingyu, dia selalu berdoa dan berharap Mingyu segera siuman. Hatinya selalu sedih dan gelisah setiap kali ingat Mingyu, dia merindukannya. Selama ini Mingyu selalu ada untuknya, dan memahami dirinya lebih dari siapa pun tapi setelah Nayoung pikirkan lagi, ia sama sekali tidak mengenal Mingyu dengan baik, karena itulah Nayoung adalah yang paling sedih dengan kecelakaan Mingyu, ia berjanji akan memahami Mingyu seutuhnya setelah dia sadar.


~ ~ ~


Masalah muncul dalam keluarga Wonwoo, perusahaan ayahnya diambil alih oleh rekan seperjuangannya yang ternyata memalsukan surat warisan asli juga menyita semua aset milik Tuan Jeon. Tak terima akan hal itu Nyonya Lee marah dan mengugat orang itu. Sidang rupanya bukan hal yang mudah, mereka harus melalui beberapa persyaratan dan menunggu.


Mingyu sendiri bingung harus bagaimana, mendadak dia merasa tidak berguna dan sedih pada nasib Wonwoo, sepertinya pria yang dipinjami tubuhnya ini akan jatuh miskin.


~ ~ ~