You're Fiction

You're Fiction
Mirror Scene -08



Namun Mingyu merasa aman karena Tuan Jo dan Nyonya Lee sangat baik, mereka mencoba menyelesaikan masalah dan mengembalikan wasiat asli yang berisi warisan untuk Wonwoo. Meski sulit karena mereka tidak punya kekuasaan atas perusahaan dan betapa licik juga pintarnya musuh mereka, kedua orangtua Wonwoo itu terus berusaha.


‘Takk’, Sohye meletakkan minuman ber-ion di depan Mingyu. “Minumlah, sunbae hampir hilang kesadaran.” ledek Sohye, gadis itu semakin berani, dia memang seperti itu, apa adanya dan langsung.


“Tidak perlu,” kesal Mingyu karena saking seringnya Sohye meledek dan mengejeknya. Tentu karena Mingyu masih payah dalam latihan. Sohye adalah pembimbing yang cerewet.


“Semuanya akan baik-baik saja, ayahmu sangat menyayangimu dan kupikir dia menyimpan sesuatu yang lebih berarti untukmu.” terang dan semangat Sohye.


“Darimana asal pemikiranmu itu!” cibir Mingyu.


“Karena aku merasakannya, meski dia selalu menyibukkan diri bekerja dan mengabaikanmu.” jujur Sohye. Mingyu menyangsikannya, kenapa Sohye tahu akan hal itu. Dipikir lagi ini memang aneh, kenapa Wonwoo hanya menyimpan nomornya saja, dan selingkuh dari Nayoung. Hubungannya dengan Sohye juga sudah lama, dua tahun. Dibanding Nayoung, Sohye tahu rumah kediaman Wonwoo juga cerita tentang keluarganya.


“Apa kau pernah bicara dan bertemu dengan orangtuanya?” tanya Mingyu serius, Sohye bingung ‘orangtuanya’ yang dimaksud Mingyu. “Maksudku ayah dan ibuku.” ralat Mingyu.


“Hm, aku bertemu dengan ayahmu tanpa sengaja dan kau memarahiku karena itu.” sebal Sohye. “Sudahlah, cepat habiskan makananmu, minum dan segera latihan!” sentak Sohye dan pergi.


“Dia semakin diluar batas, akukan masih seniornya!” gerutu Mingyu membuka minuman ion dari Sohye dan hendak menumpahkannya lagi “Apa ini, benar-benar tidak ada rasanya.”


~ ~ ~


Tergesa-gesa Mingyu menuju ruang latihan sebelum Sohye memarahinya karena terlambat, namun suara seseorang yang tertabrak oleh oranglain menghentikan larinya, dengan segera Mingyu menghampiri gadis yang terjatuh itu, ada banyak lembar scan yang terjatuh dengan tanggap Mingyu membantunya.


“Kau baik-baik saja? Kemana orang yang menabrakmu itu, tidak bertanggungjawab sekali!” gerutu Mingyu mengagetkan Nayoung. Melihat gadis itu berhenti mengumpulkan scan hewan-hewan, Mingyu ikut terhenti dan mendongak melihatnya. Tangannya bergetar dan kaku, ia tidak tahu jika gadis di depannya itu adalah Nayoung.


“Pergilah!” usir Nayoung mengambil kasar lembaran scan dari tangan Wonwoo, mengumpulkan sisanya dengan cepat dan mengambil tasnya yang ikut terjatuh. Setelah itu pergi melintasi Wonwoo tanpa berbalik lagi.


Mingyu melihat sebuah jepit rambut warna biru muda berbentuk pita, segera meraihnya dan menyusul Nayoung. “Nayoung-ssi!” panggilnya, Nayoung tidak berhenti, tapi Mingyu dengan cepat menyusulnya. Mengenggam jepit dan membuat Nayoung berbalik padanya.


“Kau menjatuhkannya,” Mingyu menyodorkan jepitan itu, Nayoung mengambilnya, “Syukurlah kau masih menyimpannya, kupikir kau menghilangkannya.” senyum Mingyu dan izin pergi. Nayoung terdiam, barusan kenapa dia bicara seperti itu?


~ ~ ~


“Maaf aku terlambat!” Mingyu memelas minta maaf, membuat wajah Wonwoo terlihat imut. Sohye memberenggut tak percaya.


Dengan bimbingan Sohye, Mingyu mencoba berlatih memanah dan hasilnya tidak terlalu buruk ia bahkan pernah mendapat nilai 9, meski cerewet Sohye mengajarinya dengan baik. Mingyu bahkan merasa kesal pada Wonwoo yang sudah berlaku jahat pada gadis sebaik dan sepeduli Sohye. Jujur saja, Mingyu iri pada sifat Sohye yang masih mau menolong Wonwoo padahal sudah disakiti, yang mencintai Wonwoo tanpa mempedulikan kesedihan dan kemarahannya, juga perkataan jujur Sohye mengenai perasaan dan kekecewaannya.


Dilain tempat. Nayoung duduk di samping ranjang Mingyu, menatap penuh pemikiran. Perlahan Nayoung menyentuh tangan Mingyu dan menangis.


“Akhir-akhir ini aku sering menangis, dan rasanya itu setiap kali aku melihatmu, rasanya menyakitkan melihatmu terbaring disini. Mingyu-ya, ppali ireona!” lirih Nayoung. “Aku ingin bicara lagi denganmu, tertawa, balapan dan lainnya. Bogoshipeo.” akunya pasti. Dengan tangan lainnya, Nayoung mengusap kepala dan membelai rambut Mingyu.


“Aku bertemu seseorang yang sangat mirip denganmu, dan aku dibingungkan olehnya, hingga hatiku selalu gelisah. Dia mengingatkanku padamu, tapi setiap kali melihatnya hatiku menjadi sakit. Aku tidak tahu kenapa dia menjadi mirip denganmu, Wonwoo seperti dirimu,” Nayoung menjeda ceritanya, menahan diri, “Dia sangat jahat berubah menjadi dirimu.” ucapnya tertekan.


~ ~ ~


Lampu dimatikan, ruang latihan memanah dalam sekejap menjadi gelap, Sohye tahu akan seperti ini, sudah pukul 10 malam waktunya tempat latihan itu ditutup. Dia dan Mingyu segera sembunyi menghindari satpam dan memutuskan latihan lagi, Sohye memasang senter disetiap sudut papan agar Mingyu bisa melihat bidikannya, setelah itu Sohye memberi cahaya senter di samping Mingyu. Sempat protes, pada akhirnya Mingyu mengalah mengingat waktu lomba tinggal menghitung hari.


2 jam waktu bergulir cukup cepat, Mingyu masih belum bisa mendapat nilai 10, baru saja ia mengeluh pada Sohye karena memaksanya lanjut latihan, suara satpam terdengar. Kalang kabut, Sohye segera berlari menarik tangan Wonwoo untuk bersembunyi, menyambar semua senter dipapan dan menuju loker. Keduanya berdiri dibalik ambang pintu, namun langkah satpam itu semakin dekat, Sohye was-was, ia harus sembunyi di tempat aman sebelum satpamnya masuk ke ruang loker dan menemukan mereka.


Sohye memaksa Mingyu sembunyi di pojokan jejeran loker, sedang ia masuk ke dalam loker, sayangnya sebelum Sohye sempat masuk ke sana, satpam itu tengah memutar handle pintu. Hingga mau tak mau, Sohye dan Mingyu sembunyi di tempat yang sama. Syukurlah karena ruangnya cukup untuk berdua dan tak terlihat jelas.


Duduk di atas ranjang dengan ditemani langit malam sebagai atapnya, Nayoung duduk termenung. Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini hingga sebuah pemikiran gila muncul dalam otaknya. Berulangkali ia memastikan, menolak dan menerima hingga akhirnya Nayoung memutuskan untuk menemui orangnya secara langsung.


Turun dari kasur, menyambar jaket dan keluar kamar, Nayoung harus menemukan jawaban dari pertanyaannya.


Lain lagi dengan situasi Sohye dan Mingyu, mereka bertahan selama beberapa detik lamanya di sana. Sohye mengerling khawatir, berharap satpam itu segera pergi dari ruangan ini. Meski begitu ia masih belum bisa bernapas lega saat pintu ruangan tertutup, ia harus memastikan satpamnya sudah keluar dari ruang latihan.


Berbeda dengan Sohye yang harap-harap cemas itu, Mingyu lebih memilih terdiam bukan karena ia takut dan mencoba hening agar tidak ketahuan satpam, tapi karena hatinya tidak mau berhenti berdetak kencang, rasanya seakan-akan hatinya itu akan meledak. Dipandanginya Sohye yang begitu dekat dengannya, tubuhnya menegang. Matanya tidak berhenti menatap Sohye, hingga detik selanjutnya, sesuatu yang diluar nalar terjadi.


Mingyu memejamkan mata menahan rasa kantuk yang menyerangnya begitu kuat, kepalanya berpilin pada ruangan serba putih.


Berbalik menatap Wonwoo, Sohye memberi isyarat kalau situasinya mungkin sudah aman. Tapi ia tak jadi melakukannya, karena mata Wonwoo tengah menatapnya tajam, ekspresi wajahnya sangat dingin dan auranya berubah seperti dulu. Dalam hitungan detik mereka saling menatap, dalam jarak yang terasa sempit, dan perasaan yang bertabuh keras, Sohye mengecup bibir Wonwoo.


Ia melepasnya, menundukkan kepala dan menyesali apa yang telah dilakukannya, Sohye membuka loker dan bergegas pergi sejauh-jauhnya dari Wonwoo.


~ ~ ~