You're Fiction

You're Fiction
Confession -02



“Sinbi-ya, kaukah itu. Kau sudah pulang?” seru seseorang membuka pintu tanpa izin dan masuk tanpa sungkan. Berdiri mematung saat matanya menangkap sosok Jungshin, mengalihkan mata cepat ke arah Sinbi yang tidak sempat menyuruhnya tidak masuk. “Siapa dia? Kau membawa pria ked alam kamarmu? Kalian berduaan!” pekik Nayeon tak percaya, teman se-kampus Sinbi sekaligus teman sejawatnya sejak masuk kuliah.


“Ah bukan begitu, dia, dia adalah sepupuku. Kau tahu kan anak kakaknya kakak ibuku, pokoknya dia saudaraku. Dia sedang mencari pekerjaan disini dan untuk sementara ini tinggal bersamaku.” gugup Sinbi terpaksa berbohong.


“Aneh sekali, kau bilang ibumu anak tunggal. Apa jangan-jangan kau …” tuduh Nayeon dengan wajah curiga, Sinbi was-was, “Berbohong ya, padahal sebenarnya ibumu punya banyak saudara, atau ibumu memisahkan diri dari keluarga?” lega Sinbi mencoba tersenyum wajar.


“Dia akan jadi teman kost ku untuk sementara waktu, soalnya kamar disini sudah penuh.” terang Sinbi mencegah kalau-kalau Nayeon datang seperti tadi, berharap ia mengetuk lebih dulu.


“Hm arraseo,” angguk Nayeon, “Ah iya, apa kau batal ikut lomba? Tidak ada namamu dalam daftar peserta.” seakan ingat kembali, Nayeon segera bicara, tak ingin percaya.


“Hm, karena ada urusan mendadak aku tidak bisa menyelesaikannya, tak apa aku akan ikut lomba lain. Dan kau belum kenalan dengannya, dia Lee Jungshin, usianya …”


“20 tahun,” sambung Jungshin.


“Yey?” Baik Sinbi dan Nayeon berseru bersamaan.


“Kupikir kau lebih tua dari kami, kau sangat tinggi.” ungkap Nayeon mengerling Sinbi yang tampak aneh.


“Ah dia bercanda, usianya sudah 25 tahun kok, 3 tahun lebih tua dariku.” Ralat Sinbi, dan Jungshin tahu ia sengaja berbohong, membiarkannya.


“Aku Im Nayeon, teman baik Sinbi.” Serunya ramah.



Part 3 : Tersesat


“Yey? Benarkah?” tanya Sinbi tak yakin dengan pendengarannya. Baru saja polisi bilang jika Jungshin lahir tahun 1977.


“Kini dia berumur 40 tahun. Dia tinggal di Busan, ini alamatnya.” ujarnya menunjukkan alamat yang ada di layar komputer, “Disini tertera dia punya penyakit Alzheimer, dan sempat menghilang 5 tahun lalu tapi sekarang baik-baik saja. Apa dia menghilang lagi?” tanya balik polisi lalu memandangi Jungshin, dan mengerling pada foto data yang ada disana. “Kau mirip sekali dengannya waktu muda, kau cucunya.”


Seakan tersambar petir di siang hari yang terang Sinbi terjebak dalam pikiran rumitnya, juga rasa bingung yang melanda. Tanpa semangat dia berjalan keluar dari kantor polisi ditemani Jungshin di sampingnya yang berekpresi sama.


“Aku tersesat di tahun 2017, benarkan? Tadi itu adalah dataku, aku memang lahir tahun 1977 dan saat itu aku berada di tahun 1997, hanya itu yang kuingat.” ungkap Jungshin terbata, memperhatikan sekitarnya ngeri, pantas saja ia merasa aneh akan semua yang ada, teknologinya yang maju, model rumah yang berkembang dan gaya penampilan orang-orang. Sangat modis, dan jelas sangat modern.


“Kau harus mengingatnya, bagaimana pun caranya kau harus ingat apa yang terjadi!” putus Sinbi, itu satu-satunya jalan keluar untuk menemukan pintu keluar dari masalah ini. “Pertama kita harus temui kakek Jungshin, dia tinggal di Busan. Berarti kau tinggal disana, kajja!” ajak Sinbi tanpa ragu, secepatnya ia harus membuat Jungshin pulang, karena ia tak mungkin mengurusnya terlalu lama apalagi ia sudah merelakan lomba yang ada di depan matanya. Kalau saja file nya tidak hilang.


Setibanya di Busan mereka mulai menelusuri jalan menuju alamat rumah yang tertera dalam secarik kertas di tangan Sinbi. Sangat pelosok dan membuatnya sedikit bingung, barulah setelah bertanya pada penduduk sekitar ia mendapat sedikit pencerahan, namun sayangnya tempat itu harus dilalui dengan jalan kaki karena tak ada kendaraan yang mengarah ke sana jika di sore hari.


“Yakin kita berjalan di jalan yang benar, tidak tersesat kan?” ragu Sinbi yang mulai kelelahan, lalu merogoh tasnya, mengeluarkan tupperware kecil yang sialnya, kosong. “Ah, aku haus.” keluhnya dalam gumaman pelan, dengan berat hati memasukkan kembali tupperware, mengalihkan pandangan ke arah Jungshin yang tertinggal di belakangnya, dengan ekspresi kebingungan, masih berpikir keras. Tak tega melihatnya, Sinbi jadi merasa bersalah karena sudah menyuruh ia cepat ingat. Dihampirinya Jungshin.


“Jungshin-ssi, kau tidak lelah? Kita istirahat saja dan soal ingatan itu jangan kau pikirkan, kau pasti akan cepat ingat kok.” menatap manik mata Sinbi, Jungshin meringis pelan. Ia melihat sebuah kejadian, di halte itu seorang perempuan datang menghampirinya, mereka bicara dan terlibat pertengkaran. Sebuah lampu, dan ia pernah melihatnya, lampu dengan tiangnya yang terdapat gambar bus, menggunakan cat air berwarna cerah, biru dan kuning.


“Aku melihatnya, halte tadi saat kita turun.” terka Jungshin dan langsung berlari kesana. Sinbi bingung, lalu segera menyusul.


“Tunggu sebentar!” serunya ingin protes, haruskah mereka berlari dalam jarak yang bisa dibilang cukup jauh? Kembali ke tempat awal.


Setibanya di sana Sinbi kehabisan napas dan kelelahan, bahkan ia tidak bisa minum. Tapi melihat Jungshin yang ke sana sini mencari sesuatu yang bisa membantunya menyambung puzzle ingatannya membuat Sinbi mau tak mau membantu.


“Jelaskan padaku apa yang kau lihat?” tanya Sinbi ingin tahu.


“Aku berdiri di sini malam hari saat hujan turun dengan deras, menunggu seseorang, dan dia datang, seorang perempuan. Kami bicara lalu bertengkar, dia pergi dan kurasa aku mengejarnya.” cerita Jungshin, Sinbi akui cerita itu tidak bisa memastikan sesuatu dengan jelas. Harus ada ingatan lainnya. Tapi tunggu sebentar.


“Apa perempuan itu memiliki potongan rambut … maksudku gaya model bob warna hitam ?” tanya Sinbi memastikan.


“Nde, kau benar.” angguk Jungshin. Setelah dipikirkan lagi, keadaan dalam video itu memang malam hari dan yang sempat ia lupakan adalah saat itu memang hujan. Berarti? Jungshin mulai mengingat kejadian dimana dia mengalami kecelakaan.


“Kita harus mencari kakek itu,”


“Tunggu sebentar!” suruh Jungshin dan mencengkram tangan Sinbi, menyuruh gadis itu menghadapnya, menatap lekat mata Sinbi yang sedikit kaget dan risih akan posisi mereka yang sangat dekat.


“Kenapa?” tanya Sinbi berusaha mundur tapi cengkraman itu cukup kuat untuk menahannya tetap di tempat.


“Aku ingat sesuatu saat melihat matamu, mungkin saja ini bisa membantu.” Pikir Jungshin masih fokus menatap mata Sinbi yang berusaha mengontrol detak jantungnya. Lagipula siapa yang tidak akan berdebar ditatap serius oleh seorang pria yang tampan, tinggi juga bermata cantik.


Mencoba membalas tatapan, Sinbi menemukan fakta jika Jungshin terlihat menarik dan muda, hm, hanya saja potongan rambutnya yang terlalu tebal menutupi sebagian wajahnya.


Meski sudah saling bersitatap Jungshin tidak menemukan apa pun.


“Sudah jangan kecewa dulu, kita istirahat ya?” saran Sinbi yang benar-benar kecapean. Melepas pegangan Jungshin yang berada di tangannya, dan memilih duduk di halte, menselonjorkan kaki.