
Impassive Boy [Pria Tak Berperasaan]
‘Kenapa Ada Pria Sepertinya?’
Aku sudah terbiasa dengan kemalangan, dan kesialan yang tak kunjung berakhir sejak aku tumbuh menjadi seorang remaja. Sehebat apa pun ibu menyembunyikan fakta akan keburukan itu, pada akhirnya aku mengalaminya juga, penderitaan akibat seorang pria yang statusnya adalah ayahku.
Masa sekolahku tak bisa berjalan mulus, dan kali ini pun aku harus pindah sekolah ke sebuah desa yang jauh, ayah bilang biayanya murah, tidak memberatkannya, meski aku tahu itu hanya alasan, karena ayah hanya ingin kabur dari judi besar yang sudah merugikannya, membuatnya kehilangan puluhan juta won.
~izone.chufiction~
Kwon Eunbi harus rela pindah sekolah demi keegoisan ayahnya yang sangat suka berjudi dan selalu pulang dalam keadaan mabuk. Disinilah ia sekarang, di sekolah asing dengan bangunannya yang sedikit mencekam. Posisinya cukup jauh dari perumahan warga maupun jalan raya, tak ada unsur mewah, terkesan seperti bangunan tua, hanya saja jika tak ada tanaman hijau di sekeliling yang juga ditanam di dalamnya, pastilah tempat itu akan dikira penjara. Menghela napas Eunbi mencoba bersemangat, ia harus lulus SMA untuk bisa lanjut kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Cita-citanya saat ini adalah pergi jauh dari ayahnya.
Jika tanggapannya sedingin ini, Eunbi menyesal sudah gugup. Nyatanya tak banyak siswa di kelasnya yang tertarik memperhatikannya, dan guru pun hanya bicara sekadarnya. Eunbi bebas memilih bangku mana pun, toh ada banyak kursi kosong sekitar 6 bangku. Tak ragu, Eunbi memilih duduk di sebelah seorang pria yang sedari tadi hanya menunduk, memegangi erat bolpoinnya. Sekilas Eunbi menoleh, pria berkulit sedikit gelap dari orang Korea umumnya itu sedang mencoret-coret buku tak beraturan hingga kertas tersebut bolong dan rusak. Merasa diperhatikan, pria ber-nametag Kim Jongin itu ketakutan, menarik bolpoin yang berhasil menyeret bukunya, memunggungi Eunbi.
Aneh sekali, pikir Eunbi dan segera menyimpan ransel, duduk.
~izone.chufiction~
Ternyata ketakutan dan keanehan Kim Jongin itu bukan tanpa alasan, karena sekarang Eunbi melihatnya dengan jelas kalau pria tersebut dibully sekelompok pria di kelasnya. Ini adalah desahan yang kesekiankalinya dari Eunbi, dia hanya ingin hidup damai, tapi ia malah masuk tempat menyeramkan dengan tingkah rekan kelasnya.
Jika sekolah bisa menyajikan obrolan hangat, candaan, mengerjakan tugas dan lainnya, maka sekolah ini sangat berbeda. Mereka acuh, berdandan, main tinju, menertawakan satu sama lain, mendelik dan egois. Tak ada satu pun yang membantu Kim Jongin.
Suara kasar tubuh Jongin yang didorong ke loker di belakang kelas terdengar keras, seluruh pandangan beralih melihat, dan malah menertawakan, meledek Jongin, selebihnya kembali sibuk dengan aktivitas sendiri. Eunbi tak tahan, pemandangan ini selalu menjijikkan baginya, tapi ia ingin tenang. Setiap kali suara pukulan, sentakan dan dorongan mengacaukan pikiran Eunbi, sehingga ia tak fokus dan hanya mengenggam erat bolpoinnya. Hingga, bertepatan dengan pecahnya pot bunga kecil di atas loker Eunbi menghentakkan meja, berbalik menghadap sekelompok pria tersebut.
“Hentikan!” teriaknya. Namun dalam beberapa detik mata Eunbi terlihat bergetar, syok saat melihat Jongin yang babak belur, dengan darah yang mengalir di pelipis kirinya. “Kenapa kalian melakukannya, dan … kenapa kalian diam saja!” Eunbi mengedarkan pandangan pada yang lain, tapi yang ia dapatkan adalah pandangan mencemooh. Hening dalam ketegangan, penyesalan dan rasa ingin memberontak, Eunbi tahu akhir dari perlawanannya ini.
~izone.chufiction~
“Yakk! Sudah kubilang dapatkan ini dalam 2 menit hah!” sentak Kim Suho melempar roti yang susah payah didapat Eunbi tepat mengenai sisi kepalanya, sehingga mengibaskan helaian rambut hitam milik gadis itu.
“Aku hanya terlambat 12 detik,”
“Yakk beraninya kau!” Suho marah, selalu marah. Apalagi dengan kebiasaan Eunbi yang selalu menjawab juga melawannya. Pria dengan rambut pirang tersebut bangkit dari duduknya setelah menendang meja, meraih se-kotak susu dan menumpahkannya ke atas kepala Eunbi.
“Pergi dan belikan lagi! Kali ini waktumu hanya 1 menit!!” suruh Suho, Eunbi mengangkat wajah, memandang manik mata milik pria tersebut. Yang sudah 1 bulan ini membullynya. Eunbi menahan diri, meski kemarahannya sudah melonjak naik. “Apa yang kau lihat, pergi sekarang!!” Eunbi mengerling sekilas Kim Jongin, yang buru-buru menghindari tatapannya. Sejak kejadian itu Suho memang tak lagi membully Jongin, dan Eunbi tak pernah mendapatkan kata terimakasih.
~izone.chufiction~
Sudah menjadi kebiasaan, Eunbi berdiam diri di klub menjahit yang sudah usang dan tak terurus hanya demi menenangkan pikiran, atau mengeringkan pakaiannya. Bekas tumpahan susu tidak mudah dihilangkan dengan air, Eunbi harus menunggu sampai sekolah sepi jika tidak ingin dijauhi dan dipandang menjijikkan oleh oranglain. Sepertinya sekolah ini terbiasa dengan pembullyan, entahlah, Eunbi tak banyak bantuan dari siswa maupun guru.
Menyentuh mesin jahit dengan jari-jarinya, Eunbi tertawa miris. Dulu ia ingin jadi designer, dan terpaksa mengubur impian itu, ia hanya ingin dapat pekerjaan yang baik, sungguh, tapi kenapa prosesnya sesulit ini. Dipikirkan lagi, Kim Suho benar-benar pria brengsek, ia tak segan-segan membullynya. Mau tak mau Eunbi percaya dengan rumor itu, bahwa Suho adalah pria yang tak punya perasaan, Eunbi sudah dua kali dipukul, sampai hidungnya mimisan, dan itu adalah pertamakalinya, Eunbi menangis tersedu-sedu di ruangan ini. Sudah cukup dengan ayahnya.
“Apa aku mati saja?” lirih Eunbi menatap nanar sebuah gunting yang tergeletak di lantai, berjongkok mengambilnya. “Mungkin, sakitnya hanya sekali.”
~izone.chufiction~
Meski kemarin pikirannya meracau tak jelas, nyatanya Kwon Eunbi masih berjalan seperti biasa, dan masuk sekolah. Ia cukup kuat setelah bertahun-tahun diperlakukan buruk oleh ayahnya, jadi ia pikir bertahan 1 tahun dengan Kim Suho bukanlah masalah.
Kerepotan membawa banyak tas, Eunbi berjalan dengan setengah menyeret kakinya mengikuti langkah kaki Suho dan kawan-kawannya. Pria itu semakin parah, emosinya sangat mudah naik, apalagi ditambah Eunbi yang selalu menjawab, menolak dan bahkan berani mengatainya pria pecundang. Akibatnya, sepulang sekolah Eunbi masih diperlakukan kasar. Walaupun ia ketakutan, terlebih entah akan dibawa kemana, Eunbi tak bisa apa-apa, mungkin lari adalah pilihan.
Perlahan Eunbi melepas tas satu persatu, dan hendak kabur, namun baru saja membalikkan badan ia menghantam tubuh seseorang, Kim Suho. Sejak kapan pria ini ada di belakangnya? Eunbi melotot, ia ketakutan, namun berusaha bersikap wajar. Sedang Suho, hanya memasang wajah dingin. Jujur, jika saja kepribadiannya baik, mungkin Suho akan menjadi pria yang disukai banyak wanita, dia punya wajah tampan, tubuhnya cukup tinggi dan badannya tampak atletis, terlebih ia punya pandangan mata tajam yang mendebarkan.
Alih-alih terpukau, Eunbi merasa terintimidasi, menelan ludah. Bersiap mendapat pukulan? Samar-samar kaki yang lain mendekatinya, ketakutan gadis itu meningkat. Ia tak mungkin dikeroyokkan? Selama ini hanya Suho yang memukulnya.
Selanjutnya, yang Eunbi tahu adalah pergelangan tangannya yang dicengkram kasar oleh Suho, ditarik ke suatu tempat. Mendorong tubuhnya ke tembok cukup keras, hingga rintih kesakitan terdengar dari mulut Eunbi.
“Berikan uangmu padaku!” dingin Suho.
Uang? Kali ini ia sedang dipalak?
“Aku tak punya uang,” jujur Eunbi, ayolah, disaat ayahnya menyukai judi dan ibunya kabur tak tahan, siapa yang akan memberinya uang saku.
Sebuah balasan datang, tinju yang dilayangkan Suho ke tembok tepat di samping wajah bagian kiri Eunbi. Bisa Eunbi rasakan hembusan angin dari pergerakan itu, dan membuatnya menutup mata sejenak.
“Aku tidak punya,” jawab Eunbi selugas mungkin, balik menatap wajah Suho yang teramat dekat dengan wajahnya. 1 detik, 2 detik dan 3 detik selanjutnya, Eunbi merasakan sebuah tangan menyentuh roknya. Suho tengah mencari uang di bajunya.
“Yakk apa yang kau lakukan!” sentak Eunbi tak terima, ini sama saja dengan pelecehan. Kalang kabut, Eunbi mendorong kasar Suho dan bahkan menamparnya, tak butuh waktu lama, Suho balik menampar Eunbi dengan keras, sampai ujung bibirnya berdarah, begitu pun dengan pipinya yang terluka terkena aksesoris di lengan Suho. Eunbi terhempas ke tanah.
“Berikan uangmu sekarang juga!” Suho menendang Eunbi, sampai 3x.
“Yakk, Kim Suho hentikan!” teriak Eunbi disela kesakitannya. Suho tampak seperti orang gila, sangat menyeramkan terlihat tak terkendali, seakan-akan ada jiwa lain dalam dirinya. Tak berhenti, Suho masih menendang Eunbi dengan sepatunya sampai seseorang datang.
“Suho! Ayahmu menghubungi!” Eunbi bersyukur, setelah teriakan itu Suho berhenti, meski ia masih diseret untuk berdiri dan mengikuti mereka.
~izone.chufiction~
Tubuhnya bergetar, bergidik serasa mati rasa. Dengan tubuh yang kesakitan, Eunbi datang ke sebuah tempat yang tak asing baginya, sebuah perjudian. Demi apa pun Eunbi benci tempat seperti ini, aroma yang tercium dari badan ayahnya. Mendadak ia menyesal tidak menusukkan gunting tersebut, harusnya ia mati saja.
Keberanian yang sempat terpancar dalam mata cantik Eunbi hilang, tergantikan dengan kesedihan, yang tak berani ia tunjukkan pada siapa pun, memilih menundukkan kepala. Menutup mata dan telinga.
“Mana uangnya!” suara yang hampir mirip dengan suara Suho, namun lebih berat, serak dan tajam, Eunbi tak ingin tahu.
“Tidak ada,” balas Suho. Mirip seperti nada Eunbi tadi, sekilas, Eunbi sadar mungkin ayahnya sama buruknya dengan Suho.
“Kau gila! Sudah kusuruh untuk minta uang dari mereka! Cepat berikan!” selanjutnya Eunbi ingin tahu, mengangkat wajah dan melihat pria tua itu mengeledah Suho, dan memukul keras sisi kepala Suho hingga terhuyung ke belakang. Eunbi melongo tak percaya, ia masih tak yakin Suho bisa mempertahankan ekspresi dingin itu dengan pukulan yang ia terima.
“Aku tidak akan memberimu uang lagi!” balas Suho.
“Sialan kau!” tangan itu sudah terangkat, bersiap memukuli Suho. Hingga,
“Yakk! Kwon Eunbi apa yang kau lakukan disini!”
Saat itu juga, Eunbi merasa dunianya sudah hancur. Ia bersitatap tak sengaja dengan ayahnya, yang berada dalam meja yang sama dengan ayah Suho.
“Dia anakku! Lihat!” seru Tuan Kwon, menghentikan ketegangan sejenak. Suho mengerling Eunbi yang wajahnya tampak pucat. “Yakk, aku taruhkan dia!” terkejut bukan kepalang, kaki Eunbi melemas. “Dia masih gadis, aku masih bisa main lagi bukan!” Sebutir airmata Eunbi menetes, ini lebih menyakitkan dari saat Suho menendangnya.
“Kalau begitu …”
Untuk kedua kalinya, Eunbi merasakan pergelangan tangannya dicengkram, kali ini sekedar erat tapi tidak kasar. Entah apa yang dipikirkan Suho, pria itu membawa lari Eunbi.
~izone.chufiction~
“Hentikan!” teriak Eunbi menghempaskan tangan Suho, dan beruntung itu terlepas. Mereka berlari cukup jauh, saling berhadapan.
“Cepat kejar mereka!” teriak ayah Suho, bisa dipastikan Tuan Kwon juga ikut mengejar, pikirannya sudah kacau, tak lagi peduli akan status Eunbi sebagai anaknya.
“Kau, akan menurutinya!” ucapan penuh penekanan, jika dulu terdengar mengintimidasi, kali ini malah seperti bentuk kekhawatiran.
“Apa pedulimu!” sentak Eunbi, “Memangnya kenapa jika aku dijual! Kau bahkan sama buruknya dengan mereka! Kau lupa, beberapa saat lalu kau menyentuh dan memukuliku!” amuk Eunbi dengan derai airmata yang tak terbendung lagi.
“Kurasa disini kau yang pecundang!” hina Suho. Eunbi mencibir. “Kau selalu melawanku, kali ini kau akan menyerahkan dirimu!” Eunbi menatap tajam Suho, pria ini benar-benar aneh.
“Kau adalah pria yang tidak punya hati! Apa yang kau tahu tentang perasaanku, setiap hari aku melawan, berteriak ingin berhenti dan minta tolong, tapi kau, adalah salah satu dari penderitaanku itu. Jadi tinggalkanlah aku!” Eunbi berbalik, ia tak peduli lagi jika memang akan ditemukan ayahnya.
Lagi dan lagi, lengannya ditarik. Suho menarik Eunbi sekuat mungkin meski gadis itu terus berontak. Berlari, sampai mereka berhasil keluar ke jalan raya, dan saat itu, tepat setelah Eunbi mengigit tangan Suho, pegangan terlepas. Sedetik kemudian tubuh pria tersebut terhempas ke aspal, sebuah mobil tak sengaja menabraknya.
Eunbi menutup mulut syok, tubuhnya merosot jatuh. Ia dan Suho saling bersitatap. Suara jeritan dari perempuan berambut sebahu tipis terdengar, ia ngeri melihat Suho yang berlumuran darah.
“Yeobo, kita menabraknya, bagaimana ini?” ucapnya bergetar antara menyesal dan sedih ke arah pria yang juga keluar dari pintu kemudi. Disisi lain, Eunbi, tak tahu harus bagaimana, hanya memperhatikan Suho yang perlahan memejamkan matanya.
Sebelumnya, dalam sekejap mata, Eunbi membaca gerak bibir Suho.
‘Pergilah!’
~ TAMAT ~