
Wonwoo mencengkram tangan dan membuat Sohye berbalik menghadapnya, meski begitu Sohye masih mencoba menundukkan kepala, rasanya ia sangat malu dan memaki dirinya dalam hati. Dia enggan melihat Wonwoo, tidak untuk saat ini setelah apa yang ia lakukan.
“Kenapa … “
“Wae, wae, wae, wae?” kesal Sohye menyela, ia tidak ingin mendengar maupun membahasnya, tapi menghindar bukanlah jawabannya. “Apa aku tidak boleh melakukannya? Sementara kau bisa mempermainkan hati perempuan, mencampakkanku dan bersikap jahat!” amuk Sohye menghempaskan cengkraman dan mencoba menatap Wonwoo tegas. “Itu adalah perpisahan dariku, mulai sekarang aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!” teguhnya.
Nayoung tiba di depan mereka mengalihkan pandangan Wonwoo dan Sohye ke arahnya. Tanpa mempedulikan pertengkaran yang ada, Nayoung mendekati mereka dan berhenti tepat di depan Wonwoo.
“Jelaskan padaku! Sebenarnya kau siapa?” tanya Nayoung menuntut jawaban, “Kenapa aku melihat sosok sahabatku dalam dirimu, apa kau, Kim Mingyu?”
Pandangan mata Wonwoo mengatakan sesuatu, kalau dia tidak tahu apa pun. Ada hal yang juga ingin ditanyakan olehnya, dan kenapa dia berada diantara Sohye juga Nayoung.
Ponsel Nayoung berbunyi, ia lalu mengangkatnya. Seseorang yang sekarang berada di rumah sakit bicara padanya mengenai kondisi Mingyu. Wajah Nayoung kaget campur senang, ia segera menjawab akan segera datang. Sebelum pergi Nayoung melirik Wonwoo dan mengerling Sohye.
“Kim Mingyu?” pikir Sohye tidak asing dengan nama itu dan bayangan pria yang membuat angka menang saat lomba basket melintas, ia membuang napas tak percaya. Lalu menoleh menatap Wonwoo. Mungkinkah?
“Aaaaaah…” Sohye berteriak frustasi dan berlari pergi.
Wonwoo melihatnya dan tanpa sadar tersenyum kecil.
~ ~ ~
Esok harinya.
Dengan setia Nayoung menemani Mingyu, baik dalam terapi, makan dan jalan-jalan. Sempat kaget dengan perhatian sahabat perempuannya itu, Mingyu hanya menganggap bahwa Nayoung merasa takut dan cemas padanya, dan itu membuat Mingyu merasa nyaman, setidaknya bukan hanya dia saja yang khawatir pada seorang sahabat.
Tubuhnya yang kaku membuat gerak Mingyu terbatas, dia hanya berada di kamar hampir seharian jika saja Nayoung tidak datang dan mengajaknya keluar. Dengan mendorong kursi roda, Nayoung mengajak Mingyu keliling menikmati cuaca yang cerah dan oksigennya yang menjernihkan pikiran.
Pria yang baru bangun dari komanya itu menengadah melihat langit, mengamati awan putih yang tengah bergerak pelan melintasi langit, dan merasakan sinar matahari yang terasa hangat. Mingyu bersyukur ia telah kembali dan diberi kesempatan untuk berpijak di bumi, juga berterimakasih pada Nayoung yang selalu datang menemuinya.
Gadis itu akhir-akhir ini sering menangis, mungkin karena hatinya sedang sensitif, dia datang dengan setengah berlari masuk ke dalam ruangan dan memeluk Mingyu sambil menangis. Malam kemarin, Nayoung terus tersedu karena senang, dia bahkan memukuli Mingyu yang meledeknya cengeng tanpa peduli kalau Mingyu masih seorang pasien.
“Maafkan aku, karena tidak datang malam itu.” sesal Mingyu, Nayoung berhenti mendorong. “Kau pasti menungguku.”
“Kata siapa? Kau bahkan tidak melihatnya,” canda Nayoung, ingin menghilangkan kenangan saat ia mendapat telepon mendadak yang menyatakan kalau Mingyu mengalami kecelakaan, saat itu Nayoung benar-benar panik, cemas dan lagi-lagi menangis tanpa ia sadari. Juga Nayoung ingin melupakan fakta kalau Mingyu mengalami kecelakaan dengan seseorang yang ingin ia lupakan.
“Kau pasti sangat terkejut,” lanjut Mingyu.
“Sudahlah, yang sekarang adalah kau harus cepat sembuh dan bermain basket lagi denganku!” tukas Nayoung mengalihkan pembicaraan, melanjutkan jalan-jalan mereka. Mingyu sendiri tahu kalau Nayoung enggan membicarakan hal itu, dan memilih bekerjasama menikmati hari yang bahagia.
~ ~ ~
Krematorium. Mata tajam penuh penekanan itu menatap guci yang berisi abu ayahnya. Ia mengigit bibir bawahnya menahan emosi yang sudah diujung ubunnya, hingga dalam sekejap ia meninju tempat abu ayahnya itu sampai kepalan tangannya terluka mengenai kaca. Seorang petugas datang, tapi Wonwoo sudah berbalik pergi tak peduli apa pun, ia menggerakan tangannya yang berdarah itu ke bibir mengertak penuh amarah.
Pintu terjeblak lebar, dan sosok Wonwoo masuk ke dalam, sedang Nyonya Lee dan Tuan Jo tidak sempat menyadari kedatangannya saking kaget dengan suara dentuman pintu. Barulah setelah Wonwoo berada dijarak pandang mereka, Nyonya Lee menghampirinya cemas.
“Wonwoo-ya, darimana saja kau? Kenapa semalam tidak pulang.” Tanyanya khawatir. Wonwoo bersikap dingin, mengacuhkan. Nyonya Lee melihat luka di tangan Wonwoo, “Kau terluka, kenapa?” baru saja ia hendak menyentuh tangan Wonwoo, anaknya itu mengibaskan tangan mencegah dan mundur darinya. Tuan Jo terkejut, wajah Wonwoo kembali seperti saat ia melihatnya pertamakali, kemarahan dan kebencian. Nyonya Lee juga menyadarinya, ini sifat Wonwoo yang selalu ditunjukkan padanya, kekecewaan dan kesedihan yang berujung kebencian.
“Apa aku tinggal disini?” tanya Wonwoo.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau bersikap seperti ini, apa aku membuat kesalahan, katakanlah dan biarkan aku memperbaikinya!” pinta Nyonya Lee kecewa.
“Berarti aku memang tinggal disini.” sinisnya, melirik Nyonya Lee sekenanya dan pergi mengecek setiap ruangan dengan membuka kasar pintu.
“Hentikan! Sedang apa kau, ini sudah keterlaluan!” suruh Tuan Jo mencengkram tangan Wonwoo yang menatapnya dengan pandangan meremehkan. Entahlah, Wonwoo selalu ingin marah dan tak ingin mendengar apa pun jika sudah mengenai keluarganya, lagipula mereka juga selalu mengecewakannya, anggap saja ini hukuman untuk mereka karena melahirkan dan membesarkannya.
“Aku akan mengambil semua barangku.” ketus Wonwoo, mencoba menghempaskan tangan Tuan Jo yang sengaja melepaskannya.
“Tenanglah, dan duduk terlebih dulu. Kita bicarakan ini!” suruh Tuan Jo.
“Memangnya siapa kau menyuruhku.”sindir Wonwoo.
“Wonwoo-ya,” lirih Nyonya Lee, “Tolong jangan seperti…”
“Aku seperti ini karena kau, jika kau tidak meninggalkanku dan mengabaikan kami maka aku tidak akan seperti ini!” seru Wonwoo hilang kendali, Tuan Jo menamparnya.
~ ~ ~
Tertahan selama satu malam di jalanan sama sekali tidak membuat Wonwoo gentar untuk mengetahui kejadian yang terjadi pasca kecelakaan. Dia akan mencari tahu dan mengambil kembali rumah itu.
Kepribadian Wonwoo yang labil dan mudah marah itu membawa masalah padanya, dia memang diizinkan bicara langsung dengan rekan ayahnya yang berkhianat tapi berujung pengusiran karena dia mengamuk, mengeluarkan kemarahannya.
Merasa tak terima saat ayahnya dihina tidak kompeten dan memikirkan istrinya yang sudah menikah lagi dengan oranglain, juga penghapusan nama dari daftar orang yang berpengaruh dalam membuat perusahaan. Dulu ia tidak peduli apa pun yang terjadi pada ayahnya, tapi kali ini ia merasa sangat marah dan ingin melampiaskan semua kekesalannya itu.
Kecelakaan dan rumah sakit, semuanya berawal dari sana. Wonwoo terpikir akan sesuatu.
~ ~ ~