
Satu minggu berlalu.
Sedari tadi Dokyeom hanya memperhatikan Soonyoung yang betah dengan bukunya, menulis beberapa kalimat lalu mencoretnya, menulis mencoret dan terus seperti itu sejak seminggu lalu. Merasa khawatir Dokyeom memaksanya ke kantin untuk makan. Kenakalan, kecerewetan dan rasa penasaran Soonyoung memudar saat ini hingga Dokyeom juga merasa kesepian.
Tahu maksud baik Dokyeom, Soonyoung pura-pura antusias menuju kantin. Namun saat ia melewati kantor guru, seseorang tampak tak asing baginya meski hanya sekilas.
Setibanya di kantin Soonyoung terdiam tak peduli dengan Dokyeom yang terus menyuruhnya mengambil makanan.
“Cepat ambil, antriannya makin panjang karenamu!” suruh Dokyeom berbisik, bukannya mengambil makan Soonyoung malah berlari menuju ruang guru. Dokyeom menghela napas kesal dan cemas, menyimpan kembali foodtray-nya dan menyusul.
“Yakk Kim Chaewon!” panggil Soonyoung setengah berteriak tepat di luar gedung sekolah. Yang dipanggil berhenti, berbalik ke arah Soonyoung yang tergesa mendekatinya. Chaewon tidak sendiri dia bersama seorang perempuan bertubuh tinggi, berambut sebahu dengan wajah tampak dewasa.
“Sepertinya aku harus pergi,” ujarnya meninggalkan Soonyoung dan Chaewon untuk bicara berdua.
Soonyoung tidak langsung bicara, ia masih tak percaya jika yang berada di depannya adalah Chaewon, meski baru seminggu sejak Chaewon pergi, ini terasa lama bagi Soonyoung.
“Sepertinya banyak yang ingin kau katakan, sunbae.” ujar Chaewon memulai, “Jika iya, kurasa tempatnya tidak memungkinkan.” sembari tersenyum tipis, ia mengerling beberapa siswa yang memperhatikan mereka.
Taman.
“Aneh sekali, rasanya aku rindu dengan taman ini, padahal baru satu minggu.” ungkap Chaewon.
“Selama ini kau pergi kemana? Apa kau baik-baik saja? Siapa wanita yang bersamamu tadi, aku mencarimu seharian dan tidak menemukanmu. Harusnya kau beritahu alamat rumahmu, atau nomor teleponmu, manajer Park juga tidak memberikannya padaku karena kau tidak mengizinkannya.” tuntut Soonyoung berhenti sejenak, “Apa kau makan dengan baik?” cemasnya.
Chaewon tersenyum dan mengangguk, “Maaf karena aku tidak menceritakan apapun padamu.” sesalnya, jika saja ia punya keberanian bercerita tentang keluarganya mungkin rasanya tidak akan semalu waktu itu.
“Tak apa, aku tahu kau punya alasan tersendiri. Hanya saja aku merasa tidak bisa menjadi teman yang baik, harusnya aku mengejar dan menghiburmu waktu itu.” tulus Soonyoung begitu menyesal. Ia sudah tahu mengenai Chaewon saat bertanya pada manajer Park. Alasan Chaewon menyuruh orangtuanya pulang karena kakek nenek dari ibunya menelepon ingin bertemu mereka di Mokpo. Juga seberapa menderitanya Chaewon tinggal bersama paman yang memperlakukannya tidak adil, sehingga terpaksa bekerja.
“Sunbae, terimakasih.” ucap Chaewon menatap mata 10:10 yang dirindukannya itu. “Aku benar-benar bersyukur bertemu denganmu, saat pertama bertemu, kau terlihat seperti bunga yang mekar, aku menyukainya. Pertemuan kita, dan semuanya.”
Soonyoung membalas tatapan mata milik Chaewon dengan hangat, “Jangan bicara lagi, kau seperti akan pergi saja!” kekehnya.
“Hm aku memang akan pergi,” ucapan Chaewon membuat Soonyoung tertohok, dadanya kembali bergemuruh aneh, begitu sedih untuk didengar. “Wanita tadi adalah adik ibuku, dia menemui dan mengajakku ke Mokpo. Aku dipertemukan dengan kakek nenek, mereka bilang ingin mengajakku tinggal bersama, dan selama seminggu itu aku berpikir. Mereka memperlakukanku dengan baik, dan mengaku menyesal karena tidak membawaku lebih cepat, mereka juga menyesal karena tidak merestui pernikahan ibuku. Aku lahir diluar nikah, dan mereka menentang pernikahan orangtuaku hingga memutuskan ke Seoul.” cerita Chaewon, ia lalu mengambil buku di ranselnya, menyodorkannya pada Soonyoung. “Aku sudah selesai membuat lagu, jika sunbae sedang ada waktu tolong dibaca.”
“Tidak bisakah kau tidak pergi?” tanya Soonyoung hanya menatap lekat buku itu.
Chaewon menggeleng, “Aku akan sekolah di sana dan memulainya dari awal.” Soonyoung tidak berani menatapnya, “Aku harap, aku bisa bertemu denganmu lagi, sunbae.”
Pria berambut hitam pekat itu masih duduk sambil menundukkan kepala, di sampingnya hanya ada sebuah buku. Chaewon sudah meninggalkannya tepat diakhir bulan April.
Soonyoung meringis, wajah dan matanya memerah, menautkan sepuluh jemarinya dengan gugup, menahan perasaannya. Airmata menitik, Soonyoung menengadahkan kepalanya berpaling berlawanan dari buku.
“Kenapa ini, apa aku kelilipan?” gumamnya sedih.
Sementara itu, buku yang menjadi salah satu penghubung antara Soonyoung dan Chaewon hanya diletakkan begitu saja setelah dibaca.
~April Story~
Ini adalah cerita lama, aku tidak tahu darimana harus memulainya
Dimana ada seorang gadis yang tidak bisa mengatakan apapun
Dengan berjalannya waktu, berjalannya musim
Dia tidak bisa menyembunyikan isi hatinya pada seorang pria
Pria itu terlihat senang, yang bicara langsung menyukai gadis lain hingga sang gadis membencinya
Tapi perasaan pria itu rupanya bertumbuh tanpa disadari
Dan menjadi rahasia yang tidak bisa diberitahukan pada sang gadis
Si-gadis tinggal di pulau musim semi
Dan melihat pria tampan dari pulau es
Selanjutnya, pria itu bertemu gadis cantik dari pulau salju
Dan mereka selalu tersenyum bersama
Karena itu sang gadis menyembunyikan hati dan rasa sukanya
Dan berdoa untuk kebahagiaan bersama
Juga untuk hatinya yang tidak pernah berubah
Dia berdoa pada langit setiap hari, sama sepertiku
Kau terlihat bahagia, yang bicara langsung menyukai gadis lain hingga aku membencimu
Tapi aku tidak bisa menyelamatkan hatiku sendiri
Seperti orang bodoh, aku menyakiti diriku sendiri
Cerita dongeng yang menyakitkan hati
Aku berharap musim semi akan datang lagi, aku mengharapkannya
Aku takut perasaan hatiku yang tersembunyi ini akan kau ketahui
Karena itu aku hanya melukai diriku sendiri
Karena itu sang gadis menyembunyikan hati dan rasa sukanya
Dan berharap itu akan terhapus seperti keajaiban
Untuk hari dimana dia tidak merasakan hal itu
Dia berdoa pada langit setiap hari, sama sepertiku
‘Kurasa ini adalah bulan terbaikku, dimana aku bisa bersemi dan merelakan apa yang hilang. Sunbae, aku menyukaimu tak sama seperti aku menyukai bulan april, coklat, musik dan bunga sakura. Aku menyukaimu sebesar aku merindukanmu.’
Dari Kim Chaewon untuk Kwon Soonyoung.
3 Tahun kemudian.
~Song Popular~
Lagu apa yang kau dengarkan? Siapa penyanyinya?
Belakangan ini siapa yang kau sukai? Itu berubah mengikuti suasana hati dan cuaca
Lagu yang kau dengarkan dalam ponselmu sekarang itu bagus tapi
Hari ini dengarkanlah lagu yang kubuat untukmu
Judulnya adalah Lagu Populer
Aku berharap lagu ini terkenal seperti judulnya
Apa yang kau katakan? Apa yang kau lakukan? Cukup ikut bernyanyi saja
Ini adalah lagu populer, ini adalah lagu populer
Itu harus seperti itu, itu harus
Dimana pun atau apapun yang kau makan, ini akan membuatmu memikirkanku
Ini adalah lagu populer, ini adalah lagu populer
Kemana pun kau pergi, dimana pun dirimu, kau akan memikirkanku
Lagu populer, lagu populer
Aku tahu aku bukan rapper terbaik, aku tak pandai menyampaikan kata-kata
Tapi aku dapat hal itu, tapi aku tak bisa menunjukkannya padamu dengan mudah
Orang-orang disekitarmu bersenandung ringan
Aku menuliskan lirik itu tiap kali aku memikirkanmu, ini untukmu
Aku harap kau mendengarkannya 17 kali sehari
Aku harap kau mengetahui lagu yang mana ini
Ini seperti bunga sakura dan angin musim semi berhembus, ini untukmu
Aku harap lagu ini akan jadi alarm pagimu
Saat matahari terbenam aku harap lagu ini akan cocok dengan perasaanmu
Selalu saat kau dimana pun atau bertemu siapa pun
Lagu lain tak memiliki isi yang berarti
Kau benar-benar harus mendengarkannya
Semua orang berkerumun untuk bisa melihat grup baru yang sedang naik daun itu, banyak para gadis yang sedang meminta tanda tangan dari para member. Dan salah satunya adalah Hoshi, pria bernama lengkap Kwon Soonyoung itu memberi tanda tangan dengan ceria, senyuman mata khasnya terus terlihat.
Tak lama, seseorang menyodorkan gitar lengkap dengan sarung coklat muda yang mirip warna pohon dengan hiasan not, bunga sakura dan love. Hoshi sempat tersihir akan bentuknya, mengingatnya dengan jelas akan masa itu.
“Bisakah kau memberiku tanda tangan disini?” pinta gadis yang ada di depannya itu menunjuk ujung sarung di samping bentuk love.
Hoshi menolehkan pandangan ke arahnya, mengenal jelas suara lembut tersebut. Senyumnya semakin merekah.
“Sunbae, aku rindu matamu itu.” ucap Chaewon.