
Son Dongwoon berdiri di depan kamar Yeeun, mengetuk satu kali dan bicara, izin akan masuk tentu setelah berhasil membuka kunci pintu. Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian menyeramkan itu dan Yeeun mengurung diri di kamarnya tanpa keluar sedikit pun, bahkan untuk makan dan minum pun ia tidak pernah melakukannya.
“Aaaaah!” Yeeun berteriak histeris melempar semua yang bisa ia ambil dan mengarahkannya pada Dongwoon, yang menangkis, mengelak dan bergegas menghampiri Yeeun, Dongwoon mencengkramnya untuk berhenti, menenangkannya dengan perkataan lemah lembut, menyakinkannya bahwa dia bukanlah seorang penyerang, dia adalah walikelasnya.
Barulah Yeeun berhenti saat pria itu bernyanyi lagu kesukaannya. Lagam lagu itu Yeeun gunakan untuk mengingat rumus matematika, ia kini terdiam.
Dongwoon menatap Yeeun setenang dan seyakin ia bisa, ini mengenai siswanya, tentulah ia merasa bertanggungjawab dan ingin melindunginya, selain itu ada satu alasan yang membuatnya harus membantu Yeeun.
“Dengarkan aku dan cukup percaya padaku!” suruh Dongwoon berusaha menetralkan suaranya, berharap keyakinan yang berusaha ia tanamkan dalam diri Yeeun bisa diterima. “Aku tahu ini sulit untukmu, dan kau sangat ketakutan. Tapi saat ini kau tidak bisa berdiam diri dan bersembunyi seperti ini, Kau tidak ingin terus mengurung diri di kamar bukan? Ingatlah masa-masa sekolah dan kebersamaanmu dengan teman-teman, juga dengan orangtuamu. Jangan menyerahkan hidupmu yang berarti itu dengan mengurung diri dan ketakutan sepanjang waktu, keluarlah dan buktikan kau bisa hidup lebih baik setelah menghukum orang jahat itu!” Dongwoon terus berujar tanpa bermaksud menyakiti Yeeun, yang bagaimana pun pastilah sangat trauma akan peristiwa itu dimana ia kehilangan satu tangannya.
“Pikirkanlah, dan kembalilah sekolah.” ujar Dongwoon, berusaha menahan rasa sedih dan ibanya, melihat kondisi Yeeun yang kehilangan satu tangan juga tampak kurus.
Mendengarnya Yeeun menggeleng keras, ia melihat kiri kanannya, meringkuk dan menyembunyikan wajahnya di pojok kasur. Ini sangat menakutkan, paru-parunya seakan tertutup buka dengan cepat membuatnya sesak, tubuhnya bergetar, matanya sangat sendu, bibirnya kering dan luka di kepalanya kembali berdenyut sakit.
“Yeeun-ssi, percayalah kau akan baik-baik saja, tak peduli apapun yang terjadi padamu saat ini, aku berjanji akan melindungimu. Aku juga berjanji akan menangkap penjahat itu dan membalas perbuatannya, hingga dia tidak mampu bicara, melihat dan berjalan lagi. Tapi untuk itu, aku membutuhkanmu, aku ingin kau bangkit dan bersamaku. Aku ingin kau bangkit dari keterpurukanmu ini, karena kau adalah orang yang pantas untuk menikmati hidup yang lebih baik dimana cahaya selalu bersamamu.” tutur Dongwoon serius, tatapan matanya membuat Yeeun tak sanggup berpikir apa pun lagi, ini benar-benar tidak mudah untuknya.
Hampir setiap hari Dongwoon datang menemui Yeeun, dan ia terus bicara banyak hal tanpa membahas penyerang itu lagi. Kali ini Dongwoon lebih mengingatkan Yeeun tentang masa-masa indah, seperti kejadian sekolah yang Dongwoon jalani tadi, tentang teman-teman yang menanyakannya juga dunia luar yang tidak semuanya gelap.
Sementara itu pihak polisi menjaga ketat rumah Yeeun, kepolisian bagian kriminal serius tengah membahas kejadian itu dan berusaha mendapat kesaksian dari korban yang berhasil meloloskan diri. Sempat mendapatkan protes keras dari orangtua Yeeun akhirnya mereka bisa menemui Yeeun, sayangnya gadis itu hanya berteriak dan menjerit histeris, melempari mereka dengan menggunakan tangan kirinya.
Tak mendapat info apa pun mereka sepakat bekerjasama dengan Dongwoon yang mampu membuatnya terdiam. Meski belum bisa mengajak Yeeun bicara, Dongwoon masih berusaha mendekati, menghibur dan menemaninya.
Hingga dua minggu kemudian, Dongwoon terpaksa membius Yeeun untuk dibawa ke rumah sakit, orangtua Yeeun berusaha mengoperasi tangan Yeeun dengan memasangkan tangan palsu padanya. Barulah satu bulan kurang, Yeeun bisa bicara.
“Dia sangat tinggi dan suaranya terdengar berat.” ucapnya dengan bibir gemetar, mengingat masa paling menakutkan baginya. Ia tidak tahan, ini membuatnya trauma dan merasa ngeri setiap kali ingatan itu terulang.
Hari-hari Yeeun berlanjut dengan terapi trauma dan praktek tangan palsu yang diterapkan di tubuhnya, awalnya sangat sulit untuk membujuk Yeeun melakukan hal itu hingga perlahan ia membuka diri dan mencobanya, hanya saja ia masih belum bicara pada siapa pun.
Dongwoon tidak melewatkan satu hari pun untuk menemani Yeeun. Dia menjadi mesin cerita yang akan berceloteh panjang menceritakan apa pun, tak jarang cerita lucu. Meski Yeeun tidak menanggapinya dengan baik, Dongwoon merasa bersyukur karena gadis itu pernah bicara dan tersenyum kecil padanya.
Tiba di sekolah. Kaki Yeeun bergetar, ia tidak berani masuk ke gedung tempatnya belajar tersebut, merasa malu dan sedih. Menatap miris tangan palsunya, bukankah mulai sekarang hari-harinya akan semakin sulit, selain itu ia merasa takut pada semua orang. Rasa trauma dalam dirinya membuat ia menjadi tertutup, paranoid dan curiga.
“Tenang saja, aku ada disampingmu.” senyum Dongwoon, entah sejak kapan ia sudah berdiri di samping Yeeun. Namun ayahnya yang tadi mengantar memberi anggukan pada Yeeun untuk bertahan dan memulai semua dari awal.
Tak mudah beradaptasi dengan para siswa, Yeeun mendapat perhatian dan sorot mata kesal dari mereka. Bisa dipastikan mereka menyalahkannya karena masuk sekolah, tak ada rasa iba maupun kasihan, mereka lebih takut psiko itu datang ke sekolah dan melibatkan keselamatan mereka.
Bahkan beberapa dari mereka dengan berani memakinya, menyuruh Yeeun untuk bersembunyi di rumah saja dan tidak menunjukkan diri di tempat umum. Ada kemungkinan target psiko itu menjadi siswa di sana akibat Yeeun.
Walikelasnya, Dongwoon berusaha keras membela, di rapat guru juga dewan sekolah. Dia juga memberikan pembelaan pada Yeeun untuk para orangtua yang protes akan kembalinya Yeeun. Mereka mengkhawatirkan anak masing-masing.
Untuk 2 jam penuh Dongwoon rapat bersama mereka, dan akhirnya berhasil membuat perjanjian, hanya satu bulan waktu yang diberikan untuk Yeeun sekolah jika psiko itu belum bisa ditangkap.
Jarang sekali ada korban yang berhasil lolos dari psiko, terlebih hilangnya tangan Yeeun berdampak buruk. Ngeri akan fakta yang ada para orangtua memutuskan mengantar jemput anaknya, dan polisi semakin gencar melakukan pencarian.
Yooa, Jenny dan Sehyung berdiri di depan Yeeun. Ada raut wajah kesal pada Yooa, menelisik sosok Yeeun hingga berujung pada tangan palsunya, memalingkan pandangan.
“Aku berharap kau tidak menunjukkan wajahmu dihadapanku lagi. Kau tahu maksudku bukan?” kecam Yooa membuat Yeeun terluka. Melirik Jenny yang mengangguk dan Sehyung yang tidak berani menatapnya. “Aku tidak ingin psiko itu menargetkan aku sebagai korban berikutnya, kita bukan teman jadi jangan bersikap akrab padaku, pada kami!” imbuhnya dan berbalik pergi, Jenny mengikuti. Sehyung mengerling sekilas pada Yeeun dan ikut pergi.
Yeeun menunduk, hatinya sangat sakit. Luka ini masih berkepanjangan, meski bukan bagian tubuhnya yang dilukai, tapi kata-kata dan tatapan mereka mampu membuatnya begitu tersakiti.
“Geumanhae, apa yang kau lakukan!” suruh Sehyung mencengkram tangan Kogyeol. Melirik Wei dan Gyujin yang hanya menonton. “Geumanhae!” serunya dan sepenuhnya diacuhkan. Kogyeol masih terus memukuli pria yang sebaya dengan mereka itu hingga benar-benar babak belur.
Sehyung bisa melihat ekspresi Kogyeol yang menikmati setiap pukulan yang ia layangkan itu, tersenyum sinis dan senang. Tak suka akan hal tersebut, kali ini Sehyung menarik bajunya kuat.
“Geumanhae Go Minsoo!” teriaknya mampu menghentikan pukulan selanjutnya. Kogyeol menghempaskan tangan Sehyung dibajunya, melepas cengkraman kuat dikerah korbannya itu dan berhenti. Ia benci nama aslinya disebut.
Setelah kejadian itu mereka tidak jadi pulang bersama, Kogyeol memilih pergi dengan diikuti Gyujin dan Wei, sedang Sehyung hanya menatap iba pria yang terduduk lemas itu dan berbalik pulang.
“Benarkah dia melakukannya lagi? Wah harusnya kau segera memutuskannya, dia seperti psiko!” celetuk Jenny setelah mendengar cerita Sehyung tentang Kogyeol, dan alhasil Sehyung membekam mulutnya. Kata psiko saat ini menjadi hal tabu yang tidak boleh diucapkan, semua orang begitu khawatir.
“Jangan menyebutnya seperti itu, dia hanya sedikit nakal!” suruh Sehyung sembari melepas bekamannya.
“Sedikit? Dia memukul orang untuk senang-senang,” geram Jenny.
“Dia akan berubah. Dan kau jangan berani menceritakannya pada Yooa, aku yakin dia akan marah dan memaki Kogyeol.” pinta Sehyung. Jenny tidak mengangguk, tapi karena Sehyung terlihat tulus mau tak mau dia hanya mengiyakan sekenanya.
Tak lama Leo Jung masuk ke kelas, dia adalah guru sejarah, sangat sulit didekati, tegas dan tidak banyak bicara. Setiap kali masuk maka hawa kelas akan berubah dingin. Selintas Sehyung melihat tangan kiri Yeeun bergetar, tampak gelisah. Ia juga melihat tangan palsu milik Yeeun dan merasa sedih.
“Kemarin aku merasa ada seseorang yang mengikuti, benar-benar menakutkan. Ibuku begitu protektif sekarang, tapi syukurlah dia menjemputku dari les.” cerita seseorang, ditimpal dengan berbagai cerita lainnya yang pasti berkisah tentang ketakutan akan psiko.
Yeeun mencoba mengacuhkannya, dan berdiri menuju loker miliknya yang berada tepat di belakang kelas.
“Tapi seseorang dengan santainya datang ke sekolah, padahal dia membuat kekacauan. Dia benar-benar tidak berperasaan.” celetuk seseorang yang ditujukan pada Yeeun.
Gelisah, Yeeun hanya membuka kunci loker dengan memutar pinnya.
“Harusnya dia tidak usah sekolah, apalagi dengan tangan seperti itu!” sinis yang lain tepat saat Yeeun berhasil membuka loker.
Kesal karena diabaikan salah satu dari mereka menuju Yeeun dan menutup loker dengan kasar, untunglah Yeeun belum sempat menyentuh loker itu dengan tangannya, karena jika sudah, tangan kirinya akan ikut terluka terjepit loker.
“Yakk apa kau tuli, mungkin telingamu itu juga sudah dilukai ya. Kami ini menyuruhmu untuk diam di kamarmu dan tidak usah berkeliaran. Karena kau orangtuaku melarangku kemana-mana!” bentaknya.
“Aku tidak tahu bagaimana caramu kabur dari psiko itu, tapi lebih baik kau pergi dari sini!” yang lainnya mendorong pundak Yeeun. Terpukul akan kenyataan yang diterima, Yeeun merasa diperlakukan tidak adil, ia bukan penjahatnya.
“Apa aku yang meminta ini terjadi! Aku yang jadi korban disini, aku hampir mati karena psiko itu. Memangnya aku ingin dimutilasi olehnya!!” seru Yeeun meneteskan airmata, sebuah kepedihan dan ketakutan yang berhamburan keluar dari dirinya.
“Yakk beraninya kau!” amuk siswi di depannya itu tak tahan dengan kata psiko dan mutilasi. Mendorong kuat Yeeun hingga terjatuh. “Jangan bertingkah...”
“Geumanhae!” Sehyung berteriak menghentikan, datang dari pintu belakang dan berjongkok di samping Yeeun. Dengan bantuan Sehyung, Yeeun kembali berdiri. “Kenapa kalian bertingkah seperti ini, dia tidak salah apa pun. Saat itu dia pulang bermain denganku, itu hal yang tidak bisa diduga siapa pun. Apa kalian berpikir seseorang suka bertemu dengan psiko. Harusnya kita menghibur dan melindunginya, siapa pun bisa berada dalam posisi yang sama dengannya.”
“Tapi...”
“Bagaimana jika itu terjadi padamu, apa kau punya keberanian untuk bangkit lagi, menulis, makan dan segalanya hanya dengan satu tangan!” sela Sehyung menatap semua teman sekelasnya. Setelah itu membawa Yeeun keluar dari kelas.