
4 bulan lalu.
Ray dan Jiae sedang duduk berdua, Jiae baru saja mengatakan apa yang terjadi pada Jisoo yang berusaha Jisoo rahasiakan dari Ray. Karena tidak tahan akan kesedihan Jisoo, Jiae memutuskan mengatakan semuanya pada Ray.
“Jisoo adalah gadis paling lugu yang pernah kukenal. Dia itu memang tidak mengerti atau terlalu baik, sejak awal aku sudah tidak menyukai hubungannya dengan Wooshik sunbae.” komentar Jiae.
“Mungkin kau salah lihat, atau mungkin saja sunbae sedang bersama saudara perempuannya waktu itu.” ujar Ray mencoba bersikap positif. Setahunya, Wooshik bukanlah pria jahat atau lainnya, pria itu sangat pintar dan disukai para guru.
“Penampilan itu tidak menjamin Ray. Perempuan itu jelas memperlakukan Wooshik sunbae seperti kekasihnya, bahkan mengecup pipi Wooshik sunbae. Dan yang harus kau tahu, Wooshik sunbae mengakuinya, bahwa perempuan itu adalah teman kencannya pada Jisoo.” tutur Jisun berkelanjutan tanpa ia sadari.
“Benarkah? Lalu bagaimana tanggapan Jisoo?” kaget Ray.
“Jisoo memberikannya kesempatan, tentu saja. Jisoo seperti sudah terbius oleh Wooshik sunbae. Jisoo bilang kalau itu hanya pekerjaan, berkencan dengan perempuan lain adalah pekerjaan Wooshik sunbae, dan Jisoo memahami itu, membiarkannya.” Kesal Jiae, “Kalau aku jadi Jisoo, aku lebih baik meminta putus atau setidaknya menyuruh sunbae itu untuk mencari pekerjaan lain. Memangnya Jisoo tidak sakit hati melihat kekasihnya sendiri tiap saat berkencan dengan perempuan lain?” mendengarkan semua itu membuat amarah Ray bergemuruh, dan luka hatinya makin melebar saat tahu Jisoo hanya membiarkan kekasihnya selingkuh. Apa karena Jisoo terlalu menyukai Wooshik?
~ ~ ~
3 bulan lalu.
Kencan ganda kini sedang dilakukan oleh Ray, Sujeong, Jisoo dan Wooshik. Dengan bantuan Sujeong yang berpura-pura menjadi kekasih Ray, pria itu mencoba memahami kencan Jisoo dan Wooshik, perkataan Jiae telah memenuhi pikirannya seperti sarang laba-laba yang melekat kuat. Ia ingin memastikan bahwa Wooshik memperlakukan Jisoo dengan baik.
Awalnya Jisoo menolak keras untuk kencan ganda hingga Wooshik memutuskan untuk menyetujuinya. Dan kini mereka berempat berada di depan bioskop, memilah-milah film yang akan ditonton bersama.
Ray berdiri tak jauh dari Jisoo dan Wooshik, tepat di belakang mereka.
“Kita nonton ini saja ya Joo-ya, aku suka sekali pemainnya, akting laganya hebat.” pinta Wooshik padahal Jisoo ingin sekali menonton film romantis atau setidaknya film tentang ayah dan anak yang membuatnya tertarik. Tak banyak yang bisa dilakukan Jisoo, gadis itu lebih banyak mengalah pada Wooshik. Jisoo sendiri tidak masalah jika harus menonton laga tapi ia hanya terluka oleh Wooshik yang tidak bisa memahami perasaan dan keinginannya.
Sujeong datang membawa popcorn dan minuman, jelas sekali ia ingin protes pada Ray tapi Ray dengan cekatan membawa semua itu dan mengerling padanya untuk terus sandiwara.
“Kalian sudah memilih filmnya?” tanya Sujeong pada Wooshik dan Jisoo.
Wooshik menunjuk film action. Sujeong malah protes.
“Aku tidak mau nonton itu. Ray kita nonton yang lain saja ya, yang ini bagus. Aku dengar filmnya sangat sedih dan menyentuh hati, tentang perjuangan seorang ayah demi membesarkan anaknya.” pinta Sujeong layaknya kekasih nyata. Dan Ray dengan senyuman terbaiknya mengangguk. Untuk pertamakalinya, Jisoo merasa benci dan marah melihat itu, kesal pada dirinya dan juga Ray.
~ ~ ~
2 bulan lalu.
Ray lebih memajukan duplek topinya untuk menutupi wajahnya, ia sedang mengikuti kencan Wooshik dan Jisoo di Lotte World. Meski sebenarnya Ray tidak ingin melakukan hal ini, rupanya rasa khawatir dan sayangnya pada Jisoo terlalu besar. Dia masih berusaha untuk memastikan bahwa Wooshik memang pria pilihan Jisoo yang baik dan tepat bagi gadis itu. Ray berusaha menutup mata bahwa Wooshik bukanlah pria yang buruk dalam memperlakukan kekasihnya.
Wooshik tidak mungkin berkencan dengan perempuan lain demi uang, tidak mungkin meminta izin pada Jisoo untuk melakukannya, tidak mungkin membiarkan Jisoo menunggu dua jam dalam hujan untuk bertemu dengannya, tidak mungkin memaksa atau menuntut Jisoo untuk melakukan apa yang ia sukai dan inginkan, dan tentu tidak mungkin menawarkan temannya untuk berkencan dengan Jisoo.
Ray mengerem dadak langkahnya saat Wooshik dan Jisoo menghentikan langkah. Dengan segera Ray membalikkan badan untuk menghindari kecurigaan keduanya meski pada nyatanya Wooshik dan Jisoo sama sekali tidak menyadari kehadirannya, mereka berhenti karena bertemu dengan seorang perempuan. Merasa aman, Ray kembali berbalik ke arah mereka, mendekat dua langkah untuk mendengarkan percakapan mereka dan berpura-pura bergabung dengan kumpulan remaja yang sedang bersama. Meski sempat dipandang aneh oleh mereka, Ray tidak peduli dan berusaha keras memasang telinganya untuk mendengarkan.
“Wooshik-ah, lama tidak bertemu. Siapa gadis ini? Apa dia teman kencanmu kali ini, dia terlihat masih muda. Apa dia anak sekolahan?” tanya perempuan itu akrab. Wooshik menjawabnya dengan senyuman, sedang Jisoo merasa tidak nyaman.
“Bukan begitu, dia adalah kekasihku.” sanggah Wooshik membuat Jisoo senang.
“Semua perempuan yang kau kencani adalah kekasihmu, aku juga pernah menjadi kekasihmu.” ralat perempuan itu membuat Jisoo menatapnya sebal.
“Kita hanya kekasih sementara, dan dia adalah kekasihku yang sebenarnya.” Jisoo, beralih menatap Wooshik dengan tatapan senang, perasaannya sangat lega. Dan Ray, ia bersyukur bahwa Wooshik ternyata bukan pria buruk, Ray memutuskan berbalik meninggalkan mereka, membiarkan hatinya untuk belajar melepas Jisoo.
“Aku bertaruh kau tidak akan bertahan lama dengannya.” lanjut perempuan itu kembali membuat Jisoo menatapnya garang.
“Kau akan bertaruh berapa?” tanya Wooshik, perkataan itu berhasil membuat dinding kebahagiaan Jisoo perlahan roboh.
“Hubunganmu paling akan berakhir bulan ini.”
“Jika aku bisa bertahan dengannya selama 6 bulan, bagaimana?” tantang Wooshik, Jisoo, jujur saja merasa tak tahan, dia marah mendengar itu.
“Aku akan memberimu uang yang banyak, bukankah kau butuh itu untuk kuliahmu nanti?” tawar perempuan itu dan kini menatap Jisoo dengan pandangan menang.
“Aku pergi dulu, aku harus menemui seseorang.”
Seperginya perempuan itu, Jisoo menatap Wooshik meminta penjelasan.
“Sunbae!”
“Joo-ya tenang saja, itu hanya candaan, tidak serius.” senyum Wooshik. Jisoo tidak percaya, namun ia masih saja berusaha untuk percaya bahwa itu memang hanya candaan. Tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan dan tidak pasti. Nada ucapan dan perkataan Wooshik tadi terasa serius. Sebenarnya apa yang terjadi, apa yang telah ia lakukan pada hubungan mereka. Benarkah Jisoo menyukai Wooshik, apa karena begitu menyukai pria di depannya itu, Jisoo rela menyakiti dan terus tersakiti selama 5 bulan ini?
~ ~ ~
1 bulan lalu.
Makan malam keluarga Ray dan Jisoo sedang berlangsung di restoran dekat sungai Han. Mereka menunggu kedatangan Wooshik yang diundang oleh Jisoo karena paksaan orangtuanya yang ingin tahu kekasih putrinya itu.
Untunglah orangtua Jisoo adalah orang yang pengertian, mereka tidak menuntut apa pun dari pria yang disukai Jisoo asal pria itu menyukai Jisoo dengan sepenuh hati dan bisa menghormati mereka dengan baik. Namun sampai satu jam yang lalu, Wooshik belum juga datang. Hingga acara makan selesai, pria itu tak kunjung datang. Jisoo menjadi gadis yang murung dan pendiam malam itu, orangtuanya dan orangtua Ray mencoba memahami dan pulang lebih dulu. Membiarkan Ray menghibur Jisoo.
“Jangan sedih, mungkin saja dia ada urusan mendadak.” hibur Ray sambil pindah duduk tepat di depan Jisoo.
Jisoo mengangguk kecil, memasukkan ponsel ke tas kecilnya, namun tiba-tiba saja tanpa sadar Jisoo meneteskan airmata. Ray jelas kaget, dia segera menghampiri Jisoo dan duduk bersimpuh di samping Jisoo.
“Kenapa kau menangis?” tanya Ray cemas.
“Aku tidak tahu, tiba-tiba saja jatuh.” jujur Jisoo. “Ini ternyata sangat sulit, aku merasa sakit.” tutur Jisoo menunduk, dan airmata masih menetes.
“Jangan menangis, semuanya baik-baik saja. Dia akan menemuimu besok dan menjelaskannya.” Ray yang melihat Jisoo menangis juga merasakan sakit, ia perlahan menyeka airmata Jisoo dan mengenggam tangan gadis itu untuk berdiri. Sambil berpegangan tangan keduanya berjalan pulang.
~ ~ ~