You're Fiction

You're Fiction
Vampire Premature -02



Part 2 : Pembantaian Dalam Villa


Dengan napas terburu-buru dan langkah tergesa, senior Kim Himchan berhambur masuk kedalam villa besar yang berdiri sendiri tanpa tetangga di daerah pegunungan. Memiliki arsitektur megah nan kuno, seakan menyiratkan keangkuhan yang tersimpan didalam setiap seni di beberapa pahatan dan bentuknya. Tampak mencekam ditambah dengan pintu, jendela, gerbang utama dan pohon yang tinggi, tak ada warna terang, hanya abu gelap dengan coklat lumut baik dari segi warna bangunan luar, bangunan dalam maupun sekelilingnya. Tak ada siapapun yang menyangka jika villa ini tengah digunakan oleh sekumpulan mahasiswa jurusan kimia untuk berpesta dan melakukan kencan buta. Mereka berbaur dalam musik keras, lampu kerlap kerlip, berbagai makanan dan alkohol yang menyengat. Bisa dipastikan tidak ada seorang pun yang tersadar, mereka terbuai akan minuman memabukkan itu dan semakin liar.


Sejujurnya Park Chorong enggan datang tapi karena seringkali ia menolak kumpulan fakultasnya itu, akhirnya dengan sedikit paksaan dan ancaman Himchan berhasil membujuknya. Himchan terpaksa menariknya ikut untuk memenuhi keinginan para pria yang menyukai Chorong, yang diam-diam membuat rencana agar gadis itu bisa ditaklukan, karena selama dua tahun ini tak ada rumor apapun mengenai Chorong yang berkencan dengan seorang pria.


Merasa cemas tak pasti, Chorong mengedarkan pandangan melihat sekeliling, banyak temannya yang tengah berkencan dengan senior maupun junior, mereka menyuruhnya bergabung tapi ia menggeleng sopan, menolak. Karena itu hanya akan menganggu mereka dan juga dirinya, sejak dulu Chorong selalu punya prinsip untuk menjaga diri dari cinta yang sejenak, berharap ia bertemu pria yang langsung mengajaknya serius ke jenjang pernikahan, karena pacaran setelah menikah adalah impiannya. Dan bukannya Chorong tak tahu modus Himchan membawanya kesini, lalu berteriak-teriak memanggil namanya. Mau tak mau demi menghargai seniornya yang cukup dekat dengannya itu, Chorong menghampiri. Bau rokok langsung saja menguar kuat di hidungnya, tiga diantara lima pria disana merokok santai. Mungkinkah karena ini mereka menyewa villa nun jauh dari mana pun, demi kesenangan semata setelah kuliah dan bergaul dengan bau kimia.


Tak ingin berlama-lama, Chorong izin pamit ke toilet apalagi setelah salah satu dari mereka merangkul dan mulai merayunya, ia bahkan berani menyentuh dagu Chorong yang segera ditepis gadis itu, tentu dengan Himchan yang membantu. Seakan mengisyaratkan untuk tidak berlaku lancang, setelah itu mengangguk memberi izin pada Chorong yang ingin pergi.


Pesta yang menyesakkan, Chorong mempercepat langkahnya menuju toilet dengan menyusuri koridor villa yang lebih di desain laksana istana itu. Kacanya mendominasi bangunan tersebut sehingga memudahkan Chorong melihat pemandangan diluar sana, yang sebenarnya seperti lautan kegelapan, sejauh mata memandang ia hanya melihat pepohonan tinggi dengan daunnya yang tertiup angin, melambai ngeri. Semakin tak betah, ia berhasil menemukan toilet, sangat besar, bersih dan begitu menarik. Orang akan mengira ini adalah kamar, tapi faktanya ada enam wastafel dengan kran seperti emas, juga beberapa bilik kamar mandi. Chorong masuk ke salah satunya.


Sementara itu, pintu utama terjeblak rusak dengan kekuatan yang kuat menyisakan angin dimana semua orang yang ada didalam terpaksa memicingkan mata jika tidak ingin kelilipan. Mereka sontak melihat kearah pintu, yang segera di penuhi dengan kehadiran orang-orang aneh. Mengenakan jubah hitam menutupi leher dengan bahan halus yang seakan-akan tak bisa disentuh, kulit teramat pucat, mata merah menyala dan taring menyeringai. Takjub dan bersorak mereka menyambut mereka seperti sekumpulan orang yang sengaja datang dengan gaya vampir. Tapi dalam sekejap sorakan itu berubah menjadi histeri dan jeritan menyakitkan dari beberapa mahasiswa yang diserang mereka, mengigit leher dan menghisap darah.


Menyaksikan kematian yang nyata dan temannya yang terkapar kesakitan, mengejang disaat-saat terakhirnya, yang lain lari terbirit-birit menjauhi mereka. Dan sialnya kekuatan vampir bukanlah mainan, dengan mudah mereka menangkap manusia, membabi buta.


Himchan memikirkan Chorong, gadis itu masih di toilet. Ia hendak berlari menuju koridor tersebut sebelum seorang vampir menarik dan menghempaskan tubuhnya kuat. Terdengar bunyi tulangnya yang patah, dengan tembok yang retak. Himchan terluka parah, mulutnya memuntahkan darah, tangannya berusaha bergerak, matanya menangkap sebuah bayangan di koridor, tak bisa menghentikan Chorong karena satu tangan dengan kuku tajam dan dingin memegangi kepalanya dan menghisap darah Himchan di leher, mengigit. Aliran darah Himchan membeku, tertarik dan membuat tubuhnya kejang kesakitan, bahkan untuk merintih pun ia tak bisa.


Dalam sekilas, pemandangan pesta itu berubah menjadi penuh mayat dan darah. Vampaneze tertawa senang, saling bertukar pandang dan berbalik pergi setelah memastikan tidak ada Krystal maupun Pearl. Namun mereka membaui sesuatu, darah manusia lainnya dan mendengar tajam langkah kaki, milik Chorong yang terhenti di depan koridor, matanya membelalak syok, warna wajahnya sepucat para vampir dan kakinya membeku lemas. Bibirnya gemetar menyaksikan teman-temannya meninggal, tak bisa mengalihkan pandangan kearah vampir yang memandanginya tajam. Ia menatap lekat Himchan.


Chorong bisa menjadi mangsa terakhir mereka, atau bulan-bulanan mereka sebagai penutup jika saja Pearl tidak datang merusak kaca dan menarik Chorong dalam genggamannya, membawanya dalam pelukan dan berlari sangat cepat. Langsung saja Vampaneze marah dan mengejar.


Dalam pengejaran super kilat itu, Chorong tak bisa bernapas dengan baik, ia tak berani melihat kebelakang dan hanya bergetar dalam pelukan Pearl. Tapi manik matanya ingin tahu apa yang terjadi, melirik kebawah dan tercengang, dia berada diatas udara sangat jauh dari tanah dan kini melompat dari pohon ke pohon yang lain, dengan kibasan angin yang sangat kencang hingga membuat ikatan rambutnya terlepas. Perlahan ia mendongak, menatap Pearl dan terkejut, pria ini yang sempat Himchan tabrak. Lalu apa yang terjadi, kenapa semua teman-temannya mati dan mereka berdua dikejar? Bisakah mereka selamat dari sini, memikirkannya saja membuat Chorong seakan sudah mati.



Tubuh itu melayang begitu ringan, menapakkan kedua kakinya pada pohon, memantul kilat dan menabrak keras Pearl dan Chorong hingga mereka terjatuh ke bawah, melintasi ranting-ranting pohon, beberapa dahan yang langsung rubuh bersama kedua tubuh itu. Beruntung Pearl memutar badan dengan cepat dan membuat Chorong jatuh menimpanya alih-alih mendarat keras di tanah, karena Chorong bisa saja mati.


Meski begitu Chorong merasa tubuhnya sakit, dan lebih terbius akan tanah yang retak seperti gempa kecil disekitar tubuh Pearl. Wajah Pearl mengerang perih, dan segera tanggap melepaskan Chorong dengan mendorongnya kebelakang. Ia dengan puluhan Vampaneze saling berhadapan. Suasananya sangat tegang dan menakutkan, berpasang-pasang mata merah itu menyala penuh amarah, benci dan senang, mengikis pertahanan Pearl yang merosot, ia tak mungkin menang melawan mereka, namun ia tak boleh menyerah.


Pertarungan sengit yang melebihi kadar dan berada diatas rata-rata itu terjadi bagai kilat, saling menerjang, mengerang dan berteriak. Chorong tidak tahu harus berpihak pada siapa, tapi karena Pearl menyelamatkannya dari sekumpulan vampir buas, Chorong berharap pria itu menang meski terlihat luka parah. Tak selicik yang diduga Vampaneze sengaja mengirimkan satu lawan satu, menguras tenaga Pearl sebelum membunuhnya dengan sadis. Berapa kali Chorong melihat tubuh Pearl terhempas kuat dengan ditemani jerit syoknya, jika memang keajaiban itu ada, Chorong berharap itu terjadi sekarang.


Walau pun telat, dengan kondisi Pearl yang parah, tubuhnya yang mengalami kerusakan. Kelompok Dracula datang, diawali dengan kemunculan Krystal, yang bertubuh tinggi, mata yang bersinar, berkulit sama pucatnya dan mengenakan pakaian mewah hitam. Ada banyak dari mereka datang dan menyerang Vampaneze, menyingkirkan Pearl dari area perang. Terdengar samar-samar, Krystal berbisik penuh penekanan menyuruh Pearl pergi.


Tak tahu apa ini sikap yang baik, Chorong dengan sepenuh tenaga, berlari menghampiri Pearl dan menariknya pergi. Meski ada Vampaneze yang berencana menyerang mereka, Krystal tidak membiarkannya, menghadang dan saling tempur. Mata tajam milik Dracula perempuan itu mengawasi kepergian Pearl dan Chorong memastikan tidak ada yang mengejar.


Hanya ini yang terpikirkan oleh Chorong, kembali ke villa, berpikir bahwa musuh tak mungkin datang lagi ke TKP disaat seperti ini. Meski menempuh perjalanan yang sangat jauh sambil memapah Pearl, Chorong tak bisa beristirahat, ia selalu menoleh ke sekitar, sangat was-was jika ada yang menyerang tiba-tiba. Dan baru bisa bernapas lega saat tiba di depan villa, yang sungguh mengejutkan. Villa itu tak lagi angkuh, pahatan seni di setiap bangunannya hilang tergantikan dengan api yang menyala, melahap semuanya dan begitu besar. Mungkinkah? tanpa sadar Chorong mengenggam tangan Pearl kuat, ketakutan.


Baru saja Chorong menduga, seorang Vampaneze keluar dari kumpulan api, bersiap menyerang mereka dan Pearl dengan sisa tenaganya menerjang lebih dulu. Saling menabrakkan diri, lalu mendorong keras Vampaneze itu untuk masuk ke dalam villa yang sepenuhnya dilumat api. Tak dinyana kekuatan Pearl mampu membuatnya terbakar. Meronta dan ingin melepas diri, Pearl memutar lehernya hingga ia mati. Melempar tubuh itu ke dalam api, dan mundur, berbalik mendekati Chorong yang terjatuh, terpuruk diatas tanah saking syok melihat hal tadi.


Pearl mengulurkan tangan. “Kita pergi dari sini!” suruhnya penuh penekanan, suaranya berat dan dalam. Chorong ragu, dan Pearl tumbang dihadapannya, masih setengah sadar, ia menatap mata Chorong.


Sempat bersitatap dalam sepersekian detik, Chorong merasakan hal aneh yang menyala di lehernya, meraba tempat itu dan kemudian menarik tangan Pearl. Entah kenapa ia mengenggam jemari pria itu, yang dingin dan hampir tak berdenyut, menuju parkiran mobil dan beruntung api belum menjalar ke mobil Himchan. Memecahkan kaca dengan dahan yang ada, sedang Pearl meringis menahan sakit di seluruh tubuhnya, terburu-buru Chorong terus saja melirik api, dan terhenyak kaget dengan mobil yang meledak akibat api menyentuh mereka, menjalar sepanjang parkiran dan dalam waktu singkat saja bisa membuat mobil Himchan ikut meledak.


“Aah! Ppali [Cepat]!” berhasil, Chorong membuka pintu mobil dengan manual tak mempedulikan bunyi tanda pencurinya yang terdengar nyaring. Menyuruh Pearl masuk ke samping kemudi, dan Chorong bersiap menstarter, mematikan sistem sirene. Menggunakan kunci mobil Himchan yang sangat ia syukuri berada ditangannya, karena Himchan menyuruhnya menyetir saat pulang jika ia mabuk berat. Melaju tepat mobil disebelahnya dalam masa darurat, dari jarak yang memisahkan, Chorong membuang napas lega di detik mobil itu meledak dan mereka sudah pergi.


“Aakh, haah, haa, hiks hiks.” Sambil menyetir cepat Chorong mulai menangis, tersedu. Ia baru saja melihat teman-temannya mati, tatapan mata Himchan sebelum menghembuskan napas terakhirnya, diserang dan meledak, ini membuatnya sangat sedih. Hatinya tersayat, menjerit sangat keras karena rasa sakit yang tak terbendung.