
‘Bagimu Perasaanku Bernilai Nol’
Sudah 8 tahun terakhir aku menyukainya, dan tak ada balasan apa pun, selalu tatapan itu, ekspresi dan kata-kata dingin yang kuterima. Terluka? Sakit hati, tentu saja, itu sudah menjadi cemilanku setiap hari, tapi entah kenapa, aku masih saja menyukainya, masih selalu melihat ke arahnya. Tersipu melihat senyumannya, dan bersedih kala ia terluka.
Hingga, aku memaksakan sesuatu, dan pertamakalinya aku berpikir untuk menyerah padanya.
~izone.chufiction~
Miyawaki Sakura, bukanlah gadis yang bisa dianggap biasa, selain karena memiliki wajah cantik, senyum ramah, penuh ambisi dan semangat, dia termasuk kalangan elite, berasal dari keluarga kaya yang kerapkali selalu muncul di televisi. Ayahnya seorang professor di kampus ternama, sedang ibunya adalah hakim yang disegani. Sakura sedikit sulit digapai oleh banyak pria di sekolahnya.
Namun, anehnya, satu pria bernama Takada Kenta, justru selalu mendorong dia menjauh meski secara terang-terangan Sakura mengaku menyukainya, kabar yang sempat menggemparkan dan membuat semua orang tak percaya. Pasalnya, Kenta adalah teman SD Sakura dulu, meski tidak dekat, Kenta memperlakukannya dengan kasar.
Dan puncaknya terjadi saat ini, ketika festival sekolah diadakan. Kenta menyatakan cinta dan mengajak Miu berkencan. Sakura segera saja meninggalkan stand kelasnya, berlari menuju luar sekolah dan menatap keduanya setelah menerobos kerumunan. Sakura tak peduli, meraih tangan dan menatap manik mata Kenta.
“Kenta-chan, apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Bisa kau lepaskan tanganmu dariku?” dingin Kenta. Sakura malah mengeratkan pegangan, tersenyum canggung, mencoba tersenyum seceria biasa. “Kau tidak lihat aku sedang bicara dengannya.” pandangan Kenta sepenuhnya milik Miu, menunggu gadis berambut ikal panjang dengan wajah dewasa yang cantik itu menjawab ajakannya.
“Tidak boleh,” tolak Sakura.
“Baiklah, ayo kita berkencan.” jawab Miu.
~izone.chufiction~
Sekaleng minuman diletakkan tepat di depan Sakura yang sedang menekuk wajahnya di atas meja, entah pikirannya melayang kemana, yang jelas ia malas mengikuti pelajaran olahraga. Jika orang yang memberi minuman ini mencoba merayunya masuk kelas, maka bisa dipastikan Sakura akan meneriakinya. Ia butuh waktu, ia masih dalam masa berkabung karena patah hati.
“Setahuku, Miyawaki Sakura adalah gadis penuh semangat dan ambisi. Lagipula mereka tidak menikah, hanya berkencan …”
“Aku juga punya harga diri,” sela Sakura, suara berat milik Yuto langsung terdiam. Ia mengerti, tapi tetap saja melihat sahabatnya terpuruk adalah hal yang ia benci.
Sakura mengangkat wajah untuk menatap Yuto, yang tersentak kaget karena bukan hanya wajah lesu yang ia lihat, melainkan kedua hazel cantik Sakura yang sudah berlinang airmata. Perlahan, Sakura menahan airmatanya, menyeka santai, dan membuka minuman, meneguknya sampai habis. Kini pandangannya beralih pada jendela kelas, di sana, terpampang graffiti buatannya, gambar dirinya dan Kenta, sambil berpegangan tangan.
“Kau harus menghapusnya, sebelum walikelas menghukummu lagi.” Suruh Yuto dan berbalik pergi, ia tak tahan.
~izone.chufiction~
Bohong jika Sakura tak lagi peduli pada Kenta, nyatanya ia sedari tadi menghiraukan pelajaran dan selalu melirik ke arah pria tersebut. Beruntung tempat duduk Kenta paling depan darinya, jadi tak perlu khawatir ketahuan, Sakura hanya ingin melihatnya untuk waktu lama, sebelum mengakhiri perasaannya.
Dengan wajah yang sudah lebih baik, Sakura tersenyum manis sembari memangku dagu dengan tangannya memperhatikan Kenta, yang terkadang memperhatikan guru, menulis dan duduk tegak. Hal kecil apa pun selalu menarik bagi Sakura, saat ini ia bahkan melupakan hubungan Kenta dan Miu yang memutuskan untuk pacaran.
Hingga, dalam gerakan selanjutnya, Kenta berbalik menatap Sakura yang refleks kaget, mencoba duduk tegak melihat lurus pada guru, namun, Sakura rasa Kenta masih melihat ke arahnya. Detak jantungnya jelas tak beraturan, meremas-remas jari jemarinya gugup. Mendadak ia kembali ingat Kenta sudah jadi milik oranglain.
~izone.chufiction~
“Kau yakin tidak ingin diantar?” tanya Takahashi Juri, saat Sakura harus pergi ke ruang pengurus OSIS demi menyerahkan laporan festival yang lengkap.
“Tentu saja, pergilah!” usir Sakura disertai senyuman. Ia pun melangkah riang, saat tak terduga, tangannya ditarik seseorang. Sakura kini tertahan di koridor pojokan bersama dengan tangan Kenta yang bertengger di tembok. Mata mereka saling bertemu.
“Berhentilah, kumohon padamu!” suara Kenta jauh dari kata ‘ketus’, sama sekali tidak bernada dingin, penuh penekanan seakan-akan ia tengah tersiksa, dengan mata yang menyiratkan keputusasaannya. Sakura tak bisa membalasnya, perasaannya bergemuruh tak jelas, yang pasti ia merasa sangat terluka, sebesar itukah Kenta benci padanya sehingga memelas menyuruh ia berhenti.
Kenta menurunkan tangannya, hendak pergi, namun Sakura malah mengenggam tangan itu. Sekilas, Sakura merasakan ketegangan dalam sentuhan tersebut, yang segera dihempaskan Kenta.
~izone.chufiction~
Dilihatnya Kenta sedang berjalan menghampiri Miu, jika bukan karena Juri yang menyenggol dan menyuruhnya cepat jalan, Sakura pasti akan terus melihat pasangan baru itu. Tak lama Yuto datang dengan setengah berlari menyusul, memanggil nama Sakura. Kenta sempat terhenti mendengar panggilan tersebut, melirik sekilas pada ketiganya.
“Kau akan terus seperti ini? Hanya karena bilang ia akan menyerah jika ada perempuan yang kau sukai?” tanya Miu, Kenta menatapnya, tersenyum kecil.
“Aku hanya perlu melakukannya sampai kelulusan,”
“Kau juga menyukainya, kalian saling suka, jadi kenapa?”
“Bukankah sudah kukatakan, itu pertanyaan tabu yang tidak boleh kau tanyakan.” Kenta nyatanya adalah pria hangat yang ramah, dia memperlakukan oranglain dengan santai. Seperti saat ini, mengelus kepala Miu sekali dan berjalan lebih dulu. Gadis itu mendesah, ia seakan-akan menjadi perusak hubungan oranglain.
~izone.chufiction~
Jika setiap hari, Kenta selalu mendengar suara cerewet Sakura, kini itu tergantikan dengan Sakura yang selalu protes pada Yuto, karena menjahili Sakura sejak tadi. Biasanya kursi di depan Kenta akan bergerak berisik saat Sakura duduk, memangku dagu dengan tangannya, terang-terangan memperhatikan Kenta, ikut nimbrung akan apa yang Kenta lakukan, hingga pria itu bangkit dari kursinya dan pergi. Sakura tak menyerah, terkadang mengikuti.
Selalu ada sekotak susu pisang dengan roti kacang di atas meja Kenta, dan jika Kenta tak masuk, Sakura selalu menghubungi, memberi kata semangat dan lekas sembuh, juga catatan lengkap untuk pelajaran hari itu.
Apa yang biasa Sakura lakukan, kini hilang. Dan entah kenapa, Kenta malah merindukan itu, ia tak benar-benar ingin mendorong Sakura menjauh darinya. Hatinya ikut terluka, saat ia mengucapkan kata dingin, saat Sakura kecewa, dan kala bibir kecil itu memanggil lirih namanya.
~izone.chufiction~
“Takada Kenta,” panggil Sakura, berada di depan Kenta yang tengah berjalan sendiri untuk pulang. Mereka saling berhadapan, dan Kenta akui, dia berusaha keras untuk terlihat biasa, Sakura sendiri tampak canggung, kelihatan jelas mencoba bersikap acuh.
“Kau meninggalkan ini,” Sakura menyodorkan buku catatan Matematika milik Kenta yang tak sengaja tertinggal di meja. Kenta malah mengepalkan tangannya, kenapa disaat seperti ini Sakura masih mempedulikannya, Kenta membutuhkan catatan itu untuk ulangan besok.
Karena tak kunjung dibawa, Sakura salah tingkah sendiri, dan yang pasti ia ingin segera pergi, sebelum kembali terjatuh pada pesona Kenta. Ia sendiri yang bilang akan berhenti saat Kenta menyukai perempuan lain, tapi kenyataannya tak semudah itu.
“Kau tidak akan mengambilnya?” tanya Sakura sekedar menghilangkan suasana aneh ini, biasanya Kenta langsung menyambar apa yang disodorkan Sakura dengan kasar, entah berapa tahun lalu perubahan sikap Kenta yang menjadi dingin sudah jadi keseharian Sakura.
“Pergilah!” satu kata, Kenta berjalan melewatinya, Sakura menurunkan tangan, memperhatikan buku catatan Kenta yang selalu ia sukai. Disana ada tulisan tangan Kenta yang selalu ia puji, selain rapi juga begitu cantik.
“Kenta-chan,” panggil Sakura keras, Kenta berhenti, dalam posisi memunggunginya. “Aku tidak bisa berhenti, aku tidak akan berhenti menyukaimu. Kau boleh mendorongku menjauh, tapi aku akan selalu mendekat. Aku akan menunggumu, saat kita sama-sama menjadi orang dewasa, maka saat itu kau akan membuka hati padaku.”
“Jangan bicara lagi,” Kenta menatapnya, tegas. “Kau tidak bisa bicara seenakmu. Menungguku? Itu bukan lagi hakmu, kau tidak boleh menunggu pria yang sudah dimiliki oranglain, sadarkan dirimu. Kau hanya perlu berbalik dariku, dan menemukan pria lainnya. Hidup kita bukan waktu yang sedikit.”
“Jarak dan ukuran waktu bagimu mungkin lama, tapi bagiku, itu adalah waktu-waktu berharga, karena perasaanku yang tulus dan menyukaimu apa adanya. Memangnya kau tahu apa, selama ini aku juga berusaha untuk berpaling darimu. Kau tidak tahu kan rasanya menyukai seseorang selama 8 tahun. Mungkin bagimu aku ini gila, perasaan ini hanya sebuah obsesi, tapi, apa yang harus kulakukan jika hatiku masih saja tertuju padamu, bahkan sekarang pun!” ungkap Sakura setengah berseru.
“Maka dari itu pergilah, kau punya orangtua yang kaya, lakukan apapun asal kau tidak melihatku!” Kenta balik berseru. Sakura tersinggung, kenapa Kenta harus mengusirnya, tak bisakah, Kenta berbaik hati, menghibur dan menyuruhnya berhenti dengan cara yang baik. Jika setiap kali Kenta menyuruhnya berhenti dengan tatapan mata itu, Sakura mana bisa melakukannya.
“Aku adalah zona terlarang untukmu, kau tidak boleh memasuki batasanku.” lanjut Kenta dengan nada rendah, ia harusnya tidak berteriak.
“Aku mengerti, bagimu, perasaanku tidak bernilai apa pun. Kau menilai kosong untuk perasaanku, sama seperti balasan surat kosongmu padaku setiap saat aku mengirim surat, sama seperti kau menganggapku tidak ada selama ini.” Sakura juga tampak lebih tenang.
Sakura mendekati Kenta, menarik tangan pria itu dan meletakkan buku Matematika di telapak tangannya. Setelah itu melangkah mundur, menatap manik mata Kenta, dan tersenyum kecil.
“Lain kali, kumohon, pikirkanlah berapa nilai yang akan kau berikan padaku, sebelum menutup matamu. Nilailah perasaanku sebelum kau menyembunyikan perasaanmu.” tutur Sakura lembut, dan berbalik pergi. Dan Kenta masih tak beranjak, ia tak ingin menghalangi langkah itu. Tak seharusnya ia jatuh hati pada Sakura.
~TAMAT~