You're Fiction

You're Fiction
April Story -02



“Kim Chaewon antarkan coklat ini ke meja no 5!” suruh manajer sekaligus pemilik kafe coklat itu, Chaewon dengan tanggap melakukannya, dia dan manajer sangat akrab, mereka sudah seperti adik kakak. Bahkan manajer Park itu siap membantu Chaewon jika dia akan pindah dari rumah pamannya.


Chaewon berbalik menuju meja kasir, tepat saat pintu kafe terbuka. Soonyoung, Dokyeom dan Mingyu masuk ke dalam dengan heboh, mereka membicarakan tarian dan latihan tadi. Gugup tanpa alasan, Chaewon berbalik tak jadi menyapa dan berjalan cepat agar Soonyoung tidak melihatnya.


Entah kenapa Chaewon berpikir untuk bersembunyi.



Sekilas, Soonyoung sempat terdiam, dia merasa melihat Chaewon. Namun panggilan Dokyeom untuk menyuruhnya segera duduk membuat Soonyoung mengalihkan pikirannya itu. Mingyu tengah memesan coklat, dia bersikeras mengajak keduanya untuk mencoba coklat di kafe itu dan promosi habis-habisan kalau coklatnya sangat enak.


“Oh Mingyu-ssi kau datang lagi, bersama siapa?” sapa Manajer Park, senyum dimplenya terlihat dan Mingyu membalasnya dengan senyuman yang memperlihatkan taring gigi, mengerling nakal.


“Aku membawa teman pria kok, hyung.” cengirnya. “Ah iya, mana Chaewon-ssi, dia biasanya sangat cerewet dan menyuruhku memilih coklat pilihannya. Tapi pilihannya memang enak,” keluh Mingyu bercanda.


“Tadi dia habis dari meja no 5, haruskah kupanggil dia?” tanya Manajer Park menggoda.


“Aish tak perlu, suruh dia yang mengantar coklat ke mejaku ya.” setelah itu Mingyu kembali ke meja mengobrol dengan Dokyeom dan Soonyoung yang sedang berdebat seru. Jika sudah bersama mereka pasti heboh.


Gadis berusia 15 tahun itu menangkupkan kedua telapak tangannya memohon untuk tidak mengantar pesanan coklat untuk Soonyoung, Manajer Park mengernyitkan dahi tak mengerti.


“Apa ada yang mengenalmu selain Mingyu di meja itu? Atau kau menyukai salah satunya?” Glek, tangkupan tangan Chaewon mengendur, berpikir kenapa dia harus bersembunyi dari Soonyoung.


“Hm bukan begitu. Baiklah aku akan mengantarnya,” yakin Chaewon detik selanjutnya, hingga sampailah ia di meja no 7, ketiga pria itu serentak menoleh ke arahnya. Dokyeom berseru ria, Soonyoung terkejut dan diakhiri senyuman manis sedang Mingyu tampak bingung.


“Kau bekerja paruh waktu disini?” tanya Soonyoung terpukau, bukankah 15 tahun usia yang terlalu muda untuk bekerja setelah sekolah? Atau dia saja yang tidak tahu kalau ini sudah zamannya. Chaewon mengangguk, setiap kali Soonyoung bicara ia tak bisa membalasnya, entahlah rasanya ia takut salah mengatakan sesuatu. Mingyu menyenggolnya hingga Chaewon sadar dan segera menyimpan coklat di meja.


“Selamat menikmati.” Ucap Chaewon hanya dengan anggukan dan tatapan, Dokyeom merasa penasaran, sedang Mingyu merasa ada yang janggal. Sebelum sempat komentar Chaewon pergi salah tingkah.


“Wah apa dia baru saja pergi begitu saja?” kaget Dokyeom.


“Hm, aku lebih penasaran kenapa dia tidak pernah bicara?” bingung Soonyoung, dalam hatinya ia merasa senang karena perasaannya benar kalau Chaewon berada disini.


“Dia sedang sakit mungkin, biasanya dia sangat cerewet, coklat yang kupilih ini adalah coklat dari Paris, adalah coklat pilihannya dulu.” celetuk Mingyu. “Hey, darimana kalian mengenalnya?”


Dokyeom mengerling Soonyoung.


“Aaah aku juga tidak mengenalnya, bahkan namanya juga tidak tahu!” cengir Soonyoung.



Sudah hampir dua jam dan Jinsol masih saja merengek untuk bisa membeli piano terbaru yang suaranya sangat jernih, sedang Chaewon hanya bisa menghela napas terganggu, dia tidak bisa mengerjakan tugasnya membuat lirik lagu, terlebih ia masih sulit merangkai kalimat, hingga yang ada hanyalah kertas kosong yang berada di atas meja. Perlahan, Chaewon mengambil gitarnya dan turun ke bawah. Teriakan Jinsol yang mengancam tidak akan makan dan sekolah memekakkan telinga, Chaewon menatap paman yang sibuk memarahi Jinsol dan tak peduli anaknya itu mau makan atau tidak.


Merasa dipandangi paman beralih melihat Chaewon.


“Sedang apa kau?” sentaknya.


“Aku pergi dulu, aku harus menyelesaikan tugas.” izin Chaewon meski sebenarnya ia tahu pamannya tidak peduli kemana ia akan pergi. Memberi salam dan beranjak menuju pintu rumah.


“Pergi saja, dan tak perlu kembali lagi!” seru paman disusul suara Jinsol yang merengek ingin piano.


“Pokoknya aku ingin piano baru!” setelah itu cekcok keduanya kembali dimulai. Chaewon masih bisa mendengarnya dan mempercepat langkah untuk pergi.


Setibanya di taman, Chaewon duduk menyendiri di atas bangku dengan ditemani buku not nya dan gitar di pangkuan, sesekali ia tampak sibuk menulis beberapa kalimat dan mencoretnya lagi, wajahnya terlihat kusut karena tidak bisa menemukan titik cerah untuk membuat lagu, tugas ini terasa sulit baginya.


“Wah kebetulan sekali kita bertemu disini!” sapa Soonyoung mengagetkan Chaewon hingga jantungnya berdetak keras, tubuhnya terlonjak. “Maafkan aku, aku mengagetkanmu lagi!” sesal Soonyoung.


Chaewon menggeleng kecil, menata detak jantungnya agar kembali normal. Soonyoung tanpa sengaja melihat coretan kalimat di buku Chaewon.


“Apa kau sedang membuat sebuah lagu?” tanya Soonyoung penasaran, ia melirik gitar yang masih setia di pangkuan Chaewon, “Kau bisa memainkan gitar? Wah hebat!” wajah Soonyoung berseri, matanya menyipit lagi, senyumnya sangat cerah. “Sepertinya kau masih belum menemukan kalimat untuk mengawali lagumu.”


Kali ini Chaewon mengangguk, “Maukah kau mendengar saran dariku? Sebenarnya aku tidak ingin menyombongkan diri, tapi aku cukup yakin kalau aku bisa menulis lagu.” tawar Soonyoung dengan senyum akrab. Ah benar, Soonyoung membuat lagu untuk grupnya, Chaewon merasa bersyukur. Dia langsung mengangguk senang, tersenyum kecil. “Baru kali ini aku melihatmu tersenyum,” canda Soonyoung, Chaewon tampak malu.


“Baiklah, pertama boleh aku disini?” tanya Soonyoung menunjuk bangku yang di duduki Chaewon, gadis itu mengangguk, memindahkan letak bukunya lebih dekat dengannya agar Soonyoung bisa duduk dengan nyaman. “Lagu seperti apa yang kau inginkan?” tanya Soonyoung setelah duduk, Chaewon berpikir, jujur saja ia belum menemukan tema untuk lagunya. Soonyoung mengerti.


“Sepertinya aku harus menjelaskan dari awal, ini dari pengalamanku saja. Bagaimana kalau kau membuat lagu dengan tema cinta? Umum sih, tapi hampir semua lagu mengandung unsur cinta. Aku pernah membuat lagu yang seperti itu.” Soonyoung bicara penuh semangat. Tanpa ragu ia terus menerangkan spekulasi dan pendapatnya membuat lagu.


“Ah begitu rupanya,” angguk Chaewon mengerti, melihat setiap gerak tangan Soonyoung yang menulis kalimat awal tentang apa yang dia rasakan terhadap sesuatu. Soonyoung terhenti, terdiam dan menatap Chaewon dalam keadaan membeku.


“Kau baru saja bicara? Benarkan? Tadi kau bicara ‘Ah begitu rupanya’, wah kenapa kau baru bicara sekarang?” cerocos Soonyoung. Chaewon tersenyum, ia kini sudah tidak merasa canggung dan kaku.


“Hm, aku tadi bicara begitu, apa terdengar aneh, wajah sunbae terlihat terkejut sekali.” jawab Chaewon, Soonyoung bernapas lega, terkekeh kecil.


“Suaramu lucu sekali, harusnya kau bicara sejak tadi agar aku tidak terlihat gila terus berceloteh.” tawa Soonyoung, Chaewon ikut tertawa kecil. “Jadi siapa namamu?” penasaran Soonyoung, ia sengaja tidak ingin tahu nama Chaewon dari Mingyu, berharap bisa mendengar langsung dari gadis di sampingnya itu.


“Kim Chaewon,”



Esok paginya, Chaewon sudah berada di dapur memasak sarapan untuk keluarga paman, menyambut mereka dengan tersenyum senang, sedang paman, Jinsol dan bibi menatap tak percaya padanya. Setelah itu Chaewon izin pamit untuk berangkat sekolah tentu dengan membawa bekal makanan dan menyimpannya di ransel sembunyi-sembunyi. Sepanjang perjalanan Chaewon senyum-senyum sendiri, suasana hatinya sedang baik, mekar seperti bunga yang ia lewati saat ini.


Di tempat lain. Soonyoung melangkah dengan ceria, menyusul Dokyeom dan Mingyu yang ada di depannya, ia mengagetkan keduanya dengan merangkul mereka. Memberikan senyuman mata sipitnya.


“Sepertinya kau sedang senang.” celetuk Dokyeom.


“Ada apa? Ayo cerita!” pinta Mingyu.


“Entahlah.” Jawab Soonyoung tak tahu pasti, dia hanya merasa senang saja.


Waktu berlalu, selama beberapa hari ini Soonyoung dan Chaewon belajar bersama membuat lagu. Tak jarang Chaewon datang ke ruangan latihan Soonyoung selepas pulang sekolah, dan teman Soonyoung sudah memahami situasinya, mereka tak banyak berkomentar dan menerima Chaewon dengan baik.


Keduanya semakin akrab, percakapan mereka pun sudah berkembang tak hanya mengobrol mengenai lagu maupun bertanya nama, mereka sudah saling bercerita hal-hal lain seperti hobi, musik dan menari. Hanya tentang keluarga yang belum dibahas, karena Chaewon selalu mengalihkan pembicaraan jika mengenai hal itu, ia tidak bisa bercerita jika satu tahun ini hidupnya terkurung.



Di kafe.


Soonyoung menunggu Chaewon mengantarkan Dark Chocolate Coumpound ke mejanya, coklat batangan yang berwarna pekat dimana rasa coklatnya lebih terasa dan tidak mengandung susu. Kali ini coklatnya dikreasikan berbentuk not, bunga sakura dan love.


“Wuah kelihatannya enak,” seru Soonyoung setibanya Chaewon di sana, menyimpan coklat itu.


“Lain kali akan kubuatkan kue dengan coklat ini sebagai riasannya kalau sunbae mau.” tawar Chaewon tidak duduk, saat ini ia masih bekerja.


“Benarkah? Aku tidak sabar ingin mencicipinya.” senyum Soonyoung dan beralih melihat bentuk coklat yang lucu-lucu. Senyuman akrabnya berubah menjadi senyuman manis dan berseri, “Apa ini pernyataan cinta darimu?” celetuk Soonyoung mengagetkan Chaewon, pria yang satu tahun lebih tua darinya itu menunjuk coklat berbentuk love. Chaewon tergagap, segera mengibaskan tangannya cepat.