You're Fiction

You're Fiction
Mirror Scene -02



“Lalu aku?” tanya gadis itu menatap manik mata Wonwoo, meminta penjelasan.


“Kau, tentu saja pacarku, yang lainnya.” hati Nayoung mencelos. Apa yang baru saja Wonwoo katakan? Mungkinkah ia salah mendengar? Sedang gadis itu tampak mendesah kecewa.


Kesabaran gadis itu cukup menakjubkan, ia masih bertanya dengan nada serendah mungkin meski penuh penekanan, “Berapa lama kalian sudah bersama?”


“Tiga tahun.” jawab Wonwoo, Nayoung tak percaya kalau Wonwoo bisa sejahat ini, gadis di depan mereka tampak terluka.


“Selama itu? Dan aku tidak tahu. Jadi siapa yang akan kau pilih, aku atau dia?” Wonwoo tersenyum miring, mencibir pertanyaan itu seakan ia sudah bisa menebaknya.


“Tidak ada.” jawaban Wonwoo mampu membuat Nayoung dan gadis itu terhempas menuju rasa sakit yang dalam.


“Kalau begitu kita putus!” geram gadis itu.


“Baiklah.” senyum Wonwoo seakan menikmati situasi saat ini, Nayoung menatap Wonwoo ngeri, inikah sosoknya yang lain?


“Br*****k, dasar ba*****n, pria jahat.” maki gadis itu dalam gerak bibirnya, masih mencoba bersabar.


“Hm, aku memang pria jahat. Jadi mau bagaimana lagi, kau bisa meninggalkanku sekarang juga.” dingin Wonwoo, disela Nayoung.


“Hentikan, jangan bicara apa pun lagi!” pinta Nayoung pada Wonwoo tanpa melihat pria itu, rasanya sulit melihat Wonwoo setelah mendengar dan mengetahui sisi gelapnya hubungan mereka, juga sifat jahat Wonwoo. “Aku minta maaf jika dia sudah menyakitimu. Aku benar-benar minta maaf karena membuatmu terluka. Maafkan aku, tapi bisakah kau meninggalkan kami berdua?” tanya Nayoung memohon.


“Aku tidak percaya kenapa kau yang meminta maaf. Baiklah, aku akan pergi.” setelah itu ia berbalik dan pergi meninggalkan mereka. Nayoung masih menunduk menahan airmata dan menstabilkan detak jantungnya yang terasa sesak karena sakit dan sedih.


“Apa kau ingin penjelasan?” tanya Wonwoo menunjukkan wajah tanpa dosanya, berbalik melihat Nayoung.


“Tidak,” geleng Nayoung, “Aku ingin kita melanjutkan kencannya.” lanjutnya mengepal tangan menahan amarah.


“Dengan kondisi seperti itu?” Wonwoo melirik kepalan tangan Nayoung juga matanya yang memerah. “Jangan bersikap sok kuat, aku tahu kau juga ingin memakiku. Mau bagaimana lagi, aku memang memacari kalian berdua.”


“Hentikan, kau tidak perlu melanjutkan. Ini adalah kado ulangtahunku, karena itu jangan katakan apa pun. Jika kencannya selesai maka kau boleh mengatakannya!” pinta Nayoung kukuh. Wonwoo takjub akan hal itu, meski begitu ia hanya berekpresi dingin dan berjalan mendahului Nayoung.


~ ~ ~


Halte bus, pukul 8 malam.


“Filmnya seru, aku suka. Apalagi saat mereka saling terbuka dan berbagi, persaudaraan mereka sangat unik. Kupikir Go Doo Yeong bisa melihat lagi. Sedih sekali kakaknya malah meninggal.” cerocos Nayoung membicarakan film yang baru ia tonton dengan Wonwoo, My Annoying Brother.


“Adegan paling menarik saat Dooyeong bertahan di babak akhir, dan menangis memanggil hyung nya, menyentuh sekali.” Nayoung terus bicara tanpa memerlukan tanggapan Wonwoo dan sikapnya yang super dingin.


“Wonwoo-ya, kau tidak perlu mengantarku, aku akan pulang sendiri.” ujar Nayoung yang mengisyaratkan kalau dia ingin sendiri, juga tak ingin mendengar apa pun dari Wonwoo, sebisa mungkin ia ingin menyangkal kenyataan kalau Wonwoo selingkuh darinya. Tidak untuk hari ini, hari setelah ulangtahunnya.


Bus tujuan Nayoung sudah datang, perlahan Nayoung berjalan menuju bus begitupun dengan yang lainnya. Tapi Wonwoo mencengkram tangannya, menahan langkah Nayoung yang terhenti dan tidak berani berbalik ke arah Wonwoo.


“Aku harus pulang, ini sudah jam 10 malam, orangtuaku pasti akan marah.” kekeh Nayoung berusaha menyamarkan suara seraknya yang akan menangis, tapi cengkraman Wonwoo tidak mengendur, semua orang sudah naik.


Nayoung memaksakan diri berbalik, menatap wajah Wonwoo. “Besok, kita bicara besok saja. Aku akan menemuimu seperti kemarin.” senyumnya dengan wajah merah.


“Tidak, ada yang ingin kujelaskan.” ucapan Wonwoo berhasil meluluhkan pertahanan Nayoung, dalam sekejap airmatanya menetes bersamaan dengan laju bus yang menjauhi mereka.


Wonwoo melepas cengkramannya, berdiri tegak tanpa penyesalan. “Kita putus, mulai sekarang kau tidak perlu menemuiku, bahkan jika kita berpapasan kau tidak perlu menyapaku. Jika ini sulit untukmu, kau harus melupakannya secepat kau bisa, yang pasti kita tidak punya hubungan apa pun lagi.” tutur Wonwoo lugas mengakhiri hubungan diantara mereka. Nayoung menangis tersedu.


Inikah jawaban dari penantian dan kesetiaannya. Dari semua usahanya untuk menyatakan perasaan, mempertahankan hubungan dan mencintai Jeon Wonwoo? Ia tahu, sangat mengetahuinya dengan pasti, Wonwoo menerimanya bukan karena cinta, bersamanya sekedar karena ia yang bertahan sendirian, dan memperlakukannya dengan dingin tanpa perhatian.


“Wonwoo-ya,”


“Jangan bertindak bodoh! aku mengagumi sifat positif dan keteguhanmu, juga sikapmu tadi, tapi ini harus berakhir. Kau bukan wanita bodohkan? Kau tahu kalau aku tidak mencintaimu dan hanya menjalani hubungan ini sebagai senang-senang.” sela Wonwoo, Nayoung mengigit bibir bawahnya menahan isakan.


“Annyeong.” ucap Wonwoo berbalik pergi.


Tidak langsung pulang, Nayoung berjalan-jalan kecil untuk menyendiri dan menghapus airmatanya, berharap kantung matanya tidak membengkak. Mendesah dan terus mendesah, rasanya ia seperti orang bodoh, terlebih setelah mendengar dan mengulang ucapan Wonwoo di benaknya itu, seakan bom besar yang membuatnya begitu terluka adalah dirinya sendiri, dan itu memang benar. Ini salahnya, harusnya ia mengakhirinya sejak dulu.


Saat Wonwoo mengabaikan hari ulangtahunnya, tidak memberinya hadiah, menolak ajakannya untuk kencan, mengabaikannya saat bertemu teman, dan membalas pesan jika ia yang pertama menghubunginya, juga ketika Mingyu dengan tegasnya menyuruh Nayoung memutuskannya, karena sifat dingin dan ketidak romantisan Wonwoo.


Mendadak ia teringat Mingyu, tangannya ragu untuk melihat ponsel, tapi tepat saat itu Mingyu menelepon. Dengan gemetar Nayoung mendial yes, menerima telepon.


“Kau dimana? Lama sekali mengangkat teleponku! Ini yang ke 36 kalinya aku menelepon!” protes Mingyu, Nayoung terdiam, bersyukur ada seseorang yang selalu memperhatikan dan menghubunginya. “Yakk, apa kau mendengarku! Jika kau merasa bersalah jangan harap bisa menyuapku dengan makanan, dan jangan beraegyo padaku, itu tidak mempan!” lanjutnya sewot, Nayoung tersenyum kecil.


“Mingyu-ya,” panggil Nayoung.


“Apa kau baru menangis? Suaramu menandakan kau habis menangis.” tebak Mingyu mendadak serius. Hati Nayoung membuncah menahan sesak akan kenyataan yang ada, rasanya lega Mingyu mengetahui tentangnya. “Nayoung-ah, dimana kau sekarang? Katakan dan tunggu aku!” cemas Mingyu menuntut jawaban dari Nayoung.


Satu jam berlalu.


“Aku menyedihkan bukan, aku merasa seperti seorang idiot, babocheoreom.” kesah Nayoung.


“Hm, kau benar,” angguk Mingyu, Nayoung mengerucut. “Bersyukurlah karena kau tahu kebodohanmu itu dan bisa menghentikannya dari sekarang. Jadilah orang pintar, kuat, ceria dan secerah dulu lagi!” lanjut Mingyu merendahkan nada bicaranya diakhir kalimat. Nayoung termangu akan pemikirannya, lalu tersenyum kecil.


“Lama tidak bertemu kau berubah menjadi bijak, wah, aku terpukau.” canda Nayoung lalu melihat sungai Han di depannya, tidak menyadari tatapan Mingyu yang duduk di sampingnya itu, pandangan rindu juga lembut. “Menurutmu harus ku apakan si-Wonwoo itu, haruskah aku mengerusnya sampai bubuk, menghajarnya sampai babak belur atau memutilasinya?!” seru Nayoung mengubah ekspresi sedihnya dengan penuh dendam sekedar menghibur dirinya.


“Wuahh jahat sekali kau! Hm, kupikir kita harus menenggelamkannya di sungai dengan mengikatnya terlebih dulu!” sambung Mingyu, mereka terkekeh bersama, menikmati malam yang berakhir sedih akan hubungan Nayoung – Wonwoo itu dengan pertemuan antara sahabat.


Setibanya di rumah Nayoung.


“Gomawo, karena sudah mengantarku, juga menghiburku.” tulus Nayoung, Mingyu mengangguk.


“Masuklah ini sudah malam, paman dan bibi pasti khawatir. Mengenai pria itu jangan dipikirkan lagi, kau harus segera mandi dan tidur, dan besok teguhkan hatimu untuk tidak melihatnya lagi, fokus pada kuliahmu, kalau bisa habiskan waktumu dengan teman-teman, mendengarkan musik senang, menari seperti dulu. Ah, kalau kau mau, kau bisa menghubungiku jika ingin bermain, kita bisa bersepeda jauh kemana pun, karaoke, lomba makan ayam dan lainnya.”


“Hentikan, kau membuat kepalaku pusing.” kekeh Nayoung. “Kalau begitu aku masuk dulu.”


“Tunggu sebentar, sabtu sekarang aku ada lomba, jika kau ada waktu datanglah!” tawar Mingyu, dalam hatinya ia berharap Nayoung bisa kuat dan melupakan Wonwoo meski butuh waktu cukup lama.


“Hm, aku akan datang.” angguk Nayoung, janji.


~ ~ ~