
Kogyeol berjalan cepat dengan rasa marahnya. Yeeun datang menghadang mencegah Kogyeol melewatinya.
“Minggir kau!” Kogyeol mendorongnya keras, Yeeun tidak peduli dan kembali menghadang.
“Dengarkan aku, ini tentang Sehyung!”
“Untuk apa, kau juga ingin menyalahkanku seperti yang lainnya! Minggir jika kau tidak ingin kupukul!” kecam Kogyeol mendorong gadis itu kembali. Berjalan melewatinya, Yeeun mencengkram tangannya kuat. “Yakk kau benar-benar ingin kupukul!” sentak Kogyeol mampu menghempaskan genggaman Yeeun dalam sekali hentakan.
“Aku tahu bukan kau pelakunya! Aku percaya kau tidak membunuh Sehyung.” seru Yeeun dengan wajah menyakinkan. Kogyeol tidak mungkin membunuh Sehyung, Yeeun bisa merasakan cinta dari Kogyeol untuk Sehyung dan betapa mereka masih saling peduli satu sama lain.
“Dasar pembohong!” cibir Kogyeol.
Yeeun membuka blazer yang selalu ia pakai sejak masuk sekolah paska peristiwa mengerikan yang ia alami. Menunjukkan tangan kanannya yang jelas berbeda dari tangan umumnya. Menunjukkan tangan palsunya.
“Karena aku juga mengalaminya.” sedih Yeeun.
Malam hari.
Dengan spekulasinya Dongwoon datang ke sebuah rusun sepi, mengintai seseorang di balik tembok bangunan lain, hingga sosok pria mengenakan tudung hitam keluar, Dongwoon mengikutinya dengan hati-hati.
Derap kaki pria misterius yang bertubuh tinggi itu terdengar bergema, terus berjalan ke gang-gang. Sadar diikuti, dia hanya mengerling kecil ke belakang, sengaja masuk gang lebih dalam dan berbelok-belok, membawa Dongwoon dalam labirin buatannya.
Barulah ia bersembunyi saat Dongwoon kebingungan mencarinya. Tersenyum picik, pria itu kembali berjalan. Sayangnya Dongwoon tengah berdiri tepat di depannya.
“Kau pikir bisa mengecohku!” sinis Dongwoon dengan pandangan mata yang penuh kebencian, kemarahan dan dendam.
Pria itu berusaha untuk meloloskan diri, tapi Dongwoon sudah lebih dulu menghadang dan memukulnya. Perkelahian pun terjadi, Dongwoon cukup kuat, ia berusaha keras melumpuhkan lawannya dan menangkap psiko. Sedang pria yang mengenakan masker itu bertahan dengan baik, ia mengeluarkan batu andalannya, tapi Dongwoon sudah tanggap dan menahan pukulan batu itu dengan lengannya.
Karena perkelahian seimbang, pria itu memutuskan untuk berlari. Dongwoon mengejar, tapi kegesitan pria itu tidak bisa diremehkan. Dia berhasil kabur setelah Dongwoon menarik jaket dan mencakar lengannya tanpa disengaja.
Tubuh Yeeun menegang saat ia melihat orang di depannya, mereka tengah berjalan berlawanan arah di koridor sekolah. Tak bisa tersenyum atau menyapa Yeeun memberikan anggukan hormat pada Leo. Salah satu gurunya di sekolah.
Leo tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tanda menerima salam pun tidak. Tepat saat mereka berpapasan Leo menerima telepon. Pria tinggi itu segera mengangkatnya, menyingkapkan kemeja abunya sedikit ke bawah tanpa disadari. Yeeun melihat luka di tangannya, seperti bekas cakaran.
Sepanjang pelajaran Yeeun mengingat luka itu, sadar akan sesuatu Yeeun segera berlari keluar kelas mengacuhkan gurunya yang tengah mengajar dengan malas, melihat siswanya yang hanya ada 5. Melihat Yeeun pergi ia semakin enggan mengajar.
Yeeun berhadapan dengan Dongwoon dan mengatakan apa yang dilihatnya.
“Bukan dia, percayalah!” terang Dongwoon.
“Aku melihatnya, di tangan kanan. Ada bekas cakaran dan bukankah guru bilang, guru mencakarnya. Dia juga tinggi dan besar, aku selalu tegang setiap bertemu dengannya. Mungkin dia psiko itu.” terka Yeeun masih syok dengan kata psiko, selain orang jahat itu melukai dirinya juga karena dia sudah membunuh sahabatnya.
“Mungkin dia kebetulan terluka ditangan.”
“Tidak mungkin, sama-sama tercakar.”
“Pokoknya bukan dia, walaupun aku tidak melihat wajahnya, tatapan mata itu jelas bukan guru Jung.”
“Pandangan mata bisa berubah!”
“Aku melukainya di tangan kiri.”
“Saat itu malam, mungkin saja guru lupa kalau itu tangan kanan.”
“Aku jelas mengingatnya!” kukuh Dongwoon. Yeeun marah, dia merasa tersinggung.
“Lalu kenapa guru Jung menolak keras untuk melakukan penyelidikan di sekolah dan pendapat guru saat itu. Aku masih ingat guru dan guru Jung bertengkar saat kematian Sehyung, aku ada disana mendengar!”
Dongwoon teringat akan hal itu. Guru Jung bersikeras untuk menutup kasus Sehyung dan membiarkan para siswa juga orangtua tenang, bahkan jika bisa sekolah ditutup untuk beberapa waktu.
Walaupun begitu, Dongwoon menggeleng.
“Bukan dia.”
Dengan mata merah menahan amarah, kesedihan dan frustasi, Kogyeol datang menghancurkan palang polisi dan mengamuk, memanggil-manggil psiko untuk datang dan melawannya. Ia mengacung-acungkan pisau ke segala arah, terus memaki.
Yeeun datang mendekatinya, melihat apa yang sedang dilakukan pria itu. Berusaha mencari celah untuk bisa menghentikannya, Yeeun memastikan arah pisaunya. Dan kemudian mendorong tubuh Kogyeol.
Teman satu sekolahnya itu terhenti, menatap garang Yeeun.
“Hentikan, kau akan ditahan polisi jika seperti ini! Lagipula psiko itu tidak akan datang semudah yang kau pikir!” teriak Yeeun. Meski ia masih takut dan enggan melihat pisau, dengan terpaksa Yeeun merebut pisau itu dan menjatuhkannya sambil bergetar syok.
“Guru Son akan menangkapnya, aku percaya itu.” yakin Yeeun, “Dan Sehyung pasti tidak ingin melihatmu seperti ini, dia sangat menyayangimu.”
“Lalu kau pikir aku tidak?” tukas Kogyeol. Ia tahu tidak ada seorang pun yang percaya akan kata-katanya, tapi rasa cinta dan kasih sayangnya pada Sehyung adalah sebuah ketulusan. Ia bahkan menyesali kematian Sehyung lebih dari siapa pun, dan menyalahkan dirinya yang memutuskan juga mengusir Sehyung malam itu, seandainya ia bisa melindungi Sehyung.
“Aku tahu, kau begitu menyayanginya. Karena itu demi Sehyung jangan buat dirimu dalam bahaya!” timpal Yeeun tegas.
Mengenakan sepatu hitam selutut dengan tinggi 3cm, rok levis mengembang dan kemeja biru muda, Yooa tengah berjalan pulang menuju rumahnya. Dia baru saja pulang dari belanja, meski tidak membeli apa pun ia hanya mencari udara segar dan bermain banyak hal juga karaokean sendirian. Hatinya terasa hancur, kehilangan teman-teman dan kepercayaan.
Sebenarnya Yooa juga tidak ingin bersikap jahat pada Yeeun, walaupun mereka seringkali berdebat Yooa sama sekali tidak membenci Yeeun. Mereka bahkan pernah dihukum bersama karena terlambat dan lupa mengerjakan tugas, membersihkan toilet selama tiga hari dan menikmatinya bersama. Hanya saja Yooa tidak bisa menunjukkan simpati dan kepeduliannya, ia takut Jenny dan Sehyung dalam bahaya. Dan pada akhirnya itu terjadi, Yooa menghabiskan malam untuk menangisi kematian Sehyung.
Dan setelah menemui Jenny yang sakit Yooa tidak berani bicara apa-apa, dia akhirnya memutuskan pergi sendirian seperti sekarang.
Pukul 11 malam, tidak biasanya ia pulang cukup larut seperti hari ini. Pasti orangtuanya akan marah, Yooa juga mematikan ponselnya, ia butuh waktu sendirian.
Dalam renungan dan kesedihannya, tiba-tiba ia terkilir. Berhenti sejenak Yooa memeriksa bawah sepatunya yang membuat dia terkilir, cukup nyeri. Dan saat itu seseorang berdiri di depannya, mengenakan sepatu hitam yang mengkilat.
Was-was Yooa mendongak dengan perlahan, memperhatikan jeans dan jubah panjang hitam yang dikenakan orang asing itu.
“Aaah...” Yooa menjerit keras.
Dongwoon berlari cepat menerjang pria di depan Yooa. Meringkusnya dalam sekali tangkapan, 3 polisi keluar dan mengeluarkan borgol, segera menahannya.
Yooa mengigit kuku jarinya, syok dengan apa yang baru saja ia lihat. Sadar akan sesuatu yang janggal, Dongwoon berdiri memerhatikan pria asing itu, dia tidak berpakaian dan kancing jeansnya jelas tidak dipasang, membiarkan tubuhnya terekspos. Sial, dia bukan psiko hanya orang mesum yang suka mengagetkan dan menjahili perempuan dengan sengaja.
Son Dongwoon menghampiri Yooa, memastikan siswanya itu baik-baik saja.
“Apa benar dia pelakunya?” dengan ragu Yooa bertanya, psiko ini terlihat mesum. Dongwoon menggeleng, Yooa menghembuskan napas kecewa.
“Tidak apa, aku akan menangkapnya apapun yang terjadi, dan melindungimu.” ujar Dongwoon menenangkan. Perangkapnya gagal.
Diam-diam ia menemui Yooa, bicara berdua dengan gadis itu dan meminta bantuan. Sangat sulit untuk menyakinkan Yooa untuk ikut bergabung, tapi setelah Dongwoon mengatakan kemungkinan bahwa dirinya yang jadi target psiko selanjutnya, Yooa merasa cemas. Dengan keahlian kata-kata, tatapan dan keyakinannya, Dongwoon meluluhkan pertahanan dan penyangkalan Yooa mengenai apa yang terjadi pada teman-temannya. Yooa mengakui penyesalannya karena bersikap jahat dengan menjauhi mereka, dan ingin membantu menangkap penjahat yang sudah melukai Yeeun dan membunuh Sehyung.
“Lalu bagaimana dengan Yeeun?” tanya Yooa takut, cemas dan berharap penjahat itu segera ditangkap.
Terdiam sejenak, Dongwoon mendesis kasar, memaki dirinya sendiri. Yeeun bilang ia sedang bersama Kogyeol yang mengamuk dan menantang psiko itu untuk keluar. Mungkinkah, dengan cepat Dongwoon berlari.
Sementara itu, tak jauh dari TKP, Yeeun melirik jam tangannya berharap Kogyeol cepat datang. Dia bilang akan ke toilet. Sebelumnya Yeeun memaksa mengantar dia ke toilet, tapi Kogyeol bersikeras menolak dan berjanji tidak akan melakukan hal yang berbahaya. Tapi sampai 30 menit lamanya Kogyeol tidak datang.
Cemas, Yeeun segera menyusul. Berniat pergi ke toilet, namun seseorang menerjangnya kuat, membekam mulut Yeeun kuat. Mata Yeeun menyiratkan keterkejutan, ketakutan dan trauma, tak sanggup menggerakan tubuhnya.
Gudang tak terpakai, di tempat yang sama sekali tidak terjamah oranglain dan tidak diketahui Yeeun. Dengan tangan terikat di belakang diantara sandaran kursi yang ia duduki dan, Yeeun menatap sekelilingnya dengan hati sesak. Rasanya sulit untuk bernapas.
Pria bermasker berdiri di depannya, tersenyum sinis dibalik kain hitamnya melihat Yeeun yang sudah sadar. Seluruh tubuh Yeeun bergetar, tatapan mata itu sangat menakutkan. Di tangan psiko itu terdapat carit.
Tangannya terangkat ke depan dan mengayunkan caritnya.