
Paltry People [Orang Tak Berguna]
‘Wajar Bukan Jika Ingin Bahagia?’
Di sekolahku, hampir semuanya berasal dari kalangan elite, mereka menggunakan supir pribadi untuk antar jemput, makanan berbeda saat di kantin, dan tempat les mahal sepulang sekolah. Dibanding mereka, aku bukan siapa-siapa, hanya salah satu siswa yang mendapat beasiswa, dan itu pun hanya 1 tahun, untuk tahun depan, aku harus mendapat juara 1 lebih dulu di kelas agar tetap bertahan di sekolah ini. Karena itulah, setiap hari aku berjuang keras untuk belajar, menghapal dan mempelajari semuanya, berharap tak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisiku.
Tapi, saat ini, aku merasa sangat kesulitan. Gadis itu menggunakan kekuasaannya untuk menjadi juara 1, dan mungkinkah, beasiswa ku akan berhenti?
~izone.chufiction~
“Gila, ayahnya memberikan donasi sebanyak … [sensor] untuk biaya sekolah dan pengobatan di Afrika, dia bahkan berfoto bersama anak-anak disana. Kau tahu semakin jabatan ayahnya naik, akan kupastikan dia pasti akan semakin sombong.” Obrolan gosip tersebut memang dilakukan diam-diam, tapi Chaewon masih bisa mendengarnya. Mendesah berulangkali kala tahu akan hal tersebut, pantas saja Kim Sihyun bersikap menjengkelkan kemarin.
“Itu dia datang,” salah satu dari empat gadis tadi menyenggol lengan temannya untuk berhenti bicara, dan keempatnya serentak memberi senyuman manis nan ramah, yang jelas-jelas palsu. Sedang Sihyun dengan ditemani Wang Yiren, gadis paling cantik di sekolah itu membalas tersenyum. Chaewon muak melihatnya, rasanya seperti Sihyun dan Yiren adalah ratu sekolah.
“Kau kenapa?” tanya Jo Yuri, melirik wajah pucat Chaewon. Lalu mengalihkan pandangan pada objek yang tengah diperhatikan teman sebangkunya itu. “Mereka lagi? Kurasa kau salah paham, setahuku mereka baik kok. Ingat saat aku dibantu …”
Chaewon memberikan tatapan sebal, menyuruh Yuri berhenti mengingatkan. Dan memastikan jika itu hanya topeng belaka, Sihyun harus bersikap baik pada semua orang karena ayahnya seorang anggota kongres, yang mungkin sebentar lagi akan mencalonkan diri sebagai wakil presiden.
Tak tahu harus bersikap apalagi, Yuri merasa apa pun yang dibahas dan info yang didengar tentang Sihyun terasa buruk bagi Chaewon. Temannya ini menutup mata.
~izone.chufiction~
Dengan setengah membanting pintu, Chaewon menyahut ketus.
“Aku sudah besar, tidak perlu diantar lagi!” wajahnya mengeras menahan diri, ia sangat, sangat tak suka jika kakeknya sudah menunjukkan perhatiannya dengan berlebihan. Semenjak Chaewon tidak pulang dua hari demi belajar, kini kakek ingin mengantarnya sekolah. Jelas saja Chaewon menolak keras.
“Aku pergi,” dengan terburu Chaewon segera berangkat, kakek mengikuti, dan dengan sekali gerakan, Chaewon berbalik, melotot tak suka. “Jangan berani mengikutiku!” kecamnya, lalu setengah berlari keluar dari perumahan tersebut.
~izone.chufiction~
Mendelik penuh iri dan kesal, Chaewon memperhatikan Sihyun dan Yiren yang sedang dikerumuni beberapa pria, hanya demi mengucapkan dan memberikan hadiah ulangtahun. Sumpah, demi apa pun, Chaewon merasa dirinya lebih cantik, dia juga bisa imut disaat bersamaan, hanya, hanya satu yang ia tak punya, kekayaan.
“Nilaimu turun, daripada terus merasa tersaingi olehnya, lebih baik fokus belajar!” seperti alarm, tanda pengingat dari mulut Yuri terdengar nyelekit. Tanpa alasan, Chaewon mulai mudah tersinggung.
Berdiri meninggalkan bangku taman dengan buku berserakan akibat Yuri yang ingin mempelajari sosiologi, Chaewon tanpa kata berjalan pergi, Yuri baru saja akan memanggil, namun urung karena tahu akan diabaikan. Tak lama, Chaewon berjalan melintasi kerumunan tersebut, dan sialnya, Sihyun memanggil, menghampiri Chaewon, dengan senyumannya itu, yang diyakini Chaewon sebagai kebohongan, tersungging di wajahnya.
“Chaewon-ah, bagaimana, kau mau les di tempatku?” tawaran itu lagi, hampir saja Chaewon akan mengumpatnya, namun jika tak ingat dimana dan siapa saja yang melihat maka Chaewon memilih bersabar.
“Aku masih belum memutuskannya,” senyum Chaewon sewajar mungkin.
“Sayang sekali, padahal ada 1 kursi yang kosong, jika soal biaya biar aku yang bicara pada ayahku.”
Ini yang tidak disukai Chaewon, seakan harga dirinya diinjak, dan statusnya diremehkan. Tak bisakah Sihyun menawari dengan tulus? Mengatakannya di depan banyak orang, Chaewon tahu, Sihyun hanya ingin mempermalukannya.
Seperginya Chaewon, Sihyun tampak murung, Yiren menghampiri sembari menggelengkan kepala, iba pada Sihyun.
“Sepertinya dia marah padamu,” ucap Yiren mengingat ucapan Chaewon sebelum pergi, mengatakan jika ia tidak meminta uang untuk harga dirinya. “Dia, mungkin salah paham.”
“Padahal aku benar-benar …” terdiam sesaat, Sihyun merutuki kebodohannya, ia tahu letak kesalahannya, “Haruskah aku minta maaf?” sebagai jawaban Yiren menatapnya pasti.
~izone.chufiction~
Berpangku tangan mendengar permintaan maaf itu tidak membuat Chaewon luluh, ia sudah terlanjur men-cap buruk sosok Sihyun. Pura-pura memaafkan dan ingin segera pergi dari keduanya, ya walaupun Yiren memberi waktu pada mereka dengan menjaga jarak, berdiri di tempat lain.
Merasa masalah sudah selesai, Sihyun, mengulurkan tangan mengajak Chaewon berjabat tangan. Enggan dalam hati Chaewon membalas,
“Tapi, apa kau benar-benar tidak akan les? Kudengar nilaimu turun, aah, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Ayahku sangat peduli dengan pendidikan, sayang sekali jika kau harus kehilangan beasiswa, dan kurasa sekolah tidak akan merubah sistemnya.” tawar Sihyun hati-hati.
“Tidak perlu, lagipula aku harus melakukan banyak hal di rumah.”
“Kudengar kau tinggal dengan ayah dan kakekmu, pasti sangat berat.”
Raut wajah Chaewon mengeras, “Darimana kau tahu itu?” setahunya, ia hanya mengaku tinggal bersama ayah. Mungkinkah Sihyun mematainya, dan … “Apa selama ini kau menguntitku!” Chaewon bicara dengan nada sedikit tinggi, Sihyun jelas kaget, “Aku tidak tahu kenapa kau melakukannya, tapi hentikan. Kau pikir aku akan tertipu dengan wajah polosmu, kebaikanmu?” terbawa emosi, Chaewon menghela napas kesal.
“Bukan begitu, aku pernah melihatmu …”
“Yakk, Kim Sihyun. Apa hidupmu membosankan sampai mencampuri urusanku, aku les apa pedulimu, dan nilaiku turun bukankah itu baik untukmu. Selama ini kau selalu menjadi yang kedua.” Yiren memperhatikan, serasa ada yang salah, apalagi suara Chaewon terdengar keras.
“Chaewon-ah, aku benar-benar tidak berniat mengambil posisimu. Aku sudah puas dengan …”
“Chaewon-ah, kumohon jangan seperti ini!” Sihyun hendak mengejar, tapi Yiren menghalangi, berdiri di depannya.
“Kurasa, dia salah satu orang yang membencimu. Aku tidak tahu, jika rumor buruk itu mempengaruhi semua siswa, kita berhenti saja. Jangan ikut campur urusan siapa pun lagi, mereka hanya menganggapnya sebagai pencitraan.” tutur Yiren dalam ungkapan kecewa dan lelah. Sebagai sahabat Sihyun, Yiren merasa tak tega jika melihatnya di anggap jahat.
“Lalu bagaimana jika beasiswanya dicabut?”
“Itu resikonya, kehidupan dan pilihannya. Dia siswa yang pintar, selama ini ia belajar sendiri bukan, jadi percaya saja padanya. Kalau kau khawatir menjadi juara 1, kurangi belajarmu.” diakhiri senyuman, Yiren merangkul tangan Sihyun.
Sementara itu, Yuri mendengarkan. Tuhkan, Sihyun dan Yiren bukan orang jahat, mereka pernah membantunya dari hutang sang ibu, dengan mencarikan kerja paruh waktu. Lalu bagaimana caranya agar Chaewon tidak salah paham lagi.
Disisi lain, Yuri merasa kasihan pada Chaewon. Sebenarnya sikapnya itu bentuk pertahanan diri, demi melindungi masa depan dan harga dirinya, juga ungkapan kekecewaan akan kehidupannya yang sulit. Chaewon juga teman yang baik.
~izone.chufiction~
Pagi yang biasa, tampak cerah namun berangin. Disaat para siswa berangkat dengan wajah semangat, maka Chaewon tampak lesu, ia sudah berulangkali menyuruh kakeknya pergi dan menjaga jarak darinya, tapi sang kakek bersikukuh ingin melihat ia masuk gerbang sekolah. Merasa khawatir karena semalaman Chaewon menghabiskan waktu di kamar untuk belajar, bahkan melewatkan makan malam.
Dengan jalan ringkih dan tangan yang menjinjing plastik bekal, kakek menyusul langkah Chaewon yang cepat.
Berbalik dan bergerak cepat menuju kakek mengingat sebentar lagi akan masuk daerah jalanan yang penuh siswa, Chaewon bicara tertahan dan pelan, namun penuh penekanan.
“Sebenarnya apa mau kakek? Ingin aku ditertawakan teman-teman, apalagi dengan penampilan kumal?” Chaewon mengerling kakeknya yang hanya mengenakan kaus kusam, sandal yang sudah lama dan tubuh yang sedikit bungkuk. “Ini urusanku, mau belajar, mau makan, mau pulang atau tidak! Ayah bahkan tidak pernah melarangku.” Kakek merasa sedih, ayah Chaewon ingin ia menjaga putrinya saat kerja di luar kota.
“Setidaknya, bawalah ini kau belum makan.” disodorkan plastik tersebut tak membuat Chaewon terenyuh, ia mengedarkan pandangan mencari sesuatu, lalu mengambil plastik tersebut dan malah membuangnya ke tempat sampah.
“Kau ingin aku makan makanan sampah ini.”
Seakan tak ada lagi rasa bersalah, Chaewon memunggungi kakek. Tak lama suara Yuri memanggilnya. Mereka berjalan bersama, tentu dengan Yuri yang mulai berbagi cerita menarik.
Sementara, kakek mendekati tong sampah, dan mengambil plastik hitam tadi. Yuri mengerling ke belakang, memperhatikan sang kakek. Chaewon sudah keterlaluan, pikirnya.
~izone.chufiction~
Pada akhirnya, pembicaraan baik yang diharapkan Yuri malah memercikan emosi Chaewon, dan kini mereka berakhir dengan pertengkaran. Chaewon merasa Yuri tak berhak mengomentari sikapnya, sedang Yuri rasa Chaewon sudah berubah. Ini karena penekanan belajar dan nilainya yang turun, maka ia melampiaskannya pada setiap orang termasuk kakek.
Merasa privasinya disentuh, Chaewon tak suka kenyataan jika Yuri tahu ia punya kakek. Baginya, sang kakek sudah terlalu tua dan merepotkan, bahkan ucapan akhirnya membuat Yuri marah, Chaewon bilang kakeknya adalah orang yang tidak berguna jadi tak perlu mendengarkannya. Yang harus ia lakukan adalah belajar dan mendapat beasiswa, menata hidupnya agar lebih baik, tak perlu menunggu uang gajian ayahnya sebulan sekali yang kecil, atau menunggu ayahnya pulang membawa uang lebih dari pekerjaannya yang seorang kuli, berkeliling dari kota ke kota, hanya sebagai pesuruh.
Esoknya, tak pulang ke rumah dan menghabiskan waktu di perpustakaan umum, Chaewon memutuskan pergi keluar sejenak demi mengganjal perutnya yang terasa perih ingin makan. Setibanya di toko terdekat, Chaewon segera membeli kimbap, memakannya cepat untuk menghemat waktu, dan segera kembali belajar, sebentar lagi akan ada evaluasi bulanan.
Di perjalanan kembali ke perpustakaan, Chaewon melihat sosok yang tak asing sedang jalan tak tentu arah. Merasa malu, Chaewon segera memalingkan wajah dan menutupinya dengan helaian rambut, barulah saat mereka berpapasan, Chaewon bernapas lega, namun sebuah tabrakan kecil di sekitarnya terjadi. Chaewon berpaling ingin tahu, seorang pengendara sepeda tak sengaja menyerempet kakek yang kini terduduk jatuh. Chaewon hendak menghampiri, namun kakinya seketika berhenti.
“Biarkan saja, aku harus belajar,” pikirnya, pasti kakek akan banyak bicara dan mengikutinya. Kenapa tidak pulang saja sih!
Hanya melihat saja, kakek kini dipapah oleh pengendara sepeda tadi, berhadapan dengan Chaewon yang kaget karena betis kakek terluka, celananya yang longgar dan sudah jelek itu jelas sobek, menampilkan gesekan aspal. Mata mereka sempat bertemu, saat kakek melewati Chaewon yang tidak sempat sembunyi.
1 detik, 2 sampai 4 detik berlalu, Chaewon terbengong sendiri. Kakek tidak berhenti, dan berlalu begitu saja. Mendadak kesal, apa kakek berpura-pura tidak mengenalnya? Meski begitu, tanpa sadar, hati Chaewon merasa sakit. Nyeri di ulu hatinya, entah karena melihat sang kakek yang terluka, atau kakeknya yang pergi seakan mengabaikannya.
~izone.chufiction~
Wajah Tuan Kim tampak kusut, keluar dari rumah sambil menyeka wajahnya berulangkali, tak sadar jika Chaewon baru saja datang dan memperhatikan. Barulah setelah tenang, Tuan Kim menatap tajam putrinya itu.
“Kemana kau selama ini? Appa sudah bilang untuk menjaga kakekmu!”
“Aku harus belajar,”
“Dan tidak pulang selama 3 hari?”
“Kakek hanya merepotkanku.”
“Tutup mulutmu!” Chaewon tersentak, ayahnya yang lemah lembut kini tengah marah besar. “Tidak tahukah kau kalau,” ragu pada awalnya, Tuan Kim dilema, “Beliau mengidap Alzheimer, sudah satu tahun, dan berusaha keras untuk terus mengingat, karena itu, dia selalu melakukan hal yang sama agar tidak lupa. Dia melakukan itu demi mengingatmu.” entahlah, saat ini yang dirasakan Chaewon adalah, harga dirinya jatuh, dan itu terasa tak penting, karena nyatanya Chaewon merasa sedih. Ia hanya ingin melangkah menuju masa depannya.
Berada di tempat terakhir ia bicara pada kakek, Chaewon berhasil menemukannya yang tengah mengais tong sampah seakan mencari sesuatu.
“Kakek, apa yang sedang kau lakukan?”
“Cucuku belum makan, aku tadi membawakannya makanan, tapi dia tidak suka dan membuangnya kesini. Aku harus mencarinya agar dia bisa makan.” ungkap kakek terus mencari, Chaewon merasa bersalah, setelah menyadarinya, penyesalan ini semakin bertumpuk. “Tapi, makanannya pasti sudah kotor, aku harus membelikannya makanan lain.” kebingungan, kakek merogoh saku hendak berjalan menentukan arah.
“Biar kuantar kek, kita beli makanan yang enak.” Chaewon memapah kakek, menuju jalan pulang. Mulai saat ini, ia pikir dirinya lah orang yang tidak berguna itu, karena menyia-nyiakan seseorang yang tulus menyayanginya. Dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik, bukan hanya belajar pelajaran yang diujiankan. Chaewon harus lebih bijak melihat sisi kebaikan oranglain.
~TAMAT~