
“Hm baiklah,” angguk Gongchan. Dengan ditemani Yerin dia pergi ke UKS dan Jun sekali lagi hanya memperhatikan. Dia hendak berjalan tapi kakinya tertahan, sakit sekali. Perlahan ia menoleh pada kakinya, sebuah paku ukuran sedang menancap, darahnya mengalir.
“Sial!” gerutu Jun mencabut paku dan melemparnya sembarangan, setelah itu pergi tepat saat anak-anak klub magic berhasil turun, saling menyalahkan.
Malam harinya seusai latihan, Jun sempat melihat Yerin memberi bantuan apa pun pada Gongchan, merasa bertanggungjawab dan melayaninya dengan baik tanpa tahu luka yang didapat Jun untuk melindunginya dari angin paku saat itu. Hari ini Jun absen dan hanya datang diakhir latihan, setelah itu duduk sendirian di taman kampus menerawang langit yang kusam.
“Jangan dekat dengannya, kita tidak tahu bahasanya, dia belajar akting disini, apa di negaranya tidak ada?” ledek seseorang saat Jun datang ke tempas les mempelajari Bahasa Korea.
“Yakk jangan bicara sembarangan! Memangnya kita hidup di zaman apa sampai kau menghina orang yang berbeda negara! Kolot sekali pikiranmu, pergi sana!” sentak Yerin yang saat itu datang untuk les Bahasa Jepang. Mereka pergi tanpa melawan, sepertinya Yerin cukup disegani.
Sepeninggalnya mereka Yerin tersenyum pada Jun. “Siapa namamu? Soal tadi jangan dimasukkan ke dalam hati, kau harus percaya diri. Lagipula belajar di negara oranglain tidak salah.” Ceria Yerin.
“Namaku Jun. Dan aku tidak merasa itu masalah besar.” Ujar Jun biasa, setelah itu pergi meninggalkan Yerin yang cengo, dingin sekali.
“Sepertinya aku benar-benar dilupakan.” Pikir Jun merenggangkan tangan dan tiduran di bangku.
Berjalan dengan sedikit terpincang menahan sakit Jun merasa ada seseorang di belakangnya. Setelah menebak siapa orang itu dia hanya mendesah kecil dan berbalik menghadap Yerin yang segera berhenti memasang senyum semanis mungkin.
“Untuk apa kau mengikutiku?” tanya dingin Jun.
“Untuk pulang, kitakan searah.” Jawab Yerin.
“Berjalanlah di depanku!” suruh Jun merasa tidak nyaman, ini sudah pukul 10 malam dan setahunya klub panah sudah bubar sejak jam 7 malam.
“Kita jalan bersama saja?” usul Yerin segera menutup mulut, pasti Jun akan menolak.
“Duluan saja!” tolak Jun dengan tatapan tajam, lagipula mana mungkin dia membiarkan seorang wanita di belakangnya. Yerin menurut tapi sekilas ia melirik kaki Jun, menyadari ada yang aneh dengan langkah pria yang sudah menjadi tetangganya selama dua tahun itu.
“Apa kakimu terluka?” tanya Yerin, ingat bahwa Jun tidak latihan tadi, padahal test untuk 70 m akan segera dimulai.
“Jalan sana!” tunjuk Jun pada jalan di depan dengan isyarat kepalanya.
Alih-alih mendengarkan, Yerin malah menyingkapkan celana Jun dan mendapati luka bekas paku yang masih berdarah, Jun tidak berniat mengobatinya.
“Yakk kau terluka! Kenapa kau tidak mengobatinya!” seru Yerin panik, Jun menjauhkan kakinya dari Yerin. “Kenapa kau bisa terluka, katakan! Apa karena kecerobohanmu, atau kau menendang sesuatu?” prasangka Yerin jauh melayang entah kemana yang pasti membuat risih Jun, jengah akan spekulasi Yerin selanjutnya, Jun berbalik pergi.
“Kau mau kemana? Rumah kita arahnya kesana!” teriak Yerin sembari menyusul. “Obati lukanya dulu!”
“Tidak perlu, pergi urus Gongchanmu!” ceplos Jun saking kesalnya. Yerin terdiam, apa jangan-jangan …
“Yakk apa ini luka karena peristiwa tadi? Lalu kenapa kau tidak ikut ke UKS dan mengobatinya, kenapa tidak bilang padaku. Kau ingin membuatku merasa bersalah heh!” bentak Yerin, “Ayo pulang, aku akan mengobatinya!” ajak Yerin menarik tangan Jun.
“Pulanglah sendiri! Sejak kapan kau mengkhawatirkanku!” Jun menghempaskan tangan Yerin, tertohok akan apa yang dilakukan Jun, Yerin hanya melihatnya dalam diam. “Kau tidak sadar apa pun tentangku, keberadaanku, perasaan dan perhatianku selama ini. Jadi kenapa harus repot-repot mengobati lukaku! Benar, aku terluka karena kecerobohanku, karena menolong seorang perempuan yang bahkan tidak menyadari keberadaanku!” sentak Jun diakhiri dengan penyesalan, pergi dengan frustasi.
Saat makan di kantin, Jun baru saja duduk di hadapan Yerin, tapi gadis itu segera pindah ke bangku Gongchan dan Jinyoung, makan bersama mereka sambil membicarakan atlet dan hal lain tentang panah.
Saat latihan memanah, Jun mencoba belajar dan bertanya pada Yerin, tapi yang ada Yerin sibuk membimbing junir semester satu dan menghiraukannya.
Saat di rumah, Jun hanya duduk menonton televisi sendirian ditinggal Yerin yang pergi kerja kelompok atau mengikuti acara klub yang membuat Jun merasa tidak nyaman dan menolak untuk ikut.
Saat Jun menyatakan perasaannya, Yerin hanya terkekeh dan menyuruhnya belajar juga latihan lebih giat, tidak pernah mendengarkan. Bahkan Yerin pernah marah dan menyuruh Jun untuk tidak bicara seperti itu, karena para junior mengira mereka pacaran.
Saat Jun bersungguh-sungguh dan mengajak kencan, saat itulah Yerin membandingkannya dengan Gongchan, dan bilang jujur kalau dia sudah lama menyukai Gongchan, jadi Jun harus berhenti dan bersikap biasa.
Rasanya lega melihat Jun datang untuk latihan, Yerin tersenyum sangat kecil, dia sudah berpikir semalaman untuk memahami perkataan Jun malam itu. Setelah memakan waktu berjam-jam Yerin akhirnya sadar bahwa dia memang sering menyakiti Jun, walaupun sebenarnya dia tidak bermaksud seperti itu, hanya saja sifat dan sikap Jun membuat dia enggan berlama-lama dengan Jun karena semua orang akan menggosipkan mereka, selain itu Yerin bosan mendengar kata suka Jun, entahlah.
Saat bagian perempuan yang di test, Gongchan menghampiri Jun, keduanya bicara di loker tanpa dilihat yang lain, cukup serius.
“Kudengar kakimu terluka, apa kau sudah mengobatinya?” tanya Gongchan. Dasar Yerin, pasti anak itu bercerita.
“Kalian cukup dekat rupanya sampai saling bercerita.” Kekeh Jun.
“Ini mungkin terdengar kasar, tapi aku ingin kau menjauhi Yerin. Kurasa Yerin tidak merasa nyaman saat bersamamu dan tidak bisa mengatakannya langsung.” Tutur Gongchan membuat Jun mengepalkan tangan marah.
“Begitukah, sayang sekali aku tidak berniat melakukannya, sunbae!” tolak Jun berusaha tenang namun penuh penekanan.
“Ini demi dirinya, dia harus bersiap untuk lomba, karena itu aku berharap kau cukup bijaksana meninggalkan dan tidak menganggunya.” Tegas Gongchan.
“Apa kau sedang menunjukkan sisi gelapmu padaku?” tantang Jun, dia tidak merasa sebagai penganggu, lagipula jika Yerin merasa tidak nyaman dengannya, harusnya gadis itu menjauhinya tadi malam dan kemarin-kemarin saat mereka pulang bersama.
“Anggaplah begitu.”
“Jangan sombong dulu sunbae. Aku menghormatimu karena kau sunbae ku, baik di kampus dan di klub, tapi kali ini aku tidak akan menuruti ucapanmu. Aku akan ikut lomba ini dan berlatih bersamanya, karena itu bersiaplah untuk satu tim denganku nanti.” Setelah itu Jun pergi.
Lapangan latihan.
Gongchan menghampiri Jinyoung yang menatapnya penasaran.
“Apa yang kau bicarakan dengannya? Kalian tidak mungkin bertengkarkan? Walaupun kalian sama-sama menyukai Yerin, bersainglah secara sehat!” tuntut Jinyoung selaku ketua klub.
“Dia bertekad untuk ikut lomba.”
“Benarkah? Dia? Wah mungkinkah itu terjadi, nilainya paling buruk dan absennya jelek.” Ungkap Jinyoung ragu.
“Hyung, kau tahukan kalau aku menyayangimu. Karena itu bisakah kau mengajarinya, kurasa jika dia sudah bertekad dia bisa melakukannya.” Rujuk Gongchan membuat Jinyoung ternganga.
“Apa hubungannya kau menyayangiku dengan menyuruhku mengajarinya. Ckck. Baiklah akan kucoba sebagai seorang ketua klub.” Tulus Jinyoung paham akan situasinya. Gongchan sudah seperti adik baginya, karena itu Jinyoung mengenal Gongchan seperti apa. Meski dia kesal pada seseorang tetap saja Gongchan seringkali khawatir akan orang itu. “Ah mengenai Yerin, bukankah sudah saatnya kalian menghentikan cinta segitiga, kurasa Yerin menyukaimu, jadi kau harus segera mengajaknya berkencan. Apa sih sebenarnya yang menghalangimu!” lanjut Jinyoung ingin tahu, ini sesuatu yang tidak ia pahami dari Gongchan.