You're Fiction

You're Fiction
Archery In Fingertip -1



Sinopsis


Jun sudah lama menyukai Yerin sejak melihatnya menang di lomba memanah dan akhirnya memutuskan ikut klub memanah. Di kampus Jun memang bisa dekat dengan Yerin, apalagi saat rumah mereka bertetanggaan, hanya saja saat di klub Jun harus menahan rasa cemburu dan kesal karena Yerin menyukai sunbae mereka, Gongchan.


Tiba-tiba seorang perempuan aneh yang mengaku bernama Sinbi datang dan memberi kenangan masa lalu padanya. Sesuatu yang membuat Jun tersadar bahwa ia sudah melakukan kesalahan.



Pengenalan Tokoh


Jun : Berambisius, Tipe orang yang suka Menjaga Imej, Narsis, Tidak Mau Kalah, Setia dan Ingin mencoba tantangan. Dia selalu berada dibawah Gongchan dan itu menjadi salah satu hal yang dibenci olehnya. Dia juga menyukai Yerin yang satu klub dengannya, Archery Teen Club.


Gongchan : Ramah, Pekerja keras, Suka bersaing secara sehat, Menyayangi hyungnya, Menanggapi Jun dengan santai, Pintar bermain panah, Tidak suka penindasan. Kekurangannya adalah tidak mampu bicara jujur pada Yerin tentang perasaannya, juga berpendapat terbuka pada anggota lain. Terkenal dengan sebutan ‘Angelic Smile.’


Yerin : Bintangnya klub, Pintar memanah, Ceria dan Akraban, Selalu sewot setiap kali Jun berkomentar, Apa adanya dan blak-blakan. Diam-diam dia menyukai Gongchan.


Sinbi : - - -



ARCHERY IN FINGERTIP


‘Saat anak panah lepas dari arrow rest, akhirnya kau mengetahui sisi gelapmu’


Awalnya ini adalah cerita biasa, dimana ada beberapa remaja yang sedang berlatih, berteman, bercanda ria dan kelelahan bersama. Juga diawal yang biasa ini tersuguhkan sebuah kisah cinta segitiga, yang sudah khas. Pria tinggi berwarga negara China, Jun menyukai rekannya Yerin dan dia sudah sering mengutarakannya langsung, baik dalam ucapan maupun perilaku. Lawannya adalah seorang pria imut yang lebih tua 3 tahun darinya bernama Gong Chanshik yang terkenal dengan panggilan Gongchan, kesan pertama yang dilihat darinya adalah ramah juga sopan, caranya menyukai Yerin sangat berbeda dengan Jun, lebih dengan perhatian dan tersimpan dalam-dalam. Yerin sendiri, dia sudah jelas menyukai sunbaenya, Gongchan. Apapun mengenai pria itu, Yerin sangat menyukainya dan terkadang tanpa sadar menyakiti perasaan Jun.


Karena alasan sederhana itu, Jun menjadi berambisius dua kali lipat dari sebelumnya. Dia bertekad untuk menang melawan dan mengalahkan Gongchan, jika tidak dengan sikap dan sifat, maka melalui panah. Yup, ketiganya berada di klub yang sama, klub panah tingkat mahasiswa, Archery Teen Club.



Mengenakan blazer mahasiswa untuk hari spesial, Jun melangkah penuh percaya diri menuju kelasnya. Dia akan mengikuti bimbingan wali penanggungjawabnya di kampus setelah itu bergegas menuju festival dimana acara-acara seni sedang digelar. Banyak sekali pertunjukkan seru di sana dan Jun tidak ingin melewatkannya, dia suka sekali menarik perhatian para wanita untuk melihat ketampanannya.


Setibanya di sana ia tidak menyia-nyiakan kesempatan, bergaya sekeren mungkin dan berjalan berkeliling melihat berbagai pertunjukkan, dimana ada sulap, ramalan kartu, membaca puisi yang membosankan baginya, permainan skateboard dan tak jarang sepatu roda yang fantastik, terakhir melihat b-boy yang dilengkapi dengan dance battle. Jun ambil alih, dulu di China ia ikut wushu dan pastinya menari, jadi saat ini Jun nge-dance keren. Tepuk tangan meriah diberikan para wanita padanya, banyak yang memotonya dan berbisik-bisik betapa kerennya Jun. Hingga sebuah suara memekakkan suasana, bagaimana tidak, Jung Yerin menggunakan speaker untuk memanggilnya.


“Mun Junhui! Cepat kemari dan bantu kami!” teriaknya berulangkali, mau tak mau sambil menutup muka Jun menghampiri wanita yang sebaya dengannya itu.


Yerin berkacak pinggang marah saat Jun sudah berada di stand klub panah, yang menawarkan berbagai bunga. Yerin memiliki wajah terbilang cantik dan imut, mirip tokoh manga, rambutnya selalu dirias dengan berbagai mode, kali ini dia mengepang dua rambut ikalnya yang berwarna hitam kemerahan itu.


“Darimana saja kau? Baru muncul sekarang dan malah menari!” marahnya, “Lihat stand kita kekurangan orang, yang lain sibuk menata bunga dan memindahkan bunga-bunga ke tempat yang diinginkan pembeli, kau malah sibuk merayu perempuan. Syukur-syukur kalau kau gunakan tarian dan ketampananmu itu untuk menarik pembeli!” imbuhnya dengan galak. Jun sudah terbiasa dan manggut-manggut seakan mengerti. “Jangan asal manggut! Kau pasti tidak paham.” Sentak Yerin ingin sekali menjitak keras kepala pria yang mengaku menyukainya itu.


“Sudahlah Yerin-ssi, sepertinya dia ada urusan tadi. Kudengar kelas akting sedang ada bimbingan.” Rajuk Gongchan yang muncul begitu saja, wajah Jun cemberut, melipat rasa kesal dalam hatinya. Selalu bersikap ramah dan baik hati, ckck.


“Tapi sunbae, dia barusan menari di sana!” tukas Yerin seakan menyuruh sunbae nya itu untuk menghukum dan mendisplinkan Jun.



Jadilah saat ini Jun sibuk menata tanah di dalam pot, bajunya kotor membuat dia berdumel sepanjang melakukan itu, dan Yerin terkekeh melihatnya. Bagaimana pun dia tidak benar-benar kesal atau benci pada Jun, ada kalanya pria itu menarik dimatanya dan lucu. Sayangnya di dalam hati Yerin sudah ada Gongchan.


Sudah dua tahun mereka berada dalam klub yang sama, dan selama itu mereka sudah saling mengakrabkan diri. Yerin sendiri adalah tipe yang mudah akrab dan dia merupakan kartu as nya klub, bagaimana tidak dia sudah mendapatkan 3 piala olimpiade untuk lomba memanah. Sebagai junior tingkat dua Yerin mempunyai bakat yang hebat, dia bahkan seimbang dengan Solji saat itu, senior atasnya, meski pada akhirnya perlombaan dimenangkan Solji, selisih dua angka.


Kali ini mereka sedang berlatih untuk lomba selanjutnya, dan sesama anggota akan dites, pria dan perempuan. Jun melakukan pemanasan ditemani Vernon, sahabatnya.


Tak sengaja ia melirik Yerin yang sedang berjalan menuju dan memberikan sesuatu pada Gongchan, dan Jun tidak yakin benda apa itu, yang pasti hatinya cemburu. Yerin selalu memberikan perhatian lebih pada Gongchan dan memperlakukan oranglain dengan baik, tapi padanya, selalu bicara nyolot dan sewot, hm sangat galak pokoknya. Apa karena Jun mengaku menyukainya, wah jahat sekali Yerin memperlakukan orang yang menyukainya dengan kejam.


“Kau masih menyukai Yerin?” tanya Vernon mengikuti arah pandang Jun.


“Tidak, dia menyebalkan.” Elak Jun.


“Dasar pembohong. Kenapa tidak mengajaknya berkencan?” usul Vernon.


“Dia akan menendangku terlebih dulu sebelum aku sempat mengajaknya.” Solot Jun, Vernon jadi bingung.


“Sudahlah cari perempuan lain. Kau mungkin hanya terpukau padanya saja, waktu dia main panah di lomba pertama, kau hanya kagum melihat dia menang dan bermain panah.” Titah Vernon, mengusulkan dengan mudah .


Begitulah, Jun juga pernah berpikir hal yang sama, dua tahun lalu saat ia melihat Yerin untuk pertamakalinya. Dia selalu dibuat mengangga oleh nilai 10 berturut-turut sebanyak 3x oleh Yerin dan ekspresi imut bercampur senang dari gadis itu saat menang. Tapi semakin ia mencoba mencari tahu dan masuk klub panah maka semakin ia menyukai Yerin. Tapi ini hanya cinta sepihak.


Tiba-tiba Jun marah, dia bertekad untuk melakukan tes dengan baik dan menunjukkan pada Yerin kalau dia juga ahli dalam memanah dan mampu mengalahkan Gongchan.


Jun sudah mengenakan fingertab, pelindung jari dan bersiap di tempat. Melakukan sikap berdiri, dimana titik berat badan ditumpu oleh kedua tungkai secara seimbang. Hampir sama seperti yang dilakukan Gongchan yang berada di sampingnya.


Nomor pertandingan, 50 m untuk pria. Bukan hal mudah, karena nyatanya Jun sudah mencetak angka yang memalukan. 6, 2, 7. Menyedihkan. Sekali lagi ia melirik Yerin yang bersorak untuk Gongchan akan nilainya yang jelas lebih bagus dari Jun, 10, 9, 10. Sangat miris.



Menutup loker cukup keras Jun berhasil membuat Vernon jantungan, tapi karena sudah terbiasa Vernon hanya mendesah pelan dan bersiap mengganti pakaian untuk pulang, setelah Jun sudah tenang maka ia akan mengajaknya pulang bersama. Tapi rupanya hal itu tidak terjadi karena saat ini Yerin dengan dinginnya membuka pintu ruangan pria dan berteriak.


“Yakk Jun! ayo pulang bersama, awas ya kalau dalam 5 menit belum datang!” teriaknya tidak mempedulikan keluhan dan protes keras dari para pria lain yang risih dan sontak menutupi tubuh mereka dari pandangan Yerin.


Vernon mengerling ke arah Jun, kenapa Yerin menunggunya untuk pulang bersama, ini aneh?


“Rumah kita searah.” Seakan mengerti dengan tatapan Vernon, Jun berujar dan membawa tasnya tanpa berganti pakaian, hanya mengenakan jaket dan pergi.


“Ah kalau bukan karena ibu kita akrab aku tidak mau menunggumu pulang, dan kenapa juga kau mengabaikanku dari tadi, jadi aku terpaksa meneriakimu di loker!” seru Yerin terus berceloteh tak mempedulikan mood Jun yang memburuk apalagi dengan hasil panahnya tadi.