
Gudang tak terpakai, di tempat yang sama sekali tidak terjamah oranglain dan tidak diketahui Yeeun. Dengan tangan terikat di belakang diantara sandaran kursi yang ia duduki dan, Yeeun menatap sekelilingnya dengan hati sesak. Rasanya sulit untuk bernapas.
Pria bermasker berdiri didepannya, tersenyum sinis dibalik kain hitamnya melihat Yeeun yang sudah sadar. Seluruh tubuh Yeeun bergetar, tatapan mata itu sangat menakutkan. Ditangannya terdapat carit.
Tangan itu terangkat ke depan dan mengayunkan caritnya.
“Andwae!!” teriak Yeeun memalingkan wajah, tapi rupanya psiko itu hanya menakutinya. Matanya menunjukkan kesenangan.
Tak tahan harus bagaimana, Yeeun menggoyangkan tubuhnya untuk membuat talinya lepas, mengguncangkan semuanya seakan-akan ia bisa meruntuhkan apa pun yang ada disekitarnya.
Psiko itu menjambak rambut Yeeun untuk mendongak ke arahnya, saling bertatapan. “Harusnya kau tidak kabur, kalian pantas mati!” geramnya marah penuh penekanan yang membuat Yeeun bergidik.
“Saem, kenapa kau melakukan ini! Apa salah kami?” gagap Yeeun, mengingat Sehyung dan tanpa sadar airmatanya keluar. “Saem, kenapa kau membunuh Sehyung?” perih Yeeun menahan sesaknya yang semakin merajalela, terasa pengap, ia pun menangis tersedu.
“Saem?” kekeh pria itu mendorong kepala Yeeun. “Aku ingin memotongmu dengan kecil-kecil untuk memberi hukuman padamu!” Yeeun semakin terisak.
Tak peduli sekeras apa pun Yeeun memberontak psiko itu melepas ikatannya. Mendorong dan membuat Yeeun jatuh telungkup. Ia meraih tangan kiri Yeeun, hendak memotong pergelangan tangannya.
Teringat akan Sehyung, mendadak Yeeun merasa begitu bersalah dan sedih. Ia tidak perlu takut, ini hanya luka sementara, rasa sakitnya tidak setara saat ia kehilangan Sehyung.
“Lakukan saja! Potong aku sesukamu!” tantang Yeeun, menatap tajam psiko yang menahan kuat pergelangannya sambil mengacungkan caritnya.
Tak terduga pintu terbuka dengan kasar, seseorang menendangnya cukup kuat, melempar pisau yang langsung mengenai tangan psiko. Caritnya terjatuh, sebelum sempat mengambil carit dan bertindak, Leo menerjangnya.
Kaget dengan apa yang dilihatnya, Yeeun beringsut menjauh dari perkelahian keduanya. Kenapa guru Jung ada disini membantunya.
“Beraninya kau melukai siswaku!” amuk Leo disela perkelahiannya yang cukup berimbang dengan psiko itu yang berhasil membuat maskernya terlepas. Selintas bentuk tubuh mereka tampak mirip, hingga Yeeun menyadari kesalahannya, psiko itu jelas orang yang berbeda. Luka yang didapat psiko memang disebelah kiri dan cukup panjang, dan luka Leo ada di tangan kanan dan kecil, mirip cakaran kucing.
“Pergi dari sini!” teriak Leo menyuruh Yeeun pergi, dan saat itu juga psiko mengeluarkan pisau dari balik jaketnya. Tak sempat menghindar, lengan Leo tersabet hingga berdarah. Yeeun memekik cemas, sedikit gamang untuk pergi, meski begitu Yeeun memutuskan keluar dan mencari bantuan.
Yeeun melonjak kaget dan menjerit syok saat seseorang berhenti di depannya. Dongwoon datang setelah berlari-lari, menatap dan mengamati Yeeun seakan-akan memastikan tidak ada luka yang didapatnya.
“Kau sudah terkepung! Berhenti melawan dan ikut kami!” gertak Dongwoon masuk lebih dalam, menghentikan pertarungan psiko dan Leo. “Aku tahu semuanya, dan polisi juga sudah mendapat bukti. Serahkan dirimu!”
Tak ada niat menyerah, psiko itu menerjang Leo dengan cepat hingga pria itu jatuh terjungkal. Kali ini Dongwoon yang sudah siaga melawan, mengerling Leo untuk membawa Yeeun pergi dari sini. Seakan tahu bahwa yang dikatakan Dongwoon mengenai kepungan polisi adalah bohong, Leo berencana meringkus psiko itu bersama.
Sirene polisi berbunyi, psiko panik. Dalam persekian detik yang teramat cepat, ia melempar batu mengenai wajah Dongwoon yang langsung mundur dan terluka. Kesempatan itu tidak disia-siakan, dengan cekatan ia mengambil pisau yang tergeletak tak jauh darinya dan menusukkannya pada seseorang.
Yeeun merintih kesakitan, pisau itu menembus kulitnya, mengakibatkan luka dengan darah yang banyak. Ia baru saja melindungi Dongwoon dengan mengorbankan diri. Psiko itu tersenyum menang, ia menusukkan pisau semakin dalam, Yeeun memeganginya, menahan rasa sakit yang memilukan itu.
Sebelum psiko itu kembali memperdalam tusukannya, Leo memukul wajahnya, meraih kerahnya dan melemparnya hingga mengenai bangku tempat Yeeun diikat.
Tubuh Yeeun ambruk dalam pangkuan Dongwoon, yang menatapnya sedih, menyesali perbuatan Yeeun yang berusaha melindunginya. Darah mengalir banyak dari luka tusuk di perutnya, tapi Yeeun tidak peduli, ia menatap Dongwoon penuh arti.
Polisi datang berteriak, Leo menghampiri psiko yang tertawa senang itu. Tinggal 4 langkah lagi Leo menghampirinya, psiko itu menyambar carit. Leo berlari mencegah tapi gerakan tangannya lebih cepat. Psiko itu menggorok lehernya sendiri.
“Benarkah ini akan baik-baik saja?” tanya Yooa was-was, ia tengah bicara dengan Dongwoon di ruangan konseling.
“Semuanya akan baik-baik saja, kita bekerjasama dengan polisi.” jawab Dongwoon yakin. Meski sebenarnya ia juga tidak bisa menjanjikan hal baik dalam perangkap yang ia buat itu, dengan menggunakan Yooa sebagai pancingan.
“Tidak ada kata terlambat sama sekali selama kau masih menganggap mereka temanmu.” senyum Dongwoon.
“Saem, kenapa anda begitu baik pada kami dan melindungi Yeeun dengan sepenuhnya? Selama ini saem lah yang membelanya, membujuk dia untuk bangkit dan menemui orangtua kami untuk meminta pengertian. Juga menemuiku dengan ramah, disaat orang tidak suka dengan kepribadianku.” tutur Yooa bermaknakan sebuah pertanyaan.
“Karena aku adalah walikelas kalian.” menjeda ucapannya, Dongwoon tampak sedih. “Juga pernah kehilangan orang yang kucintai.”
“Ya? Siapa dia?”
“Walikelas kalian dulu.”
Yeeun terpaku, bersandar seutuhnya di tembok sekolah setelah mendengarkan percakapan Dongwoon dan Yooa secara diam-diam. Ia ingat walikelas mereka yang dulu adalah seorang perempuan muda yang enerjik dan terbuka. Dia adalah orang yang mengasyikan dan sudah menjadi kakak bagi mereka berempat, bahkan mereka pernah bermain di rumah Jenny.
“Saem,” lirih Yooa ikut sedih. Walikelas mereka juga mati karena dibunuh, hanya saja mereka tidak tahu kalau ia dibunuh seorang psiko. Karena itulah Dongwoon berambisi untuk menangkap psiko itu, yang telah membunuh kekasih dan siswanya.
Jenny tersedu-sedu sembari memberikan penghormatan terakhir pada Yeeun. Setelah itu menatap foto Yeeun yang terpasang ditemani Yooa di sampingnya, yang juga menangis sedih, matanya bahkan begitu sembab. Kematian Yeeun sejak semalam membuat ia semakin menyesal, terlebih mereka belum bicara lagi, Yooa belum sempat minta maaf padanya.
“Kenapa kau begitu jahat, kenapa pergi begitu saja!” cercanya dalam gumaman yang begitu pelan. Yooa yang terlihat angkuh, jutek dan tegas itu tampak rapuh. Jenny yang mendengar semakin terisak, tubuhnya naik turun karena tangisannya.
“Mianhae, jeongmal mianhae!” berulangkali Jenny meminta maaf dengan nada memilukan, merasa ini kesalahannya.
Rupanya psiko itu adalah Lee Jinwoon, kakak kandungnya. Kakaknya dikenal sebagai siswa penyendiri dan pendiam, nilainya selalu kalah oleh Jenny. Tekanan orangtuanya membuat dia kesal ditambah saat Jenny mendapat pujian dan menjadi juara dalam setiap olimpiade, ia iri pada Jenny dan ingin merebut semua yang didapat adiknya itu.
Pertengkaran besar pernah terjadi antara Jinwoon dan keluarganya, dan dia minggat dari rumah 1 tahun lalu. Saat itulah Jinwoon menyimpan dendam, melihat keseharian Jenny juga teman-temannya. Jinwoon membunuh walikelas Jenny karena sempat melihat kekasih Dongwoon itu mengunjungi rumah Jenny demi janji merayakan juara lomba olimpiade.
Setelah itu Jinwoon menargetkan Yeeun, Sehyung dan Yooa. Hingga akhirnya ia memilih bunuh diri. Keluarga Jenny terpukul, Tuan Lee tersungkur sedih dengan pandangan kosong, Nyonya Lee menangis perih sembari memukul-mukul dirinya, dan Jenny yang merasa bersalah pada teman-teman juga kakaknya tak bisa berkata apa pun. Mereka semua menyesal.
“Aaaah, Yeeun-ah, jeongmal mianhae!” jerit Jenny tak sanggup menahannya lagi, tersungkur jatuh dan menangis sekerasnya. Yooa berusaha menenangkan, merangkul Jenny.
Keduanya terbalut dalam luka dan terbenam dilaut tangisan.
Surat pengunduran diri milik Dongwoon tergeletak di meja kepala sekolah. Sedikit menyayangkan keputusan Dongwoon untuk pergi, kepala sekolah hanya mampu melihatnya. Tersirat luka dimata tajam yang bening milik Dongwoon tersebut, juga ekspresi sedih yang terbalut penyesalan.
Ia tidak bisa melindungi siswa dan kekasihnya, karena itu Dongwoon merasa ini sangat sulit dihibur. Ia ingin pergi sejauhnya, jika bisa ia ingin melupakan hal ini, rasa sakit yang tidak tertahan kala ia kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Keluar dari ruangan kepala sekolah, Dongwoon berhadapan dengan Leo.
“Maafkan aku karena tidak bisa melindungi Yeeun, Sehyung dan adikmu.” sesal Dongwoon berusaha tegar.
Leo mencibir, “Sebatas inikah pertanggungjawabanmu? Pergi menenangkan diri!”
Menunduk penuh penyesalan, Dongwoon tidak mampu melihat mata Leo. “Maafkan aku, maafkan aku!” lirihnya dengan suara bergetar. Sedikit lagi, jika saja Leo bicara sedikit saja maka ia pasti akan berlutut dan menetesakan airmata.
Leo paham betapa terlukanya Dongwoon, ia juga merasakan penderitaan yang sama saat adiknya yang merupakan kekasih Dongwoon itu mati. Penyesalan, bersalah, sedih, dendam dan amarah selalu bersarang di dirinya.
“Pergilah! Pastikan aku tidak pernah melihatmu.” usir Leo, walaupun begitu dirinya yang pergi meninggalkan Dongwoon. Berjalan tegak menuju ruang guru. Leo mencoba melupakan suara adiknya diakhir-akhir kematiannya, yang mengucapkan nama Jenny seakan berusaha memberitahu sosok pelaku itu, Sempat kesal karena dia menelepon Leo dibanding polisi, akhirnya Leo paham kalau adiknya itu begitu menyayangi Jenny, para siswanya.
~ TAMAT ~