
Mayat tersebut terbagi menjadi dua, kepala dan tubuh, yang kini di tempatkan di atas ranjang yang sama, di sebuah hotel berbintang lima, bernama hotel x y. Sudah 30 jam sejak mayat itu dilaporkan pengurus hotel pada kepolisian, dan kini TKP tengah diselidiki oleh detektif terdekat.
Jung Eunji bergidik ngeri setiap kali melirik mayat tersebut, paskanya, mayat perempuan itu memiliki rambut panjang sepinggang, yang acak-acakan dan menutupi sebagian wajahnya, namun tergerai kemana-mana bersamaan dengan aliran darah disekitar sprei, akan sangat menyeramkan jika yang dilihat hanya kepala dan rambut.
Menahan diri untuk tidak muntah, Eunji menepuk-nepuk dadanya. Sekilas Jung Taekwoon, seorang jaksa menyadarinya.
“Gunakan toilet yang di luar, jangan mengotori TKP.” Ucapnya sarkatis. Eunji sama sekali tidak terbantu, dia mendengus sebal dan segera keluar mencari toilet. Setibanya disana, ia benar-benar muntah.
Ia masih berstatus mahasiswa tingkat akhir yang sedang magang di kepolisian Seoul, dan ditugaskan bersama Detektif Han, di hari kedua bekerja, Eunji sudah dipertemukan dengan kasus pembunuhan. Tubuhnya jelas belum siap begitu pun mentalnya.
Mendadak, ia melihat mayat tadi di cermin, menjerit kaget. Segala sesuatunya jadi terasa detail ketika ia membayangkan kesana-kesini, terlebih adegan saat terjadinya, rasa kesakitan korban dan senangnya tersangka. Di duga, pembunuhan ini didasarkan perbuatan seorang maniak, sudah ada 2 kasus yang sama. Terjadi di hotel, korbannya perempuan berambut panjang hitam, dan dalam keadaan mengenakan handuk.
Tersangka orang yang teliti, tak menyisakan sidik jari sedikit pun, bahkan ia tak terekam kamera cctv. Tak ada seorang pun yang mengingatnya, meski begitu wanita yang diduga sebagai korban tak sekali pun berjalan dengannya dari parkiran, lobi sampai koridor hotel. Wanita itu berjalan sendirian.
Sekeluarnya Eunji dari toilet seorang pengawai hotel memberikan pil penenang untuk menetralisir rasa mualnya.
“Seseorang dari kepolisian menyuruhku memberikanmu ini.” Jawab pegawai bersanggul rapi dan bertubuh mungil tersebut saat Eunji menanyainya.
Rasanya lebih mendingan, pil tadi cukup enak.
Kembali ke TKP, Eunji mendekati Detektif Han yang memberikan serentetan tugas untuknya, dengan konsentrasi penuh Eunji mencoba memahami tugas yang diberikan.
“Pergilah.” Ujar Detektif Han mengakhiri perintah.
“Ya.” Hormat Eunji, sebelum berbalik sepenuhnya, Eunji melanjutkan. “Detektif, terimakasih untuk pilnya, perutku menjadi lebih baik.” Ungkap Eunji, Detektif Han mengernyitkan kening tak paham.
“Aku tidak memberimu pil.”
Eunji terdiam, ah, mungkinkah yang lain? Eunji mengedarkan pandangan pada detektif dan polisi lainnya, dan berakhir pada sosok Jung Taekwoon yang berdiri mengamati korban, bahkan merundukkan kepala demi melihat luka gorok di leher korban.
“Tidak mungkin, dia membenciku.” Pikir Eunji, dan bergegas mengerjakan tugasnya. Sementara itu, Taekwoon menoleh padanya.
“Dasar bodoh,” gumam Taekwoon mengatai Eunji. Hingga tak sengaja matanya melihat sesuatu yang aneh terselip di lipatan kerah handuk, bentuknya seperti kelopak bunga yang tersamarkan dengan darah.
Fakultas Hukum. 2 tahun lalu.
Berjalan bersama 2 temannya, Eunji bercerita heboh dengan sesekali menertawakan sesuatu, dan yang lain ikut tertawa. Mereka tampak menikmati obrolan tersebut sambil berjalan di area luar kampus, di bawah langit yang cerah dan menyejukkan, sesekali hembusan angin mempermainkan rambut mereka.
Eunji dengan potongan rambut sebahunya sedikit merasa terganggu, dan mengikatnya dalam gerak cepat dan asal, sedang Yoon Bomi yang berambut pendek hanya menikmati angin. Disisi lain, Park Chorong dengan rambut panjang hitamnya lanjut menimpali cerita Eunji.
Ponsel Eunji berdering, dan bergegas mengangkatnya mencari posisi sepi di balik tikungan menuju bangunan ruang dosen. Sebelum itu Bomi mengisyaratkan akan menunggu ia di kantin, Eunji mengangguk.
Menutup sambungan telepon, Eunji membalikkan badan dan berjalan berbelok dengan kesal tanpa menyadari seseorang tengah berjalan berlawanan dengannya. Mereka bertabrakan cukup keras, kepala Eunji bahkan terantuk sakit menghantam dada pria tinggi bernama JungTaekwoon. Bersamaan dengan itu ikatan rambut Eunji terlepas, sehingga tergerai dan tertiup angin.
“Maafkan aku, aku tidak sengaja,” sesal Eunji menunduk, mengelus dahinya yang pening akibat tabrakan.
“Berhati-hatilah, ini tempat umum.” Suara yang familiar, Eunji mengangkat wajah dan mengangga tak yakin. Pria yang merupakan senior di fakultasnya, yang sudah jadi jaksa selama 1 tahun, serta gebetan Chorong ini tepat berada di depannya.
“Ya, maafkan aku. Tadi itu, aku sedang …” Detik selanjutnya Taekwoon sudah berlalu tanpa mempedulikan Eunji yang masih bicara.
Tak lupa menceritakan kejadian tersebut pada Bomi dan Chorong, Eunji terlihat bersalah sekaligus kesal, benar rumor yang mengatakan Taekwoon sedingin es kutub dan sebesar beruang kutub. Namun Chorong malah makin menyukainya, dia bahkan membuat rencana mendekati Taekwoon yang tengah berkunjung ke fakultas.
Bomi dengan antusias membantu, mungkin Taekwoon belum pulang. Apalagi malam ini akan ada acara makan malam bersama senior.
Kantor polisi tengah tegang dengan perdebatan antara Detektif Han dan Taekwoon, dimana mereka berbeda pendapat mengenai kasus pembunuhan kemarin. Taekwoon dengan argumen dan nada dingin tegasnya jelas lebih unggul karena menjelaskan secara detail dan masuk akal mengenai tersangka yang di duga orang dalam hotel. Serta menggunakan trik handal untuk membunuhnya.
“Dikira ini kasus dalam komik, trik menghilang, hah, akan lebih masuk akal jika tersangka langsung membunuhnya dan menghapus jejak!” gerutu Detektif Han setelah Taekwoon memutuskan pergi.
Sementara itu, “Sunbae, tunggu sebentar.” Eunji mengejar, dan berhenti di depan Taekwoon. Pria berkulit putih pucat tersebut hanya memasang ekspresi biasa bahkan nyaris tanpa ekspresi.
“Lebih baik kau panggil aku dengan formal.” tegurnya.
“Ah, Jung Geomsa-nim.” ralat Eunji.
“Bicaralah.”
“Kasus ini, kasus yang sama seperti dua tahun lalu bukan? Yang menimpa Chorong?” wajah pucat Taekwoon semakin pias, terkejut akan pembahasan mendadak tersebut. “Aku akan membantumu, aku pastikan akan menangkap penjahatnya! Aku harus membalas dendam padanya, aku tak …”
“Dengan modal mental selembek ini kau menjadi detektif!” ledek Taekwoon, Eunji terdiam jelas tersinggung. “Kau hanya bagus dari nilai materi?” terka Taekwoon sinis.
“Tidak, aku sudah lulus dalam hal apapun, kekuatan fisikku …”
“Jangan mencoba mengotori almamater kepolisianmu dengan keinginan balas dendam. Dunia ini dipenuhi penjahat, kau tidak akan mampu menangkap mereka hanya dengan nilai, apalagi didasari perasaan emosi.” tegur Taekwoon, setelahnya hendak berbalik pergi.
“Itu menurutmu, seseorang yang tidak punya emosi sepertimu pasti mudah untuk melupakan apa pun dan melakukan segalanya semaumu. Aku tidak lembek, dan aku tidak akan mengotori apa pun, kupastikan akan menangkapnya walaupun melibatkan emosi!” seru Eunji kesal.
“Jangan ikut campur dalam kasus ini, minta pada atasanmu untuk dipindahkan ke divisi lain!”
Ekspresi Taekwoon tak berubah, meski begitu matanya menyiratkan sesuatu yang lain, sebuah ketakutan.