You're Fiction

You're Fiction
Fly High -02 (END)



Hm, gumam Jiu merasa ada yang berteriak. Terdengar tidak jelas dan samar-samar tapi Jiu yakin tadi itu seperti suara Handong. Ingin memastikan apa yang terjadi dan mencari yang lain, Jiu melangkah menuju sumber suara.



Jiu terhenyak syok saat ia melihat mayat Handong di dalam bakhtub dengan sayatan pisau di pergelangan tangannya. Jiu tak percaya jika Handong akan bunuh diri, dan merasa ini tidak wajar, Handong tidak terlihat tertekan. Hanya saja Jiu memang pernah tidak ingat beberapa kejadian yang terjadi sebelumnya.



Jiu tahu ini aneh, pertamakali tinggal di asrama ia merasa senang dan penuh semangat, tapi hal itu lama-lama menguap dengan tergantikan beberapa kejanggalan yang terjadi. Ini bukan kasus bunuh diri yang pertama, saat itu ia juga melihat mayat gosong Dami yang membakar dirinya. Merasa ngeri, Jiu mulai berpikir pasti ada yang salah dengan asrama ini.


Jika begitu bukankah yang lain dalam bahaya, lalu dirinya? mungkinkah hilang ingatannya akan beberapa kejadian salah satu penyebabnya?


~ ~ ~


Dari ketujuh gadis yang berteman akrab itu Gahyun lah yang paling awal tertidur, seperti saat ini. Gahyun sudah tertidur lelap di kasur king size yang ia pilih saat menemani Handong menerbangkan pesawat kertasnya. Dengan banyak bantal putih yang bersih dan cantik, Gahyun terlihat damai dan tersenyum seakan-akan ia tengah bermimpi indah.


Tapi senyuman itu mendadak berubah menjadi ketakutan. Gahyun menggeleng ngeri, tubuhnya menegang. Dalam sekali hentakan ia bangun dari tidurnya. Hal aneh tengah terjadi, matanya melotot tak yakin. Setahunya ia berada di villa milik Yoohyun, lalu tidur di kamar lantai atas dengan suasana serba putih yang rapi dan menarik, tapi kali ini ia berada dalam ruangan yang gelap dengan tanaman menjalar di sekitar dindingnya, bukan hijau segar tapi coklat gelap seakan-akan tanaman itu rusak oleh api.


Tempat tidurnya pun berubah lebih kelam dan pakaiannya, ia kini mengenakan piyama putih milik oranglain. Kapan ia berganti pakaian, masih dalam kebingungan dan suasana mencekam dari ruangan itu, Gahyun hendak berdiri, tapi tubuhnya tak merespon, ia tidak bisa bangkit. Dengan tiba-tiba tanaman menjalar itu memborgol tangannya.


Dalam ketakutan dan histeris Gahyun mendengar handle pintu terbuka. Matanya semakin melotot lebar saat ia melihat sosok yang masuk itu, tersenyum sinis penuh kemenangan dari raut wajahnya. Tak tahu harus bagaimana, Gahyun merasakan tangan sesosok itu terangkat dan menutup matanya.


~ ~ ~


Berlarian sepanjang bangunan asrama Jiu tak juga menemukan Yoohyun maupun yang lain. Merasa putus asa Jiu kembali ke tempat ia menyimpan laba-laba. Kali ini tidak ada senyuman seperti saat pertama kali ia menemukan hewan tersebut, tapi kecemasan dan rasa takut. Mendadak tempat besar itu seperti sedang menghimpit dan menerkamnya. Ia harus pergi.


Jiu berhenti di depan kamarnya, membuka pintu dan mendapati sesuatu yang mengerikan. Seseorang tergantung, kaki itu bergoyang menakutkan. Tepat kepalanya berhasil menengadah ke atas dengan gugup, Jiu terhenyak jatuh. Dia adalah Gahyun, teman sekamarnya.


Kenapa? Kenapa Gahyun juga bunuh diri? Di kamar ini, bahkan malam kemarin dan sebelumnya Jiu tidak melihat Gahyun. Gadis itu juga sempat hilang.


~ ~ ~


Setiap kali melangkah gema dari langkah kakinya itu terdengar memantul dan terdengar seperti ada seseorang yang ikut berjalan di belakangnya. Jiu cukup takut akan hal itu, tapi ia benar-benar ingin melihat kondisi Handong. Tadi sore Gahyun sempat bilang kalau Handong terlihat aneh dan melamun saat menerbangkan pesawat kertas.


Cukup jauh untuk sampai ke tempat Handong, Jiu mendengar suara lain selain langkahnya, sebuah dentingan piano yang terdengar menyeramkan. Bukan simfoni tentang cinta, semangat atau ballad, ini lebih seperti gabungan lengkingan dan tangisan. Merasakan suasananya menjadi dingin, Jiu memelankan langkahnya meski masih terus berjalan.


“Ini benar-benar tidak lucu, kemana yang lain? apa Yoohyun yang bermain piano, malam begini!” kesal Jiu mencoba bicara sendiri untuk menghibur dan menemaninya dalam koridor panjang, sepi, gelap dan was-was.


Bunyinya berhenti, Jiu sedikit lega, dia kini melewati sebuah kamar dengan pintu yang terbuka. Baru saja satu langkah suara piano itu terdengar kembali, lebih dekat dengan posisinya, sangat jelas.


Sedikit mencondongkan punggungnya untuk menoleh ke arah kamar itu, Jiu melihat seorang perempuan mengenakan dress panjang berwarna krem dengan rambut hitam sepinggang sedang memainkan tuts-tuts piano.


Kaget dan penasaran, Jiu masih memperhatikan. Tadi itu tidak ada siapa-siapa di dalam, lalu? Dalam sedetik, suara piano terhenti dan perempuan berambut hitam tersebut berbalik ke arah Jiu. Wajah Jiu langsung menegang tak percaya, dia adalah dirinya.


Tanpa berpikir lebih lama, Jiu pergi mempercepat langkahnya, hampir setengah berlari. Dan perubahan lain terlihat jelas, villa tersebut berubah dari warna dinding putih bersih menjadi putih kusam, peralatannya hampir mirip tapi lebih banyak dengan tambahan patung sempurna, setengah badan, kepalanya saja dan lukisan aneh. Dibanding itu semua Jiu melihat ada seseorang memakai seragam sekolah sedang berlari di depannya.


Mencengkram tangan menahan rasa takut dan ingin tahu, Jiu kembali dikagetkan dengan sosok gadis itu yang menoleh ke belakang dengan wajah ketakutan terus berlari seakan menjauh dari sesuatu. Gadis itu juga dirinya, sangat mirip. Ada apa ini?


Jiu berlari keluar dari kamarnya, dan kini waktu sudah bergeser dari siang ke malam. Ia tak tahan jika harus tinggal lebih lama lagi di asrama ini, ia tahu sepertinya semua orang sudah menghilang dan mungkin saja mati. Dengan terburu-buru ia pergi, tanpa sadar ia mendengar dentingan piano dan membuatnya terhenti.


Merasa senang ada oranglain dan menghiraukan lagu sedih bercampur ngeri tengah dimainkan, Jiu melihat seorang perempuan duduk memainkan piano. Namun saat ia bersitatap dengan perempuan itu, Jiu tahu dia adalah dirinya. Sosok menakutkan yang dihasilkan ilusi dari asrama ini.


Mungkinkah sosok ini juga muncul pada yang lainnya dan membuat mereka mati bunuh diri. Jika begitu ia juga …


Tahu hal buruk akan terjadi, Jiu tidak membiarkannya dan memilih berlari cepat, sesekali menoleh kebelakang. Wajahnya begitu pucat.


Jiu 20 tahun lalu itu terus saja berlari melintasi lapangan besar dan tiba di gerbang, membukanya dengan cepat tanpa menyadari bahwa Jiu di tahun 2017 mengikutinya.


Kebingungan, Jiu terus saja mencari jalan keluar dan masuk lebih dalam ke hutan. Tiba di danau, ia berhenti dan mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. Setidaknya ia aman berada di luar asrama.


Ini aneh, benar-benar aneh, pergantian malam begitu singkat dan cepat. Jiu baru menyadari saat ini langitnya cerah, bukan malam tapi siang. Ia merasa ini hal baik, bersyukur karena ia sudah keluar dari jebakan mimpi dalam asrama.


Ilusinya berubah, kedua Jiu dari tahun berbeda itu kini melihat sosoknya yang lain dalam balutan baju biru muda yang cantik, dengan rambut panjang terurai tengah dikerumuni kupu-kupu indah, yang tak pernah dilihat siapapun. Merasa terbius Jiu memperhatikannya. Itu indah sekali, tapi tepat saat semua kupu-kupu menghilang dan menyisakan satu di tangan Jiu, sosok itu menatap Jiu yang mengenakan seragam dengan matanya yang juga dingin.


Tersadar, itu tetap dirinya yang jahat.


Dalam kesadarannya itu Jiu hendak berbalik pergi, Yoohyun berdiri di depannya. Tersenyum sinis dengan mata hitam pekat yang tajam juga dandanan yang berbeda jauh dari sosoknya dulu. Saat itu rambut Yoohyun berwarna terang dengan poni di dahi, tapi kali ini ia lebih dewasa dengan rambut lurus hitam tanpa tambahan poni. Meski begitu perubahan lebih besar adalah Yoohyun terlihat menakutkan.


Yoohyun mencengkram bahu Jiu, mendorongnya perlahan menuju danau. Tidak menyerah begitu saja, Jiu mencoba bertahan namun kakinya tidak bisa bergerak. Kakinya bahkan seperti membeku, hingga Jiu yang lain masuk dalam dirinya dan membuatnya benar-benar tidak bisa bergerak.


“Andwae!” Jiu 2017 berteriak, berlari menghampiri Yoohyun dan Jiu, mencegah apa yang terjadi. Baru saja Jiu berada dekat dengan mereka, suara benda jatuh ke air terdengar. Jiu menutup mata.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Yoohyun di tahun 2017, sembari menepuk pundak Jiu yang tersentak kaget, membuka mata dan terengah-engah. Ia melihat Yoohyun yang cemas. Mendadak parno, Jiu menatap lekat Yoohyun, seakan-akan dia bisa mendorongnya juga ke danau.


“Kau, apa kau Yoohyun yang kukenal?” tanya Jiu terbata dan gugup.


“Yakk! Apa maksudmu! Aku sedang mencari Siyeon dan Sua, dari tadi mereka belum kembali. Jika sudah masuk hutan akan sulit kembali karena arahnya seperti sama, mereka bisa tersesat. Tapi aku malah melihatmu. Kajja!” ajak Yoohyun, Jiu masih tak percaya, tadi itu apa?


“Kajja!” ajak Yoohyun menarik tangan Jiu.


~ ~ ~


Mendadak Jiu ingat sesuatu.


Saat itu Jiu sedang tersenyum senang sembari melihat laba-laba tangkapannya, hingga sebuah tangan menepuk bahunya dengan pelan. Jiu menoleh dan melihat Yoohyun, mengajaknya untuk bergabung. Jiu tersenyum manis ke arahnya dan menerima uluran tangan Yoohyun. Mereka pun pergi bergabung dengan yang lain.


Namun beberapa lama kemudian, Yoohyun datang kembali sembari membawa kaca pembesar dan melihat intens laba-laba tadi. Mendadak ia tersenyum penuh misteri.


Tanpa terlihat oranglain Yoohyun terus berjalan memasuki hutan, dan tiba di depan sebuah cermin yang berada di tengah hutan. Terus menghampirinya, meletakkan tangan di cermin itu. Hingga detik berikutnya mata kosong itu tersadar, Yoohyun mundur menjauhi cermin, sejenak dia merasakan energinya terhisap dan merasa lemas.


Mengedarkan pandangan ke sekeliling Yoohyun merasa takut dan kaget akan dirinya yang masuk dan berada dalam hutan. Tanpa berpikir lagi ia berjalan pulang menuju villa. Namun setiap kali melangkah maka ia merasa ada seseorang, Yoohyun memutuskan untuk berlari menjauhi sepasang mata yang terasa tajam tersebut.


Namun itu tak pernah berhasil, ia tidak pernah bisa kembali ke asrama, terjebak dalam waktu yang terlupakan. Disisi lain sosoknya yang penuh keserakahan dan sisi negatif berbalik penuh senyum.


~ ~ ~


Setibanya di flat, Seoul.


Jiu menceritakan apa yang ia lihat, sempat membuat enam gadis lainnya tak percaya apalagi Yoohyun yang protes kalau dia bukan orang jahat. Tapi tiba-tiba Yoohyun ingat kalau villa tersebut dulu memang dipakai asrama dan ditutup 20 tahun lalu karena banyaknya kasus bunuh diri juga laporan siswa hilang akibat tekanan dan pelajaran yang berlebihan di sana.


Siyeon dan Sua juga berpikir untuk tidak masuk hutan lagi, sedang Gahyun tidak ingin kamar mewah sendirian, Handong sedikit takut jika melihat bakhtub dan Dami tidak mengerti apa yang ia takutkan, ia tidak melihat apa pun. Yoohyun berharap tidak ada Yoohyun ini dan itu. Sedang Jiu mengambil hal positif. Dia adalah aku, aku adalah kau. Siapapun pasti punya sisi buruk, dan terjebak dalam mimpi. Kau hanya perlu menyadarinya, dan bangun dari mimpi buruk itu.


~TAMAT~