
“Wuah kelihatannya enak,” seru Soonyoung setibanya Chaewon di sana, menyimpan coklat itu.
“Lain kali akan kubuatkan kue dengan coklat ini sebagai riasannya kalau sunbae mau.” tawar Chaewon tidak duduk, saat ini ia masih bekerja.
“Benarkah? Aku tidak sabar ingin mencicipinya.” senyum Soonyoung dan beralih melihat bentuk coklat yang lucu-lucu. Senyuman akrabnya berubah menjadi senyuman manis dan berseri, “Apa ini pernyataan cinta darimu?” celetuk Soonyoung mengagetkan Chaewon, pria yang satu tahun lebih tua darinya itu menunjuk coklat berbentuk love. Chaewon tergagap, segera mengibaskan tangannya cepat.
“Bukan sunbae, ini memang bentuk yang dibuat manajer.” jelas Chaewon, Soonyoung mengangguk menggoda.
“Aku tahu, aku hanya bercanda.” Chaewon merasa terhempas, ia malu sekali, kenapa dari banyaknya bentuk ia harus memilih yang love. “Malam ini aku tidak bisa menemanimu latihan di taman, ada keluarga ibuku mau datang, tak apakan?” tanya Soonyoung was-was, Chaewon sempat kecewa, tapi ia segera mengangguk paham. Mungkin ini belum waktunya untuk memberikan lirik lagu yang sudah ia buat.
“Aku pulang,” seru Chaewon tepat pukul 8 malam. Belum saja ia membuka sepatu, pandangan matanya tertuju pada gitar miliknya yang sedang dipegang Paman, yang mendadak terlihat gugup.
“Kau sudah pulang,” ucapnya berusaha santai. Chaewon segera melepas sepatu, mengenakan sandal rumah dan menghampiri Paman.
“Kenapa gitarku ada di paman? Apa yang akan paman lakukan dengannya?” tanya Chaewon mendadak tak enak hati, merasakan firasat buruk.
“Aku hanya mengeceknya,”
“Gitarnya bagus, semua senarnya baik-baik saja. Bisa paman kembalikan padaku, aku akan menyimpannya di kamar.” pinta Chaewon, paman terlihat enggan, menghela napas dan menatap Chaewon serius.
“Aku bohong, aku membawanya untuk dijual.”
“Tidak! paman tidak boleh melakukannya, itu gitarku, aku tidak berniat menjualnya!” tolak Chaewon dengan hati bergemuruh, haruskah paman bertingkah sejahat ini padanya?
“Gitarnya sudah kuno, lain kali akan kubelikan yang baru,” tandas paman.‘Bohong, dia bahkan tidak memberiku uang saku!’ tanggap Chaewon dalam hati. “Kenapa kau menatapku begitu!” bentak paman saat Chaewon menatapnya tak percaya.
“Sudah jual saja appa, lagipula selama ini dia makan gratis disini, anggap saja uang gitarnya sebagai biaya makan!” ketus Jinsol. Chaewon meliriknya, ‘Apa jangan-jangan…?’
“Hm gitarmu akan kujual untuk tambahan uang piano ku, kenapa memangnya? Bukankah aku bicara benar!” tantang Jinsol menyadari pemikiran Chaewon.
“Tidak boleh, itu gitarku, itu milikku! Aku tidak mengizinkannya!” seru Chaewon mengejutkan, berbeda dengan kepribadiannya yang pendiam.
“Kau bisa membelinya dari uang kerjamu.” lugas sang paman seenaknya.
“Tidak paman, kau boleh mengurangi jatah makanku, bahkan tidak memberiku makan juga tak apa, tapi jangan ambil gitarku. Itu adalah peninggalan dari ayah, kumohon!” pinta Chaewon memelas.
“Ini hanya sebuah gitar! Diam dan masuklah ke kamarmu!” paman pergi ke kamarnya sembari membawa gitar, Chaewon menghampirinya dengan tergesa menarik gitar. Paman sontak mempertahankan pegangannya.
“Aku tidak akan membiarkan paman menjualnya! Tidak setelah aku kehilangan kedua orangtuaku!” seru Chaewon, Jinsol datang mendorongnya, tapi Chaewon semakin mempererat tarikannya.
“Kau pikir kau siapa! Mereka hanya meninggalkan gitar dan menitipkanmu disini, kau pikir berapa uang yang kami keluarkan untukmu!” sentak paman.
“Tidak ada, tidak ada sepeser pun uang yang kalian berikan padaku! Aku masuk sekolah musik pun itu karena uang orangtuaku, dan aku membiayainya dengan pekerjaanku!” tukas Chaewon cepat. Jinsol sempat terdiam, tanpa menyiakan kesempatan, Chaewon menarik keras gitarnya dan berhasil, segera pergi dari rumah dengan mengenakan sandal rumah, menutup pintu dengan keras.
Sembari membawa gitar Chaewon masuk sekolah, berjalan menuju kelasnya tanpa mempedulikan orang-orang yang membicarakan sandal yang ia pakai. Tanpa semangat Chaewon menuju loker sepatu, mengganti sandalnya dengan sandal kelas.
“Dasar tidak tahu malu! Keluarga kami mengasuh dan memberimu makan, tapi kau membantah dan malah kabur! Karenamu hidup kami sulit, kau benar-benar pembawa sial!” marah Jinsol, semua orang tertuju pada mereka.
“Aku bukan pembawa sial!” sanggah Chaewon berdiri berhadapan dengan Jinsol, ia tidak takut apa pun lagi dan merasa ini tidak adil. Ia baru saja tinggal satu tahun dengan mereka, tapi kenapa mereka menjadikannya beban keluarga tanpa alasan pasti.
Kerumunan semakin penuh, Dokyeom merasa tertarik dan mengajak Soonyoung untuk melihat, yang diajak juga merasa penasaran. Mereka berhenti di depan pintu.
“Ya kau pembawa sial! Orangtuamu diusir dari keluarga karena kau, mereka mati juga karena kau meminta mereka pulang sebelum waktunya, setelah mengasuhmu ayahku di PHK, dan ibuku kecelakaan, sekarang kau menularkan kesialanmu padaku! Karena kau aku gagal kontes!” maki Jinsol, Chaewon terdiam. Meski ia sudah tahu semuanya, tetap saja mendengar Jinsol mengucapkan semua itu membuat hati Chaewon sakit.
“Lalu apa maumu! Kenapa kau menyalahkan semua itu padaku, aku tidak pernah menginginkannya!” seru Chaewon menahan amarah dan kesedihannya.
Jinsol kesal, dia mengambil susu kotak milik temannya yang datang bersama, membuyurnya tempat ke wajah Chaewon. “Pergilah sejauhnya dariku!” seru Jinsol melempar kotak susu itu dan pergi sembari menabrak pundak Chaewon.
Air susu menetes dari rambutnya mengenai mata, tangannya mengepal kuat seakan semua perasaan bisa terkepal di dalamnya. Mendadak ia menyadari kehadiran seseorang, matanya menangkap sosok Soonyoung yang melihat di pintu depan, perlahan kepalan tangannya mengendur. Tak tahu harus bagaimana, Chaewon memilih keluar dari kelas melalui pintu belakang.
Mata Soonyoung mengikuti gerak langkahnya yang langsung terhalang para siswa yang menonton.
“Wah aku tidak tahu jika Chaewon adalah siswi yang dirumorkan pembawa sial itu, yang menyebabkan orangtuanya meninggal.” Kaget Dokyeom.
“Itu bukan salahnya, mungkin saat itu ada urusan mendadak jadi Chaewon menyuruh orangtuanya segera pulang dari bulan madu.” tukas Mingyu setelah mendengar cerita Dokyeom. “Kau pasti sangat terkejut?” tanya Mingyu pada Soonyoung yang terus diam.
“Jangan bilang kau sudah tahu dari dulu!” tuduh Dokyeom, Mingyu tidak menjawab dengan ucapan hanya pandangan matanya yang mengiyakan. “Jahat sekali!”
“Kupikir kau sudah tahu.” sesal Mingyu lebih terarah pada Soonyoung.
Taman. Berkali-kali Chaewon mengusap rambutnya yang basah karena susu, tak mempedulikan orang yang meliriknya aneh. Chaewon bersyukur susu yang ditumpahkan padanya bukan susu basi, meski begitu ini masih terasa menyedihkan, hatinya terluka.
Usapan tangannya berhenti di keningnya, airmata menetes, dengan refleks tangannya beralih menutup mata, mengusap airmata. Percuma, airmatanya tidak kering, melainkan semakin banyak, Chaewon terisak. Bagaimana pun di usianya yang baru 15 tahun, ini terasa menyakitkan.
Soonyoung berlari sepanjang koridor sekolah mencari Chaewon, setelah memastikan semua tempat di sekolah itu telah dijelajahinya dan tak juga menemukan Chaewon, Soonyoung memutuskan mencari di kafe. Harapannya kandas, manajer Park memberitahu kalau Chaewon belum ke kafe sejak tadi. Berpikir sejenak, Soonyoung tahu satu tempat.
Taman. Kaki itu berhenti tepat dimana ia mendengar suara Chaewon untuk pertama kalinya. Dan ia menghela napas kecewa, mengedarkan pandangan ke sekitar, namun gadis yang dicarinya tak juga terlihat.
“Chaewon-ah, dimana kau?” gumam Soonyoung, jujur saja ia merasa kecewa pada dirinya sendiri. Karena saat itu ia hanya terpaku dan terdiam melihat Chaewon dimaki dan dibuyur air. Menyesal tidak langsung mencari, mungkin saja sekarang Chaewon sedang menangis sendirian dan menyalahkan dirinya.
Malam hari, pukul 10 malam, Soonyoung masuk ke dalam kamar dan langsung berbaring di kasur, menatap lampu kamarnya yang sudah terang. Ia baru saja pulang setelah menunggu Chaewon seharian, berharap pukul 8 Chaewon datang dan latihan bersamanya lagi. Selain itu Soonyoung juga ingin melihat lirik lagu yang sudah dibuat Chaewon.
Ketika itu, Soonyoung melihat Chaewon tengah membuka buku lirik dan segera menutupnya saat Soonyoung masuk ke kafe, pria itu juga menyadari wajah kecewa Chaewon saat pertemuan dibatalkan, sayangnya ia benar-benar harus pulang lebih awal untuk menyambut keluarga ibunya.
“Kuharap kau cepat kembali,” mengingat kejadian tersebut membuat Soonyoung merasa sedih, dadanya bergemuruh sepi.