
Part 4 : 20 Tahun Lalu
Sampai di tujuan, mereka menormalkan deru jantung yang terpompa kelelahan, perjalanannya menjadi berlipat ganda karena mereka sempat berbelok kembali ke tempat awal, dan bersyukur karena kembalinya mereka tidak sia-sia, Jungshin mengingat kejadian dimana ia mengalami kecelakaan dan menyakinkan Sinbi untuk bertanya pada kakek Jungshin. Yang sekarang mereka berada tepat di depan rumahnya.
Kotor, berantakan tak terurus dan gelap. Rumah sederhana yang terbuat dari bilik zaman dulu dengan desain jendela, tata tempat dan gaya tradisional itu tampak menyeramkan. Sinbi mulai gamang, mungkinkah di dalamnya ada kehidupan? Bagaimana jika mereka sudah pindah?
“Mau melihat-lihat?” tawar Jungshin membuat Sinbi menelan ludah ngeri. Ia sedikit parno pada hantu, tapi bukan takut. Kedatangan mereka yang tiba-tiba atau bentuk transparan mereka membuatnya risih.
“Ini sudah malam, apa kita harus masuk? haruskah kita memanggil nama kakek?” tanya Sinbi, menutupi rasa takutnya.
“Kau takut ya? Belum pernah ke tempat seperti ini, padahal ini menarik kok. Kalau tempatnya terurus ini seperti hanok, kau kan membuat cerita kolosal, kenapa takut?” tebak Jungshin tersenyum geli akan ekpresi was-was Sinbi, yang berkulit putih membuat Jungshin mampu melihat urat-urat halusnya yang cantik itu. Meski dalam kegelapan.
“Haruskah? Bukankah itu tidak sopan?” matanya membulat memastikan, “Ah tunggu sebentar, kenapa kau bicara banmal padaku?” serunya mengerucutkan bibir.
“Kurasa aku lebih tua darimu,” cengir Jungshin.
“Aneh sekali, yang kau ingat hanya tinggal di tahun 97 dan lahir 77, juga namamu, tapi yang lainnya tidak tahu. Dan jangan bicara banmal padaku sebelum kupastikan kau memang tua dariku.” suruh Sinbi memberi kecaman tegas, berusaha seperti wanita elegan yang justru malah runtuh di hadapan Jungshin yang menyadari usahanya itu.
“Prack!!”
Keduanya terkejut, Sinbi segera bersembunyi di belakang tubuh Jungshin, jujur ia sedang tidak mood bertemu hantu.
“Aargh,” rintih seseorang parau, ucapannya tercekat seakan tengah menahan sakit, selain itu pital suaranya memang sudah melemah dibanding yang lain karena faktor usia. Jungshin khawatir, entah kenapa dia menduga seseorang baru saja terluka, tanpa ragu ia masuk ke pekarangan rumah itu dengan Sinbi masih memegangi lengannya dan menolehkan kepala miring, sekedar mengikuti dan berlindung.
“Kau yakin mau masuk?” masih berusaha menahan, Sinbi malah terus mengamit tangan Jungshin yang mengangguk yakin.
Dibukanya perlahan pintu yang ia perkirakan telah terjadi sesuatu di dalamnya. Wajahnya memucat kala mendapati seorang pria paruh baya tergeletak di lantai dengan panci mengenai kakinya. Segera saja Jungshin mengangkat panci dan melihat segaris luka yang disebabkan benda tersebut di kaki sang kakek, yang masih meringis kesakitan. Dengan telaten Jungshin mengangkat tubuh kakek, mendudukkannya, menanyakan apa lagi yang sakit dan dimana letak obat p3k berada. Tapi bukan jawaban yang ia dapati.
“Kau siapa? Kenapa kalian ada disini, dan apa p3k itu? ah kotak obat, dimana ya aku meletakkannya, aku tidak tahu. Mungkin di kamar, di sana, di sini, entahlah.” tersadar, Jungshin mengerling Sinbi yang juga mengerti. Dialah kakek yang mereka cari, yang polisi bilang mengidap Alzheimer, tapi kenapa dia berada di rumah penuh sarang laba-laba ini sendirian dan tampak kumal.
Jadilah saat ini, Jungshin dan Sinbi tertahan di rumah itu untuk merawat kakek alih-alih menanyainya. Apalagi dengan kondisinya, mereka ragu kakek akan memberi jawaban jalan keluar pada Jungshin agar kembali ke tahunnya. Yang ada mereka berada di dalam rumah itu merawat dan menjaga kakek sampai ia tertidur.
Sinbi memperhatikan Jungshin yang membuat lampu alami dari lilin yang ada, walaupun mereka menemukan saklar, lampunya tidak menyala, sepertinya listrik di rumah ini sudah dimatikan. Setelah mendapat penerangan cukup, Jungshin menghampiri Sinbi yang terduduk di samping kakek.
“Aku akan mencari minuman dan makanan, kalau kau tidak keberatan tunggulah disini.” sarannya lembut, untuk orang yang tersesat sangat jauh dalam generasi berbeda Sinbi akui Jungshin terlalu tenang.
Sinbi mencengkram tangan Jungshin, menggeleng kecil. “Aku ikut, dia sudah tidur dan aku tidak suka sendirian dalam remang-remang seperti ini.” bujuknya.
“Yakk, sudah kubilang jangan bicara banmal padaku!” sewot Sinbi dan bergegas menyusul langkah cepat Jungshin yang lebih lebar daripadanya.
Membawa obor seadanya, Jungshin mulai mencari, membuka laci dan lemari, tutup guci, dan tak menemukan apa pun. Menghela napas ia mengerling pada Sinbi yang juga tengah mendesah, ia benar-benar kehausan ditambah bunyi perutnya yang barusan berbunyi, kenapa sih sepanjang jalan tidak ada warung? Dan kenapa pula kakek memilih tinggal di rumah se-sepi ini, paling pojokan dekat dengan jalan menuju gunung. Hanya ada bangunan ini satu-satunya tanpa ada tetangga.
“Kita kembali saja, tak apa?” tawar Jungshin yang mau tak mau menyalahkan dirinya yang sudah membuat Sinbi capek dan lapar. Tanpa gairah Sinbi mengangguk.
Tak bisa langsung tidur, Sinbi membongkar isi tasnya, tak menemukan apapun selain ponsel, make up, dompet dan note kecil yang wajib ia bawa sebagai penulis. Melirik ponsel, ia membuka layar dan terpikir untuk memesan makanan secara online, tapi sialnya, tak ada jaringan di gunung seperti ini. Ah bikin frustasi saja, pikir Sinbi yang langsung membaringkan dirinya di atas tikar sederhana yang mereka temukan, di samping kakek, sempat risih tapi ini lebih baik daripada ia harus tidur di kamar sendirian.
Sinbi memang sudah terlelap, tapi tidak dengan tubuhnya, yang bolak-balik ke kiri maupun ke kanan, meringkuk kedinginan, mengeratkan mantelnya tanpa berpengaruh lebih, toh rasa dingin terasa lebih menelusup dibanding tidur di kostnya. Angin di sini sangat terasa, apalagi dengan bangunannya yang tidak punya penghangat ruangan. Teramat hati-hati, Jungshin menyelimuti Sinbi dengan mantel yang ia kenakan, yang tentu pemberian dari Sinbi. Gadis itu membelikannya dua setel pakaian karena tak mungkin mengenakan pakaian bekas kecelakaan.
Masih kedinginan dan mulai mengerutukkan gigi, Sinbi menarik mantel Jungshin lebih menutupi bagian atasnya. Tidurnya benar-benar tidak nyaman.
“Apa dia alergi dingin?” pikir Jungshin iba. Bergelut dengan pikirannya, akhirnya dia memutuskan berbaring di samping Sinbi, dan meletakkan tangannya di atas pinggang Sinbi, lebih mendekatkan tubuhnya pada Sinbi dengan menyisakan jarak yang baik. Memberikan pelukan seakan berpikir ini adalah pilihan baik agar Sinbi bisa merasa hangat.
Esok harinya.
Mata itu mengerjap beberapa kali sebelum terbuka sepenuhnya, menggeliat dari tidurnya dan merasakan ngilu di pundak, sepertinya ia tidur di lantai yang keras. Tersadar bahwa suasananya tampak berbeda dari setiap paginya, Sinbi melotot dan segera duduk, mendapati mantel Jungshin yang terlepas dari dirinya, lalu berkeliling menyisir setiap ruangan. Sangat bersih, rapi dan tidak bau, selain itu cahaya matahari tepat menyoroti dirinya dengan pintu geser yang terbuka. Kenapa ia berada di tempat sebagus ini, setahunya ia berada di rumah kakek yang kumuh dan tak terurus.
Teringat akan kejadian semalam, Sinbi menoleh ke samping yang seharusnya kakek tengah tidur di sana. Melongo aneh, Sinbi tidak menemukannya, bahkan kasur lipat yang digunakan kakek juga tidak ada. Kemana dia pergi, lalu Jungshin, dia juga tidak ada. Ini benar-benar membuatnya takut, tak ada bekas lilin yang dinyalakan, dan samar-samar ia mendengar suara air. Setahunya listrik di sini mati, bahkan untuk minum pun ia tidak menemukan apa pun.
Penasaran, Sinbi mulai melangkah penuh waspada dengan tekanan kaki yang hampir tak terdengar menghampiri sebuah ruangan dimana airnya menyala. Tepat saat ia berhenti di depan pintunya, nyala air juga berhenti. Pintu toilet terbuka, belum sempat kabur Sinbi memandang seseorang yang hanya mengenakan handuk dari pinggang sampai pahanya. Keduanya refleks berteriak.
“Siapa kau? Kenapa ada di rumahku! Kau pencuri, byeontae!” tuding Jungshin kalap, ia panik menyembunyikan tubuhnya yang setengah telanjang itu dari pandangan Sinbi yang tak bisa bicara. Merasa speechles dan syok akan tuduhan itu, yang diawali kata siapa. Bukankah mereka saling kenal, lalu kenapa Jungshin bertingkah seperti ini.
“Yakk, keluar dari rumahku sebelum kulaporkan kau ke polisi! Beraninya masuk rumah pria!” usirnya mengancam.
“Kau tidak mengenalku?” tanya Sinbi. Mengedarkan pandangan ke semua arah, ada figura keluarga di sana, foto Jungshin yang terlihat masih kecil dengan kedua orangtuanya, Jungshin yang mengenakan seragam sekolah dan foto piknik bersama temannya. Tak ada debu, tampak seperti rumah yang selalu dirawat dan dihuni. Tiba-tiba saja matanya menangkap sebuah piagam yang ada dalam salah satu figura di atas meja. Membacanya sekilas, bahwa itu adalah piagam memenangkan juara pertama lomba musik di sekolah, Sinbi tertohok, menjerit kecil yang tertahan ditenggorokannya. Tertulis disana tanggal 14 Februari 1997. Seakan ditampar keras, Sinbi sibuk mencari sesuatu dan menemukannya, kalender yang menunjukkan tahun. Oktober 1997?
“Yakk kau siapa, sudah kusuruh pergi dari sini!” amuk Jungshin, merasa harga dirinya dilindas oleh kedatangan Sinbi, karena melihat tubuhnya yang masih basah sehabis mandi.
Alih-alih menjawab, Sinbi malah terduduk lemas, Jungshin kaget. Mendapati Sinbi menunduk dan memukul-mukul kepalanya frustasi.
“Yakk apa yang sedang kau lakukan? Berusaha tampil acak-acakan untuk menuduhku melakukan sesuatu padamu!” seru Jungshin menghentikan gerakan tangan Sinbi. Mata mereka sempat berseloroh, “Aaakh,” Jungshin mendadak pusing, sekilas ia melihat dirinya tengah memeluk Sinbi dalam kegelapan di sebuah ruangan.