You're Fiction

You're Fiction
Confession -05 (END)



Dengan terburu-buru, akhirnya Jungshin sampai di sana, menghela napas kecewa karena tak ada siapa pun. Eunha tidak datang menemuinya, sehingga hatinya terasa berdesir nyeri, memutuskan menunggu dan memulihkannya dengan sebuah alasan pasti.


Penuh harap dan cemas, Jungshin terus menunggu, hingga hujan mulai menetes. Tak ayal lagi membuatnya basah kuyup, karena ia tidak membawa payung dan berteduh di halte pun percuma, tidak cukup bisa melindunginya dari hujan angin yang mendadak deras. Mendongak melihat langit, Jungshin tiba-tiba teringat Sinbi. Gadis itu berada di rumah sendirian, dan setahunya Sinbi takut pada petir.


“Aargh!” kepalanya berdenyut sakit, sebelumnya ia mengingat sesuatu saat menatap mata Sinbi. Saat ia memeluk gadis itu, Sinbi masih tidak bisa diam, walaupun sudah cukup hangat ia masih resah dan tak nyenyak. Jungshin merasa cemas, dia bingung harus bagaimana. Menepuk-nepuk pinggang Sinbi bukan hal bagus, gadis itu dalam sekejap berbalik arah menghadapnya, sehingga wajah mereka berada dalam jarak dekat. Jungshin kaget, lebih terkejut lagi akan jantungnya yang berdegup kencang.


Jungshin melihat dirinya dalam kenangan itu tampak menahan napas, bingung dan salah tingkah. Tangannya kembali memegangi pinggang Sinbi yang kembali kedinginan, giginya bergemerutuk. Wajahnya pucat, meski begitu Jungshin merasa ia begitu cantik, dengan hidung mancung, bibir merah dan urat halus indahnya, Jungshin semakin tegang. Gadis ini adalah orang pertama yang ia lihat saat tertabrak, saat siuman dan saat bangun tidur di tahun 2017, dia bahkan memperlakukannya dengan baik dan menjelaskan apa yang ingin Jungshin ketahui dari kemajuan zaman.


Perlahan, Jungshin mencium bibir Sinbi, mencoba menghentikan rasa dingin yang menderanya, menghentikan gemerutuk giginya. Dalam beberapa detik ia masih menautkan bibirnya pada bibir kecil Sinbi.


Ingatan apa ini?


“Kau sangat keras kepala!” keluh Eunha datang dengan payung putihnya, menatap kesal Jungshin yang baru saja mengerang kesakitan. Matanya sedikit buram akibat air hujan yang membasahinya, tapi ia sadar yang berada dalam pandangannya sekarang adalah Eunha dan bukanlah Sinbi.


Lalu ingatan tadi itu apa, kenapa ia bisa melakukan hal tersebut pada Sinbi, gadis yang mengaku datang dari masa depan.


“Eunha-ya, bisakah kau katakan padaku alasanmu sesungguhnya putus dariku, dan sejak kapan kau selingkuh? Jika memang ini salahku, aku akan memperbaikinya, dan mencoba memahamimu.” pinta Jungshin langsung pada intinya. Dia bukanlah pria yang akan mengekang seseorang, juga bukan tipikal pria yang suka bicara kasar.


“Aku hanya bosan denganmu, dan tidak lagi menyukaimu, sunbae. Karena itu berhentilah menghubungiku, ini terakhir kali kita bertemu.” entah kenapa, Jungshin menganggap Eunha berbohong, “Aku pergi.”


Gadis itu berbalik, Jungshin mencengkram tangannya, di sisi lain Sinbi tengah berlari cepat mengenakan payung hitam, melihat mereka dari kejauhan. Ia memutuskan menyusul Jungshin dan berencana memberinya payung agar tidak kehujanan, tapi niatnya tidak berjalan lancar, Jungshin sudah basah kuyup dan tengah bertengkar dengan kekasihnya. Terdiam di tempat Sinbi memperhatikan mereka merasa tak asing akan kejadian ini dan tertegun syok. Bukankah ini sama seperti yang di video?


“Kau berbohong, aku tahu itu. Tak bisakah kau jujur dan menghargai perasaanku, kebersamaan kita tidaklah singkat, dan itu pun tidak cukup kuat sebagai alasan kebosanan, kau selalu bahagia, tersenyum senang saat bersamaku. Itu tidak mungkin sandiwara bukan?” tanya Jungshin menyeka lukanya dengan berharap pada perasaan mereka berdua sebelumnya.


“Maaf sunbae, aku harus pergi!” Eunha melepas cengkraman itu dan menolak menjawab, memalingkan wajah sebelum Jungshin melihat wajahnya yang sedih, lalu menyebrang pergi dengan langkah cepat. Jungshin tidak langsung menyusul ia menyadari kesedihan itu, Eunha yang berusaha menahan airmata.


Jungshin pun memutuskan berlari mengejarnya tapi terhalang akan kedatangan Sinbi yang kini berdiri menghadang. Sinbi menggelengkan kepala untuk melarangnya menyebrang, tak mempedulikan bajunya yang juga basah akibat guyuran air hujan. Sinbi yang panik segera berlari menghampiri Jungshin, membiarkan payungnya terhempas angin besar.


“Apa yang sedang kau lakukan! Minggirlah!” hardik Jungshin.


“Tidak, hentikan dan biarkan dia pergi. Kau bisa terluka!” sergah Sinbi.


“Dia berbohong, dia barusan menangis, aku yakin itu.” tukas Jungshin.


“Tunggu, tunggu sampai hari esok!” timpal Sinbi keras, ia bahkan terpaksa memeluk Jungshin yang bersikeras akan menyusul. Memperhatikan Eunha yang belum jauh.


“Tidak, minggirlah!” Jungshin cukup kuat untuk menyingkirkan Sinbi yang akhirnya terhempas ke samping, dengan segera Sinbi kembali berdiri memegangi tangan Jungshin dengan erat.


“Kau akan celaka. Aku melihatmu kecelakaan disini! Video itu! Kau kecelakaan saat mengejarnya! Jadi kumohon tunggulah!” teriak Sinbi menyakinkan. Jungshin melihatnya, menatap mata itu dan menjerit kesakitan. Kenangannya kembali, masa-masa saat ia berada di tahun 2017, tubuhnya yang terluka dan gapaian tangannya yang berdarah menyentuh kaki Sinbi. Dalam kesakitan itu Jungshin mencoba menyanggahnya, ini tak mungkin. Mana ada orang yang melakukan perjalanan ke masa depan, juga menarik oranglain ke masa lalu. Maldo andwae!


“Aku mencintainya, dan aku akan tetap mempertahankannya!” kukuh Jungshin melepas pegangan Sinbi dan berjalan menyebrang.


Ini tak mungkinkan, aku sudah menahannya beberapa detik ia tak mungkin kecelakaan bukan, tapi kenapa …


Baru saja Sinbi berpikir mengenai mobil yang melaju kencang di jalan sepi itu tak kunjung datang. Pada akhirnya, ia melihat, sebuah mobil gran max besar warna hitam melaju cepat dan menabrak Jungshin hingga terpental jauh dengan darah mulai membanjiri tubuhnya, berbaur dengan air hujan. Sinbi membeku, wajahnya pucat dan tubuhnya melemas, ia terduduk di atas trotoar dan terpuruk.


Rupanya ia tidak bisa merubah apa pun. Hatinya terkoyak perih, airmata mengalir. Sinbi menutup wajah dan menangis dalam isakan pilu, apa yang harus ia lakukan?


Dengan langkah setengah terseok ia menghampiri Jungshin yang tergeletak tak berdaya, sorot mata pria itu masih memperhatikan Eunha yang terlihat syok, bergegas menghampirinya meski Sinbi lah yang lebih dulu berada di samping Jungshin.


Bibir Sinbi bergetar memandangi Jungshin, yang kini balas menatapnya.


Saat itu. Dalam ciuman hangat yang diberikan Jungshin pada Sinbi, terasa seperti sengatan listrik yang menyenangkan dan mendebarkan sampai Jungshin melepas ciumannya, dan memperhatikan Sinbi yang perlahan membuka mata. Setengah tersadar Sinbi tersenyum kecil. ‘Apa ini mimpi?’ ucapnya dan kembali tertidur, tangannya balas memeluk Jungshin, tertidur lelap, membenamkan diri pada dada Jungshin yang bergemuruh keras menahan debaran di hatinya.


“Maaf, karena tidak mempercayaimu.” ucap Jungshin lirih setelah ia mengingat semuanya. Kebersamaan yang hanya sebentar tapi mampu membuat ia merasa nyaman bersama Sinbi.



Momennya sangat singkat bahkan tak bisa disebut momen yang baik, Sinbi mengingatnya setiap kali bangun tidur, tak ada dia di sampingnya, tak ada pelukan agar ia tidak kedinginan. Tanpa sadar Sinbi selalu mengumamkan namanya saat terbangun, dan anehnya ia tak pernah muncul. Dia selalu menghilang setiap kali Sinbi memanggilnya, tak hanya dalam mimpi, tapi dalam harinya, juga hidupnya. Lee Jungshin hanya kenangan dan kepingan masa lalu yang terjadi di masa depan, menyisakan hati yang patah dan terluka.


Menatap layar besar yang terpasang di sebuah gedung, Sinbi tersenyum kecil saat mendengar lagu yang diputar. Ini adalah lagu buatan pria itu, yang ia minta videonya dari Jung Yerin ke ponselnya, hingga Sinbi mendadak teringat akan wajah takjub Yerin saat melihat ponsel canggihnya. Sinbi masih tak percaya ia pernah berada di tahun 1997.


Ah ya, mengenai lagu itu yang kini dirilis di pasaran, Sinbi memutuskan berganti jurusan sastra menjadi musik, dan mulai belajar musik, mengaransemen kembali lagu tersebut menjadi lebih tren dan sesuai dengan tahun sekarang, 2018. Ia memutuskan bahwa menulis adalah hobinya, dan musik adalah harapan Lee Jungshin. Pria yang bertemu dengannya dalam beberapa hari tapi mampu membuatnya, merindukannya setiap hari. Sinbi sadar jika Jungshin mendekap hatinya dengan lembut, meski itu hanya terjadi sepersekian detik dalam kedinginannya.


Naega neol jikyeojulge [Aku akan melindungimu]


Naega neol anajulge [Aku akan memelukmu]


Neoui nuni busin misoga [Aku berdoa agar senyuman indah mu itu]


Nal hyanghagil gidohae [Adalah untukku]


Nunmul naye sojunghan [Begitu berharga tuk setetes air mata]


Nae modeun ge doen saram [Seorang yang menjadi segalanya bagiku]


Hanchami geollyeodo gwaenchanha [Tak mengapa jika butuh waktu]


Ne mam naega doendamyeon [Asalkan aku bisa menjadi hatimu]


Hanchami geollyeodo gwaenchanha [Tak mengapa jika butuh waktu]


Ne mam naega doendamyeon [Asalkan aku bisa menjadi hatimu]


Sinbi melangkah masuk ke dalam perkarangan rumah tersebut, menyadari jika banyak hal yang sudah berubah, keadaannya tidak sekacau dulu. Tertata rapi dan bersih. Duduk di berandanya, Sinbi ingat saat ia ragu untuk masuk dan Jungshin malah menerobos membuka pintu dapur, merawat kakek.


Waktu itu, saat mata mereka bersitatap, Junghin meminta maaf padanya karena tidak percaya, tapi Sinbi justru malah menangis. Dia baru saja akan menyentuh kepala Jungshin, yang sayangnya tak tersampaikan, karena tangan beserta tubuhnya mendadak menjadi transparan, dan yang ia tahu, ia sudah berada di tengah jalan di siang hari, di tempat yang sama dengan keadaan yang berbeda.


Tak lama kumpulan ibu-ibu datang menyuruhnya menyingkir dari jalan umum, mengingatkan kalau tempat itu akan ramai mobil jika jam segini. Sinbi pun tersadar, segera mencari sosok Jungshin, membiarkan tubuhnya kedinginan karena mengenakan pakaian yang masih basah, juga menghiraukan wajahnya yang berlinang airmata.


Ia pun menangis tersedu, ia tak tahu apa yang terjadi pada Jungshin, tak bisa mengetahuinya karena dia sudah kembali ke masa depan.


Ya, ia telah kembali ke masanya.


Seseorang duduk di samping Sinbi, kakek Lee dengan pakaian bersih dan penampilan baik ikut mengayun-ayunkan kakinya seperti Sinbi.


Yang Sinbi tahu, dari masa depan yang bisa menjawabnya ialah, kakek Lee adalah Lee Jungshin. Dia koma selama dua tahun saat mengalami kecelakaan tersebut dan setelah itu memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah, bekerja di kebun ayahnya, selang satu tahun ia baru tahu jika Eunha selama ini tidak ingin meninggalkannya. Eunha hanya tidak ingin jauh dari Jungshin yang memutuskan pergi ke Seoul untuk kuliah, dan jika Jungshin tahu maka pria itu bisa saja tidak jadi kuliah tapi Eunha tak ingin bersikap egois, maka dari itu Eunha berbohong, pura-pura selingkuh dan minta putus.


Mesti pada akhirnya keinginan Eunha agar Jungshin tidak pergi memang tercapai. Kendati pun begitu, Jungshin masihlah menyukai musik, dia hanya menjadikan itu hobi dan kemudian menikah dengan Eunha.


Selain itu, yang Sinbi tahu, ia tak mungkin ada dalam ingatan Jungshin. Ini seperti dunia paralel, dimana ada kehidupan dari kehidupan yang lain, jika dirinya di kehidupan ini tengah duduk bersama seorang kakek, yang ia sukai, maka mungkin saja di kehidupan lain dari bumi ini ada dirinya yang sedang duduk bersama pria dewasa yang disukainya.


“Kau baik-baik saja?” tanya kakek, Sinbi tersenyum kecil.


“Nde, seiring berjalannya waktu aku akan membaik.” terangnya, menatap lekat kakek, dia masih mengidap Alzheimer tapi anehnya selalu tahu jalan ke rumah ini. Tak disangka jika Jungshin akan jadi setua ini.


“Sinbi-ya, Hwang Sinbi.” panggil kakek mengejutkan. Setahu Sinbi, ia belum mengenalkan namanya, dan bukankah Jungshin tidak ingat padanya. “Terimakasih karena merindukanku setiap hari, dan untuk lagunya.” senyum kakek, Sinbi terdiam membisu, ia terharu akan ucapan itu, matanya berkaca-kaca menahan tetes airmata. “Ini mungkin sudah terlambat, tapi pengakuanmu akan kuterima di dunia lain, karena itu jangan lupakan aku.”


Sinbi menutup matanya dan mulai menangis.


1 tahun berlalu dan ia tak pernah berhenti mengunjungi kakek, hanya dengan melihatnya ia bisa melepas rasa rindu pada Jungshin. Tanpa tahu apa pun, kakek terus bertanya padanya, siapa dia, siapa dirinya, bertingkah aneh dan menjerit ingin piano, tapi sekarang, dia memanggil namanya, menyebut namanya, berterimakasih dan bahkan menerima pengakuan cintanya.


~ TAMAT ~