You're Fiction

You're Fiction
Mirror Scene -04



Satu hal telah hilang meski sesaat.


Tak terasa satu minggu terlewati, perlahan jemari itu bergerak, tubuhnya memberi sinyal untuk siuman dan matanya mengerjap terbuka. Wonwoo baru sadar dari komanya, merasakan nyeri di seluruh tubuh dan kepala yang pening. Kosong, hanya ada dia di dalam ruangan, berpikir sebentar, akhirnya ingatan Wonwoo berakhir pada mobil Hyundai putih yang salah jalur dan tak berhenti hingga mobil van yang ia naiki tertabrak olehnya. Saat itu kejadiannya sangat cepat, kedua mobilnya sedang melaju cukup kencang hingga terbentur keras. Dalam hitungan detik yang ada dalam pikiran Wonwoo saat itu adalah kematian, juga kehilangan para teman yang selama ini bersamanya menjalani masa-masa asrama dan latihan.


Harusnya mereka pergi berpesta untuk merayakan kemenangan lomba, tapi mereka malah mengalami kecelakaan dan berada di rumah sakit. Wonwoo teringat teman-temannya, bukankah seharusnya ia bersama mereka saat ini, tapi kenapa ruangan ini sangat sepi, bisa dipastikan hanya ada dia sendiri, dan tempat ini terasa luas ada televisi juga sofa, mungkinkah ruangan VIP?


Belum saja pertanyaan Wonwoo terjawab, seorang suster datang, ia terkejut dan berubah senang melihat pasiennya siuman. Dengan segera ia menghubungi dokter, Wonwoo bisa mendengar dokter memberinya selamat selain itu juga ungkapan tak percaya, dipahami sekilas, Wonwoo mengerti bahwa dia mengalami kecelakaan dan kondisi tubuhnya yang parah, siumannya dia adalah sebuah keajaiban.


“Jeon Wonwoo-ssi, jangan banyak bergerak, istirahatkan dulu tubuh dan pikiranmu, setelah ini aku akan memberimu obat dan perawatan untukmu.” tutur dokter.


“Jeon Wonwoo? Siapa maksudnya? Kenapa dia memanggilku dengan nama itu, … ?” gumam Wonwoo dalam hati, menatap aneh dokter dan suster yang terus memanggilnya dengan nama Wonwoo.


Berspekulasi mengenai beberapa kemungkinan, akhirnya Wonwoo memutuskan untuk istirahat sejenak, memejamkan matanya, namun seorang gadis masuk ke ruangannya. Wonwoo memicingkan matanya untuk melihat gadis itu lebih jelas karena rasa pusingnya kembali menyerang. Dan ia tidak mengingatnya.


“Apa rasanya sakit? Wajahmu menunjukkan ekspresi sakit,” ujar Sohye lalu duduk di kursi melirik tangan kanan Wonwoo yang diperban panjang setelah dijahit, selain itu wajah dan lehernya juga terluka.


“Kau …”


“Aku tidak tahu apa harus mengatakan ini atau tidak, tapi karena aku orang yang suka bicara langsung maka aku akan mengatakannya. Kenapa harus aku? Kenapa hanya nomorku yang kau simpan di ponselmu? Setelah mencampakkanku sekarang kau mengalami kecelakaan dan menghubungiku, apa kau tidak takut aku mencelakakanmu, bisa saja aku mencekikmu sampai mati, sunbae.” ungkap Sohye menahan kesal, bingung, sedih dan rindu yang tertahan.


Wonwoo terdiam, dia tidak berani mengutarakan pertanyaan maupun kebingungannya, perkataan gadis ini rasanya menelusup ke dalam hati hingga suaranya tercekat di tenggorokan, tak mampu menjawab. Selain itu ia juga tidak tahu harus bersikap dan menjawab apa.


“A .. a, aku ingin ke toilet.” ucap Wonwoo. Sohye mengernyit aneh, suara Wonwoo terasa lembut.


“Ah, baiklah. Aku akan mengantarmu.” Mau tak mau Wonwoo menerima bantuan Sohye untuk memapahnya ke toilet karena rasa sakit di tubuh dan kakinya itu tak memungkinkan dia jalan-jalan sendiri.


Pintu toilet di tutup dan dikunci, Wonwoo terdiam, tepat saat ia berbalik melihat pantulan dirinya di cermin. Baru saja 3 detik berada di toilet Wonwoo menjerit sangat keras,


“Wae, wae, wae, wae?” pekik Sohye kaget dan panik, dia segera mengetuk kamar mandi.


“Sunbae, ada apa? Apa kau terjatuh?” cemasnya sibuk mengedor, sedang Wonwoo tampak syok, mendekati cermin dengan tergopoh, menunjuk wajahnya sendiri.


“Siapa aku? Bukankah wajah ini, kenapa, kenapa wajahku berubah?” tanyanya gagap, kemudian memperhatikan leher, tangan, kaki dan bercermin sepenuhnya. “Jeon Wonwoo, pantas aku tidak asing mendengarnya, kenapa aku ada di tubuh pria jahat ini?” lemas, tubuh, hati dan pikiran Kim Mingyu terhempas jauh. Dirinya ada dalam tubuh oranglain, ia sekarang menjadi Jeon Wonwoo.


~ ~ ~


“Kau baik-baik saja?” tanya Sohye hati-hati seakan ucapannya bisa membuat pria di depannya itu jatuh pingsan. Wonwoo, tanpa berkata hanya menatap Sohye menyiratkan pandangan ‘Bagaimana ini, apa yang terjadi? Apa yang harus kulakukan?’ sedang Sohye sama sekali tidak mengerti.


Untuk satu jam penuh Wonwoo menyibukkan Sohye dengan pertanyaannya. Mengenai nama asli, statusnya, sifat dan sikapnya juga kenapa mereka bisa saling kenal, jujur saja Sohye dibuatnya tercengang seakan ia baru saja menemui orang asing. Dengan yakin ia berpikir kalau Wonwoo mengalami amnesia, tapi ia ingat dengan penjelasan dokter yang tidak menyatakan tanda-tanda hilang ingatan.


Mau tak mau, Sohye bersabar dan menerangkan seadanya, barulah saat Wonwoo menanyakan hubungan mereka Sohye hanya menjawab “Kita hanya teman kuliah, antara senior dan juniornya, kita satu jurusan Bahasa Jepang.” Dan Wonwoo mengangguk sekenanya, ia tidak bodoh. Pernyataan Sohye sebelumnya mengenai kenapa harus dia yang dihubungi setelah dicampakkan masih teringat, mendadak tepat saat Sohye memunggunginya, Wonwoo yang adalah Mingyu paham akan situasi sebenarnya.


Sohye adalah kekasih lain Wonwoo, yang melabrak dan marah pada Wonwoo saat pria itu berkencan dengan Nayoung. Ah, Nayoung, bagaimana kabarnya? Apa dia tahu kalau aku mengalami kecelakaan dan sekarang sedang menangis sedih? Gumam Mingyu dalam hati.


“Sunbae, aku harus pergi kuliah, kelasku akan dimulai setengah jam lagi.” Sohye izin pamit, Mingyu mengangguk. Sebelum benar-benar pergi Sohye memeriksa kondisi Mingyu dan memastikan makanan siang untuknya nanti.


“Dia sangat baik, kalau aku jadi dia, aku sama sekali tidak mau datang ke sini meski menjadi orang yang pertama kali dihubungi.” sunggut Mingyu seakan membicarakan oranglain, tentu sebuah kekesalan yang ditujukan untuk pemilik tubuh aslinya ini.


~ ~ ~


Hari kedua, Sohye datang kembali dan merawatnya dengan baik, meski gadis itu terkadang memalingkan pandangan dari mata Wonwoo dan berpura-pura menyibukkan diri dengan ponsel, televisi atau memeriksa kasur dan lainnya. Mingyu sendiri paham, mungkin rasanya sulit dan sakit berada dalam satu ruangan bersama orang yang menyakitinya tanpa perasaan.


Hari ketiga, gadis itu menyempatkan datang disela waktu kelasnya, dan hanya setengah jam dia di sana lalu izin pergi. Mingyu menahan kepergiannya sebentar.


“Sohye-ssi, kau tidak perlu datang lagi. Pasti sangat sulit bagimu bertemu dengan ora … ku, aku akan menunggu ayah atau ibuku yang datang.” suruh Mingyu meski tidak yakin ayah atau ibu yang mana yang ia maksud. Lagipula jika Wonwoo punya orangtua mungkin sejak tiga hari lalu mereka akan datang menjenguk dan merawatnya.


“Hm,” angguk Sohye dan berlalu pergi. Barulah setelah ia menutup pintu ruangan, ia melirik pintunya seakan bisa melihat Wonwoo yang bersandar dikasurnya itu. “Dasar bodoh, kenapa kau bicara selembut itu seakan paham dengan perasaanku. Lagipula mereka tidak bisa datang. Apa ia tidak mau bertemu denganku? Yang benar saja, harusnya aku yang berpikir seperti itu.” keluh Sohye.


Memaksakan berdiri dan berjalan akhirnya Mingyu sampai di tempat yang ia tuju. Ia masuk dengan perlahan melihat sosoknya yang terbaring di kasur tengah mengenakan infus dan tabung oksigen. Tubuh Mingyu asli, yang dinyatakan koma oleh dokter.


“Aku mengalami luka yang cukup parah, wajahku jadi kurang tampan,” celetuk Mingyu melihat luka jahit di pipi kanannya, “Kakiku juga diperban, apa tertindih sesuatu? Tanganku, ah tidak terlalu terluka, tapi pasti akan sakit dan pegal saat terbangun nanti, lalu bagaimana aku bisa bermain basket lagi?” imbuhnya menambahkan dengan nada sedih, “Apa aku akan terbangun, apa aku bisa masuk ke dalam tubuh asliku?”


Tak lama, terdengar suara langkah kaki seseorang menuju ruangan, Mingyu segera berpikir untuk pergi. Lagipula ia juga sudah melihat kondisi temannya yang lain, setengahnya sudah tersadar, mengalami luka ringan dan ada juga yang cukup parah, tapi hanya Mingyu lah yang koma satu-satunya.


~ ~ ~